I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
28


__ADS_3

Warning!! Kalau tidak suka, abaikan saja. Tidak usah dibaca.


.


.


.


Andrew terus menyeret Jea mendekati mobil.


"Andrew! Lepaskan!"


Tanpa sadar Jea memanggil Andrew dengan nama, tanpa embel-embel Tuan atau suamiku lagi. Entah, apa yang ada dipikiran Jea saat ini.


"Andrew?" tanya Andrew menaikkan salah satu alisnya. Baru sekali ini Jea memanggil namanya. Rasanya aneh, tapi terlihat menyenangkan.


"Ummm, maksudku suamiku." Ralat Jea sedikit panik sambil menggigit bibir bawahnya.


"Sepertinya aku lebih suka dipanggil nama olehmu," balas Andrew sambil menyunggingkan senyum yang tidak dapat diartikan.


Glekkkk


Jea menelan salivanya dengan susah payah, lalu menoleh ke belakang. Berharap Kelvin atau seseorang menyelamatkannya dari perangkap Andrew saat ini. Dia tidak baik-baik saja. Andrew akan menerkamnya. Tatapan penuh lapar dari sang suami, membuat Jea kesulitan untuk bergerak.


"Ayo Jelly, kau harus dihukum."


Suara itu biasa saja. Tapi terdengar bak desahan sensual. Jea jadi takut sendiri, mau tidak mau Jea harus menerima perlakuan Andrew padanya.


Jea mengedarkan pandangannya ke samping jendela. Meskipun hari sudah mulai gelap, tapi Jea tetap enggan untuk menatap ke depan. Apalagi menoleh kepada Andrew. Rasanya malas sekali. Tatapan liarnya yang membuat Jea malas untuk menatap.


Tiba-tiba Andrew menepikan mobilnya. Jea melihat ke sekeliling. Ini gang kecil, kenapa Andrew menghentikannya di sini? Apa Jea akan dibuang sekarang? Jea merasa was-was. Suasana yang begitu sepi di tambah udara dingin dari AC mobil yang langsung bersentuhan dengan kulitnya, membuat bulu kuduknya meremang.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Jea seketika itu juga.


Sejak berteriak dan meluapkan segala perasaannya di pantai sore tadi. Kini perasaan Jea mulai membaik. Depresinya mulai berangsur-angsur pulih. Di tambah lagi, orang yang dipikirkannya -Kelvin- ternyata baik-baik saja. Kini jiwa keberanian bicaranya mulai tumbuh kembali. Tak ada rasa ketakutan khusus.


"Aku menginginkanmu Jelly," bisik Andrew parau. Dengan segera Andrew melepas seatbelt dari tubuh Jea, sebelumnya Andrew sudah melepaskan seatbelt dari tubuhnya sendiri.


Andrew membawa Jea kepangkuannya. Sandaran kursinya ia dorong sedikit ke belakang. Membuat posisi geraknya lebih leluasa.


"Tidak di sini!" Protes Jea tak suka. Bagaimana bisa dia bercinta di dalam mobil?


"Tapi aku menginginkannya di sini." Andrew menyeringai. Mata abunya menggelap karena diburu oleh gairah.

__ADS_1


"Ini di jalan, tempat umum." Jea benar-benar tidak menginginkan posisi yang seperti ini. Tak mengenakkan.


"Aku akan melakukannya dengan cepat." Andrew sudah tak sabar lagi.


Dengan cepat, Andrew memberikan ciuman pada bibir mungil Jea. Jea menyambutnya meskipun tidak suka. Mungkin inilah yang dinamakan, mau mau tapi malu.


"Uhm..."


Tubuhnya tak pernah bisa membohonginya. Meskipun dia mulai menumbuhkan sikap benci terhadap Andrew, tapi lihatlah, manusia juga butuh yang satu ini. Maka dari itulah, Jea tak menolaknya.


"Are you ready?" tanya Andrew saat ingin memberikan sesuatu yang lebih. Jea hanya mengangguk pasrah. Tubuhnya seraya di awang-awang. Beruntung kaca mobil lamborghini milik Andrew begitu hitam legam. Jadi orang yang dari luar tidak akan bisa menyaksikan adegan mereka di dalam mobil.


"Ochh, kau tetap sama. Begitu kenyal seperti jelly."


Dibubuhkannya kecupan-kecupan di bibir di sang istri.


"Aku hampir sampai," bisik Andrew lagi.


Hingga tak berapa lama, keduanya mencapai puncak secara bersamaan. Jea segera turun dari pangkuan Andrew, membenarkan pakaiannya kembali dengan benar.


Pengalaman pertama yang begitu gila. Untung saja Andrew melakukannya dengan cepat. Sebab, tak lama kemudian, ada mobil yang melaju melalui mobilnya.


Nafas Jea masih terengah, perlakuan Andrew membuat konsentrasinya pecah belah. Untung saja Jea tidak punya riwayat penyakit jantung. Kalau iya, bisa-bisa Jea sudah jantungan sekarang.


"Ini hukuman untukmu... karena mata ini (sambil mununjuk mata Jea) sudah berani nakal. Menatap pria lain yang bukan suamimu."


Jea menatap Andrew tajam. 'Cih... baru sadar kalau kau adalah suamiku? Dimana dirimu yang dulu?' batin Jea sambil menyebikkan bibirnya. Malas menjawab ucapan Andrew barusan.


***


"Apa kau lelah?? Mandilah, aku akan menunggumu di sini."


Andrew sudah berada di dalam kamar hotel VIP tentunya. Ini kamar yang hanya dikhususkan untuknya. Tidak untuk disewakan.


Tak lama kemudian seorang pelayan hotel membawa beberapa menu makan malam yang sudah dipesan oleh Andrew sebelum masuk ke dalam kamar hotel tadi.


Pelayan itu menyiapkan semua makanannya di atas meja dan kemudian pamit undur diri.


Jea keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kimono yang sudah disediakan oleh hotel. Andrew yakin saat ini Jea tidak menggunakan apa-apa di dalam sana. Terbukti dengan tonjolan kecil di dadanya.


Andrew merasakan jiwa primitif nya hadir kembali. Sialan memang, dia tak terlalu kuat menahan godaan.


"Jelly,, makan malam!" Andrew berjalan mendekati Jea. Tapi Jea terlihat bingung mencari keberadaan bajunya ada di mana.

__ADS_1


"Baju kita?" tanya Jea menatap tajam ke arah Andrew.


"Astaga, aku meninggalkannya di dalam mobil," pekik Andrew yang baru teringat akan barang bawaannya.


"Cepat bawakan kemari!"


Jea tak sadar dengan apa yang diucapkannya. Ini adalah kali pertama ia memerintah Andrew,suami yang sekaligus majikannya.


"Biar begini saja, kau tetaplah pakai handuk ini." Tunjuk Andrew pada handuk yang dipakai Jea.


"Gak mau, aku ingin bajuku. Aku ngidam, apa kau ingin anak yang aku lahirkan nanti jadi ileran?" ancam Jea pada Andrew.


Andrew mendengus sebal. Dirinya bahkan belum mandi. Untung Jea mengandung anaknya. Jadi mau tidak mau, Andrew menuruti kemauan Jea.


Jea tersenyum tipis. Ternyata kehamilannya begitu bermanfaat. "Maafkan mama, sudah memanfaatkanmu," ucap Jea pelan sambil mengusap perutnya yang mulai sedikit membuncit.


Hampir 10 menit lamanya, akhirnya Andrew kembali ke kamar hotel. Melemparkan sebuah koper di kaki Jea.


"Puas ngerjain Daddy nya," dengus Andrew sambil menatap perut Jea sinis. Kemudian Andrew melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Saatnya bersih-bersih diri.


Jea melirik Andrew tajam. Dalam hatinya dia ingin memukul atau mencabik-cabik wajah tampan itu sekarang juga. Tapi rasanya itu mustahil.


***


Jea mengerucutkan bibirnya sebal. Biasanya setiap malam dia tidak muntah, tapi setelah makan meat ball tiba-tiba perutnya mual dan langsung muntah di tempat. Andrew sempat marah, karena makan malamnya jadi terganggu. Setelah Jea selesai dengan acara muntahnya itu. Kini Andrew pergi entah kemana. Meninggalkan Jea seorang diri di kamar.


Pelayan kebersihan sudah datang sedari tadi. Tapi Jea tetap mengerucutkan bibirnya. Rasanya dia ingin kabur lagi. Malas jika tiap hari melihat Andrew yang marah-marah tak jelas.


Pelayan kebersihan itu berpamitan pada Jea bertepatan dengan datangnya Andrew yang sudah membawakan sebuah kantong makanan.


"Pizza," gumam Jea lirih saat mendapati makanan apa yang dibawa oleh Andrew.


"Makanlah, aku tak mau anak kita kelaparan di dalam sana."


Oh, perhatian juga. Benarkah Andrew sesayang itu pada anaknya? Bukankah tadi sempat bersikap sinis pada bayi yang bahkan belum lahir itu? Jea jadi tak yakin sendiri. Ia jadi merasa tak selera dengan makanan yang dibawa oleh Andrew.


"Aku gak mau..." tolak Jea dengan wajah juteknya. Andrew mengernyit, sikap Jea ini baru pertama kali ia jumpai.


"Kau harus makan Jelly, atau aku yang akan memakanmu?" Ucapan yang tak terbantahkan dari mulut Andrew itu menjadi ancaman besar bagi Jea sekarang.


Dengan malasnya Jea mencoba memakan pizza itu. Dia menatap Andrew dengan rasa bencinya. Andrew tersenyum dan mendekati Jea. "Makan yang banyak, kalau perlu habiskan."


Jea tersedak, dan menyadari kalau pizza yang dia makan hampir habis setengah. Jea merutuki dirinya. Kenapa hati dan mulutnya tidak bisa diajak kompromi?

__ADS_1


Dengan ego yang besar, Jea menghentikan aksi makannya, ia langsung merebahkan dirinya di ranjang. Andrew mengikutinya. Ingin melanjutkan olahraga malamnya.


__ADS_2