Imamku Seorang Bartender

Imamku Seorang Bartender
* Putih * Episode 51


__ADS_3

Setibanya di rumah, Zalima sudah menunggu dan sejak semalam tak dapat tidur nyenyak sebab Shafura, Qun dan Zaf tak pulang, di tambah lagi ketika tadi pagi Shafura memberi kabar bahwa mereka di rumah sakit dan Ayahnya sedang berada di kantor polisi, hal itu semakin membuat Zalima gelisah menunggu kepulangan mereka dan ingin meminta penjelasan segara.


Shafura langsung memberikan penjelasan sedetail mungkin sedangkan Qun dan Zaf meminta izin pada Zalima untuk masuk ke kamar masing - masing sekedar istirahat sebentar.


Zalima tak dapat membendung air matanya kala mengetahui bahwa atas bantuan Hendrylah Shafura bisa terlepas dari cengkraman penjahat, dan satu lagi yang membuat Zalima sedih, bahwa Hendry tak ingin bertemu dengannya selama di penjara meskipun hubungan mereka berdua tengah renggang karena masalah obat terlarang itu juga, tapi namanya juga suami yang telah menemani pasang surut kehidupan Zalima mana mungkin dia membuang Hendry begitu saja.


" Bu sudahlah, kita turuti kemauan Ayah "


" Baiklah, jika itu kehendaknya Ibu bisa apa ! "


Shafura memeluk Zalima untuk memberikan kekuatan pada ibunya itu.


" Nak ! "


" Iya bu " Shafura melepaskan pelukannya.


" Sekarang kamu naiklah ke kamar Istirahat, kamu pasti lelah, Ibu1 juga mau sendiri dulu di sini "


" Ibu ! " Tatap Shafura penuh cemas.


Zalima mengusap lengan Shafura " Naiklah, Kasihan Qun, lihati dia " Sambil terseyum


Shafura tahu arti dari senyum yang di paksakan oleh Ibunya itu, tapi yang bisa Shafura lakukan hanya membalas senyum itu dan menuruti ke inginan Zalima.


" Baiklah, aku ke kamar ya ! "


Zalima hanya mengangguk kecil, barulah Shafura berdiri dan meninggalkan Zalima seorang diri di ruang tamu.


...***...


" Shayang gimana ibu ? " Tanya Qun yang tengah berbaring telungkup di kasur.


Shafura belum menjawab dia berjalan dan mendekati Qun ke ranjang dan duduk di sebelah suaminya.


" Ibu minta waktu buat sendiri dulu katanya " Jawab Shafura lemah.


" Ya sudah, kita beri Ibu waktu, Ibu pasti syok dan terguncang "


Karena merasa lelah Shafura lalu hendak merebahkan badannya pada punggung Qun sebagai bantalnya. Namun matanya tak sengaja melihat Jam di dinding, Pukul 11 : 15 WIB.


" Bee ? "


" Kenapa Sha " Suara Qun berat, dia hampir masuk alam bawah sadarnya.


" Bee nggak Sholat Jumat "


" Sholat ! "


" Yaudah bangun, langsung mandi "


" Lima belas menit lagi Sha, Ngantuk ! "


" Bee bawa mandi biar ngantuknya hilang "


Qun tak menjawapi Shafura dia sudah terhayut jauh dan berlayar dalam alam hitamnya.


" Bangun nggak! " Shafura menusuk perut Qun di bagian samping dengan jarinya.


" Au Sha ! " Qun langsung reflek bergerak menghindari arah tusukan itu.


" Bangun nggak, bangun !


" Sayang sakit "

__ADS_1


" Makanya bangun ! "


" Iya, iya "


Qun terusik karena selain merasa geli, tusukan Shafura juga sedikit sakit, namun itu belum cukup untuk membuat bayi besarnya itu langsung bangun dan menurutinya.


Shafura timbul rasa geram atas Qun sebab tak kunjung bangun, lalu terlintas ide untuk menjadikan Qun kelinci percobaannya, dia terseyum sinis, kini Shafura punya jurus terakhir, entah itu mempan terhadap Qun atau tidak tapi yang jelas harus di coba dahulu. Dia menggosok tangannya dan meniup - niup telapaknya itu sebagai ancang - ancang untuk membangunkan Qun.


Shafura lalu dengan gerakan kilatnya menangkap leher Qun dari belakang bak pawang yang menangkap leher ular, dan sontak saja Kepala dan bahu Qun mengepit tangan Shafura


" Aaaaaaaa ampun sayang, aa B-Bee geli " Qun meronta sanking gelinya di sentuh pada bagian itu.


" Bee bangun sekarang " Perintah Shafur dengan terus memegangi sisi sensitif Qun.


Qun langsung menurut dan seketika rasa kantuknya pun hilang.


" Yaudah lepaskan Sha, Bee merinding "


" Nggak, sekarang turun dari kasur dan ke kamar mandi, cepat "


Qun benar - benar tak bisa berbuat banyak selain menuruti permintaan Shafura, Qun memang sedikit penggeli apa lagi bila bagian lehernya di sentuh, Shafura tak tahu hal itu, tapi dia hanya mencobanya dan itu berhasil, ternyata Qun tak tahan di pegang di leher.


" Iya iya "


" Tunggu ya Sha!, Jangan panggil Qun kalau tak bisa membalik keadaan " Gumam Qun


Qun pasrah dia mengikuti arah tangan Shafura yang mendorongnya untuk berjalan ke kamar mandi, setelah berhasil mengatar Qun hingga ke sana, barulah Shafura melepaskan tangannya namun sesuai niat Qun di awal. Qun langsung berbalik sehingga Shafura terkejut dan tangan Qun langsung mengarah ke tempat yang sama di mana Qun sensitif bila dia di sentuh pada bagian leher. Qun menangkap leher Shafura juga.


" Aaaaaa Beee " Refleknya juga sama, sama - sama menjepit.


" Satu sama, sekarang masuk dan mandi sama Bee " Perintah Qun.


" Bee lepaskan, Sha Geli "


Shafura sedikit terseyum sebab sudah lama tak mendengar pilihan yang Qun buat seperti di awal - awal pertemuan mereka.


" Yaudah iya "


Kini giliran Shafura yang pasrah mengikuti kemauan suaminya itu. Hingga setengah jam berlalu mereka menghabiskan waktu untuk mandi bersama. Shafura keluar dengan bathrobe putih dan handuk yang melingkar di kepala dan Qun dengan handuk serupa yang menutupi roti sobeknya hingga batas lutut.


" Bee pakai sarung apa ! " Tanya Shafura yang sibuk memilihkan pakaian untuk sholat Jumat Qun.


" Putih aja "


" Yaudah, bajunya juga ?"


" Iya " Qun lalu berdiri menghampiri Shafura.


Tanpa bertanya dan meminta izin, Shafura langsung membuka kancing Baju koko milik Qun dan mulai memakaikan Qun baju lalu mengancingkannya lagi, hal itu juga berlaku pada sarung, Shafura dengan telaten memasangkan sarung ke tubuh Qun dan melipatkan rapi di pinggang suaminya itu.


" Sudah, Sekarang makin Ganteng suami Sha " Sambil merapikan lagi baju Qun.


Qun terseyum " Makasih Shayang "


" Bee Sholatnya di mesjid depan sana kan ? "


Qun menatap sinis Shafura.


" Nggak, Mesjid raya, kenapa Shayang ! "


" Kenapa harus jauh - jauh kalau yang dekat ada Bee ! "


" Shayang, Bee belum terbiasa, Bee masih khawatir sama komentar orang nanti "

__ADS_1


" Ihh " Shafura melepaskan cubitan di pinggang Qun.


" Auuu au "


" Jangan suudzon dulu Bee, kalaupun mereka komentar ya abaikan "


" Tapi Sha ! "


" Bee kalau nggak di mulai hari ini kapan lagi, Bee harus kembali hidup bersosial, ketemu sama tetangga sekitar, saling sapa, jangan takut sama komentarnya "


" Oke Bee nurut, tapi jangan hari ini, please Shayang " Qun menyatukan tanganya ke dada


Shafura menggoyangkan jari telunjuknya " Nggak Bee, harus hari ini, dan di mulai di hari baik ini "


" Shayang ! " Rayu Qun dengan wajah memelas


" Nggak ! " Shafura tetap pada pendiriannya.


Shafura berjalan ke meja riasnya dan mengambilkan Kopiah Qun serta menyemprotkan minyak wangi.


" Sha mau Be mulai hari ini juga " Ujar Shafura


" Baiklah " Ucap Qun lemah.


" Yang iklas Be "


" Iklas sayang "


" Nggak, iklas ko cemberut "


" Iklas " Ucap Qun sambil tersenyum


Shafura lalu mendorong Qun hingga pintu kamar, Qun tak bisa berkeras pada Shafura, yang harus dia lakukan hanyalah mematuhi keinginan Shafuranya ini dan memasang niat sholatnya karena Allah.


Semenjak bekerja di Bar, Qun tak pernah Sholat Jumat di mesjid dekat rumahnya, dia selalu pergi ke mesjid Raya yang berjarak cukup jauh untuk menghindari komentar dari para tetangganya, dan biasanya Zaf selalu menemaninya sebagai supir bila Qun melaksanakannya.


" Yaudah Bee pergi jumat sekarang, nggak baik kalau datang terlambat, Sha tunggu Bee di meja makan sehabis Sholat jumat " Shafura lalu mengambil tangan Qun dan menciumnya.


" Yaudah Bee pergi "


" Daaah Bee ! Semangat ya sholat jumatnya, niat karena Allah ya " Ucap Shafura


" Iya, Assalamualaikum "


" Waalaikumussalam "


Qun lalu berjalan menurun tangga dan keluar, Shafura lekas beralih ke jendela untuk memastikan Kepergian Pangeran bersarungnya itu.


* Ya allah, kau bantulah suamiku kembali pada kehidupannya yang dulu, yang bersosialisasi dan tak terus - terusan menutup dirinya, aku ingin dia melupakan rasa traumanya itu ya Rabb, semoga di hari Jumat ini menjadi awal lagi bagi dia untuk membuka dirinya, Amin "


Shafura lalu melambaikan tangan dari atas pada Qun yang tengah berjalan menuju Mesjid dan tentu itu di balas oleh Qun yang juga melirik Shafura dari bawah.


* Terima kasih ya Rabb, kau kirimkan dia untukku, wanita yang bisa membantuku lebih dekat denganmu, aku ingin Ya Rabbi, kau senantiasa limpahkan untuknya keberkahan dalam hidupnya, bahagiakan dia karena telah membahagiakan aku, sehatkan dia serta jagakan rumah tangga kami ini ya Robbi, Ya Robbi aku mencintainya *.


Itulah sekilas doa yang Qun panjatkan untuk Shafura yang sedikit demi sedikit membantunya ke arah yang lebih baik.


...^^^Bersambung^^^...


***


Thor masih main aman ya guys...


#BOOOM

__ADS_1


__ADS_2