I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
43


__ADS_3

.


.


.


Pagi harinya Jea berpamitan pada Marlina. Marlina sangat menyayangkan kepergian Jea dari rumahnya. Padahal Marlina masih ingin berlama-lama dengan Jea. Tapi bagaimana lagi, Jea punya kesibukan sendiri.


"Kau benar-benar ingin meninggalkan ibu, nak???"tanya Marlina sedikit sedih. Jea bisa melihat wajah sedihnya, tapi Jea tak bisa melihat ketulusannya. Benarkah Marlina tulus??? Jawabnya, semoga saja.


"Jea harus bekerja ibu,,, lain kali, jika ada waktu. Jea akan bermain lagi..." pamit Jea kemudian.


Ia sedikit lega, ternyata Kelvin tak berada di rumah tersebut. Tapi rasa kecewa juga ada, padahal Jea ingin mengucapkan rasa terima kasihnya dan juga akan minta maaf. Jea sangat menyesal. Jea fikir, Kelvin membencinya sekarang. Tapi jika benci, kenapa mau menolong??? Aaahhh lupakan itu.


Jea menunggu angkutan umum, ternyata di jaman era modern. Angkutan umum begitu susah ditemui. Terpaksa Jea harus berjalan kaki. Dia tidak punya kuota untuk hanya sekedar memesan ojol. Jangankan memesan, download aplikasinya juga belum. Jadi Jea terpaksa mencari halte. Siapa tahu ada bus lewat.


Beruntung atau tidak, tiba-tiba ada sebuah mobil SUV warna hitam berhenti tepat di depannya. Jea mengernyit bingung. Tapi setelah tahu siapa yang keluar dari mobil tersebut, Jea menatap dengan malas.


"Kau lagi rupanya... Kenapa mengikutiku???" bentak Jea saat melihat, siapa gerangan orang yang turun dari mobil tersebut.


"Aahhh, Nona terlalu percaya diri sekarang. Saya hanya tak sengaja lewat sini. Kalau nona mau, mari saya antarkan..."ucap pria bertubuh gempal tersebut yang tak lain adalah Thomas.


"Tapi...." Jea agak ragu menerima tawaran tersebut. Karena terlihat ada senyum yang di rasa aneh bagi Jea saat Thomas menyunggingkan senyum.


"Ayolah nona, tapi kalau anda tidak mau. Ya sudah, selamat berjalan pagi...." sepertinya Thomas punya intrik tersendiri. Mungkin jual mahal lumayan bagus, untuk menarik perhatian Jea.


"Baiklah Thomas, tunggu aku..." dengan langkah tergesa Jea langsung mendekati mobil tersebut. Kaca mobil tersebut sangat gelap. Jadi Jea tidak bisa melihat, di dalam ada orangnya lagi atau tidak.


Saat Thomas membuka pintu mobilnya, Jea baru tersadar.


Axel


Ya, ada Axel di dalam mobil tersebut. Jea pengen mundur, tapi sudah ditahan duluan oleh Thomas.

__ADS_1


"Pagi sayang..." sapa Axel dengan senyuman yang begitu lebar.


Jea mendengus kesal. "Kalian mau menculik ku???"


"Ya ampun Nona,,, kami hanya menawari tumpangan saja..." Thomas tertawa dengan nada yang mengerikan.


"Oke, hanya tumpangan kan???" tanya Jea mulai khawatir.


"Iya sayang, kamu tetap akan selamat. Aku tak akan memakan mu..." Axel lah yang akhirnya menjawab, sambil menekan kata memakanmu. Tentunya ada maksud terselubung. Sudah lama Axel menginginkan Jea dalam kungkungannya. Apapun, Axel berusaha mendapatkannya.


Jea terjebak saat ini. Mau tak mau dia-pun harus menerima tumpangan itu. Dan duduk tepat di sebelah Axel tentunya.


***


"Kita kemana???" tanya Jea heran saat Thomas memperhentikan mobilnya di sebuah gedung bertingkat.


"Aku akan mewawancaraimu lagi...."bisik Axel sedikit menyeringai. Tampaknya Axel masih penasaran dengan fakta yang ada pada diri Jealita.


'Wajahmu terlihat sangat pucat baby,,, apa kau takut jika aku mengetahui faktanya???' ucap Axel dalam hati.


"Tenang baby,,, kau tidak akan dipecat jika tak masuk sehari. Jika itu terjadi, maka bekerjalah denganku. Bagaimana???"tawar Axel dengan tatapan yang begitu tajam. Axel sudah tahu, model-model Jea ini sepertinya wanita penggila bekerja. Workaholic.


"Tapi Tuan...."


"Tenanglah, kau akan semakin lama denganku jika----"Jeda Axel sebentar, seraya berfikir sejenak. "Jika tak menuruti kemauanku..."


"Baiklah, aku akan menuruti kemauan anda... tapi anda harus berjanji???"ucap Jea dengan mata yang tak kalah tajam.


"Janji apa???"


"No sex dan lainnya...."jawab Jea dengan tegas.


Axel menanggapinya dengan tertawa. "Hahaha..."

__ADS_1


Jea mengernyit bingung. Apa ada yang salah????


"Kamu tenang aja... Aku tak selicik itu. Jika aku mau, mungkin sekarang juga, aku sudah menerkammu..." suara yang terdengar menyeramkan bagi Jea.


"Thomas buka pintunya!!!"suruh Axel kemudian.


***


Kini, Jea tinggal berdua bersama Axel. Jea baru tahu, kalau Axel membawanya ke apartemen.


"Cepat tanyakan tuan,,, aku tak bisa berlama-lama...."


"Kau sungguh tak sabaran baby,,, aku akan mengambilkan minuman dulu untukmu..." Axel ingin beranjak ke sebuah pantry, tapi Jea tahan.


"Cukup air putih..." pinta Jea. Dia takut tentang kejahatan yang di luar naluriah. Sungguh Jea takut pada Axel. Perasaan Axel tak pernah berbuat jahat padanya, tapi Jea masih ketakutan, jika harus berada berdua dengan Axel. Mengingat, setiap pertemuan mereka, Axel selalu ingin memeluk dan menciumnya, jadinya Jea merasa tak nyaman.


Tak lama kemudian, Axel kembali dengan membawa sebuah gelas berkaki yang isinya air putih. Dan sebuah minuman kaleng bersoda.


"Minumlah..." suruh Axel sambil menyodorkan gelas tersebut.


Jea menerima gelas berkaki itu. Matanya tajam mengawasi air yang bergerak seiring pergerakan tangan Jea. Fikirannya bukan pada airnya, tapi di lain.


Seperti tahu apa yang difikirkan oleh Jea. Axel-pun membuka suaranya. "Kenapa?? Kau takut aku meracunimu???"


Jea menggeleng. Dia hanya tak sengaja mengawasi air itu saja. Sebenarnya dia ingin segera pergi dari perangkap Axel. Fikiran Jea masih banyak, tentang Kelvin? Tentang Patty? Tentang Andrew?. Ah, Andrew. Mungkin dia sudah bersenang-senang dengan para penghibur sekarang. Andrew bebas bukan???. Kenapa bisa Andrew??? Lupakan.


Jea kembali berfikir, bisa saja Jea memanfaatkan kebaikan Axel saat ini, untuk membantunya mencari Patty, mungkin. Tapi Jea takut, Axel akan menuntut imbalan yang tidak bisa Jea berikan.


Kemudian Jea meminum air putih itu. Aman-aman saja, Axel memang tak meracuninya. Kalaupun ia, Jea berharap diracun mati saja. Dirinya sudah terlalu murahan di mata Kelvin. Tapi Jea memang tak menolak jika Kelvin mau melakukannya untuknya. Berfikir apa sih kamu Jea??? Jea menggeleng-gelengkan kepalanya. Hingga deheman Axel membuyarkan fikirannya yang setengah liar itu.


"Baik lah baby, kita mulai sekarang. Seperti sebelumnya. Cukup jawab ya jika pertanyaanku benar... jika salah kamu bisa bilang tidak dan kasih alasannya..." Setelah berkata begitu. Axel jadi was-was sendiri. Tapi dia yakin, Jealita adalah Kayla.


"Ah Kayla, aku merindukanmu... ingin ku cumbu kau sampai esok dan esoknya lagi. Terus seperti itu, hingga kau akan jadi perempuan satu-satunya untukku...." batin Axel penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2