
.
.
.
Jea masih sibuk memikirkan tentang Axel. Tapi sedetik kemudian dia menepisnya. Bukankah Axel orang kaya? Dia pasti bisa melakukan apa saja agar mengetahui tentang dirinya bukan? Bisa saja Axel menyewa detektif handal agar dia mengetahui seluk beluk -latar belakang- nya. Jadi Jea tak ambil pusing lagi. Orang kaya mah bebas.
"Nona, apa anda menginginkan sesuatu?" tanya Thomas yang kini sudah berdiri di ambang pintu tempat kerja Axel. Ya, Axel tadi membawa Jea ke ruangan kerja pribadinya.
"Kira-kira tuan Axel bakalan lama gak?" tanya Jea memastikan.
"Kenapa? Apa anda berniat kabur?"
"Ck, fikiran kamu negatif terus. Aku ingin belanja sesuatu sebentar. Nanti aku kesini lagi," jelas Jea yang sebenarnya tak ingin buang-buang waktu menunggu di rumah orang yang tak dikenalnya.
"Biar saya yang mengantarkan Nona." Thomas menawarkan dirinya, tentunya agar Jea tidak melarikan diri. Jea wanita yang mempunyai sejuta cara untuk kabur. Fikir Thomas yakin.
"Baiklah-baiklah, antar aku ke counter HP," pinta Jea yang langsung diangguki Thomas.
Bukannya membawa ke counter HP yang di maksud oleh Jea. Justru Thomas membawanya ke mall. Lagi juga di mall lebih lengkap barangnya fikir Thomas.
Jea hanya membuang nafas pasrah. Setidaknya sudah ada uang pemberian dari mantan suaminya. Dia tak perlu khawatir lagi tentang masalah uang saat ini.
"Tunggu aja di sini, aku akan mencarinya sendiri," ucap Jea sedikit ketus. Dia sudah bosan di awasi. Bukankah dia orang biasa saja sekarang.
"Tapi Nona," Thomas tak terima jika harus menunggu Jea di luar. Dia belum yakin 100% dengan ucapan Jea yang mengatakan tak akan kabur.
"Kalau kamu memaksa ikut, terpaksa aku pulang aja. Aku tak akan sudi lagi bertemu dengan kalian atau bahkan tuan Axel," sebuah ancaman akhirnya mulus keluar dari bibir mungilnya.
"Baiklah kalau itu kemauan anda. Saya akan menunggu di sini." Akhirnya si Thomas pasrah juga dengan ancaman wanita ini.
Dengan senang hati Jea pusat perbelanjaan 3 tingkat itu. Bola matanya memutar kesana-kemari mencari barang yang ingin ia beli.
__ADS_1
Cekrek Cekrek
Jea mengernyit. Ada seseorang yang tengah memfotonya. Tapi Jea cuek aja, toh dia juga gak kenal. Mungkin bukan Jea yang difoto orang itu melainkan orang lain. Jea berusaha berfikir positif saja. Hingga setelah Jea selesai membeli dua buah benda pipih yang terkenal dengan bintang iklannya Afgan sahreza dan Jessica mila. Akhirnya Jea bisa beli barang mahal juga. Senyumnya terus mengembang.
Senyum itu hanya sesaat saja, karena di sinilah Jea. Dikerumuni oleh beberapa orang yang menanyai tentang perceraiannya dengan Andrew. Jea juga baru menyadarinya kalau sekarang dia tak aman. Dia dikejar-kejar wartawan dan beberapa paparazzi yang ingin mengambil gambarnya.
Jea tak mau berurusan dengan orang-orang itu. Dengan gerakan cepat dia menghindar dan berlari keluar. Cukup cepat ia berlari sampai ngos-ngosan.
Thomas langsung menghampiri Jea yang jelas terlihat panik. "Ada apa nona?"
"A-ku di-kejar se-segerombolan orang." Jea masih berusaha mengatur nafasnya yang tak terkendali.
Thomas menatap ke belakang. Ya mereka adalah pemburu berita. "Lebih baik segera pergi dari sini nona."
Jea mengangguk segera dan mengikuti langkah Thomas menuju ke mobil.
Sudah hampir 3 jam lamanya Jea menunggu Axel, tapi yang ditunggu-tunggu tak hadir juga. Jea semakin lelah. Lebih baik dia pulang.
***
Setelah libur mingguan, Jea kembali bekerja seperti biasanya. Ya, peraturan dari KL resto liburnya seminggu sekali. Tapi tidak boleh bersamaan dengan temannya. Tentang HP, untunglah Patty mau menerimanya. Dan bahkan mengajari Jea dengan suka cita. Kini Jea mengerti apa itu alat canggih yang biasa dibawa orang kemana-mana.
"Jea."
Baru beberapa langkah Jea memasuki tempat kerjanya, di belakangnya terlihat Sila yang berlari kecil menghampirinya.
"Ya."
"Wah, kamu gila. Bisa masuk trending topik." Sila memegang bahu Jea sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Jea menatap bingung ke Sila. "Trending topik gimana?"
Sila sedikit berfikir dan mengeluarkan benda pipih miliknya. "Nih lihat!" Sila menggeser-geser layar Handphone nya dan kemudian menyodorkan ke arah Jea.
__ADS_1
Jea menerima benda itu. Matanya membola. 'Sial, kok jadi bahan gosip sih?'
Jam makan siang, Jea duduk di dapur bersama salah seorang koki. Jam istirahat pun juga di atur sedemikiam rupa. Hanya boleh dua atau tiga orang saja dalam istirahat siang. Sila sudah istirahat kloter pertama, dan Jea kloter kedua.
Fikiran Jea melayang pada Andrew, andai saja dia ketemu Andrew. Dia akan memintanya untuk tidak melibatkan dirinya dengan para pemburu berita itu.
Fiuuuuuhhhh
Jea menarik nafas panjang. Berpisah dengan Andrew tak serta merta meringankan bebannya. Masih ada hal lain yang berkaitan dengannya. Jea baru menyadari banyak hal yang tidak cocok antara dirinya dan Andrew. Jelas saja, perpisahan adalah jalan yang terbaik diantara mereka berdua. Benarkah mereka berpisah??? Sedikit sedih juga membayangkan saat ini. Dulu saat bersama Andrew, Jea bagaikan ratu. Mau apa-apa ada yang melayani. 'Ahh Jea, enyahkan fikiran Andrew. Husss pergi, pergi!'
Jea kembali asyik menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Jea dikejutkan akan kedatangan Kelvin. Akhir-akhir ini Kelvin terlihat semakin tampan di matanya.
'Mataku ini kenapa??? Tuhan, dia sangat tampan.'
Sebuah pujian terlontar begitu saja di dalam hatinya. Jea terbengong dengan makanan yang masih penuh di mulutnya. Matanya tak berkedip sedikitpun melihat sang pangeran yang tak lain adalah boss nya.
Jea merutuki dirinya sendiri, kenapa dia selalu tertarik dengan majikannya. Apakah dia akan berdosa karna menyukai boss nya?
"Kamu di sini Jea."
Suara yang tak asing itu mengejutkannya. Hingga Jea tersedak makanannya sendiri. Reflek Kelvin mengambilkan minuman yang tak jauh dari tempatnya.
Tak tahu apa di sengaja, minuman itu adalah orderan salah seorang pengunjung. Yuni yang melihatnya geram sendiri. Itu minuman juga tak murah. 'Enak sekali tu perempuan. Dasar caper, bakal ku aduin ke nona Clara. Biar tahu rasa.'
Jea yang memang butuh minuman, tak memperdulikan lagi minuman apa itu. Karena dia juga tak pernah mencicipinya secara langsung. 'Wuuaahhh, minumannya enak sekali.' batin Jea senang.
"Terima kasih Tuan." Tak sengaja iris matanya menatap tepat pada iris mata Kelvin. Tiba-tiba jantungnya kembali berdegup. Degupan aneh, berbeda saat ia berdekatan dengan Andrew. Pacuan yang dua kali lebih cepat. Meskipun tak semenggila saat Andrew yang di sampingnya.
"Lain kali makan dengan pelan," balas Kelvin sambil berlalu. Dan setelah melewati pantry koki pembuat minuman, dia tak sengaja melihat kokinya itu membuat minuman yang sama seperti yang diberikannya ke Jea tadi. Kelvin baru menyadari itu.
'Semoga tak ada yang iri.'
Karena sejauh ini karyawannya dilarang mencicipi minuman yang ada di resto. Karena untuk karyawan sudah ada sendiri. Ada moccachino, es teh dan air mineral. Kecuali 3 itu tak ada yang boleh diminum lagi kecuali bayar. Bukan bermaksud pelit, tapi setiap karyawan harus ada batasan dan aturan. Karena Kelvin juga selalu mematuhi aturan yang disematkan di masing-masing kantornya dahulu saat ikut orang.
__ADS_1