
Setelah mendapatkan solusi untuk masalah Shafura, kecanggungan kembali terjadi tak kala keduanya saling melempar senyum, namun bedanya Qun senyum dengan iklas sedangkan Shafura senyum namun dari yang iklas berubah takut. Takut setelah melihat seyum iklas milik Qun.
" Semoga tak ada arti lain dari senyummu itu Bee! ".
" Sayang ! "
" Ahh ya ! Kenapa Bee " Shafura terkejut.
" Ehh, Anu!.. "
" Anu apa ? "
" Apa arti anumu itu Bee "
Qun bangkit dan memegang pundak Shafura lalu menidurkannnya tepat di tempat Shafura duduk. Shafura tetap berusaha tenang sekalipun Qun kini mengakatkan kedua kaki milik Shafura lurus di ranjang, Shafura bersikap normal namun jantungnya berguncang hebat, sehingga dia memeganginya.
" Aku harus siap, tapi ? ".
Shafura menoleh dan sadar bahwa di ranjang miliknya ada orang lain selain mereka berdua, yaitu Faye.
" Bee tak akan meminta itu ! " Ucap Qun yang kini tepat di hadapan wajah Shafura.
Shafura kaku sebab Qun bisa membaca pikiran kotornya, tapi bagaimana tidak. Ucapan dan tindakan Qun yang membuat Shafura salah sangka sebab kini kedua tangan Qun telah berdiri tegak di antara kedua sisi tubuh Shafura dan bahkan Shafura bisa merasakan hangatnya nafas Qun sanking dekatnya mereka kini.
" Tapi ! "
CUP
" Selamat malam ! "
Qun melepaskan kecupan hangatnya di dahi Shafura untuk pertama kalinya. Shafura hanya terdiam menerimanya namun tidak dengan hatinya.
" Terima kasih Bee ".
Qun terseyum dan tak menanggapi sanggahan Shafura. Qun lalu mendorong tanganya kuat hingga kini ia sudah berdiri tegak lagi dan berjalan mengitari ranjang lalu merangkak pelan di antara Faye dan Shafura.
" Sudahlah, Bee ingat janji kita waktu di mobil, jadi Sayang jangan takut " Ucap Qun yang kini menarik selimut mereka dan berbaring di tengah.
Shafura lalu meraih tangan Qun yang sedang merapikan selimut mereka dan menggenggamnya erat serta membawanya ke depan bibirnya.
CUP
" Terima kasih Bee " Balas Shafura.
" Sama - sama ".
Senyum Qun tak jua luntur dari wajahnya yang rupawan, ia benar - benar berada di puncak kebahagiaan. Bagaimana tidak, impian yang dulu ia harapkan datang di lima tahun silam baru dapat ia rasakan kini.
Shafura membalas lagi senyum suaminya lalu mematikan lampu yang tak jauh dari ranjangnya. Setelah melewati adegan salah sangka itu, kini Shafura, Qun dan Faye tidur bersama dalam satu ranjang.
...***...
Kukuruyuk
Suara ayam di pagi buta membangunkan Shafura dari tidurnya, dilihatnya jam di dinding baru pukul tiga pagi. Shafura terseyum sebab dia merasa sedang dilimpahi keberkahan.
Pukul tiga pagi ayam berkokok tandanya malaikat sedang turun ke bumi, itu salah satu alasan Shafura terseyum karena ia di bangunkan dan ingin menyapa Allah yang telah memanggilnya lewat makhluknya itu.
Shafura lalu melirik Qun
" Ya Allah terima kasih, karena sudah menghadirkan dia dalam hidupku ".
Shafura masih tak berhenti terseyum, ketika melihat wajah imut Qun yang tengah tidur namun sedikit mengahadap Faye yang berbantalkan lengan Papanya itu.
Faye selalu tidur memakai lengan Qun. Bila Qun tak bekerja atau sehabis pulang dari kerja biasanya Faye akan tidur lagi menemani Qun.
Shafura bangkit lalu menuju kamar mandi dan membersihkan diri, dan menurut sebuah hadits bahwa mandi sebelum subuh itu baik untuk kesehatan dan Shafura selalu melakukannya.
Selesai dengan aktivitasnya barulah Shafura bertemu dan berucap Syukur dalam dua rakaatya pada Allah, Shafura Sholat sendiri karena alasan Fayelah, Shafura tak mengajak Qun tahajud bersama.
" Ya Rabbi, Hamba benar - benar berterima kasih sebab telah mengabulkan doa - doa hamba selama ini. Hamba tahu hamba masih banyak khilafnya dalam hidup namun Kau tetap berkenan mengabulkan permintaan hamba yang tak sadar diri ini. Hamba hanya mampu berterima kasih padamu sebab hamba lemah tanpa ridho dan pertolonganmu. Ya Rabb! Kau Jagakanlah pernikahan ini dan restuilah kami hingga kami kembali di pertemukan lagi, dan terakhir Ya Rabb, kau mudahkanlah aku agar diterima sebagai Ibunya, lunakkanlah hatinya agar ia bisa menerimaku, Amin "
Seusai mengucap Amin dan doa lainnya sebagai penutup yang berbahasa arab, Shafura bangkit dan melipat sejarah lalu keluar dari kamar, Dengan mukena putih bersih yang masih di pakainya, Shafura turun ke lantai bawah hanya sekedar mencari cemilan di saat pagi menjelang Sholat Subuh. Di angkatnya mukena agar tak tersandung menuruni tangga, hingga berjalan menuju kulkas, Sambil bersenandung.
__ADS_1
..." Man ana man ana, man ana laulaakum "...
..." Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum "...
Dengan suaranya yang merdu, Shafura bersholawat di pagi hari.
" A-assalamualaikum, Kak ! " Nada Zaf terdengar malu - malu.
Shafura menutup sedikit pintu kulkas yang menghalangi pandangannya" Waalaikum, Eh Zaf ".
Shafura sedikit terkejut dengan Zaf yang mengucap salam untuknya karena ini pertama kalinya Zaf begitu. Shafura menutup kembali kulas serta membawa 2 pisang di tangan dan duduk berseberangan dengan Zaf.
" Suaramu bagus kak ! " Puji Zaf.
Shafura merasa tersanjung, dia sedikit terseyum.
" Kau terlalu pintar memuji !. Ngomong - ngomong kenapa pagi begini ke dapur ? " Lalu Shafura memberikan satu pisangnya untuk Zaf.
Zaf hanya mengangkat pisang tersebut sebagai tanda dia juga tengah lapar.
" Apa wajahmu baik - baik saja Zaf ? " Tanya Shafura lagi sambil memperhatikan wajah adiknya itu.
" Ya ! sudah lebih baik ".
Area mata biru lebam dan bibir pecah serta pipinya tergores seperti terkena kuku hanya luka kecil namun di rawat via VIP, biasalah holang Kaya belum lagi Zaf yang sangat menjaga area wajahnya yang rupawan, tapi itu sejalan dengan kekayaan milik Zaf yang ia dapatkan atas warisan dari Sang kakek sebab ia adalah Cucu kesayangan, karena itu jualan Zaf menjadi amat sangat kaya.
Zaf adalah cucu dari seorang Almarhum konglomerat di Singapura. sepeninggal Kakeknya, Zaf memilih tinggal di Indonesia tempat kelahiran sang Ibu, sedangkan Papa dan ibunya melanjutkan kejayaan sang Kakek, padahal ribuan nyawa yang bergantung pada perusahaan itu juga sudah di wariskan padanya, namun Zaf memilih barter dengan mengurus usaha milik Papanya yakni Bar kecil di indonesia dan menukarkannya dengan warisan sang Kakek.
Bukan Zaf tak amanah namun dia merasa bosan bila harus duduk berhari - hari di kursi berputar dan belum lagi orang - orang yang harus terpaksa menyebut dengan panggilan Bos tuan serta segala panggilan tak iklas lainnya, serta selalu menyaksikan orang - orang tunduk padanya bila ia melewati kerumunan. Itulah yang Zaf pikirkan ketika melihat para pekerja melakukan itu sewaktu ikut berjalan bersama sang Kakek dulu. Zaf merasa tak suka, dia tak suka ada yang mengekang kebebasannya termasuklah kebebasannya dalam berpindah - pindah keyakinan dari Kristen menjadi Atheis.
" Kak, apa yang kau lakukan dengan itu " Tunjuk Zaf dengan mulutnya.
Shafura bingung keningnya berkerut " Ini " mengangkat juga pisangnya " Ya di makanlah ! "
Qun menggeleng " Bajumu itu Kak ! Hmm, apa namanya ? ".
" Ini mukena, untuk Sholat ? ".
" Apa kalian juga Sholat jam segini, aku hanya tahu 5 kali dalam sehari " Zaf penasaran.
" Wau !, ternyata sedetail itu ya Islam rupanya !" Zaf nampak terkesan.
" Apa kau tertarik ? " Shafura menggoda Zaf dengan sedikit terseyum simpul.
" Hmm " Zaf berdehem saja. Dia masih belum mengakuinya.
" Zaf ! Bolehkah Kakak tanya tentang Ibra ? ".
" Kenapa Kak ? " Zaf kini yang bingung.
" Apakah sebelumnya kalian pernah bertemu, dan kenapa dia bisa tahu kalau kau itu Atheis ".
" Entahlah kak, saat melihatnya di pernikahan kalian, aku melihat dua wajah yang tak asing, salah satunya Ibra. Tapi aku ragu di mana pernah bertemu dengannya, dan semalam waktu kalian Sholat Ian bilang Ibra sering bermain dari satu bar ke bar lain, tak terkecuali ke Bar kita. "
Shafura terkejut " Begitukah. Kakak sudah dapat jawabannya, Kakak izin ke atas dulu ya ! ".
Shafura tak ingin melanjutkan rasa penasarannya tentang dua wajah yang Ibra sebutkan karena dia terlalu fokus pada Ibra dan semakin tahu siapa itu Ibra, setelah mendapat jawaban, Shafura izin kembali ke kamarnya.
Namun berbeda dengan Zaf, dia ada yang ingin di sampaikan namun sedikit ragu tapi tetap harus dia utarakan sehingga tak perduli dengan sikap Shafura yang secara tiba - tiba meninggalkannya.
" Kak " Panggil Zaf pada Shafura yang sudah berjalan setengah tangga.
Zaf bangun dari duduknya mendorong kursi dan berlari pelan ke arah Shafura.
" Ya ! Kenapa Zaf ? ".
Zaf kembali dilema ketika dekat Shafura dan kebingungan mau mengutarakan niatnya, dia sedikit gugup.
" Hmm, ssst, hmmm "
" Zaf ! ".
Zaf menggaruk kepalanya yang tak gatal " Kenalkan aku dengan Islam " Bicaranya pelan namun cepat.
__ADS_1
Shafura mendengar itu tapi dia nampak tak yakin apa yang barusan di ucapkan Zaf.
" Islam apa Zaf, ulangi pelan - pelan " Pinta Shafura.
Shafura memejamkan mata dan mendekatakan lubang telinganya ke arah Zaf agar lebih jelas sebab tertutup mukena.
Zaf menuruti Shafura " Kenalkan aku dengan Agama Islam ".
Shafura tercengang dan memegangi mulutnya, karena tak percaya.
" Benarkah ! Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah Ya Robbi. Ini kabar terbaik Zaf yang Kakak terima, Abangmu juga harus tau ini Zaf, " Shafura gembira.
Berulang kali Shafura mengucap shyukur atas kabar ini dan bertepuk tangan riang namun berbeda dengan Zaf, dia bukan tak bahagia tapi ketika mendengar kata * Abang juga harus tau ini *. membuat Zaf panik seketika. Zaf menggoyangkan kelima jarinya tak setuju dengan ucapan Shafura.
" Tidak Kak ! Jangan beri tahu Abang, aku mohon ". Zaf memelas.
Rasa bahagia Shafura terhenti.
" Kenapa Abang tak boleh tahu Zaf, ini kabar gembira ! ".
Zaf menelan liurnya yang bercampur dengan ekstrak pisang tadi.
" Dulu dia juga pernah nawarkan aku untuk belajar agama ini tapi aku bilang waktu itu hanya akan mati dengan kepercayaanku dan semenjak itu Abang tak pernah lagi membahasnya denganku dan dia seperti menghormati keputusanku " Zaf sedikit gemetar.
Shafura ingin menenangkan Zaf namun ia tahu batasan.
" Ya sudah baiklah, Kakak akan rahasiakan ini, tapi bolehkah Kakak tahu apa alasanmu ingin mengenal Islam ? ".
Shafura tak dapat menahan rasa penasarannya. Dia begitu bahagia sekali, nampak jelas dengan dia terus terseyum.
" Kakak ingat malam dimana kalian berdua Sholat lalu aku meminta izin berangkat kerja dan kalian keluar dengan pakaian Sholat dari situ aku merasa hatiku ikut tenang, ketenangan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya ". Mata Zaf berlinang selama ia menjelaskan.
Shafura ikut terharu, matanya meneteskan butiran kecil yang sejuk mengalir di pipinya lalu mengelapnya
" Baiklah Kakak akan rahasiakan ini dan Kakak yang akan membantumu mengenal Islam, bila nanti hatimu sudah benar - benar mantap baru kita belajar dengan yang lebih ahli ya ! ".
" Baiklah aku setuju, terima kasih Kak " Zaf juga ikut ceria telah menceritakan isi hatinya.
Setelah Shafura mendengarkan curahan hati Zaf mulutnya kembali tak berhenti berucap syukur pada Allah karena bila semua sesuai rencana dan Zaf semakin mantap maka dirumah itu akan semakin banyak keberkahan.
Waktu Sholat Subuh telah masuk, Shafura kembali ke kamar setelah berbicara dengan Zaf begitupun dengan Zaf yang kembali ke ke kamarnya, setibanya di kamar Shafura mendapati Qun yang telah bangun dan siap membawa Faye kembali ke kamarnya.
" Mau kemana Bee ? ".
" Bee mau Sholat Subuh dan Faye belum bangun, kalau sewaktu Bee Sholat dan dia bangun di kamar ini nanti di bisa nangis bila tak ada Bee tau Zaf di sampingnya, jadi mau dipindahkan ke kamar sebelah ".
" Ya sudah pindahkan Faye lalu kita berjamaah aku tunggu ya ! ".
Qun mengangguk saja dan mereka keluar dari kamar Shafura. Qun dan Faye menuju kamar mereka Sedangkan Shafura menuju ruangan rahasia yang sudah tak rahasia lagi.
...***...
07 : 30 WIB.
" Sayang, Bee pergi dulu ya ada urusan mendesak nanti Bee ceritakan, hati - hati dirumah, Assalamualaikum " Ucap Qun tergesa - gesa.
Qun berlari sejak dari kamar hingga menemui Shafura yang sedang menyiram tanaman di teras.
" Ok baiklah, hati - hati ya Bee, Waalaikumussalam "
Tak lupa Qun sendiri yang memberikan tanganya untuk berpamitan, menghidupkan mobilnya lalu hilang dari pandangan Shafura
Shafura sebenarnya bertanya - tanya dalam hatinya tapi di sisi lain dia juga husnudzon pada apa yang Qun lalukan.
" Kak Abang kemana ? ". Tanya Zaf.
Shafura mengalihkan arah matanya pada Zaf yang kini berdiri di muka pintu. Zaf tak kalah panik ketika melihat Qun yang berlari melewatinya begitu saja di ruang tamu tanpa bicara sepatah katapun.
" Katanya urusan mendesak, Kakak cuman tahu itu " Shafura memegangi dadanya ! .
* Ya Allah apakah ada masalah, kenapa dia begitu terburu - buru, semoga tidak ada apa - apa! lindungi Suamiku Ya Robb *.
...Bersambung...
__ADS_1
***
Ada apakah gerangan !...