
Shafura memejamkan matanya tak kala hati kecilnya mengingatkannya tentang sebuah hadits tentang Istri yang berlaku kurang ajar terhadap Suami yang pernah ia baca di sebuah buku.
...Rasulullah SAW bersabda :...
... “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, tetapi istrinya dari kelompok bidadari bakal berkata, “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; nyaris saja ia bakal meninggalkanmu menuju pada kami ” ...
...( HR. At-Tirmidzi )...
" Astagfirullah, Ya Allah ampuni hamba yang sudah keluar batas, Maafkan Aku Be, maafkan kekurangajaranku sebagai istrimu ini ! "
Shafura merasa bersalah saat dia menatap Qun sinis lalu dengan segera ia merubahnya dengan sebuah senyuman serta merubah mindsetnya.
" Mungkin bila Bee tak merahasiakannya, aku akan merasa tak tenteram di sini, aku akan terus kepikiran dengan Ibu yang telah bertindak jauh demi menyelamatkanku "
Tak ada kata terlambat bagi manusia untuk mengakui kesalahannya selagi ia masih hidup dan meminta ampun atas dosa yang telah dia perbuat dan itulah yang Shafura lakukan, dia merubah pola pikirnya dengan berhusnudzhon terhadap Qun yang telah merahasiakan tindakannya itu.
Begitu juga dengan Qun, dia membalas senyum Shafura dengan menampakkan gigi rapinya, namun kini hatinya yang salah menangkap arti garis indah yang terbentuk di wajah cantik Shafura.
" Kenapa denganmu Sayang !, Senyum Ini jauh lebih menakutkan dari tatapan tadi ".
" Ya sudah tidak apa - apa Bee, aku mengerti " Ucap Shafura lembut.
Zaf menarik lehernya karena tak percaya pada perubahan ekspresi yang Shafura berikan.
" Bang kenapa dengan kakak ! "
" Entahlah Zaf, Abang bukan peramal ".
" Bu ayo ikut aku ke atas, kita lanjutkan nanti lagi ceritanya, Ibu baru sampai jadi istirahatlah dulu "
Zalima patuh pada ajakan anaknya dengan sekali anggukan saja.
Shafura berniat mengajak ibunya segera ke atas agar Ia bisa berduaan dengan Qun untuk meminta maaf atas tindakannya barusan.
Zalima lalu berdiri dan di ikuti Shafura yang membawakan tas pakaian milik ibunya itu.
" Sayang sini tasya biar Aku saja yang bawakan " Pinta Qun saat Shafura melewatinya.
Shafura lagi - lagi terseyum pada tindakan Qun yang menurutnya pengertian itu, lalu Shafura memegangi dagu yang berselimut bulu hitam milik Qun
" Terima kasih Bee ! "
Qun terpejam merasakan sentuhan lembut Shafura dan berdiri.
" Apakah sayang marah ! " Bisik Qun.
" Tidak !. Terima kasih sekali lagi Bee " Ucap Shafura tulus.
Qun menerima ucapan Shafura yang tulus, hatinya yang tadi sempat berpikiran sebaliknya kini kembali normal dan mengaggap bahwa Shafura benar - benar tidak marah.
" Sama - sama sayang "
" Oh ya, aku mau minta izin ceritakan tentang Bee pada Ibu "
" Silahkan Sayang " Qun tetap dengan seyum manjanya.
Shafura lalu melangkah mendekati Ibunya yang sudah sedikit jauh dari Sofa itu sambil terus mengamati rumah anak dan menantunya ini.
" Ayo Bu ! "
" Ayo. Nak ibu permisi ke atas ya ! " Ujar Zalima kemudian yang sopan pada Qun dan Zaf sebagai pemilik Rumah.
" Ya Bu silahkan "
" Bee, aku ke atas ya ! "
" Ya duluanlah sayang, nanti tas Ibu Be bawakan ! "
Merasa dapat izin dari Qun, Shafura lalu naik bersama Ibu ke kamar Shafura.
Di sisi lain.
" Bang apakah kau merasa ada yang aneh pada Kakak ! "
" Tidak " Jawab Qun sambil terseyum serta memandangi Kamar Shafura dengan memegangi dagunya bekas elusan Shafura tadi.
" Jangan naif Bang, Wanita jago berakting, mereka bisa memutar keadaan dengan mudah, mulutnya terseyum tapi hatinya bisa saja marah "
" Benarkah ! " Qun menatap Zaf
Qun terpancing dengan asumsi Zaf.
" Kalau menurutku ! " Zaf menyipitkan matanya seakan analisa yang akan ia keluarkan sangat tepat.
" Apa ! "
__ADS_1
" Kakak sedang marah padamu, senyum yang kakak berikan di detik terakhir tadi adalah kode keras kalau dia sangat tak suka atas tindakanmu Bang ! "
" Jangan sok tahu Zaf, tahu apa kau tentang wanita, punya saja tidak ".
" Itu terserah padamu, yang jelas kak Shafura sedang marah " Ucap Zaf lalu melangkah pergi.
" Tunggu Zaf, kalau ia begitu, apa yang harus Abang lakukan ! "
Qun akhirnya termakan analisa konyol Zaf.
Zaf lalu berbalik, tangannya berpegangan pada tangga.
" Abang harus membujuknya dengan sesuatu yang Kakak sukai "
Qun diam tapi tidak bola matanya, otaknya segera berpikir keras.
" Abang tahu ! "
" Apa "
" Kau lihat saja nanti " Ucap Qun yakin dan kini ia melangkah hingga melewati Zaf.
Saat Qun mengetuk pintu kamar Shafura untuk mengantarkan tas, dia hanya di sambut Sang Ibu Mertua sedangkan bidadarinya entah kemana, jadilah Qun hanya melakukan tugasnya lalu pergi ke kamarnya. Sedetik sebelumnya rupanya Shafura tengah berada di dalam toilet karena sakit perut dan saat keluar.
" Nak, apa Qun seorang duda atau bagaimana ! " Cegat Zalima pada Shafura yang baru keluar dari toilet.
Shafura hendak menjawab namun langsung di bawa oleh ibunya duduk di kasur.
" Ibu ! Faye itu "
Shafura menceritakan semua tentang kehidupan Qun. Setelah selesai dengan cerita panjangnya Shafura meninggalkan Zalima di kamar untuk istirahat, dia beranjak ke dapur untuk membuat makan siang, tapi matanya tak tahan ketika melihat kelakuan suaminya yang turun dengan sarung di jam 11 siang.
" Sha, Sha, Shayaaaaang " Panggil Qun dengan menempatkan tiga huruf awal nama Shafura pada kata sayang, dan itu jadi terdengar sedikit mendesah. Qun berakting seakan tak terjadi apa - apa. Padahal jantungnya berdegup kencang.
" Kenapa? " Jawab Shafura
Terseyum " Hmm mau bantu masak ? ", Qun mencoba mencairkan es yang menurutnya masih terbentuk itu.
* Huftt, sudah pandai merayu rupanya sekarang
kita lihat seberapa lama Bee bisa bertahan *
" Begini " Shafura menunjuk cara berpakaian Qun dengan pisau di tangannya.
" Eit eit, Hee pisaunya di taruh dulu , agak ngeri ya mainnya, SHAyang " Wajah Qun panik tapi masih mencoba membuat Shafura tertawa dengan menekankan kata Shayang yang di buatnya.
" Sha mau tanya, kenapa pakai sarung ke dapur ? ". Shafura menegaskan ucapannya dan ikut menggelar dirinya SHA.
" Minta maaf ! ". Ucap Qun manja.
" Tau kesalahannya ? ".
" Tau, Bee tidak terus terang dengan Shayang ! "
" Bagus, janji ini yang terakhir, dan tak ada yang di sembunyikan lagi dari Sha "
" Janji, " Qun memberikan kelingkingnya dan di ikuti oleh Shafura.
Setelah Qun berjanji dan Shafura menerimanya, Qun mengelus dada.
* Alhamdulillah mudah rupanya * Sambil terseyum simpul.
* Heh, tidak semudah itu Bee *.
Karena merasa sudah aman, dan Shafura tak marah, kain sarung yang menjadi senjatanya untuk meluluhkan Shafura ingin dibukanya.
" Eh Bee ! siapa suruh buka, pakai lagi ! ".
" Tapi Sha ! ".
" Oh mau mulai lagi nampaknya ya, bukalah buka kalau berani, pakai sarung katanya mau minta maaf, belum kering bibir Sha maafkan sudah mau di buka, ah kayaknya keputusan memaafkan Bee harus di tarik. Nggak bisa gini, minta maafnya nggak tulus " Shafura kembali memainkan perannya sebagai istri berani dan tegas.
Cepat - cepat Qun merapikan lipatan sarung di pinggangnya
" Udah, udah rapi, nggak jadi di buka, nah liat " Qun berputar di depan Shafura untul melihatkan bahwa dia membatalkan niatnya.
" Bufttt " Shafura hampir menyemburkan liurnya untung cepat ia menahannya dengan tangan karena melihat kelakuan Qun yang seperti anak kecil.
" Yaudah sini, bantuin Sha masak ! ".
Qun maju selangkah menempelkan badannya pada meja dapur di samping Shafura lalu mengabil pisau dan ikut memotong sayuran bersama Shafura.
" Udah nggak marahkan! , Bee memang belum yakin sama kejadian itu, jadi nggak mau membuat Sha kepikiran kalau Bee cerita " Qun berkata jujur dari hatinya.
" Siapa yang marah Bee " Shafura melepas kerjaanya, dan beralih menatap Sang Pangeran bersarung
__ADS_1
" Sha hanya terkejut dan tak menyangka bahwa suami Sha punya kepekaan sekuat itu, dan Sha mau terima kasih karena sudah mau bawa Ibu dan tinggal disini dan satu lagi, Sha yang seharusnya minta maaf sama Be ! "
" Kenapa Sha harus minta maaf ! "
" Sha tadi menatap Bee sinis dan itu membuat Sha takut akan di cap Istri yang durhaka pada suami "
Qun mengelus pundak Shafura. dan ikut berhenti memotong sayur, dia melangkah sedikit maju hingga tiada batas di antara mereka.
" Wajar saja Sha begitu, itu juga karena Beekan. Jadi jangan merasa bersalah, Bee maafkan dan kalau tentang Ibu, jika itu membuat Sha senang Bee akan ikut senang, dan Ibu Sha adalah Ibu Bee juga ".
Ucap Qun sambil menatap mata Shafura, rubinya nampak indah begitupun Shafura. Ini pertama kalinya menatap Qun sedekat ini. Baru saja tangan Qun terangkat setengah ingin melingkarkan pada pinggul Shafura, si pengganggu datang.
" Astaga, aku minta maaf " Zaf langsung membalikkan badannya.
Qun dan Shafura yang kaget juga langsung membuat jarak lagi, kini mereka berdua kembali melakukan pekerjaannya.
" Hmm ada Zaf ! "
" Aku minta maaf Bang ! "
" Makanya lain kali lihat - lihat situasi "
" Tadi aku liat dari tangga kalian masih jaga jarak, tapi saat aku di bawah kalian sudah, begitulah ! Ah, maafkan aku ". Zaf membela diri.
" Memangnya ada apa Zaf " Tanya Shafura agar tak semakin canggung.
" Apa kalian ! " Zaf menunjuk ke belakang mencoba mencari tahu jarak di antara kedua orang di belakangnya apakah sudah berubah dari yang sebelumnya .
" Berbalikkah Zaf, kami yang seharusnya minta maaf karna kalau Faye yang lihat bagaimana, untung itu kau ! " Ujar Shafura.
Zaf membalikkan badannya dan matanya sedikit mengintip untuk memastikan situasi kedua sejoli itu.
" Aman ! Bang ampun " Zaf terseyum ringan untuk kelakuannya itu.
Sedangkan Qun menatap malas pada Zaf.
" Aku kesini ingin memperlihatkan video yang Ian kirim waktu malam itu, aku yakin kalian juga akan terkejut ".
Zaf mendekat ke meja dapur dan meletakkan smartphonenya lalu memutarkan video kejadian beberapa hari lalu. Shafura dan Qun menatap layar Smartphone Zaf fokus.
" Ini itu lima menit sebelum kejadian, nah tu tu lihat siapa yang masuk, apa kalian mengenalnya,"
Zaf mempause video tersebut. Di sana terdapat sebuah muka yang tak asing bagi mereka bertiga.
Shafura dan Qun saling tatap sekali lagi.
" Anak buah Ibra ? " Ucap Qun dan Shafura yang di lakukan bersamaan layaknya akting di film - film.
" Ya !!! " Zaf melanjutkan videonya
" Nah setelah itu lihat lagi, dia melihat ke belakang ketika kak Shafura baru masuk dan berjalan ke Bar memberitahukan pada Abang di meja Bar, Tapi lihat apa yang terjadi kemudian. " Kembali Zaf mempause video itu.
" Ini lihat, ini adalah potongan dari video setelah di perbesar oleh Ian, kalian lihat sendiri ".
Gambar itu memperlihatkan beberapa foto Anak buah Ibra yang sedang memainkan jarinya pada layar hpnya. Qun dan Shafura terus menggeser beberapa potong foto itu, dan disana terdapat satu foto dengan jelas bahwa orang itu sedang membuka aplikasi dengan background hijau itu.
" Dan coba kalian lihat pula lanjutan videonya, di sana dia diam saat aku keluar memanggil Abang dan berdiri mematung sambil bermain hp. Jujur aku tak sadar dia di sana malam itu, setelah bermain dengan hpnya cukup lama baru dia, nah lihat - lihat tangannya mengangkat hp itu dan memfoto kalian saat aku sudah di pintu keluar menemui Kane." Zaf menjelaskan isi video yang sudah lebih dahulu di lihatnya itu.
Qun dan Shafura tak bersuara mereka terpaku melihat isi video itu, dan mencoba menyatukan penggalan video itu dengan situasi sebenarnya.
" Berarti bisa di artikan, pria yang Kakak lihat masuk ke pintu itu adalah anak buah Ibra yang secara tak sengaja Kakak ikut masuk bersamanya dan karena dia kenal sama Kakak dia lapor ke Ibra dan Ibra menyuruh dia memfoto Kakak di dalam sana untuk di jadikan bukti sebagai rencana baru untuk mengahancur hidup Kakak dengan sebuah fitnah ". Ucap Shafura dengan memainkan jarinya kesan kemari layaknya Detektif sungguhan yang menganalisa video tersebut dengan kejadian malam itu dan sangat terdengar meyakinkan.
TIK
Suara dari jentikan jari tangan Zaf.
" Ya kak, ya ! Aku sangat setuju sama Kakak, kita sepemikiran. Karena anak buahnya malam itu di sana makanya Ibra bisa dapat gambar yang berbeda dari punya si Pota " Saut Zaf berapi - api.
" Aku juga setuju, karena tak ada kemungkinan yang lain dari itu " Kata Qun menimpali.
Mereka bertiga sangat terkejut dengan hasil yang mereka lihat ini, Shafura meraih tangan Qun yang tersembunyi di balik meja dapur dan menggengamnya kuat.
" Sudahlah - sudah, terlepas dari dugaan kita benar atau salah, yang jelas kedua orang itu sudah berada di tempat mereka " Lanjut Shafura.
" Oh tidak bisa begitu Sha, kita harus menjadikan ini bukti sebagai tuduhan baru agar masa tahanan mereka lebih bertambah, sebagai sebuah perencanaan untuk menghancurkan hidup orang lain "
Qun tampak tak terima dengan Shafura yang bersikap biasa saja dengan video itu.
shafura menarik nafas berat, baginya apa yang di terima Ibra kini sudah sebanding dengan kejahatannya. Dan tak perlu lagi menambahkan masa tahanannya.
...Bersambung...
***
Aaah akhirnya thor merasa sedikit terbayarkan atas rasa penasaran yang terjadi pada beberapa episode 1-10, walaupun kembali penasaran...
__ADS_1
btw gimana menurut kalian!!!