
" Sha ! Sha ? " Teriak Qun setelah memasuki rumah.
Terlihat beberapa orang menoleh ke arah Qun yang baru saja pulang dari bekerja, dengan style kemeja dan celana panjang hitam miliknya, Qun mencari keberadaan Shafura.
" Kenapa Be ? " Ucap Shafura dari lantai atas dengan memegangi pagar pembatas.
Shafura sedang sibuk mengatur tata letak dekorasi untuk pernikahan Zaf dan Geris, dan orang - orang tadi adalah pertugas EO,Cattering dan beberapa tetangga lainnya yang ikut membantu perihal resepsi besok.
" Mark menelepon ! " Qun menghampiri.
" Terus ! " Shafura juga menghampiri Qun yang hendak menaiki tangga.
Saay bertemu di tengah - tengah tak lupa bersalaman pada Qun.
" Dia bilang Ayah sudah boleh bebas "
" Apa! " Ucap Zalima terkejut
Shafura dan Qun melihat ke samping mereka tepatnya ke dapur dan di sana ada Zalima yang berdiri mematung.
" Iya bu "
Zalima pun bergegas mendekat.
" Bagaimana bisa! "
" Mark bilang Ayah sudah bisa bebas karena selama di kurung Ayah berprilaku baik juga Ayah di sana mengajarkan Agama pada para tahanan yang lain jadi Ayah mendapatkan potongan masa tahanan dengan syarat Ayah masih harus melakukan wajib lapor saja "
" Alhamdulillah, Ibu bahagia mendengarnya, jadi kapan Ayah keluar " Tampak raut bahagia dari wajah Zalima.
" Hari ini Bu! "
" Ibu mau jemput " Ucap Zalima bersemangat.
" Bu tenang ! " Ucap Shafura
" Ibu bahagia sekali nak, semenjak Ayahmu di tahan kami tak pernah bertemu lagi "
" Iya bu aku tahu, tapi tenanglah kita akan ke sana untuk menjemputnya "
" Ya sudah ibu siap - siap dulu " Zalima langsung beranjak ke kamarnya.
Shafura hanya menggelengkan kepalanya melihat kebahagia yang menghampiri Sang Ibu.
" Lihat Be, tak ada sedikitpun kekecewaan yang menyelimuti Ibu pada Ayah, aku salut sama ibu "
Qun mendekati Shafura dan merangkulnya dari samping
" Iya Ibu hebat ya, sekalipun Ayah berbuat kesalahan, kini dengan hati terbuka dan seyum yang lebar Ibu kembali menerima Ayah, bahkan bersedia menjemputnya, Be harap sifat Ibu bisa menurun pada anaknya " Ucap Qun dengan terus mengelus lengan Shafura.
" Maksud Be apa ?, Be berharap Sha juga menerima Be jika Be melakukan kesalahan begitu " . Shafura menatap tajam
" Jangan begitulah natapnya nanti Be makin cinta ! "
" Iiiih serius Be ! Jangan buat Sha meleleh "
" Iya, Be harap Sha bukan hanya memberi Be satu atau dua kesempatan bila nanti Be melakukan sesuatu yang hal itu Sha anggap itu sebagai kesalahan "
" Sha bisa aja, tapi tergantung seperti apa kesalahan yang Be buat "
" Benarkah. Hmmm, Judi ? "
" Bisa ! "
" Hmm kalau minuman, minuman ? "
" Masih Bisa ! "
" JANDA "
Shafura kembali menatap Qun dan kini berdiri di hadapan suaminya itu dengan merapikan kerah baju Qun.
" Judi dan minuman masihku maafkan, tapi kalau mabuk janda aku tak terima lebih baik kita Bu "
Belum habis bait lagu dangdut yang Shafura nyanyikan Qun sudah meletakkan jarinya di bibir Shafura
" Shhhhttttt, jangan di teruskan! Pamali "
Shafura tersipu malu diperlakukan begitu oleh Qun, dan tanpa sadar mereka beradegan di tengah keramaian orang.
" Bu permisi ini bunganya taruh di mana ya? " Tanya salah satu penata ruang tersebut.
" Ah, Maaf, Ya taruh di sana saja, di ujung dekat tiang itu " Tunjuk Shafura pada tempat yang di ucapnya.
" Baik bu "
" Be sih, kan jadi kelewat batas "
" Kok jadi Be yang di salahkan, Yang nyanyi Sha kenapa Be yang di salahkan "
" Iiiih nggak tau ah, Sha malu tau "
" Yaudah sini - sini kita ke kamar aja ya "
" Kalau ke kamar nanti "
" Nggak ! Kitakan mau jemput Ayah, abis jemput Ayah, Nah baru " Usik Qun dengan kedipan mata pada Shafura.
" Iiihhhh Beee, tau ah nakal "
Shafura dan Qun lalu ke kamar mereka.
...***...
Be tolong Resletingin, Tangan Sha nggak sampai "
Qun yang tadinya duduk di ranjang menunggu Shafura berpakaian kini kembali mendekati Shafura karena permintaan Shafura sendiri. Tapi bukannya meraih risleting itu Qun malah melingkarkan tangannya di pinggang Shafura.
* Di suruh apa, ngerjainnya apa ! hmmmm *
" Be kok pulangnya cepat ? " Tanya Shafura
" Ya kan Be cuman ngecek aja, jadi boleh dong pulang cepat, lagi pula Be suntuk nggak di Butik nggak di rumah Zaf nggak ada yang bening, kalau di rumah kan ada Sha " Lanjut Qun menggoda Shafura
" Terooos aja, goda terooos "
" Ya kan Isteri sediri, lagi pula bolehkan nambah - nambah pahala dengan godain isteri sendiri "
" Ya boleh, tapi pasangakan dulu nanti baju Sha kebuka lagi "
" Ya baguslah kalau kebuka makin besar pahalanya "
" Iiih Be jangan begitu, cepat pasangkan ! nanti Ibu nu "
__ADS_1
TOK TOK
" Nak sudahkah?, Ayo cepat ibu nggak sabar ni "
" Iya Bu, sebentar ni di ganggu sama "
" Bu bentar lagi " Timpali Qun
" Cepat ya kalian, Ibu tunggu di bawah "
" Iyaaa Bu......... Tu kan Be, Ibu udah nggak sabar, pasangkan ritsletingnya "
" Iya - iya "
BREEET
" Be kerumah Zaf lagi ? " Tanya Shafura pula yang kini hendak mengenakan jilbabnya.
Sebenarnya pertanyaan itu tak perlu Shafura tanyakan, sebab sejak Zaf pergi meninggalkan rumah ini, Qun hampir tiap hari singgah di rumah Zaf, entah itu hanya sekedar menjenguk Zaf dan Faye ataupun makan siang bersama di sana. Semenjak Seluruh harta Zaf sudah berpindah tangan. Zaf jadi tak memiliki pekerjaan lagi, tapi untungnya usaha yang ia rintis bersama Qun masih ada jadi itulah pemasukan yang ada sekarang walaupun tak sebanyak pendapatannya dulu, tapi setidaknya Zaf tak kehilangan seluruh pundi pundi rupiahnya dan Qun pula tak mengizinkan Zaf bekerja karena Faye sudah beberapa hari tinggal bersama Zaf, dan alasan lainnya adalah Zaf harus banyak istirahat agar siap pada harI H nanti dan Zaf hanya bisa menuruti ucapan Abangnya itu.
" Iya, katanya salam sama Sha " Jawab Qun dengan beralih bersandar di meja rias Shafura
" Assalamualaikum ! "
" Waalaikumussalam " Saut Qun spontan
Shafura melirik Qun bingung, seperti ada yang Salah.
" Kenapa Be yang jawab! "
" Sha yang salah, kalau orang salam jawabnya Waalaikumussalam, bukannya Assalamualaikum "
" Itu maksud Sha, Sha sedang tidak fokus ! " Shafura tengah memasang jarum pada jilbabnya.
Qun hanya menggeleng kepala
" Bagaimana kabarnya menjelang besok "
" Katanya takut, gugup "
" Kok gitu ! "
" Nggak tau "
" Jangan - jangan Be takut - takutin ya "
" Eh nggak ada ya enak aja "
" Anak kita gimana ? "
" Katanya masih mau tinggal di sana, tadi Be ajak pulang dia nggak mau "
" Nggak Be paksa nih, Sha yakin, Coba kalau Be bilang gini * Sayang ayo pulang nanti Mama kangen nggak ada temannya, Mama pasti sedih sendirian * Pasti nggak gitukan "
" Lah kalau anaknya gak mau pulang ya jangan di paksa sayang, kasihan "
" Kasihaaan! Bilang aja Be sukakan biar bisa nempel terus sama Sha, kalau ada Faye muka Be tu maseeeeem banget, apalagi kalau mau tidur "
" Eh Sha nggak boleh ngomong gitu ya, Husnudzon "
" Nah tuh kan benar, bilangnya Husnudzon "
" Suudzon Maksudnya "
" Alaaah, Sha udah hapal tabiat Be, udah ketebak, sengaja anaknya di lama - lamin di sana biar bisa puaskan! "
" Heeee! Yaudah ayo, Sha Udah siap "
" Ayo berangkat Sayang ! "
...***...
Shafura Qun dan Zalima duduk berderetan menunggu di Lapas, terlihat beberapa orang dengan seragam biru mudanya berjaga di depan pintu keluar yang membatasi antara area pengunjung dan ruang tahanan para napi.
" Ustadz jangan lupakan kami "
" Saya tidak akan melupakan kalian semua "
" Sering - seringlah main kesini Ustadz "
" Insya Allah, jika umur saya panjang saya akan sering - sering ke sini l
" Terima kasih ustadz ilmunya "
" Sama - sama jangan lupa di amalkan ya "
" Ustadz doakan kami selalu biar bisa istiqomah "
" Itu pasti, ketika saya sudah tidak di sini semoga kalian semua terus sholat berjamaah seperti sebelumnya "
" Ustadz boleh bagi nomor WA to " Teriak salah satu napi
Hendry tercengang.
" Hustt jangan minta nomor Wa, nanti ketahuan kalau kita punya Hp " Bisik napi yang berada di sebelahnya
" Bercanda saja kaka, Hp kita tidak ada yang android, semua disini Hpnya kentang jaringannya E, kalau kita telpon keluarga Tutnya saja jedanya lama, tuuuuuuuut tunggu dua kali napas baru dia Tuuuut lagi, kaka tau itu "
" Bukan Tutnya yang salah, tapi keluargamu di timur sana yang susah dapat jaringan to, makanya tutnya yang lama "
" Iya kaka ada benarnya juga, saya doakan semoga bapak presiden taruh jaringan di timur nanti, supaya tut saya tidak lama lagi "
" Amin ! doa ko bagus "
Terlihat para napi yang lain berkerumun mengantarkan kebebasan Ustadz Hendry, Ya selama di sana Kemen di kenal sebagai ustadz Hendry bukan Ustadz suhaimi, Hendry telah merubah statusnya sebagai orang yang baru, orang yang telah benar - benar bertobat dari kesalahannya.
" Semua tenang beri jalan, kalau ingin bersalaman satu - satu " Ucap Mark yang mengawal Hendry.
Melihat itu dari kejauhan Zalima mendekati pintu tadi dan di ikuti Shafura dan Qun
" Kenapa itu pak ? "
" Para napi nampaknya tak bisa melepasnya, Ustadz Hendry sangat di hormati disini, semenjak beliau masuk ke sini, mushola kami jadi ramai oleh napi yang Sholat berjamaah, mengaji bahkan ada beberapa yang jadi muallaf bahkan kami yang petugas saja suka bila beliau ceramah sehabis sholat, Hati kami jadi tentram "
Zalima seketika berlinang " Alhamdulillah "
" Alhamdulillah " Ucap Shafura dan Qun pula.
" Bagi jalan - bagi jalan " Ucap Mark lagi.
" Buat napi yang lain tolong beri jalan sekaligus dengarkan saya mau berbicara dulu sebentar ada yang mau saya sampaikan " Ucap Kepala Lapas.
Seketika napi yang berdesakan tadi jadi tenang dan berdiri diam.
__ADS_1
" Hari ini saya ingin ucapkan terima kasih pada Ustadz Hendry yang telah mengajarkan kita ilmu agama di sini, hari ini beliau bebas bersyarat "
" Bebas bersyarat itu apa kaka, Bebas ya bebas saja kenapa pakai syarat, bikin pusing saja "
" Sudah ! jangan banyak tanya ko dengar saja "
" Silahkan Ustadz Hendry sepatah dua patah katanya " Ucap Kepala lapas lagi.
" Ya Pak terima kasih ....."
" TAKBIR " Teriak Napi yang lain
" ALLAHU AKBAR " saut semuanya.
" Assalamualaikum Warah matullahi wabarakatuh "
" Itu Ustadz Hendry ceramah dulu ka sebelum bebas, Waaah saya juga nanti mau begitu kalau bebas "
" Heh ko itu begal, ko mau kasih nasehat apa hah, tuntunan membegal syar'i begitu, lagi pula Ko masih 6 tahun di sini ko sadar itu "
" Hey kakak jangan ko pandang sa sebelah mata to, memang sa begal tapi itu dulu, semenjak dengar ceramah Ustadz Sa su tobat "
" Terserah ko saja "
" Terima kasih buat kalian semua dan terutama Ka lapas yang telah memberikan saya bebas lebih cepat dari waktunya, dan juga saya berharap kalian semua bisa terus melajutkan apa yang telah kita pelajari bersama - sama di sini, semoga kalian istiqomah "
" Amin " Saut semua napi.
" Amin, Kaka Istiqomah tu apa ? "
" Istiqomah tu macam Ko selalu bertanya semua hal "
" Semoga kalian semua terus bersabar selama menjalani masa tahanan ini "
" Kakak Sa tanya sama kawan sebelah Istiqomah tu teguh pendirian dan tetap di jalan yang satu, jalan ridhonya Allah, bukan banyak bertanya "
" Kalau ko bicara lagi, Kakak bisa balik jadi begal lagi, dan istiqomah di sana mau ko "
" Oke - oke ampun kakak saya diam "
" Baiklah mungkin hanya ini yang dapat saya sampaikan, saya hanyalah manusia rendahan bila ada salah selama berbagi ilmu di sini mohon di maafkan, bila ada benarnya itu semua dari Allah SWT, saya akhiri wabillahi taufik wal hidayah assalamualaikum Warah matullahi wabarakatuh "
" Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh "
" Terima kasih Ustadz selamat melanjutkan dakwahnya di luar sana, saya harap Ustadz tidak bosan untuk kembali lagi kesini, maksud saya untuk mengisi ceramah di sini lagi begitu "
" Haa, Siap Pak saya ucapkan terima kasih sekali lagi, saya pamit dulu pak, Assalamualaikum "
" Waalaikumussalam "
Saat Hendry hendak melangkah meninggalkan pintu pembatas, nampak raut sedih di wajah para napi yang lain, mereka merasa kehilangan sosok panutan di lapas ini.
" Ustadz Sa cinta ko " Teriak napi yang tadi
" Huuuuuuuu " Sorak semua napi pula.
Tak lupa Hendry mendadahi mereka sebelum keluar dan hal itu di balas juga oleh para napi yang lain.
" Assalamualaikum Pak ! " Ucap Zalima sambil menaruh tangannya hendak menyalami Hendry.
" Waalaikumussalam. Bu! "Sebutir air mata Hendry jatuh.
" Pak ! " Ujar Shafura pula
" Shaf !"
" Pak, Sehat pak "
" Alhamdulillah sehat "
Begitu juga Qun ia menyalami Hendry.
" Sini Pak tasnya Biar Qun bawakan " pinta Qun
Hendrypun menyerahkan tasnya.
" Baiklah Pak Hendry ini surat bebas bersyarat Bapak, selamat sudah bisa kembali menghirup udara segar, Saya ucapkan selamat sekali lagi " Ujar Mark.
" Terima kasih pak "
" Kalau begitu, Qun dan semuanya saya mau kembali ke kantor masih ada kerjaan yang lain "
" Oke thanks Mark udah mau nemani sampai ke sini, oh ya besok jangan sampai lupa " Ujar Qun
" Iya ! Aman itu, mana mungkin aku lupa, di hajar Zaf aku kalau sampai lupa "
" Oke baguslah, jangan datang sediri ya, ya minimal partner lah "
" kau ini Qun, bisa saja. Ya sudah saya pamit dulu semua, Assalamualaikum! "
" Waalaikumussalam! " Saut yang lain.
" Ya sudah Ayo pak kita pulang "
" Ayo ! "
" Pak Bu tunggu ya, Qun ambil mobil dulu " Qun lalu berlari menuju parkiran.
" Pak tapi kita pulangnya ke rumah Shafura sama Qun aja ya, Ibu belum sempat beres - beres di rumah " Ujar Zalima
" Kenapa harus beres - beres Bu, jangan repot repot "
" Tidak Pak! ini bukan masalah repot "
" Masalahnya Pak selama Bapak di sini, selama itu juga Ibu tinggal di rumah, dan rumah kita yang di sana jadi kosong dan mungkin berdebu, lagi pula besok ada acara di rumah "
" Besok ada acara apa ? "
" Besok itu Adiknya Qun mau menikah sekaligus mengucap dua kalimat Shadat, Bapak ingatkan pria dengan wajah sedikit ke barat - baratan itu "
" Ouh yang itu, Ya ingat "
" Nah itu orangnya "
" Alhamdulillah, bertambah lagi saudara seiman kita "
" Iya pak Alhamdulillah "
TIN
" Ayo Bu, Pak " Ucap Qun dari jendela mobil
Hendry, Zalima dan Shafura masuk ke mobil dan pulang kerumah Qun untuk kembali bercengkerama dan menjadi keluarga yang utuh setelah sekian lama berpisah.
__ADS_1
...Bersambung...
***