
"Hmmmmmm!", Qun gelagapan.
"Siapa yang suka buah ini ya?". Shafura meletakkan jarinya di ujung dagu, Matanya melirik ke langit rumah namun tangan lainnya mengangkat sekotak kecil buah segar yang ia sembunyikan dari belakang tubuhnya, yang di beli bersama Qun sewaktu di Mesjid tadi.
" mWaah Strawberry!, Faye suka Kak, bolehkan Faye minta satu!". Perhatian Faye teralihkan.
*Chaah ,,,,,,,. Kakak menggagalkan rencanaku. Baiklah tak apa! Waktu masih panjang dan malam masih ada, tunggu kau Bang!* Zaf sinis terhadap Qun.
"Kenapa hanya satu, kemarilah ! Ini semua untuk gadis kecil kakak, dan ini Papa Qun yang beli" Shafura menundukkan badannya, sambil melirik Qun.
Faye berlari dari sofa ke arah Shafura untuk mengambil buah tangan tersebut.
"Benarkah, semua ini", Faye memegang kotak itu dengan wajah yang begitu ceria.
"Iya semuanya!, ambillah" Ujar Qun.
Faye terseyum. "Terima kasih banyak kakak, terima kasih Papa".
Faye terdengar sopan dan ramah menerima pemberian itu.
"Sama - sama sayang, sini. Cium Papa dulu, Papa rindu!", Qun juga mensejajarkan tingginya dengan Faye dengan berjongkok.
Lalu Faye beralih ke sisi Qun dan mencium Papanya itu dan langsung duduk berpangku pada Qun dan sambil memakan buah tersebut.
"Baiklah semua aku tinggal ya, mau ke kamar ! gerah. ! Sekalian mau bersih - bersih" Shafura meminta izin pada semua.
Mengetahui Shafura ingin ke kamar dan mandi. Qun yang mulai tak bisa lepas dari Shafura juga mencari cara agar kabur dari Faye.
"Sayang!, Papa juga mau ke kamar dulu, kamu main sama Papa Zaf ya!!!".
Shafura menggeleng melihat alasan Qun, dia tahu kemana arah jalan pikiran Qun.
*Qun, Qun. Ada - ada saja kau ini, sabar sedikit ya, nanti kalau aku sudah bisa menangani Faye kau akan bisa puas berada di sisiku*.
Shafura melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
*Bang, Bang ! Akalmu memang licik, ayo Zaf ganggu kesenangan Abangmu. cepatlah berpikir*..
Zaf kebingungan tentang bagaimana cara untuk menggagalkan usaha Qun. Dia menggosokkan kedua telapak tangannya dengan cepat, beranggapan semakin kuat dan cepat tangan itu di gosok maka semakin cepat sebuah rencana datang dalam otaknya.
Qun sudah berdiri dan Faye masih asik makan dan tak menjawab apapun pertanyaan Papanya.
"Fayee sayang!. Beri papa berduaan ya dengan Mamamu " .
Seketika sudah separuh jalan menyusul Shafura yang sudah naik ke tangga, Faye bersuara tanpa ada arahan si Zaf.
"Papa mau kemana ? Kita baru bertemu dan Papa sudah ninggalin Faye lagi". Faye cemberut dengan sendirinya.
Qun dan Shafura menghentikan langkahnya, Qun memejamkan matanya karena merasa khawatir rencananya gagal ingin bersama Shafura, sedangkan Shafura terseyum melihat raut wajah Qun yang malang.
*Aduuh sayang, beri Papa waktu berdua, please. Papa belum puas*.
__ADS_1
Qun berbalik " Papa mau ke kamar, kamu mainnya sama papa Zaf ya, jagakan dia untuk Papa ya sayang " Nada Qun merayu.
"Tidak! Faye mau ikut Papa ke kamar, Papa Zafkan sakit jadi tidak bisa di ajak main" Ucap Faye lalu berlari menangkap kaki Qun yang jenjang.
"Aduuuh sakit!. Papa Zaf mau istirahat saja, maafkan Papa Faye tak bisa bermain denganmu". Zaf berpura - pura sakit, matanya tertutup sebelah dan yang lainnya melirik Faye dan Qun yang berada di tangga.
"Baiklah Papa Zaf, aku mainnya sama Papa Qun. Kak Ger titip Papa Zaf ya !. Daaah... ayo Pa" Faye lalu menarik jari Qun untuk mengajaknya bermain di kamar mereka.
Qun dan Faye belok ke kiri sedangkan kamar Shafura ke kanan.
"Daah Kakak" Sapa Faye ketika melewati Shafura.
"Dah Sayaaang!". Nada Shafura lembut, tapi kalimatnya dia tujukan untuk Faye serta Qun.
"Shut shut....". Qun memasang muka sedihnya hingga berlalu sampai ke kamar dan Shafura hanya mampu tertawa pelan lalu iapun melanjutkan tujuannya.
Geris dan Zaf melihat ke jadian itu dari Bawah mereka berdua terkekeh geli karena tingkah konyol Qun yang terpaksa ikut Faye ke kamarnya.
"Ha ha ha, aku puas. yeaaaaah!!!" Zaf teriak kegirangan.
Geris menggelengkan kepalannya "Kau jahat Bang!, kesian Abang Qun".
"Hei hei hei, kasian apanya, apa kau tahu apa yang terjadi padaku selama perjalanan tadi, aku disiksa olehnya" Zaf sedikit kesal Geris membela Qun.
"Di siksa bagaimana Bang?" Geris tak paham.
"Ah sudahlah aku malas mengingatnya, sangat tidak baik untukku", Zaf makin kesal, dia jadi kembali mengingat kejadian tadi.
"Tentu saja tidak baik untukmu Bang !, kaukan jomblo. Makanya cari pasangan biar bisa Uwwu seperti mereka". Ucap Geris menyinggung Zaf yang sebenarnya dia cemburu pada Qun.
Zaf tercengang matanya mengikuti arah kemana Geris melangkah meninggalkannya.
"GERIIIIIS" Teriak Zaf.
Gadis mungil bernama Geris itu akhrinya tak tahan untuk tak tertawa, diteriaki Zaf dia berlari menaiki tangga sambil terbahak bahak.
"Ha ha ha"
"Awas kauuu" Lanjut Zaf.
Gerispun sudah hilang di balik pintu kamarnya.
...........
Magrib dan Isya berlalu, Qun dan Shafura Sholat secara terpisah, setelah makan bersama mereka kembali masuk ke kamar masing - masing hal ini karena Qun di kawal Faye setiap saat, tentunya itu karena bujukan Zaf, Sampai - sampai Qunpun tak bisa curi - curi pandang dengan Shafura.
meninggalkan Qun yang gusar karena tak bisa bersama Shafura, kini Shafura termenung melihat keluar jendela, angin menerpa namun tak dapat menyetuh tubuhnya yang terhalang dinding kaca. Berdiri dan bersila tangan di perut serta mengingat semua yang terjadi pada dirinya selama tiga hari belakangan.
"Bu, apa kabar, Aku kangen! Apakah Ibu benar - benar sudah membuangku bu?. Aku tak bersalah, ini semua fitnah, aku bukan wanita murah bu".
Air matanya tumpah saat berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada Ibunya, Shafura menganggap kini Ibunya sedang berdiri dan meminta penjelasannya dan Shafura menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Semua karena Ibra bu, dia telah memfitnah aku tapi tadi siang aku dan suamiku".
Shafura berhenti berkhayal. SUAMIKU, Ya!! Kata itu menghentikannya.
"Hiks hiks, Bu terima kasih. Walaupun aku difitnah dan dinikahkan dengan pria yang tak aku kenal asal usulnya tapi kini aku sangat bersyukur pada Allah dan berteri makasih padamu Bu. Suamiku adalah pria terbaik yang Allah dan Ibu berikan untukku karena telah mengirimkan lelaki Sholeh dan penyayang untuk menjadi teman hidupku".
Tok Tok Tok.
"Sayang, Apakah kau sudah tidur!". Ucap Qun melalui celah pintu dan suaranya kecil tapi masih bisa di dengarkan oleh Shafura.
Shafura terkejut lalu segera ia menghapus air matanya agar Qun tak tahu kalau dia bersedih, setelah merasa air matanya sudah hilang dan sedikit berkaca sekedar untuk tampil rapi menyambut Qun, ketika merasa sudah cukup tampil sempurna Shafura lalu membukankan pintu.
"Bee ada apa, aku belum tidur"..
Shafura tengah berbicara tapi Qun terus waspada, kepalanya tak henti melirik ke arah kamarnya.
"Bolehkah aku masuk?".
"Ya masuklah!". Shafura memberi ruang agar Suaminya dapat masuk.
Qun masuk dengan pelan dan hendak menutup pintunya.
"Bee apakah Faye sudah tidur?", Tanya Shafura ketika Qun sudah memegang kunci kamarnya dan hendak menguncinya.
"Papa Quuuun, Faye mencarimuuu", Teriak zaf sekuat mungkin.
Seketika Wajah Qun kembali berubah masam. Dia terlihat menggengam tangannya kesal.
"Awas kau Zaf!, Kenapa malam ini kau begitu keterlaluan".
Shafura terkekeh, ""Sudah-sudah, pergi sana Bee, nanti Faye menangis!".
Shafura membuka pintu dan mendorong pelan Qun Agar cepat keluar sebelum Faye melihat mereka.
"Sayaaaang", Rengek Qun.
"Bee!" Tatapan Shafura tajam.
"Baiklah! Selamat malam sayang".
"Selamat malam Suamiku!!".
Qun berjalan mundur serta sangat berat kakinya melangkah kembali ke kamarnya, dia tak mengalihkan pandangannya sedikitpun pada Shafura. Shafura hanya kembali terkekeh melihat Suaminya yang sedang kesulitan dengan situasi ini. Dan dia juga kembali masuk ke kamaranya dan menutup lagi pintu itu.
"Beee, be ada saja tingkahmu itu, aku tak meyangka kau jadi selembut dan sebaik ini padaku, awalnya aku kira kau adalah pria yang keras, dingin dan cuek, rupanya aku salah"
Belum kering ucapan Shafura dia kembali mendengar suara pintu yang di ketuk.
TOK TOK TOK
...Bersambung...
__ADS_1
...***...
Siapa lagi tamu Shafura malam ini ?