I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
29


__ADS_3

.


.


.


Andrew memberikan kecupan-kecupan di leher Jea dengan begitu intens


"Andrew, apa yang kau lakukan?" Jea menatap Andrew sedikit marah. Kehamilannya membuat moodnya berubah-ubah tak menentu.


"Aku ingin kamu Jelly, untuk malam ini," ucap Andrew sedikit serak.


"Aku gak mau!!" tolak Jea keras.


Bagaimana mungkin bisa? Bukankah tadi sudah saat di mobil? Apa Andrew tak punya rasa lelah? Sampai harus mengulanginya lagi. Bukan apa-apa, tapi posisi Jea saat ini hamil, dan lagi perasaan mulai tak suka membayanginya setiap Andrew ingin menyentuhnya.


"Kau harus mau, sejak kau hamil kita jarang melakukannya."


Andrew mengeratkan pelukannya. Pertanda permintaannya harus dituruti. Tapi hei, Jea bukan wanita bodoh. Dia akan punya cara lain untuk menolaknya.


"Apa kau lupa? Kandunganku ini lemah. Jika kau memaksanya, aku tak menjamin kalau anak ini akan baik-baik saja..." balas Jea santai tapi penuh penekanan di dalamnya.


"Kau mengancamku?" Andrew menggeser tubuhnya menjauhi Jea. Kepalanya terasa pening antara nafsu atau juga ancaman yang keluar dari mulut Jea.


"Maaf, aku tak ingin mengancam, itu faktanya. Dan sekarang, silahkan saja kalau kau mau..."Jea tersenyum licik. Lakukan sesukamu.


Andrew mengacak-acak rambutnya. Jea benar-benar memancing emosinya. Sebenarnya itu karena faktor kehamilannya atau apa?


"Katakan padaku, apa kau masih mencintaiku?"


Pertanyaan penuh arti keluar dari mulut Andrew. Dia penasaran dengan perasaan Jea yang sekarang. Di saat Andrew mulai mencintainya, tapi kenapa selalu sikap aneh yang ditunjukkan Jea kepadanya?


"Aku tak yakin sekarang," balas Jea lirih dan kemudian menunduk. Jawaban itu memang jujur dari lubuk hatinya. Jea juga tidak tahu pasti apa penyebab rasa cintanya itu berubah.


Tang jelas faktor utamanya adalah, Jea telah mengetahui kalau Andrew menikahinya karena ingin mendapatkan harta warisan. Faktor keduanya, Andrew telah menjualnya pada Axel. Jadi alasan apa untuk dia tetap mencintai Andrew? Bahkan alasan saat Andrew membebaskannya dari tempat dolly waktu itu, itu juga bukan alasan yang tepat lagi untuk tetap mencintai Andrew sang pria cool dan temperament itu.


Andrew yang mendengar jawaban itu yang keluar dari mulut Jea, sempat tertegun sejenak. Jadi itu tandanya... Apa Jea sudah tak mencintainya lagi? Hati Andrew terasa patah malam ini. Dia turun dari ranjangnya, wajah dingin itu kembali menghiasi wajahnya.


"Bersiaplah, kita pulang besok," ujar Andrew dingin tanpa menatap wajah Jea. Ini tiba-tiba saja. Sungguh, terkadang Jea tak bisa memahami sikap suaminya.


"Kenapa? Bukankah kita akan jalan-jalan selama 3 hari?"


Jea yang merasa tak bersalah, merasa heran juga dengan perubahan sikap Andrew ini. Yang tadinya sempat menghangat tapi kenapa sekarang jadi begitu dingin? Apa ada yang salah.


"Ada urusan yang harus diselesaikan," balas Andrew lirih, kemudian meninggalkan Jea seorang diri di dalam kamar hotel tersebut.


***


Pagi menyingsing, membangun ibu muda dari tidur gelisahnya. Ternyata tadi malam, Andrew tak tidur di kamar yang sama dengan dirinya. Jea melangkahkan kakinya malas menuju kamar mandi. Membersihkan diri dan setelah itu dia harus bersiap untuk kembali ke mansion.


Selang 15 menit lamanya, Jea baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Andrew yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang.


"Kau kembali?" sinis Jea dengan ekspresi yang tak suka.


"Hmmm, aku ingin bertemu bayiku," balas Andrew kemudian turun dari ranjang, berjalan mendekati Jea yang masih menggunakan handuk kimono.

__ADS_1


Jea menatap wajah Andrew, seketika perutnya bergejolak. "Ku mohon jangan mendekat," pinta Jea membungkam mulutnya sambil berusaha mengehentikan langkah kaki Andrew yang terus mendekatinya.


"Kenapa?"


Huweeeek... Huweeeek...


Seketika itu juga Jea muntah, mengeluarkan cairan bening yang menurutnya begitu menyiksa. Jea terus muntah, dan tanpa jijik Andrew berusaha memeluk Jea, bermaksud meringankan beban yang Jea tanggung saat ini.


Jea bernafas lega dan langsung berbalik ke kamar mandi. Membersihkan mulutnya dari cairan tadi. Jea memejamkan matanya. Mengatur nafasnya yang masih tak teratur.


Andrew memanggil pelayan, kemudian, ia mengikuti Jea ke kamar mandi. Jea memalingkan mukanya, sudah cukup dia tersiksa jika harus menatap suaminya itu.


Andrew berjongkok, meraih pinggang Jea mendekat. Memposisikan wajahnya tepat di pusar Jea.


"Sebegitu bencinya kah kamu sama Daddy?? Sampai-sampai... setiap Mom menatap Daddy, dia selalu muntah."


Andrew menarik nafas panjangnya. "Kamu sehat-sehat di sana, Daddy sayang kamu juga Mom."


Setelah berkata seperti itu, kemudian Andrew mencium perut Jea.


Jea terdiam. Matanya terasa panas saat mendengar perkataan Andrew tadi. Itu tandanya Andrew menyayanginya bukan?? Ahhh, Jea tak mengharapkan itu.


"Bergegaslah, kita akan sarapan di bawah."


Andrew menuntun Jea keluar. Sedang Andrew masih menetap di kamar mandi. Mengganti bajunya yang sempat kena percikan air yang keluar dari mulut Jea.


Jea menurut dan segera mengganti pakaiannya. Hampa. Satu kata yang memggambarkan keadaan Jea saat ini. Harusnya dia senang Andrew menyayanginya. Tapi Jea merasakan lain. Tak ada getaran-getaran lagi seperti dulu. Kenapa?


Seorang pelayan datang dan membuyarkan lamunannya. Pelayan itu mengepel bekas muntahan Jea tadi. Sebenarnya Jea tak tega melihatnya, tapi bagaimana lagi. Tubuh nya terasa tak bertenaga lagi setelah muntah tadi. Jadi harus bagaimana lagi selain membiarkannya.


***


"Apa aku boleh mampir sebentar?" ijin Jea sambil menatap pemandangan dari jendela mobil di sampingnya.


"Tentu," jawab Andrew yang membuat mata Jea berbinar. Andrew tak ingin menyakiti Jea lagi. Kalau itu yang bisa buat Jea bahagia kenapa tidak?


Andrew memarkirkan mobilnya sesuai intruksi seorang tukang parkir yang bertugas di situ. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Andrew turun kemudian membukakan pintu untuk Jea.


Wajah Jea tampak cerah berseri di pagi hari. Apalagi saat matahari mulai menampakkan cahanya dan sinar itu mengenai sebagian wajah Jea. Membuat wajah Jea terlihat sangat mempesona bagi Andrew. Andai tempat ini bukan tempat umum, Andrew pasti akan mencumbunya di situ juga. Tak perduli kalau Jea menolak atau bahkan mengancamnya.


"Kenapa?" tanya Jea heran, karena sejak turun dari mobil tadi. Andrew terus menatapnya dengan lapar. Benar-benar tak punya rasa capek kali nih orang. Dengus Jea dalam hatinya.


Andrew tersadar dan segera membawa Jea ke sebuah pohon kelapa yang lumayan pendek. Tak perduli dengan keadaan sekitar, Andrew langsung membungkam bibir Jea. Jea merasa malu kali ini, dia berusaha memukul-mukul dada Andrew. Setelah puas, Andrew melepaskan tautan bibir keduanya.


"Kau terlihat menggoda di pagi hari Jelly, aku tak bisa menahannya," bisik Andrew yang langsung ditatap dengan sorotan penuh kebencian dari Jea.


"Kau gila, mood ku hilang gara-gara ini." Jea mendengus sebal dan langsung membalikkan badannya kembali ke tempat parkir mobil.


"Kau tak ingin jalan-jalan?" tanya Andrew setelah berada tepat di samping Jea. Jea menggelengkan kepalanya. "Pulang saja," jawab Jea malas.


Lagi-lagi Andrew merasa bersalah. Dia terlalu egois hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan keadaan Jea. Baru saja dia ingin membahagiakannya, tapi dalam waktu itu juga Andrew menyakitinya.


***


Andrew melajukan mobilnya dengan santai, pikirannya terbelah menjadi dua bagian. Antara menyetir dengan benar dan menatap Jea yang terus membuang wajahnya di jendela.

__ADS_1


Ciiiiiiiiittttttttt


Dengan sigap Andrew mengerem mobilnya secara mendadak. Sampai-sampai kepala Jea hampir terbentur dengan benda yang ada di depannya, begitu juga dengan Andrew yang kepalanya hampir terbentur dengan setir.


"Sial, siapa mereka? Beraninya menghalangi mobilku," desis Andrew emosi.


Karena kelengahannya, tiba-tiba ada mobil yang menghalangi jalannya. Terlihat dua orang bertubuh besar bertatto keluar dari mobil itu. Andrew langsung paham, mereka orang-orang suruhan Axel.


Jea yang tak mengerti langsung panik. Dia teringat kejadian dimana Kelvin dipukuli oleh Bimo. "Jelly, apapun keadaannya jangan pernah keluar dari mobil," titah Andrew pelan.


Jea menggeleng dan meraih lengan Andrew.


"Aku takut." Wajah Jea memucat seketika.


"Tenanglah, kau aman jika kau menurut." Andrew mengelus puncak kepala Jea, lalu turun mengelus lembut Jea. "Dad titip mom."


Andrew keluar dari mobilnya. Menggulung lengan kemejanya sampai siku.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Andrew sambil berkacak pinggang emosi.


"Tuan kami, menginginkan istri Anda. Tolong serahkan dia sebelum kami nekat," jawab salah seorang yang berbadan penuh tato itu.


"Ciiiih! Tuanmu masih melakukannya dengan cara yang kotor rupanya," decih Andrew seraya menghina Tuan mereka.


Tiba-tiba mobil Andrew dibuka paksa oleh beberapa orang lainnya. Tubuh mereka sama-sama gempal. Tapi pakaiannya saja yang membedakan.


Andrew membelalakkan matanya terkejut, saat mendapati tubuh Jea yang lemah dalam pelukan laki-laki.


"Jelly," gumam Andrew begitu panik.


Terlihat jelas Jea berusaha memberontak di sisa-sisa tenaganya. Andrew kembali menatap dua orang pria yang mengaku anak buah Axel itu.


"Kalian benar-benar licik."


Kedua orang itu ternyata sama bingungnya dengan Andrew. "Kami hanya berdua Tuan, saya rasa mereka bukan dari kelompok kami," timpal pria bertatto yang berkulit hitam.


Andrew tampak berpikir dan kembali menatap orang-orang yang sedang mendekap tubuh Jea. Mata Andrew dikagetkan dengan darah segar yang mengalir dari pangkal paha Jea.


Andrew murka. "LEPASKAN ISTRIKU!!!"


Di saat seperti ini Andrew tak bisa melakukan apapun kecuali melawan para musuhnya itu satu persatu. Tapi tenaganya tak akan mampu melawan 6 orang sekaligus.


"Kami tak akan melepaskannya Tuan, sepertinya dia sangat berharga untukmu. Jadi kami akan melenyapkannya." Salah seorang dari mereka menjawab dengan wajah menyeringainya.


Buugggghh


Bugggghhhh


Buggghhhh


Andrew sempat tertegun akan datangnya seseorang yang dikenalinya. Dan kemudian membantu orang itu. Andrew tak bisa berpikir panjang. Fokusnya adalah Jea dan bayinya.


"Serahkan nona itu pada kami Tuan."


Dalam keadaan genting seperti ini, bisa-bisanya anak buah Axel itu meminta Andrew menyerahkan Jea.

__ADS_1


Andrew tak menggubrisnya dan langsung membawa Jea ke mobil. Kemudian membantu orang yang menolongnya, yang tak lain adalah Kelvin.


To be continued...


__ADS_2