
" Faye salim dulu nak sama Ibunya Kak Shafura ! " Pinta Zaf yang baru saja masuk bersama Faye.
Zaf dan Faye terlambat masuk karena Zaf harus meyembunyikan bukunya terlebih dahulu di mobil miliknya dari Qun, barulah Zaf dan Faye menyusul belakangan dan menyapa pada Zalima yang tengah duduk dan sambil melihati kemegahan bangunan yang sedang menaunginya pagi itu diruang tamu sedangkan Shafura tengah membuat air.
" Faye, kamu kenapa ?. Takut ya ! " Ucap Shafura setibanya dari dapur.
Faye hanya melihati Zalima cukup lama hingga Zalima melambaikan tangan untuk menyuruhnya mendekat, tapi Faye malah bersembunyi di belakang Zaf.
" Nggak mau Pa !"
" Sayang, yang sopan sama tamu yang lebih tua, Papa nggak pernah ajarkan Faye kurang ajarkan ! " Ucap Qun yang juga ada di ruangan itu.
Shafura lalu duduk disamping Ibunya yang terlihat kebingungan dan bertanya - tanya kenapa Qun menggelar dirinya Papa untuk Faye.
" Nanti Aku jelaskan semuanya Bu " Bisiknya.
Faye menampakkan wajahnya dengan raut takut antara dimarahi Papa Qun atau melihat muka Zalima. Namun akhirnya Faye mau keluar dari belakang Zaf dan melangkah ragu mendekati perempuan tua itu.
" FAYE " Ucapnya pelan setelah menyalami Ibu Shafura.
" Pintarnya ! "
Zalima mengelus rambut Faye, namun Faye seperti risih dengan orang baru ini, sehingga lari memeluk Zaf.
" Zaf tolong antar Faye dulu pada Geris "
" Baik Bang !, mari Bu permisi ! "
Zaf menunduk pelan dan di balas juga demikian oleh Zalima dengan di tambah senyum.
" Bu ! Aku senang ibu kemari, aku kangen, aku kira Ibu sudah benar - benar buang aku hari itu Bu " Shafura kembali mengungkit rasa sakitnya hingga meneteskan air mata bahagianya karena Ibunya kini di hadapannya.
Qun hanya diam saja melihat adegan Ibu dan anak ini, karena baginya kebahagian Shafura adalah yang terpenting. Zalima juga ikut menangis karena moment paling buruk dalam hidupnya kembali di buka.
" Sayang maafkan Ibu nak, hari itu Ibu tak bisa berfikir jernih, yang Ibu hanya pikirkan menyelamatkan harga dirimu, Ibu hanya tidak mau kau terus di rendahkan di depan semua orang. Harga diri Ibu juga terkuras nak " Zalima berapi - api meluapkan kekesalannya atas perbuatan para tetangganya dan Ibra.
Shafura menyeka air matanya " Tapi Ibu percayakan aku tidak berbuat itu bersama Qun Bu ? ".
" Iya Ibu percaya sayang, tapi Ibu berbohong lalu bertindak begitu serta terpaksa menikahkanmu dengan Qun agar nyawamu selamat ! ".
Ibu mulai menyinggung apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu, kenapa dia menampar, dia diam dan dingin karena semua ada alasannya. sedangkan di sisi lain Shafura masih bingung antara fitnah dan nyawa apa kaitannya.
" Ibu bicara apa ? Aku nggak ngerti Bu ! ".
Tak lama Zaf kembali turun dan ikut mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi lalu duduk bersebelahan dengan Qun.
__ADS_1
" Ibu di ancam menikahkanmu, kalau tidak, hiks hiks hiks ".
" Kalau tidak timah panas itu menembus jantungmu Sayang " Qun melanjutkan kalimat Ibu yang terhenti dengan menerka apa yang ingin ibu ucapkan saat Qun tahu bahwa Zalima benar - benar terancam kala itu.
Mendengar tuturan Qun, Shafura hanya menutup wajahnya kembali menangis, dia tak menyangka Ibunya melewati hal sulit demi menyelamatkan nyawanya walaupun ia masih juga bingung karena tak menemukan keterkaitan masalah ini.
" Kenapa hal rumit itu bisa terjadi Bu, siapa yang mengancam Ibu dan nyawaku ? " Shafura beralih memegangi tangan tua Ibunya.
" Pota, Ketua bandar narkoba yang malam itu kau lihat tengah bersama Ayahmu, dia datang setelah subuh dan mengancam akan menembakmu jika Ibu tak menuruti itu. Dia memberikan Ibu pilihan, antara mengantarkanmu padanya karena telah mengetahui bisnisnya atau menikahkanmu dengannya " Tunjuk Zalima pada menantunya itu.
Shafura refleks melihat tunjukkan Ibu, namun segera ia beralih karena fokus utamanya mengetahui apa lagi yang terjadi.
" Tapi kenapa pagi itu yang ada hanya pria Gi** " Shafura takut melanjutkan katanya karena sadar itu tidak baik, dia segera menutup rapat bibirnya. Walaupun terhenti, Zalima tahu siapa pria yang di maksud putrinya.
" Ibu tidak tahu apa masalah Ibra, setelah Pota memeras Ibu lalu Pota pergi tergesa - gesa lewat pintu belakang karena mendengar ada yang datang, dan itu Ibra dia datang dengan membawa tetangga yang dia upah untuk membuatmu malu dan menyebarkan foto yang sama dengan milik Pota ! ".
Qun tak percaya apa yang di dengarnya barusan.
" Bu maaf, Ibra juga punya foto itu, " Qun menimpali.
Qun juga tidak tahu hal ini, Maklum saja selama perjalanan dari rumah orangtua Shafura hingga kembali ke rumah, Qun dan Zalima tak banyak bicara masalah yang terjadi sebelum terjadinya pernikahan, mereka hanya sesekali membahas tentang Shafura, bagaimana kabarnya dan bagaimana Shafura membawa diri dalam kehidupan Qun.
" Iya nak, Pota yang pertama kali datang dengan bukti itu, lalu mengajukan pilihan pernikahan setelah melihat gambar yang diberikan anak buahnya, nah setelah itu baru Ibra datang dengan gambar - gambar yang sama hanya beda penempatan saja tapi miliknya melihatkan Shafura sedang berada di dalam Bar dan tengah bersembunyi di belakang pria dan itu kamu Qun."
Qun coba mencerna kalimat panjang ibu mertuanya, dia juga bingung apa semua ini, lalu Zaf berbisik sesuatu.
" Entahlah, tapi Abang rasa tidak! kalau merekaa punya hubungan Kenapa Pota memilih pergi setelah Ibra datang kalau mereka bekerja sama " Jawab Qun hanya di angguki Zaf.
" Kalau tidak bekerjasama, bagaimana Ibra punya foto itu bahkan dia memiliki fotomu lagi didalam Bar bersama Shafura ? " Bisik Zaf lagi.
Qun kembali mengingat kejadian malam itu dia memejamkan mata
" Zaf ! coba hubungi Ian dan suruh dia memutar ulang CCTV, putar kejadian sebelum Shafura masuk " Perintah Qun.
Qun kembali menggunakan kepandaiannya membaca situasi, dia melihat ada sebab akibat yang tak jelas bagaimana Ibra bisa punya foto dirinya dan Shafura tengah berada dalam Bar.
" Baiklah ! "
Zaf lalu membuka hpnya dan mengetik pesan sesuai perintah Qun.
" Tapi ! Semenjak pernikahan kalian Ibu dan Ayahmu tak lagi saling sapa, Ibu kecewa nak, hiks, dia menipu ibu selama ini, hiks dia pendakwah tapi dia menghisap benda terlarang itu hiks hiks hiks. " Zalima tak kuasa menahan tangis karena di khianati suaminya sendiri.
Shafura merapatkan lagi duduknya agar bisa menyentuh punggung Ibu tercinta dan bersandar di bahu itu.
" Bu, itulah juga yang ingin aku jelaskan pada Ibu pagi itu, tapi aku tak punya bukti karena lebih dahulu ketahuan orang di sana, lalu aku kabur dan bersembunyi di sebuah ruangan rupanya itu Bar, tapi demi Allah Bu aku tak tahu kalau tempat itu. " kalimat Shafura menggantung.
__ADS_1
" Sudahlah nak jangan bersedih, Ibu paham anak Ibu, kamu bukan seperti yang orang tuduhkan itu, jadi kamu tenang ya, Ibu percaya kamu " Zalima kini merangkul anaknya.
" Entah kenapa malam itu aku percaya pada Ibra bu dan berbohong pada Ibu kalau ingin keluar mencari makan, dia memberitahuku dan bilang kalau ingin tahu siapa ayah, datanglah kesana dan aku menurutinya ".
* Dan Maafkan Ibu juga yang belum bisa membahas siapa Ayahmu yang sekarang nak, kau harus kuat dahulu, walaupun Ibu takut kau akan marah pada Ibu bila tahu yang sebenarnya *.
" Tak apa sayang, Ibu tak marah yang penting kau sudah selamat itu sudah cukup ".
Cukup lama mereka saling menguatkan satu sama lain, hingga satu pertanyaan hinggap di kepala Shafura.
" Bu ! Bolehkah aku tahu bagaimana Qun bisa menjemput dan bertemu dengan Ibu ? " Shafura melepaskan dekapan Ibunya.
Entah kenapa Qun sedikit tegang.
" Ouh begini nak! waktu Ibu membersihkan kamar mandi pagi tadi, jadi Ibu menyikat lantai dan tak sengaja menemukan bacaan di bawah wastafel " Kalau ibu dalam bahaya hubungi nomor ini , Qun " Lalu karena Ibu memang dalam situasi yang bahaya dan genting jadi ibu hubungilah nomor itu dan yang angkat Suamimu ".
Shafura langsung menatap suaminya tajam, dia belum pernah mendengar Qun bercerita tentang tindakannya ini.
* Kenapa Bee sembunyikan hal penting ini *.
Ketegangan Qun meningkat, dia sulit menelan ludahnya tanpa sadar meremas paha Zaf sangat kuat.
" A,a,aa " Zaf menahan saja tanpa berani berontak kuat. Andai bisa teriak mungkin Zaf sudah meraung dan pastinya sangat keras.
" Hmm, Zaf, Zaf juga tahu tentang masalah ini Sayang, iyakan Zaf " Qun menunjuk Zaf dan mencoba mencari teman agar tak di salahkan seorang sendiri.
" Apa benar itu Zaf, kalau benar kenapa di rahasiakan " Tanya Shafura masih datar.
" He he ! " Zaf hanya cengengesan.
" Bee ! "
" Hmm, awalnya Be hanya menerka saja sayang kalau ada yang tak beres pagi itu, karena saat sayang turun dari mobil ada sebuah laser dan dari situlah kecurigaan Be bermula. kalau tentang kenapa belum cerita, ya karena takut itu hanya sebuah asumsi Be saja. " Jawab Qun sedikit takut karena dia belum berterus terang tentang ini.
Shafura masih memasang muka sinis, Qun dan Zaf tak tahan, mereka berdua bagai murid yang bersalah dan tengah di interogasi guru BK, hanya tertunduk dan saling pukul satu sama lain.
" Matilah kau Bang !. Tidakkah kau lihat tatapan kak Shafura itu, coba lihatlah sana !. Walaupun aku juga akan kena, setidaknya tak separah kau Bang, antara tak bisa menyentuhnya atau jangan jangan kau akan di amuk singa betina itu terlebih dahulu he he, ".
Zaf masih sempat - sempatnya menggoda Qun dalam situasi genting dirinya
" Sialan kau Zaf, awas kau ! ".
Qun masih tertunduk, dia pernah bilang kalau takut sama kemarahan Shafura. Dan kali ini sudah tiga kali tatapan yang sama Shafura berikan.
...Bersambung...
__ADS_1
***
Apakah rahasia yang Zalima sembunyikan dari Shafura dan Apa isi dari CCTV di Bar Pagi itu ?....