I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
59


__ADS_3

.


.


.


Dalam waktu yang bersamaan. Axel sedang diinterogasi oleh Thomas.


"Apa yang anda inginkan tuan???"tanya Thomas tanpa basa-basi.


"Apa kau tak dengar, aku ingin menikahi Haruka..." Axel ingin menembak kepala Thomas saat ini. Karena dari kemarin pertanyaan yang ia lontarkan tetap sama.


"Apa anda menyerah tentang nona Kayla??"


"Aku tak pernah menyerah. Aku hanya ingin menunjukkan pada Andrew, bahwa seleraku lebih tinggi darinya???" Axel menyadarkan tengkuknya di kursi putarnya. Bukan persaingan sebenarnya. Hanya saja Axel sakit hati dengan sikap Jea dan Andrew padanya.


"Bagaimana jika nona Kayla masih hidup???" Lagi??? Thomas bertanya itu tiada henti. Membuat fikiran Axek makin kacau. Axel dengar sendiri, waktu lalu Thomas sudah mengatakan bahwa Kayla kemungkinan besar sudah tak bernyawa. Hingga Thomas mendukung Axel untuk melamar Jea. Dan sekarang apa??? See, mungkin Thomas tak suka pada Haruka.


"Kalau benar masih hidup, bawa dia kemari. Aku beri waktu seminggu. Bukan 2 tahun lagi..." tegas Axel. 2 tahun sudah ia menunggu Kayla, tapi tak ada kabar dan hasil.


Thomas menyanggupi. Kali ini ia tak bekerja sendirian. Tidak seperti Axel yang jalan di tempat. Hanya berharap informasi dari anak buahnya.


Jika Thomas yang bertindak. Thomas akan terjun langsung, dan yang jelas Thomas menyewa detektif handal yang terkenal akan kecerdikannya.


Setelah persetujuan dari sang majikan. Thomas segera memesan tiket, dan bersiap-siap menuju bandara Soekarno-Hatta. Tujuannya jelas, Amerika.


***


Jea menyibak dressnya lebih ke atas. Andrew tak suka, jadi tangannya bergerilya mencari resleting di sana. Ia segera menarik ke atas baju Jea. Menyisakan bra dan celana dalam di tubuh Jea. Dan Andrew yang suka melihat Jea polos, akhirnya melepas semua benda yang melekat pada Jea.


Jea hanya menjalankan tugasnya, membuat puas suaminya pagi ini.

__ADS_1


Andrew mendesah berat. Ia tak tahan dengan perlakuan lembut Jea. Segera ia mengambil alih. Menjauhkan benda-benda di atas meja kerjanya untuk mendudukkan tubuh Jea di sana.


"Kita coba yang begini..." bisik Andrew. Dan Jea hanya pasrah.


Andrew meloloskan celana berikut celana dalamnya. Keduanya sama-sama polos. Membuat suasana dingin pagi hari menjadi panas, sepanas pergumulan mereka.


Hampir 30 menit saling menyatu, keduanya langsung mengatur nafasnya yang pendek dan tersendat-sendat. Di balik itu semua, Andrew tersenyum puas.


"Makasih Jelly..." ucapnya sambil memeluk tubuh Jea yang masih duduk di meja. Kemudian mencium kening Jea sangat lama.


Jea masih memejamkan matanya. Menikmati sisa-sisa percintaan mereka. Selalu tak bisa dibayangkan akan sentuhan Andrew akhir-akhir ini.


***


Setelah mandi untuk kedua kalinya, kini Jea akan berangkat ke restorannya. Jea tak berangkat sendiri, melainkan ada Roy yang jadi sopir pribadinya.


"Kamu Roy bukan???" tanya Jea yang kini sudah duduk di kursi bagian penumpang.


"Iya benar nyonya..."jawab Roy ramah.


"Benar nyonya, ada apa nyonya bertanya seperti itu???" Roy segera melajukan mobilnya meninggalkan mansion.


"Lupakan..." Jea mengibaskan tangannya. Sebenarnya ada hal yang mengusik di hati Jea. Tentang kegiatan Andrew saat di kantor. Apa Andrew punya sekretaris wanita seperti di novel yang beberapa hari ini Jea baca. Tapi Jea tak berani menanyakannya. Toh, dia sudah diberi kebebasan bukan? Jadi dia bisa sesuka hati keluar-masuk di kantor itu.


Sesampainya di Jelly resto, pengunjung sudah mulai ramai. Jea mengembangkan senyumnya, ini semua berkat Andrew. Jadi restonya semakin ramai pelanggan. Bahkan pelanggan dari KL resto ada yang pindah kesitu. Jea masih ingat betul wajah-wajah mereka. Karena Jea sebagai waitress, yang pasti selalu berada di depan untuk berhadapan langsung dengan pelanggan.


"Wah,, istrinya tuan Andrew cantik juga ya ternyata..." puji salah seorang pelanggan yang menatap Jea saat melintas di depannya. Jea membungkuk hormat.


"Selamat pagi, selamat menikmati sarapan anda...." Jea melihat jam di tangannya yang masih setengah 10. Setidaknya itu masih waktu pagi.


"Terimakasih... boleh saya minta foto dengan anda..."

__ADS_1


Roy yang belum beranjak dari belakang Jea. Akhirnya bertindak, ia akan melarang orang itu. Tapi Jea memberi isyarat agar Roy tak ikut campur.


" Gak apa, kamu bisa pergi Roy..." intruksi Jea pada Roy.


Roy mengangguk. Ia segera meninggalkan Jea. Ucapan Jea tak ia telan mentah-mentah. Sebagai orang kepercayaan Andrew, ia tak mau ambil resiko. Segera mungkin ia menelpon Andrew.


Tak lama setelah kepergian Roy. Dua orang berbadan tegap, pakaian serba hitam. Pantas disebut bodyguard, kini tengah mengawasi Jea yang sedang asyik berfoto. Jea merasa dirinya jadi artis dadakan.


Setelah acara foto-fotonya. Jea mendengus sebal ke arah dua orang bodyguard itu. Suaminya sangat keterlaluan. Meskipun diberi kebebasan, nyatanya Jea tak bebas seutuhnya. Jea tak menolak kali ini. Selama ia diperbolehkan keluar rumah, Jea akan membiarkan Andrew melakukan apa saja yang ia mau.


Suasana resto yang begitu ramai, membuat Jea turun tangan. Sepertinya Jea butuh pelayan lagi agar tak terlalu kesusahan seperti ini. Jea kasihan pada karyawannya yang tak sempat istirahat.


Jea melihat dua orang bertubuh tegap itu hanya santai berdiri. Kehadiran mereka berdua mengusik jiwa Jea untuk menyuruhnya bekerja.


"Kalian berdua jangan diam saja bisa???" Jea buka suara setelah ia mendekat ke arah mereka.


Bodyguard itu menunduk kemudian mengangguk. Jea berujar dalam hati, 'tubuh gedhe, tapi nyali ciut juga saat di depanku'


"Apa yang nyonya inginkan? kami siap melakukannya..."jawab bodyguard itu yang membuat Jea menyeringai.


"Bagus,,, kalian jadi karyawanku hari ini. Layani pelangganku semua. Tanyakan pesanannya. Dan satu lagi,,, kalian jangan berekspresi semenakutkan itu. Nanti pelangganku akan kabur. Jadi senyum. Seeeenyum...." Jea menjalankan jarinya di depan mulutnya berbentuk setengah lingkaran ke atas. Intruksi agar kedua orang itu tersenyum. Dan keduanya yang jarang tersenyum, akhirnya memaksakan juga.


"Nah gitu... jadikan terlihat manis...." puji Jea yang membuat hati kedua orang pria itu seakan berbunga. Jarang-jarang majikan memujinya. Yang ada bogeman mentah jika salah melakukan tugas.


Sesuai janji Jea pada Andrew, dia boleh bekerja asal tak kelelahan. Jadi Jea hanya bertugas jadi kasir saja. Karna memang benar, jika ia sampai kelalahan. Bagaimana nanti jika Andrew minta jatah?? Ingatkan Jea, dimanapun dan kapanpun.


Jea tertawa sendiri, saat melihat beberapa pelanggan yang terang-terangan menggoda para bodyguardnya. Dan ekspresi kedua orang itu tetap tersenyum dan kadang mengernyit jika ada pelanggan yang nekat menyentuh dada bidangnya.


Jelas Jea melarang keras jika mereka berdua membuat onar di restonya. Bisa kacau usahanya yang bahkan masih belum genap seminggu.


Jea tetap tenang di kasir, mengawasi interaksi pelanggan dan karyawannya. Hingga iris matanya menajam, saat tak sengaja melihat kehadiran seseorang yang dikenalnya.

__ADS_1


jangan lupa komen dan vote nya ya...


dukungan kalian, semangatku.


__ADS_2