
Sepulang dari rumah sakit. Maxy melangkahkan kakinya ke dalam balkon rumah. Niatnya ingin menemui Axel. Tapi------- tanpa Maxy inginkan, sebuah percakapan mengganggu kinerja otaknya.
"Bagaimana rencana mu Tuan? Apakah berhasil?" tanya suara berat seorang pria. Maxy sangat hafal siapa pemilik suara itu. Itu adalah suara Thomas. Anak buah Axel yang terpercaya.
"Lihat saja, anak itu pasti melakukan tugasnya. Dia akan membunuh Andrew sekarang."
"Anda memang yang terbaik Tuan. Anak itu terlalu bodoh," jujur Thomas. Dia keceplosan rupanya.
"Sssssttt, jangan keras-keras. Cukup kita saja yang tahu." Setelah mengingatkan itu. Axel terkekeh nyaring. Ia merasa di atas awan. Menang tanpa harus mengeluarkan tenaga. Itu jika Andrew sudah mati tentunya.
"Hahaha, aku lupa Tuan. Kalau anak itu tinggal di sini juga." Thomas ikut terkekeh.
Tak tahukah mereka? Dengan pembicaraan yang seperti itu, malah membuat Maxy sakit hati. Maxy tentu tahu siapa yang mereka bicarakan. Pastilah dirinya, siapa lagi? Apalagi Fero? Sama sekali tak mungkin, dia tak mengerti apa-apa tentang dendam Maxy. Fero terlalu manja dan tak mengerti sisi gelap Axel.
Maxy mengepalkan tangannya dengan kuat. Hingga buku tangannya berubah memutih. Sialan. Jadi selama ini Maxy hanya dibodohi oleh Axel?
"Lihat saja nanti, kau akan menerima akibatnya."
Maxy memutar balikkan badannya. Ia jadi malas menemui Axel. Meskipun ini lumayan jelas, tapi Maxy masih enggan minta maaf pada Andrew. Dia masih ingin pura-pura tidak tahu apapun tentang Axel atau kebenaran Andrew. Ini begitu tiba-tiba baginya. Jelas menghantam kejiwaannya lebih dalam. Maka itu, ia putuskan pergi ke atap gedung. Dimana, di sana selalu ada Sandria. Maxy butuh bantuan, dengan memanfaatkan cinta Sandria mungkin.
***
__ADS_1
"Kau datang Sayang, aku pikir kau sudah melupakan ku," sedih Sandria. Matanya terlihat begitu sembab. Sudah lama ia menunggu Maxy datang dan menyambut perasaannya. Namun sampai sekarang, Maxy tetap bungkam. Dan tak mengatakan apa-apa tentang perasaannya. Dan sesungguhnya, Sandria tahu kalau Maxy kini tengah menjalin kasih dengan anak dari musuhnya.
"Melupakanmu mungkin bisa. Tapi tempat ini? Aku tak bisa melupakannya."
Huah, sungguh pedas sekali perkataan Maxy. Dia dengan gampangnya bicara seperti itu. Padahal kalau ada apa-apa, dia selalu minta tolong dengan Sandria.
Sandria sendiri sudah biasa mendapat perlakuan seperti ini dari Maxy. Dia jadinya santai-santai saja.
Sandria mengangguk. Tempat ini adalah tempat Maxy menghilangkan penatnya. Jika Maxy ke sini, pasti ada masalah tertentu.
"Ada apa? Apa kau belum berhasil melenyapkannya?" Sandria menampilkan senyum devilnya. Masalah Maxy tak jauh-jauh dari niat balas dendamnya bukan? Orang yang terlanjur diselimuti niat jahat, pasti akan selalu dikejar-kejar dengan bayangan jahatnya sendiri.
"Apa kau bisa cerita padaku Max?" tanya Sandria penasaran.
"Aku tak bisa menceritakan padamu San. Udahlah, aku akan mengatasinya sendiri."
Lalu Maxy menengadahkan kepalanya ke atas. Dia menatap langit yang terlihat begitu dekat dengannya. Ada rasa sesak di dadanya. Tapi hatinya sekuat baja, tentu dia tak akan menangis. Dia bukan laki-laki yang lemah hanya karena memikirkan kelakuan Axel padanya. Yang ada, dia akan membalas semua kelakuan Axel itu dengan perlahan. Karena bagaimanapun juga, Axel yang selama ini membesarkannya.
***
Jam sekolah telah usai. Queeny hendak pergi keluar kelas, tapi dicegah oleh lengan seseorang. Queeny menengok ke arah orang tersebut. Ia jengah mendapati siapa orangnya. Ya, dia Fero. Adik angkatnya Max. Dan Queeny belum tahu tentang hal ini. Apa jadinya jika mereka berdua sama-sama tahu?
__ADS_1
"Kau lagi rupanya? Mau mu apa sih?" tanya Queeny sedikit emosi.
"Mau ku ya kamu. Ayo Queen, kita berkencan?"
"Kamu gak ada bosennya ngajakin aku kencan. Hello Fero, asal kamu tahu. Aku sudah punya pacar."
DEG.
Sepertinya Fero ketinggalan berita. Bagaimana mungkin gadis yang ia cintai sudah berpacaran? Tidak, ini tidak boleh terjadi.
"Kau bohong!"
"Buat apa bohong!" tantang Queeny dengan yakin.
"Tunjukkan siapa pacarmu padaku!" pinta Fero dengan amarah yang mulai menggebu.
"Siapa takut."
Setelahnya, Fero segera pulang ke rumah. Dia akan mengadu dengan papanya. Tak boleh siapapun memiliki Queeny selain dirinya. Camkan itu, siapa saja yang berani merebut Queeny darinya. Maka tangan Axel yang akan bertindak.
Bersambung.
__ADS_1