
"Jawab aku kak! Kau mau membunuh Dad?" Queeny tak menerima ini. Andrew mau dibunuh. Siapa yang rela? Orang bodoh juga tidak akan rela jika ayahnya dibunuh. Sekalipun itu orang yang dicintai pelakunya.
Maxy melepaskan tangannya dari leher Andrew. Mendekati Queeny dengan pelan. Mata se-hitam jelaga itu menatap Queeny dengan tajam. Queeny mulai ketakutan. Ia mundur teratur, seirama dengan langkah Maxy yang semakin dekat dengannya.
"Queeny, sepertinya aku harus menjelaskan sesuatu padamu."
Netra itu sepertinya ingin menghunus tajam mata Queeny. Badan Queeny bergetar dengan hebatnya. Matanya mulai berkabut karena rasa takut yang melanda. Ia tak menyangka, Maxy bisa mengerikan seperti ini.
Andrew yang masih terbatuk-batuk, ingin mencoba membela Queeny. Ia masih tak sadar dengan sikap Maxy ini. Andrew sama sekali tak mengerti dimana kesalahannya. Sampai-sampai dia yang akan dilenyapkan oleh seorang pemuda seperti Maxy.
Maxy menyunggingkan sebuah senyuman kecil. Tapi di mata Queeny, itu adalah senyuman yang mematikan. Tubuhnya terasa merinding. Mata itu memanas, rasanya Queeny ingin menangis. Darahnya berdesir dengan hebatnya. Merinding. 2 kali seumur hidup, Queeny merasakan kejadian yang begitu menyiksa kejiwaannya.
Pertama, saat dia dituduh membunuh seseorang. Kedua, seperti sekarang ini. Maxy benar-benar membuat ulu hati dan bulu kuduk Queeny merinding. Jantungnya berdentum hebat dilanda akan ketakutan yang luar biasa menyeramkan.
__ADS_1
"Kkk... Kak." Queeny benar-benar tercekat. Ia bingung harus melakukan apa.
Melihat kegugupan dari Queeny, Maxy semakin senang. Apalagi posisinya saat ini. Maxy sudah berada tepat dihadapan Queeny. Mata itu menatap mata abu-abu milik sang kekasih. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tapi Maxy segera menepis keganjalan itu. Hatinya tak boleh goyah hanya karena menatap mata Queeny. Maka itu, ia putuskan untuk segera berbicara.
"Apa kau tidak tahu Queen? Daddy mu telah membunuh papaku. Dia menghabisi nyawa papaku di depan mata kepalaku sendiri."
Queeny tercengang. Tidak? Andrew bukan pembunuh. Maxy pasti mengada-ada. Tidak mungkin Andrew membunuh. Walaupun semua tahu akan sisi kegelapan dunia bisnisnya. Tapi Queeny yakin, Andrew tak pernah membunuh siapapun. Queeny tahu benar Daddy nya seperti apa.
Andrew akhirnya paham dengan maksud ucapan Maxy. Jadi selama ini, Maxy mengira kalau dirinya yang membunuh Ferdinand. Andrew menggeleng lemah. Semua ini salah paham. Andrew tak terlibat apapun tentang pembunuhan itu.
Sedikit kesusahan, Andrew akhirnya angkat bicara. "Apa maksudmu? Siapa yang membunuh Ferdinand? Kau jangan asal bicara Maxy?" Suara Andrew terdengar lemah khas orang sakit.
Mendengar itu, Maxy membalikkan badannya. 'Orang sekarat ini? Harusnya dia sudah mati.'
__ADS_1
"Apa Anda lupa Tuan? Siapa pria angkuh yang berdiri di samping jasad papa saya? Apa Anda melupakan itu?"
Andrew semakin tak mengerti. Apalagi tatapan Maxy yang terlihat begitu menyeramkan. Andrew tak menyangka, Maxy adalah sosok pria berdarah dingin seperti papanya. Andrew akhirnya menaruh curiga. Apa mungkin Maxy pernah melenyapkan nyawa seseorang? Melihat aksinya yang tadi nyaris menghabisi nyawanya, membuat Andrew berpikir yang tidak-tidak tentang Maxy.
"Heh Maxy! Kau... saat itu kau masih anak-anak. Kau tak mengerti apa-apa."
"Ck, apa yang saya tidak mengerti? Anda telah menyuruh anak buah Anda menembak kepala Papa."
"Itu tidak benar." Andrew berusaha bangun dari tidurnya. Queeny yang tanggap langsung berlari mendekat ke arah Andrew. "Dad, pelan-pelan. Biar Queeny yang mengatasi orang ini."
Maxy melebarkan tawanya. Queeny benar-benar menggemaskan. Bagaimana bisa dia mengatasi Maxy. Sedang hatinya saja sudah mentok pada diri Maxy. Eh tunggu, apa Maxy sedang dalam percaya diri yang tinggi? Mungkin saja. Tapi siapa perduli dengan kemarahan Queeny. Yang dia inginkan hanya pencerahan. Dendam ini segera terbalaskan.
To be continued.
__ADS_1