Imamku Seorang Bartender

Imamku Seorang Bartender
* Potret * Episode 23


__ADS_3

Qun terseyum dan menghentikan elusannya, dia melihat wajah Shafura yang tampak serius.


" Boleh, mungkin itu akan membantu ".


" Cobalah memancingnya ? " Ujar Shafura.


Qun menegakkan lehernya, " Maksudnya ".


" Cobalah untuk tidak bekerja dulu dalam beberapa hari, mana tahu mereka akan kembali bertransaksi di sana, " Shafura mengutarakan rencananya.


Entah mengapa wanita kalau dalam hal rencana atau siasat sangat jago.


" Lalu bagaimana dengan Zaf jika aku tak bersamanya, tempat itu berbahaya Sayang " Qun sedikit takut dengan rencana Istrinya.


" Ayolah Qun, kau bisa menyuruh orangmu berjaga - jaga dan mematai dari kejauhan Bar itu "


Mata Qun berbinar, pikirannya langsung berfikir hasil terburuknya.


" Aku terlalu takut untuk rencana yang berbahaya Sayang, aku tak ingin ada yang terluka apalagi sampai pergi meninggalkan ku ".


Rasa takut Qun akan perpisahan membuat jalan pikirannya buntu, baginya ! selama orang disekitarnya selamat maka dia bisa hidup tenang. Sekalipun jika rencananya tak berjalan mulus.


" Hei Qun " Kembali Shafura mengelus pipinya.


Qun menggeleng takut " Jangan sayang aku tak berani, aku tak sanggup membahayakan keluargaku apalagi sampai ".


Shafura langsung menarik tubuh Qun, dan Qun tak bereaksi apapun, Ia hanya menyederkan kepalanya di bahu Shafura tanpa membalas pelukan Shafura seperti tak berdaya.


" Sttttt, sudahlah jangan diteruskan, lupakan apa yang aku katakan, kita akan memikirkan cara lain, tenanglah ! ada aku yang akan membantumu Qun " Shafura sesekali menepuk pelan punggung Suaminya.


Lalu Qun meletakkan tanganya pada tubuh Shafura " Terima kasih, sudah memahamiku ".


" Ya sudahlah, kau harus tenang, jangan berpikir yang aneh - aneh, nanti bisa sakit ".


" Terima kasih sayang kau baik sekali ".


* Kau Suamiku, Qun. Sudah menjadi tugasku mengkhawatirkan dirimu *.


Shafura melepaskan pelukannya


" Baiklah ! Aku akan mengantarmu ke kamar dan istirahatlah ! ini sudah malam ".

__ADS_1


" Maukah kau menemaniku tidur, aku belum pernah tidur sendirian " Qun memelas.


Suasana hangat itu berubah seketika, rasa empati Shafura berganti jadi ngeri, dia jadi teringat tentang percakapan Qun dan Zaf di meja makan tadi.


Shafura memasang wajah takut, dan Qun melihat itu


" Aku tak akan meminta itu, setidaknya kau temani aku tidur itu lebih dari cukup, aku membutuhkanmu, maukah ! " Pinta Qun melemah.


" Aku bukan tak ingin melayanimu Qun, tapi ada rasa takut yang tak bisa aku jelaskan " Terang Shafura mengenai rasa takut dihatinya.


* Aku takut kau membuangku setelah nanti kita bermalam Qun, Aku sudah tak memiliki itu, aku khawatir. Ya Rabbi bantu aku *.


" Aku tak akan memaksakan diriku karna kau juga punya perasaan, aku menghargai itu dan aku akan menunggu hingga kau siap ".


" Terima kasih Qun " Shafura lega karena Qun masih ingin bersabar, setidaknya dia dapat mencari cara untuk memberi tahu Qun apa masalahnya suatu hari nanti.


" Sama - Sama "


Qun lalu berdiri dan ingin mengajak Shafura masuk ke kamar bersamanya.


" Ayooo " Dengan nada yang kembali ceria dan wajah mesum milik Qun.


Shafura menelan salivannya mendengar itu, dia tak jadi melangkah dan menahan diri.


Wajah Shafura kembali memerah karena malu ketika otaknya selalu salah mengartikan ucapan Qun.


Mereka keluar dari ruangan yang sudah bukan rahasia lagi lalu berpindah ke kamar yang jaraknya hanya semeter. Dan mereka tidur bersama malam itu sebagai suami istri.


...***...


Tenenet Tenenet


Begitulah kiranya jam waker berbunyi, Shafura sontak terbangun lebih dahulu dari Qun, dihidupkannya lampu kamar dan Qun merasa terganggu karena silaunya, Qun menelungkupkan badan untuk melanjutkan tidur. Shafura yang sudah terduduk di ranjang merasa gemas melihat pria yang tadinya kaku dan selalu marah itu, kini sedang terusik dengan sebuah sinar lampu.


" Sayang jangan dipandangi terus, matikan dulu jamnya berisik " Suara Qun semakin berat karena masih ngantuk.


Shafura lalu meraih jam itu dan mematikannya. Pukul 4 Subuh, Shafura mengikat rambutnya dan meninggalkan Qun untuk mandi. Selesai mandi dia melilitkan handuk untuk rambutnya yang basah dan tak lupa membangunkan Qun. Disentuhnya rambut hitam Qun pelan.


" Qun bangun cepat, Sholat Subuh udah hampir masuk ! Jadi bisa langsung mandi " Ucap Shafura lembut


" Huaah, pagi sayang ".

__ADS_1


" Pagi Qun, cepatlah! Biar bisa Sholat jamaah lagi ". Ujar Shafura.


Qun tak menjawab karena masih mengantuk tapi dia memaksakan duduk di kasur, badannya sesekali bergoyang karena menahan kantuk dan lucunya matanya terbuka setangah setelah kembali menahan kantuk. Melihat itu Shafura sudah benar tak dapat menahan rasa gemasnya terhadap Qun, dia mengelap wajah suaminya dengan tangan yang masih basah selepas mandi.


" Iiiiiiiiiii ! Sayaang dingin " Protes Qun tentang perbuatan Shafura, kini wajahnya merungut dengan bibir bebeknya.


* Ya Allah Qun, kenapa harus seperti ini sih di pagi hari, ini terlalu imut ! Aku tak tahan *.


Lalu shafura berniat mengerjainya, dia mencari letak Qun menaruh hpnya lalu di dapati di atas nakas, di gapailah hp tersebut.


Creek, creek


Karena Qun tak memasang sandi ataupun pola maka Shafura dengan mudahnya memainkannya lalu memotret wajah imut Qun.


" Qun bangun dan mandilah atau Wajah ini aku kirim ke Zaf dan Geris." Shafura mengancam suaminya yang tak kunjung ingin bangun.


Masih dengan nyawa separuh terkumpul Qun bertanya " Wajah apa Sayang ? ".


" Ini " Shafura menunjukkan hasil jepretannya.


Qun menggucek matanya agar melihat jelas, setelah rabunnya pergi, tatapan utamanya adalah rambut basah Shafura yang sangat indah saat handuk tadi terjatuh.


* Qun tahan - tahan. Jangan terpengaruh dengan godaan rambut itu, kau ingat dengan apa yang kau ucapkan tadi malam bukan, kau tak akan memaksanya. Cepatlah mandi Qun cuci otakmu *.


Qun mendengarkan ucapan hatinya dan langsung ingin berlari dari tempat tidur tapi sialnya dia tersangkut kain sarungnya sendiri dan hampir tersungkur jika tanganya tak menopang.


" Astaqfirullah Qun kau kenapa " Tanya Shafura yang terkejut karena dari tadi hanya melihati keimutan modelnya itu, kini dia beralih memandangi kamar mandi tersebut.


" Aku, a-aku sakit perut, tolong siapkan pakaianku " Qun berdalih agar tak ketahuan Shafura bahwa dia hampir melampaui batasan.


Shafura lalu menyiapkan apa yang Qun perintahkan dan dia juga menggelar sejadah di ruangan rahasia itu.


Setelah Qun selesai mandi subuh dan beribadah dengan Shafura, Shafura turun ke dapur dan ditemani Qun, tapi Qun tampak sibuk dengan mengutak atik Handphonenya.


" Qun, dari tadi aku perhatikan kau tampak gelisah, ada masalah apa ? " Tanya Shafura sembari memberi semangkuk Oatmeal.


" Entahlah ! Zaf tak pernah begini, pesanku tak pernah low respon, ini sudah 5 menit tapi masih tak dilihat bahkan aku kirim 10 pesan tak ada yang dilihatnya, telponku juga tak di angkat - angkat " Jawab Qun tanpa melihati Shafura, dia terus mencoba tersambung dengan adiknya itu.


* Kau dimana Zaf, jangan membuatku takut *


...Bersambung...

__ADS_1


***


Apakah kekhawatiran Qun terhadap Zaf benar - benar terjadi !!!


__ADS_2