Imamku Seorang Bartender

Imamku Seorang Bartender
* Mall * Episode 40


__ADS_3

" Terima Kasih ! "


Dengan wajahnya yang ceria Qun mengucapkannya, senyumnya tak luntur hingga sehari setelah kejadian malam itu, Shafura masih bisa mengingat bagaimana reaksi Qun waktu pagi sebelum mereka berdua mensucikan diri bersama, tak ada amarah, tak ada raut kecewa dan tak ada kata atau kalimat yang Qun ucapkan untuk mengomentari keadaan Shafura, bahkan Qun meminta lagi.


Shafura mengingat jelas dan sangat memperhatikan sikap Qun yang terlihat biasa - biasa saja, namun Shafura tak berani menyenggol hal yang Qun sendiri tak memperdulikan itu. Yang jadi masalahnya adalah kini Shafura bagai lembu yang dimasukkan tali dalam hidungnya, apapun yang Qun suruh, Shafura tak membantah, dia diam dan langsung mengerjakannya.


* Qun bicaralah, aku tak masalah dapat cacian darimu, tapi kau jangan bersikap begini, aku takut kalau kau menyimpan perasaan kecewa dan bersikap biasa saja hanya untuk menjaga perasaanku *.


Sambil menuangkan Pudding yang di masaknya, Shafura sesekali memandangi Qun yang tengah duduk di meja makan, menunggu Pudding permintaannya itu matang.


" Sha masih lamakah ? " Tanya Qun sambil bermain game di Ponselnya.


" Tunggu dingin Be, mau di bekukan atau tidak pudingnya ? " Saut Shafura pelan dan lemah lembut .


Sejak bermalam dengan Qun, Shafura jadi amat lemah lembut pada Qun, bukan lemah lembut yang normal Shafura begitu karena takut.


" Dua - duanya ! "


" Baiklah ! "


Selama proses pengerasan Pudding jagungnya Shafura hanya berdiri di dapur dia takut hanya untuk mendekati Qun. Begitulah tingkah Shafura hari ini, dia menjaga jarak bagai pembantu dan majikan.


" Apa masalah Sha ! "


Qun membuyarkan lamunan Shafura. Nadanya terdengar serius. Shafura terkejut karena Qun sudah ada disampingnya.


" Astaqfirullah Be " Shafura Memegangi dadanya dia menatap nanar pada Qun.


* Ya Allah sekarangkah ? Aku harus siap, kuatkan aku *


" Be tanya sekali lagi, apa masalah Sha ? " Qun memelankan suaranya tapi nadanya tetap tegas.


Menggeleng.


" Ambilkan Be air "


" Baiklah "


Baiklah, Ok, Ya, serta mengangguk dan menggeleng, kata juga gerakan singkat yang Shafura berikan, tak banyak bicara untuk semua perintah Qun.


Shafura hendak melangkah mengambilkan air, lalu lengannya ditarik Qun dan tubuhnya tertahan untuk melanjutkan perintah suaminya itu. Di tatapnya tangan Qun yang sangat erat mencengkeram lengannya bahkan tak ada protes dari Shafura walaupun itu sangat sakit. Cukup lama mereka dalam posisi ini, Qun juga sengaja diam menunggu sebuah kata yang shafura lontarkan atas perlakukannya itu, namun berakhir nihil.


" Bagus ! Diamlah sampai tangan Sha memar "


Qun tak tahan lagi terus diam dan menyiksa Shafura yang tetap bungkam. Dia merenggangkan pegangnya dan kini berjalan selangkah mendekat dan mendekatkan mulutnya di telinga shafura.


" Jika sifat diamnya Sha dua hari ini karena masalah keperawanan Sha, Be tak perduli ! "

__ADS_1


DEG


Qun membuka obrolan yang sudah Shafura tungu - tunggu. Tapi kalimat Qun yang membuat Shafura kini tak percaya, matanya melotot, dia memikirkan situasi terburuk tapi Qun malah tak perduli pada fakta itu.


" Percayalah Be benar - benar tak perduli Sayang, mau malam itu ada atau tidaknya selaput dara bukan masalah "


Mata Shafura berlinang


" Sebab jauh sebelum Ibu cerita tentang keadaan sayang, Be sudah tahu kalau keperawanan wanita bisa saja hilang sebab aktifitas fisik bukan semata - mata karena di ambil orang lain. Apa lagi sewaktu Ibu cerita tentang final silat yang Sha alami "


Qun berbicara tentang kisah yang Zalima sempat berikan kemarin sore bahwa Shafura kehilangan selaput daranya karena saat latihan fisik sehari sebelum final silat di adakan, shafura bemain tongkat dan tak sengaja kejadian luar biasa itu terjadi, tongkat tumpul itu menusuk **** ********** Shafura hingga membuatnya harus di lakukan kerumah sakit, dan saat final di adakan Shafura memilih mengudurkan diri.


" Bee " Air mata itu kini tumpah


" Hiks hiks hiks, maafkan aku, sha tak berani, sha takut hiks hiks" Ucapnya lemah.


Antara senang dan bangga adalah gambaran air mata yang tumpah itu, sebab Shafura punya suami yang terbuka, karna ciri pria seperti itulah yang Shafura harapkan dari hambatan calon suaminya dulu yang sering ia sebut dalam doa bahwa calon suaminya harus memiliki pikiran terbuka akan segala hal, dan sekarang Shafura tak menyangka pikiran suaminya sangat terbuka dari kebanyakan pikiran masyarakat awam yang mana bila sudah tak memiliki selaput dara berarti sudah di ambil oleh orang lain atau telah bermalam dengan orang lain. Bagai sebuah lirik lagu dangdut " Orang makan nangkanya aku dapat getahnya hooo "


" Jangan sayang pikir, Be diam karena tak tahu masalah ini, Be mau lihat seberapa jauh sha bertahan tapi Be yang tak bisa melihat tingkat sayang yang teramat sangat jinak, Be tak tahan, tak ada bantahan, tak ada protes, jawab singkat lalu menurut apa yang Be perintah, itu bisa membuat Be gila"


" Sha hiks, sha hiks, takut Be cera " Shafura mengeluarkan uneg - unegnya.


" Astaqfirullah Sayang, " Qun mendekap Shafura " sudahlah, sudahlah jangan diteruskan,"


" Hiks hiks hiks "


Qun berusaha untuk membuat Shafura setenang mungkin, masih dalam posisi yang tak berubah Shafura menangis di dada Qun, dan Qun mengecup dan mengusap pucuk kepala Shafura pelan. Mereka berdua bisa berlama - lama dalam poisis ini sebab penghuni rumah yang lain sedang keluar.


" Bae mau, Sayang kembali bersikap biasa saja, hidup Bee tak ada nikmatnya bila Sha sangat penurut, Sayang itu Istri Be bukan pembantu, jadi jangan terlalu jinak ya ! Bantahlah bila tak suka proteslah bila tak ingin, itu jauh lebih baik. Bae Sayang Sha ! "


" Maafkan Sha " Ucapnya sambil mengelapkan air mata dengan ujung baju milik Qun sehingga sedikit terangkat.


Merasa auratnya terbuka Qun berujar " Sayang kodekah ini, mumpung anak kita belum pulang "


Shafura mendongak lalu Qun mengedipkan matanya


" Nakal, wartegnya lagi tutup " Sambil mencubit Qun


" Ha ha aduuh, Ya Be juga tahu ? Nggak sampai seminggukan " Qun memainkan alisnya


" Iih kok bisa tahu "


Shafura masih sedih tapi juga ingin tertawa di goda oleh Qun. Rasa khawatir Shafura akhirnya menghilang sebab Qun menerima keadaanya. Hubunga Shafura dan Qun akhirnya kembali seperti semula tak ada jarak dan tak adalagi drama majikan dan tuan bos. Shafura kembali menjadi dirinya sendiri.


Tapi masih ada satu yang mengganjal di benak Shafura, perlakukan Qun terhadap ibunya, semenjak malam itu dan beberapa hari ini Qun tak berbicara pada Zalima.


...***...

__ADS_1


" Malam Ma, Pa " Sapa Faye pada kedua orang tuanya yang tengah tidur bersama.


Shafura bangun dan melirik sudah jam sembilan malam.


" Faye ! baru pulang nak, kenapa lama ? " Shafura mengucek matanya.


Faye mendekat dan naik keranjang lalu duduk menindih Qun.


" Augh " Qun tersadar dari mimpi indahnya.


Shafura tertawa melihat raut faye yang merasa tak berdosa. " Sayang pindah nak kesian Papa, jadi bangun ".


" Karena tadi nenek sempat hilang Ma di Mall " Ujar Faye sambil berpindah ke tengah mereka.


Shafura terbelalak serta Qun yang langsung segar mendengar penuturan anaknya.


" Maksudnya gimana Sayang " Qun menarik bahu Faye agar menatapnya.


" Iya Pa hilang, tadi itu Nenek nemani aku main sedangkan Papa Zaf duduk nunggu kami, Kak Geris ke kamar kecil, sekalinya aku lihat Nenek sudah tidak ada ! "


" Lalu - lalu " Shafura penasaran.


" Habis itu aku sama Papa Zaf cari Nenek tak lama kak Geris telpon Papa Zaf dan bilang Nenek ada di toilet bersamanya "


Setelah merasa cerita Faye hanya sebuah cerita biasa, Qun lalu bangkit dan meninggalkan Shafura serta Faye ke kamar mandi.


Tok tok


Ketuk Geris pada pintu kamar Shafura yang terbuka


" Kak Shafura, Kak sini ? " Panggil Geris pelan sambil mengkodenya untuk mendekat ke arahnya.


" Iya ada apa, masuk aja " Kata Shafura


Geris terlihat takut, dia melihat kesana kemari seperti ada yang tengah di awasinya.


" Sayang, siapa ? " Teriak Qun.


Geris terperanjat orang yang di khawatirkannya bersuara dari dalam kamar mandi. Lalu dia menunjuk ke arah kamar mandi dan kembali meminta Shafura yang mendekatinya ke pintu. Karena paham akhirnya Shafura yang mendekati Geris.


" Ada apa ? "


" Lihat ini aku ambil gambar ini saat di depan Toilet Mall " Sambil memperlihatkan hasil jepretan Sang Detektif Geris.


" Oh Geris, ada apa ? " Sapa Qun yang baru keluar dari kamar mandi.


Geris terbelalak, belum sempat dia menceritakan tentang gambar rahasia itu pada shafura, Qun sudah keluar.

__ADS_1


" Ada apa Geris, kenapa takut " Qun mengahampiri.


__ADS_2