Imamku Seorang Bartender

Imamku Seorang Bartender
* Sarung * Episode 21


__ADS_3

"Malam kak!c.


Sapa Zaf untuk pertama kalinya dengan sebutan kakak pada Shafura, kini Shafura tengah memasak lalu Zaf meletakkan sebuah cincin di depan Shafura.


Shafura mengenal benda itu, cincin pernikahan yang Qun berikan, dia tersenyum bahagia lalu mengambil dan memakainya kembali. Di lihatnya cincin putih polos itu sangat indah melingkar di jarinya.


*Maafkan aku telah melepasmu tadi, kini kau sudah kembali ke tempatmu, jangan lepas untuk kedua kali ya", Shafura bergumam dengan benda mati itu seakan dia bernyawa.


"Eh,, malam Zaf, tumben!".


**T**eruslah terseyum Kak, aku bahagia jika Abang juga bahagia karenamu......."Biar sopan saja, mana Abang, Kak?". Lanjutnya.


"Dia tadi masih sholat, jadi kakak tinggal masak".


Shafura pun ikut memanggil dirinya Kakak karena mereka beda setahun.


"Apakah Kakak sudah tahu hal itu?".


"Yang mana?".


"Kalau Abang sering Sholat".


"Ouh, Kakak tahu".


"Tahu dari mana?".


*Apa iya aku sebutkan nama Geris, ah jangan nanti dia bisa kena masalah*..............."Hmm Kakak lihat sendiri, ada sarung sama sajadah di Bar dan di kamarnya kemarin".


Zaf tersenyum "Ouh, Abang selama ini melakukannya secara sembunyi-sembunyi, dan kau tahu Kak tadi sore pertama kalinya dia berani keluar rumah memakai sarung, aku saja terkejut melihatnya".


"Kerenkan, Kakak yang memintanya, dia jadi tambah tampan!", Shafura merasa bangga dengan pencapaiannya.


"Wah Abang benar - benar sudah takluk padamu kak, begitu mudahnya kau membuatnya menurut".


"Siapa yang takluk dan yang penurut nih" Tanyanya Qun tiba-tiba sambil menarik Kursi.


Shafura dan Zaf melihat ke arah sumber suara, seorang pria tampan nan tinggi sudah berada di belakang mereka, dan yang membuat Zaf tambah kaget dia melihat penampilan Abangnta yang sangat sejuk, setelan koko lengan panjang dan sarung dengan warna senada hitam.


"Kenapa turun, aku bisa membawakan makanan ke atas!" Ucap Shafura .


"Aku bosan di kamar, melihat kalian asik ngobrol aku jadi penasaran".


Zaf mendekati Qun dan duduk di sebelahnya."Apakah masih sakit Bang!"


"Au.. Jangan ditekan Zaf".


"Aku minta maaf Bang". Ucap Zaf pelan.


"Aku tak masalah!!, Kau melakukannya untuk kebaikanku"


"Aku sempat takut kau akan marah dan akan membalasku".


Qun memegangi pundak Zaf, "Kau itu adikku Zaf, mana mungkin aku membalasmu, adik kesayanganku".


Zaf sumringah mendapat pengakuan dari abangnya. Dia memeluk Qun dan Qun pun membalas. Shafura senang melihat interaksi Abang dan Adik itu, dia hanya menyaksikannya sambil terus memasak.


"Bang!!!, Kau malam ini istirahat saja dulu, aku akan pergi sendiri".


"Tapi!, bagaimana denganmu, bagaimana kalau terjadi apa - apa disana" Qun nampak cemas. Karena Qun tak pernah membiarkan Zaf pergi ke Bar sendirian.


"Jangan berlebihan Bang, tempat kita aman!", Ucap Zaf sangat percaya diri.


"Aman karena mereka takut padaku, bagaimana jika mereka membuat onar saat aku tak ada"


Qun sedikit menyombongkan diri tapi yang Qun bilang benar, semenjak ada dia di Bar, tak pernah ada keributan lagi disana.


"Apa kau pikir aku tak bisa berkelahi Bang!", Zaf sedikit kesal karena merasa diremehkan oleh Qun.


"Bukan begitu Zaf, maksud A" Kalimat Qun terhenti.

__ADS_1


"Cobalah beri Zaf kesempatan, percayalah padanya", Shafura menimpali.


Qun melihat orang yang bersuara itu.


*Kau tidak tahu, disana itu berbahaya Shafura*.


"Tuh kak benar, istirahatlah malam ini, aku akan baik-baik saja dan pagi besok pulang dengan selamat".


"Sudah-sudah, makan dulu ya!" Ujar Shafura lalu meletakkan beberapa hidangan di meja serta menghidangkannya untuk kedua pemilik rumah besar itu.


"Di mana Faye.....?".


"Dia sudah tertidur di kamar Geris, Bang!" Jawab Zaf.


Qun lalu melihati Shafura dengan mengedipkan satu matanya sambil terseyum nakal. Shafura yang berdiri, merasa heran karena ini pertama kalinya Qun berani main mata dengannya dan berekspresi begitu.


*Apa yang kau pikirkan!, jangan macam - macam Qun, meskipun aku bersedia melayanimu tapi kau belum sembuh *.


Zaf mengintip kodean dari Qun untuk Shafura dan dia ternyata mengerti arti dari kedipan Abangnya itu.


"Sudahlah, tinggal saja malam ini, kesempatan tidak datang dua kali" Ujar Zaf lalu menyuapkan sendok kemulut.


Entah karena apa, ini pertama kalinya juga bagi Faye bisa tidur di kamar Geris karena selalunya dia tidur di kamar Qun.


"Baiklah, tapi aku kan kirim orang untuk berjaga".


"Baaaang" Zaf memelas, karena Zaf merasa risih bila ditemani banyak penjaga.


"Zaf, di jaga orang lain atau dia ikut bersamamu malam ini " Shafura memberatkan suaranya mencoba jadi Qun yang selalu melakukan itu. *Jika kau menolak Zaf setidaknya aku aman malam ini, tapi bila kau setuju, iii memikirkannya saja aku merinding . Gumam Shafura kemudian.


Zaf menganga dengan nasi yang masih dalam mulutnya.


"Waah Kak kau mulai ketularan" Ucap Zaf yang tak terdengar jelas.


*Apa - apaan pilihannya itu, kau ingin menyelamatkan dirimu dariku. Zaf setujulah dengan tawaranku dengan begitu kau telah berbakti pada Abangmu ini "


Glug, glug, glug.


Mendengar ucapan Zaf, Shafura melototinya.


*Apa maksudmu Zaf, jangan membuatku takut *


Berbeda dengan Shafura, Qun malah terseyum simpul.


*Sial kau Zaf, menjadikan itu sebagai alasan, tapi kau benar, dia telah puasa bertahun - tahun*.


Meskipun di Bar banyak wanita cantik yang bekerja dengan Zaf dan Qun, tapi para wanita itu tak pernah berani mendekati Qun apalagi menggodanya untuk mengajak bermalam bersama.


"Dengan begitu aku bisa tenang" Ujar Qun sambil memijit bahu Zaf.


"Tapi aku tak benarkan orangmu selalu mengikutiku, apalagi sampai kau taruh di setiap sudut, aku tak suka" Ucap Zaf tegas.


"Baiklah, aku akan suruh satu orang kepercayaanku, dia yang akan menggantikan aku di Bar"


Zaf mengangguk patuh, dan melanjutkan makannya.


Karena permasalahan sudah selesai, Shafura berniat hendak duduk di sebelah Qun lalu Ia dikejutkan dengan tingkah Suaminya itu.


"Sayang, bisa bantu menyuapiku, tanganku masih sakit" Ucap Qun manja.


Tangan Shafura terpeleset dari sisi meja, dia tak percaya Qun berani terbuka begini di depan Zaf..


*Ini hanya akal - akalanmu Qun, aku tahu! Tadi sore kau bisa menarikku dengan tangan itu, kenapa sekarang hanya memegang sendokpun kau kesakitan* Shafura menatap Qun sinis.


"Baiklah Suamiku" Di iyakan Shafura dengan nada penekanan namun lembut. Lalu memilih duduk di sisi lainnya,


Uhuks, Uhuks, Uhuks


Zaf memukul - mukul dadanya pelan, dia tersedak. Lalu meraih kembali gelas disampingnya.

__ADS_1


"Apa - apaan ini, kalian membuatku geli" Zaf protes.


"Makanya segeralah mencari pasangan agar kau juga bisa melakukan ini".


"Sudah jangan mengusik Zaf, buka mulutmu", Perintah Shafura yang sudah menyodorkan sendok ke mulut Suaminya.


Qun melihati sendok itu lalu tangan kirinya mengambil sendok dari tangan Shafura dan di tuangkan kembali nasi yang sudah ada disendok ke piringnya lagi, lalu mengasingkan sendok tersebut jauh - jauh.


"Aku mau di suapi dengan tanganmu, biar lebih romantis" Ucap Qun.


*Ya Allah Qun, jangan membuatku semakin cepat jatuh cinta denganmu, aku takut *.


"Akh kau ini Bang, tak mengerti perasaan adikmu" Zaf mengusap - usap dadanya. "Aku juga mau!"." Rengeknya.


"Enak saja, cari istrimu sendiri, ini Istri Abangmu".


*Apa reaksimu Qun jika aku mengerjaimu*.


Shafura terseyum nakal, ide jailnya muncul, itulah Shafura yang sebenarnya tapi dia mencoba menahannya untu Qun dalam beberapa hari terakhir tapi tidak kali ini. Shafura lalu mengumpulkan nasi di tangannya dan mengarahkan ke dekat Zaf yang duduk berseberangan dengannya.


"Kemarilah Zaf, kau kan adik kesayangannya dia tak akan marah".


Melihat itu, Qun tak terima, dia lalu mendorong kursinya dan ingin pergi tanpa berucap sepatah pun. Shafura lekas menangkap tangan Qun dengan tangan kirinya,


"Jangan marah, aku hanya bercanda".


Zaf hanya diam saja melihat Abangnya yang tak bersuara dan mukanya langsung berubah serius.


*Astagfirullah dia marah bahkan cemburu dengan Adiknya sendiri *


Qun kembali duduk "Zaf ! Sekalipun aku mati, kau tak boleh menikahinya" Ucap Qun seperti memberi peringatan.


"Astaga Bang! Kau cemburu denganku" Zaf merasa tak percaya melihat tingkah Abangnya.


"Ya!! Karena kau bilang rela menjadi mualaf untuk Shafura " Qun tertunduk lesu.


*Apa yang kau lakukan Shafura, kebiasaanmu telah merusak mood Suamimu*


"Sudahlah Qun, mari lanjutkan makanmu aku minta maaf" Shafura merasa bersalah.


Qun tak menggubris ucapan Istrinya apalagi memandangnya.


"Bang ! Sekalipun didunia nanti hanya ada jandamu Shafura, aku tak akan menyentuhnya seujung rambut pun, percayalah" Zaf mencoba meyakinkan Qun.


"Baiklah, aku percaya karna kau Adikku" Jawab Qun dengan raut muka yang masih sama, Qun masih belum baik - baik saja.


"Tatap aku!" Shafura menarik wajah Qun ke arahnya.


Dan terlihat mata Qun berbinar seperti sangat bersedih.


"Percayalah padaku, jika ucapanmu benar terjadi ! Aku tak akan menikah lagi hingga aku juga menyusulmu, aku hanya ingin bersamamu".


Masa bodoh dengan rencananya yang tak ingin mengakui cinta ini terlalu cepat karena takut Qun nanti mengira dia wanita yang mudah luluh, sehingga takut Qun cepat merasa bosan , Niat Shafura dia ingin melihat Qun berjuang meluluhkan hatinya. Tapi dia ketepikan itu, yang terpenting kini Qun harus kembali normal karna emosinya kembali tak stabil.


Air mata Qun tumpah mendengar pengakuan Shafura, dia merasa Shafura telah mencintainya. Qun merasa bahagia mendengar itu.


"Benarkah !, Apa kau telah jatuh cinta padaku Shafura ? "


*Iya Qun, Aku telah jatuh cinta padamu lebih dulu, orang bilang cinta itu tak butuh alasan, tapi entah kenapa Aku bisa jatuh cinta padamu karena di hari pertama kau memberiku mukena dan menyuruhku Sholat, hatiku tergerak untuk berdoa agar kau menjadi Suamiku, detik itu juga kau meluluhkan hatiku*.


Shafura juga meneteskan air matanya, segera ia mengelapnya. Ia memilih tak menjawab.


"Cepatlah makan, sebentar lagi waktu Isya, aku mau kau menjadi Imamku" Pinta Shafura datar, sembari menyuapi Qun dan mengalihkan perhatian suaminya.


*Tak apa, yang penting kau sudah mau mengakuiku Shafura, aku tak akan memaksamu*


...Bersambung...


.......

__ADS_1


Apakah semua akan baik - baik saja jika Zaf tidak bersama Qun malam ini ke Bar!


__ADS_2