
.
.
.
Sudah beberapa hari ini, Yuni sering mendatangi restorannya Jea. Dengan wajah beratnya, Jea akhirnya menerima Yuni menjadi karyawannya. Dengan catatan, harus mematuhi peraturan yang ada. Jika sampai ketahuan berbuat curang atau memfitnah karyawan lain, dengan terpaksa akan dipecat dengan cara yang tidak hormat. Tanpa gaji sepeserpun. Jea juga bisa kejam, juga bisa baik. Saat ini, dia lagi baik hati, jadi Jea menerima Yuni. Tapi jangan harap nanti, jika Yuni melakukan kesalahan, Jea juga bisa mengeluarkan sisi gelapnya pada Yuni.
"Inget ya mbak! Aturi peraturan!" tegas Jea lagi.
"Makasih nyonya, makasih." Panggilan Yuni pada Jea memang sudah berganti dari minggu lalu. Itu karena paksaan dari bodyguard Jea yang terlewat seram daripada si Bimo.
"Kalau begitu, silahkan mulai bekerja. Ambil seragamnya di loker ujung dekat gudang," titah Jea yang langsung diangguki patuh oleh Yuni.
Jea tertawa puas, akhirnya bisa memerintah Yuni juga. "Ah sayang, sepertinya ibu gila gara-gara ada Yuni," Jea mengelus-elus perutnya yang terlihat sedikit membuncit. Jea kembali tertawa saat mengingat raut wajah ketakutan Yuni tadi.
***
"Aku hamil." Itu Haruka. Ia dengan nekatnya langsung mendatangi kantor Axel.
Tadinya Axel tak berharap Haruka hamil. Tapi kalau memang dia hamil, itu tandanya, Axel harus menikahinya.
"Ya,,, kau tenang saja. Minggu depan kita menikah," sahutnya dengan nada santai tanpa beban. Padahal ini adalah masalah baru, masalah karna hasil ulahnya sendiri.
"Kau mau berikan aku apa? Sebagai hadiah pernikahan kita??"
Axel menjeda pekerjaannya sejenak. Keuangan kantornya sedang tak baik, kalau sampai Haruka minta yang lebih mahal dari kemarin. Axel yakini, namanya akan merosot jauh ke bawah.
"Kau cukup aku nikahi, mengerti!!!"
"Hanya menikah??? What the hell?" Haruka beranjak berdiri tak terima.
"Dengar Haruka!! Aku mau menikahimu, harusnya kau bersyukur. Dengan aku menikah denganmu, kau akan mendapatkan semuanya, apalagi yang kau inginkan?" Axel masih mencoba tenang. Sepertinya Thomas memang benar, perempuan ini gila harta.
"Apa aku bisa bersenang-senang dengan hartamu???"
"Tentu saja, kau kan calon ibu dari anakku," jawab Axel meyakinkan.
Haruka tersenyum lebar, merasa menang akan semuanya. "Kalau begitu, cepat nikahi aku," rengeknya.
"Minggu depan baby."
"Satu lagi tuan Axel?? Apa kita akan menikah tanpa cinta?? Meskipun aku tak butuh cinta sih," ucap Haruka yang seketika memelan di ujung kalimatnya.
"Cukup komitmen saja, karna aku juga tak butuh cinta," balas Axel.
"Okay,,, aku tunggu minggu depan." Haruka menyeringai penuh kemenangan. Dia hanya seorang model pakaian dalam, dengan gaji yang tak seberapa itu. Akhirnya sekarang bisa dinikahi oleh pengusaha kaya seperti Axelio Anderson. Siapa yang akan menyangka?
"Kehamilanku benar-benar menguntungkan," Haruka mengelus perutnya dengan bangga.
***
Tak terasa, kehamilan Jea sudah memasuki bulan ke-9. Kandungan yang semakin hari semakin berat, dan semakin ke sini, selalu ingin dimanjakan oleh Andrew. Jea benar-benar mengurung Andrew agar tak bekerja selama seminggu ini, sebelum hari perkiraan lahir yang ditentukan oleh dokter pria yang sialannya sangat tampan. Jea tak tertarik dengan dokternya, hanya saja, memang begitu kenyataannya.
__ADS_1
Jika hubungan Jea dan Andrew semakin baik dengan seiringnya waktu. Tidak dengan hubungan Kelvin-Clara. Hubungan mereka tetap begitu-begitu saja. Stuck di tempat tak ada kemajuan yang pasti.
Kelvin sudah bosan dengan ancaman Clara yang mau bunuh diri. Tapi faktanya apa? Sampai sekarang, Clara tak berani melakukannya. Hanya omong kosong belaka. Bagai angin lalu setiap kata yang keluar dari mulutnya itu. Meskipun begitu, Kelvin berusaha tetap bertahan akan pernikahannya.
Axel dan Haruka akhirnya mereka menikah. Jika Haruka bertingkah layaknya seorang ratu. Berbeda dengan Jea, karena Jea bukan penggila harta. Jadi, Andrew lah yang memperlakukannya layaknya seperti ratu.
Apalagi sekarang Jea sudah melahirkan bayi perempuan mungil nan cantik. Mata abu-abu Andrew menurun pada putrinya itu. Kulit putih pucatnya, rambutnya, juga sama persis dengan Andrew.
Anak Andrew adalah foto copy-an dirinya versi cewek.
Andrew sangat bahagia akan kehadiran putri cantiknya itu.
"Anak kita Jelly, dia mirip denganku..." bangga Andrew saat mengendong bayi cantik yang memiliki berat 3 kilogram dengan panjang 50 centimeter itu. Berbalutkan dengan selimut baby pink, begitu pas dengan warna kulit sang bayi.
Jea hanya menganggapinya dengan senyuman tipis. Jea baru melahirkan secara normal beberapa menit lalu. Tentunya dengan dokter cantik itu. Karena Andrew tak ingin dokter pria yang menangani kelahirannya, meskipun yang rutin memeriksanya adalah dokter pria yang sialannya -kata Jea- sangat tampan itu.
"Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya???"tanya Jea memastikan.
"Tentu,,, aku sudah punya nama untuknya. Queeny Parker. Bagaimana? Apa kau menyukai nama itu?"
Jea hanya bisa menelan salivanya sendiri.
"Nama yang bagus,,," Jea memang menyukai nama itu. Anaknya memang pantas menjadi ratu di hidupnya.
"Kita akan mengumumkannya pada seluruh dunia, kalau aku punya anak yang sangat cantik jelita. Bahkan dia sangat mirip denganku," Andrew kembali membanggakan akan kemiripan dirinya dengan putrinya itu.
"Sudahlah Tuan, sudah berapa kali kau menyebutkan kata itu," cibir Jea yang tak suka akan kelakuan Andrew barusan.
"Kau pasti iri kan Jelly?"
"Karena, dia sangat mirip denganku," senyuman penuh kemenangan terpatri di wajah Andrew.
Oweeee oweee....
Andrew langsung panik, gara-gara bayi mungilnya menangis secara tiba-tiba.
"Bayi nya sedang haus tuan," kata salah seorang perawat pada Andrew. Andrew mengerti dan menyerahkannya pada Jea.
Jea menerimanya.
"Anda harus menyusuinya nyonya,"
Dengan ragu, Jea menganggukinya. Andrew terus menatap gerak-gerik Jea yang pada saat ingin membuka kancing baju pasiennya.
"Kau, jangan melihati aku seperti itu," tegur Jea pada Andrew, dia sangat malu saat memergoki tatapan lapar versi Andrew padanya.
Andrew langsung membuang muka. Sialan memang otaknya. Istrinya baru melahirkan, tapi di matanya justru sangat menggoda. 'Oh ya Tuhan, otakku memang konslet," rutuk Andrew dalam hati.
Sebulan setelah kelahiran Jea. Kini Haruka juga tengah memperjuangkan nyawa serta bayinya. Dari dalam rumah sakit besar di Jakarta. Seorang bayi laki-laki, berkulit persis menyerupai ibunya telah lahir di dunia.
Axel sangat bangga itu, setidaknya anaknya adalah laki-laki. Jadi itu berarti, anaknya kelak akan mewarisi kekayaannya secara menyeluruh.
***
__ADS_1
2 bulan sudah usia Queeny. Hari ini adalah hari pesta perayaan atas kelahiran putri pertama pada keluarga Parker. Sesuai janjinya, Andrew telah mengundang semua teman bisnisnya. Dari kalangan kecil sampai besar. Dari teman, keluarga sekalipun musuhnya, tetap Andrew undang.
Jadi di sinilah Axel sekeluarga, Ferdinand sekeluarga dan juga Kelvin sekeluarga.
Untuk Kelvin, tak ada yang menonjol. Hanya ucapan basa-basi biasa. Tapi tidak dengan Clara. Clara masih terlihat akan kecentilannya saat dekat dengan Andrew Parker. Meskipun begitu, Kelvin tak pernah memiliki rasa cemburu yang berarti pada Andrew. Justru Kelvin sedikit muak melihat tingkah Clara yang terlihat memalukan, menurutnya.
Axel dan Ferdinand terlihat sangat akrab. Ferdinand membawa istri dan anak laki-lakinya, Maxy Alero.
Bocah kecil 7 tahun itu terlihat sangat bahagia bisa datang ke acara besar seperti ini.
"Papa, di mana bayinya??" tanya Maxy pada Ferdinand. Maxy memang menginginkan adik perempuan sejak lama. Tapi sayang, Mamanya tak lagi bisa mengandung karena ada masalah di rahimnya.
"Oh anak Papa, apa kau ingin melihat bayi cantik itu sayang??" tanya Ferdinand seraya menggendong Maxy, tapi di tolak mentah-mentah oleh Maxy.
"Papa, Maxy sudah besar," bentaknya yang justru terlihat lucu di mata Axel.
"Anakmu lucu sekali tuan Ferdinand?" Axel tersenyum penuh arti dan bersikap sebiasa mungkin pada bocah laki-laki itu.
"Dia memang menggemaskan kalau kau ingin tahu," Ferdinand segera mengajak Maxy dan istrinya mendekat di mana Jea sedang duduk manis dengan menggendong bayinya. Sungguh luar biasa aura cantiknya. Pantas saja Andrew begitu tergila-gila pada istrinya itu.
"Selamat tuan Andrew,,," meskipun Ferdinand membenci keadaan ini, tapi dia harus tetap besikap profesional saat dihadapan musuh.
"Ah, terima kasih tuan Ferdinand,," Kedua pria dewasa itu akhirnya bercengkerama. Entah apapun itu.
Sedang bocah kecil yang bernama Maxy itu langsung berlari dan mendekat ke arah bayi cantik Queeny.
"Adik nya cantik sekali," puji Maxy secara jujur.
Jea hanya tersenyum menanggapinya.
"Siapa namanya tante??" lanjut Maxy ingin tahu.
"Namanya Queeny sayang," balas Jea sambil membelai lembut rambut Maxy.
"Mama, aku ingin Queeny!!! Bisakah kau membuatkannya untukku??"
Suara nan melengking itu membuat seluruh perhatian semua tamu undangan yang hadir tertuju pada Maxy.
Semua orang hampir seluruhnya tertawa mendengar permintaan konyol dari putra tunggal keluarga Alero itu.
"Kau menginginkannya, maaf ya.. Om akan egois untuk itu. Karena Queeny adalah milik om,"
Kembali seluruh ruangan itu tertawa terbahak-bahak mendengar candaan yang Andrew lontarkan. Seorang Andrew Parker yang berwajah dingin jarang tersenyum bahkan tertawa, dan sekrang melontarkan candaan, ya walaupun garing. Tap ini adalah hal terlangka yang ada.
Mereka yang ada di sana terlihat sangat bahagia, seperti tak ada beban. Mungkin meninggalkan barang sejenak beban fikirannya hingga semuanya terlihat bahagia.
Jea begitu bersyukur. Cintanya yang mencintai tuannya akhirnya terbalaskan. Meski begitu banyak rintangan dan ujian di dalamnya. Semuanya berakhir indah dalam kisah ini.
I Love You Tuan Andrew, Sampai kapanpun, akan ku berikan hatiku untukmu, maafkan tentang masa dulu, karena di masa kini, hanya ada namamu di dalam hatiku
END
Huaaaa, akhirnya kelar juga. Jangan lupa mampir dinovelku yang lain.
__ADS_1
Sequelnya akan di up besok ya,, See you