I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
51


__ADS_3

.


.


.


"Aku tak butuh kata maafmu Jelly..." Andrew segera meraup bibir Jea itu kembali. Memagutnya, menyesapnya penuh dengan cinta. Lama ia memendam keinginannya ini hingga terbayarkan sekarang.


Jea terengah-engah. Andrew benar-benar pencium yang handal. Bahkan ia tak membiarkan Jea menyerap udara barang sekalipun. Handal apa nafsu sepertinya berbeda tipis jika dalam keadaan seperti ini.


"Maaf..." ucap Jea terdengar begitu lirih.


"Dengan siapa???" tanya Andrew matanya yang menggelap kembali memancarkan warna abunya yang dingin.


Jea masih terdiam. Haruskah ia menjawab kalau dia sempat bersikap rendahan saat di depan Kelvin? Tidak, Jea takut Andrew akan marah kepadanya.


"Apa dengan Kelvin??? Atau dengan Axel??? jawab aku Jelly."


Jea mendesah pelan saat tangan nakal Andrew tiba-tiba meremas salah satu buah dadanya. "Jawab Jelly," suara dan remasan itu bagai ancaman di telinga Jea. Sungguh remasan itu tak melukai apapun. Tapi sensasi yang diakibatkan dari tangan Andrew membuat pembuluh darahnya mengalir tak normal.


"Keh--- keduanyahhhh..."


"Berapa kali???" suara itu masih terdengar dingin meskipun tersirat rasa cemburu dan kesakitan yang tak bisa dijabarkan. Posesif. Sepertinya ia tak mau miliknya dinikmati orang lain. Dulu fikirannya memang gila. Jadi membiarkan barang berharganya diberikan orang lain. Tapi tidak sekarang. Dia harus memilikinya seutuhnya. 'Kau punyaku, hanya milikku...'


"S--- sa-tu kali, satu kali." Tangan itu semakin menari-nari di seluruh bagian sensitif itu. Kembali bibir merah muda itu menciumi pundak dan lehernya.


Kemudian Andrew mendorong tubuh Jea dengan perlahan menuju ke ranjang tanpa melepaskan mulutnya yang terus mengeksplor seluruh permukaan kulit leher, tengkuk dan rahang istrinya.


Saat ia ingin mendorong tubuh Jea. Tangan-tangan Jea menahannya. "Aku belum siap," ucap Jea lirih sambil mengatur nafasnya akibat pancingan gairah dari Andrew.


Andrew menautkan kedua alisnya seraya bertanya kenapa. Jea menatap Andrew dengan lekat. "Bajumu basah," sambung Jea beralasan tapi Andrew tetap diam. Nafsunya sudah di ubun-ubun bercampur dengan api cemburu yang sudah membara, tapi ia berusaha berdamai dengan gairahnya. Menghela nafas sejenak. "Ya, mumpung basah. Jadi sekalian main basah-basahan," balas Andrew dengan suara sensual menggoda tapi menakutkan bagi yang mendengarnya.


Jea menelan salivanya susah payah. "Saya masih tak percaya dengan anda, kenapa Anda membohongi saya??" Dengan beraninya Jea melupakan bahwa ia telah lupa kalau tadi ia dipaksa untuk jujur akan kissingnya dengan siapa saja.


"Karena mencintaimu, menebus kesalahanku padamu!!!" suara itu masih terdengar tenang dan dingin. Dia ingin menghukum istrinya. Tapi tidak sekarang. Ia akan membiarkan Jea melakukan apapun sesukanya.


"Kenapa harus seperti itu???" Jea masih merasakan keganjalan. Bagaimana kalau Andrew ingin menjualnya kembali. Kebaikan dan keburukan kelakuan Andrew terhadapnya masih tertangkap jelas di memory nya. Tak mungkin ia enyahkan selama ini. Jujur Jea sempat menginginkannya tadi. Merasakan punya Andrew memasuki dirinya begitu penuh dan sesak hingga membuatnya melayang. Jea segera menggeleng, fikirannya terlalu liar sekarang.


"Fiuuuuuuhhhh..." Andrew menarik nafasnya dalam-dalam. Berusaha sabar dan dewasa untuk menghadapi wanita muda yang berbeda 8 tahun darinya.


"Apa kau pernah ke pengadilan Jelly???"

__ADS_1


Jea menggeleng. Ia bahkan belum pernah pergi ke pengadilan Negeri.


"Jadi----"


"Ya, seperti yang kau fikirkan Jelly. Selama di Italia aku mendoakan kebahagianmu,tapi ternyata kau tak kunjung bahagia. Sepertinya kita ditakdirkan untuk bersama agar kita bisa bahagia selamanya."


Bagai mimpi, ucapan Andrew sempat membuat Jea melayang. Tuan Andrew nya sudah berubah. Penyayang bahkan membual. Ck, dalam hatinya Jea tersenyum bahagia.


"Bagaimana??? Apa kau masih meragukanku???" tanya Andrew lagi memastikan.


Jea kembali menggeleng. "Tidak, saya percaya anda."


"Bersikap biasa saja Jelly,, jangan seformal ini pada suamimu." Andrew mengelus pipi Jea penuh sayang. Jea segera menubruk badan Andrew yang masih terbalutkan bajunya yang basah.


"Makasih, makasih suamiku."


"Bagaimana??? Mari kita lanjutakn yang tadi. Let's play game my Jelly..."


Sekali dorong, tubuh Jea langsung terhempas di atas kasur berseprei putih nan empuk itu.


"Layani aku Jelly," bisik Andrew sambil setengah menindih istrinya. Jea masih terdiam, menahan gejolak di dada yang sepertinya akan keluar tanpa diminta.


"Kenapa Jelly??? Apa kau suka???" tanya Andrew saat melihat gerak-gerik mencurigakan dari Jea.


Dengan pipi merona, Jea mengangguk. Bahwa ia tak hanya suka, tapi juga kagum. Tangan Jea kembali aktif. Menyapu kulit putih milik Andrew dengan nafsu bercampur emosi. Andrew merasa aneh. Jea tak seperti biasa. Andrew merasakan sesuatu yang hangat membasahi pundaknya.


Andrew segera mengambil alih. Membalik tubuh Jea untuk berada di bawahnya. "Jangan menangis," bisik Andrew pelan.


Jea menggeleng, ia segera menghapus air matanya. "Please!!! Lakukan Andrew," rancau Jea saat tangan Andrew menyapu permukaan kulit sensitifnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Tangan Andrew merambat mencari benda kecil kesukaannya. "Ehhhhmmm" Jea berdehem saat tangan itu tepat mengenai sesuatunya. Jea benar-benar tak tahan. Tangannya mendekap erat pundak Andrew. "Ku mohon jangan goda aku." Mata Jea terpejam sedari tadi. Membuat Andrew agak risih.


"Buka matamu Jelly,,, tatap mataku. Aku suamimu." Bisikan lembut bagai mantra, Jea membuka matanya. Menatap dalam mata abu-abu yang sudah dikelilingi dengan gairah. Andrew tak ingin percintaannya malam ini dibayangi wajah laki-laki lain. Dia hanya ingin Jea menatapnya. Mengingatnya malam romantis ini.


Jea kembali menggigit bibir bawahnya saat tangan itu terus mempermainkan benda kecil miliknya. "Ehhmmm, ehmmm..." deheman panjang membuat otot-otot Jea bagai dilolosi. Jea keluar seketika.


Saat benda perkasa itu mengelus punyanya. Jea kembali menggigit bibir bawahnya. Dia takut Andrew bersikap brutal. Andrew yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya akhirnya bisa mengerti apa yang Jea rasakan. "Aku tak akan menyakitimu, percayalah."


Dengan ragu Jea mengangguk, ia juga menginginkannya.


Sekali hentakan punya Andrew masuk sepenuhnya. Andrew mendesis, mengumpat nikmat. "Kau masih sempit sayang."


Andrew memejamkan matanya. Menikmati lubang yang meremas-remas dan memijit juniornya dengan lembut. Ia bertekad ingin mempunyai anak dari rahim istrinya.

__ADS_1


"Ssssshhhh..." Andrew mendengar rintihan pelan dari mulut Jea membuat nya semakin bergairah. Dengan pelan ia menggoyangkan pinggulnya.


Jea yang sudah lama tak merasakan ini, dibuatnya melayang-layang. Benar-benar nikmat yang tiada tara. Sentuhan lembut yang tanpa menyakitinya membuat hati Jea menghangat. Memang Andrew yang selalu membuatnya seperti ini.


Rintihan dan desahan saling bersahutan. Hingga keduanya sama-sama saling mendesah panjang. "I'm coming Jelly." desah Andrew yang langsung mengulum bibir Jea lembut penuh nafsu yang membara. Tak lama kemudian tubuh Jea menghentak-hentak ke atas. Pelepasannya tercapai begitu indah. Jea tak pernah membayangkan ini sebelumnya. Ia akan selalu mengingat malam ini.


***


Dua insan manusia masih bergelut di dalam selimut. Hp yang terus berdering tak mereka hiraukan. Aktifitas yang semalam penuh ia lakukan membuat mereka berdua terkuali lemas kehabisan tenaga.


Merasa terganggu dengan deringan HP yang tak kunjung henti membuat Andrew membuka matanya. Ia melihat Jea yang tertidur dalam pelukannya. Tak menyangka semalam Jea bahkan memintanya lagi. Hingga pertempuran itu berakhir sampai jam 3 dini hari.


Andrew meraih ponsel yang ada di nakas. Menatap layar HP itu yang disana tertera dengan nama Bimo. "Dasar pengganggu..." desis Andrew dan dengan pelan meletakkan kepala Jea ke bantal sebelum ia benar-benar menjawab panggilan telepon itu.


"Ya Bimo!!!"


"Tuan,,,, perusahaan Parker Company terancam bangkrut. Tuan Axel telah menyusupkan salah satu mata-matanya di sini. Saat anda di Italia, tuan Axel dan tuan Ferdinant berlomba-lomba ingin merebut perusahaan anda," terang Bimo di seberang sana.


Andrew menggeram. Ia melirik Jea sekilas takut Jea akan terganggu.


"Aku akan segera ke sana," balas Andrew singkat dan langsung mematikan telepon itu secara sepihak.


Ia meletakkan kembali Handphone nya di atas nakas. Menatap wajah istrinya yang terlihat sangat kelelahan. Ia tak mungkin meninggalkan Jea dalam keadaan seperti ini.


Andrew menciumi kening Jea dengan sayang. "Good morning my wife."


Jea terusik dan membuka matanya perlahan. "Kau sudah bangun?" tanya Jea malu-malu sambil memiringkan tubuhnya.


"Aku akan ke kantor Jelly... kau beristirahatlah."


Ucapan Andrew terpaksa membuat Jea langsung terbangun dari posisinya. "Gak!!! Aku akan pulang."


"Baiklah,, mari mandi bersama!!!" ajak Andrew sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Kau akan memintanya lagi nanti." ucap Jea malu-malu.


"Oh ayolah??? Kita suami-istri, melakukan itu tak ada masalah."


Keberadaan Jea benar-benar membuatnya gila. Tak menyangka jika perpisahan itu membuat libidonya semakin naik. Mungkin faktor utamanya karena Andrew tak pernah menyentuh wanita lagi. Ia benar-benar berhenti dari kelakuan bejatnya itu. 'Cukup kau saja Jelly, aku janji.' ucapnya dalam hati.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2