
CREEEK
Suara keras dari pintu yang dibuka dengan tenaga besar. Qun tak sabaran sehingga pintu itu di dorongnya kuat.
" Zaaaaaaf "
Kedua penghuni kamar itu terkejut.
" Qun ! ".
" Shafura, apa yang terjadi ? " Tanya Qun panik setelah membuka pintu.
Qun melihat Shafura yang berdiri jauh dari Zaf yang tengah gusar di ranjang karena infus ditangannya dilepas paksa oleh Shafura, hal ini Shafura lakukan untuk menyelamatkan dirinya dan menghentikan sikap aneh Zaf dari efek suntikan tersebut.
" Entahlah ! Lihat Zaf, dia tadi bersikap aneh, " Ucap Shafura sedikit khawatir
Qun jadi bingung harus mendekati siapa terlebih dahulu sehingga ia masih berdiri di pintu. mendekati Istrinya atau Zaf yang tengah gusar.
" Suster tolong periksa Zaf ! " Perintah Shafura pada suster yang tertahan di muka pintu.
Shafura lalu berjalan mendekati Qun yang diam.
" Tenanglah Qun, jangan panik!. Aku rasa Zaf tidak apa - apa ! ". Shafura memegangi pundak Qun.
* Haruskah aku katakan apa yang terjadi tadi. Tidak Shafura, jangan ! Itu hanya akan membuat Qun semakin tidak tenang *.
Suster lalu mendekati Zaf dan ingin memeriksa apa yang telah terjadi pada Zaf. Lagi - lagi Zaf mendesah dan memainkan bibirnya serta menggigitnya seperti merasakan kenikmatan.
* Apa ini, kenapa Suster dan kak Shafura sangat menggoda. Ahh ssst ! *.
" Kau baik - baik saja Pak, kenapa ini ? " Tanya Suster dari pingir ranjang, dia melihat infus yang telah terlepas dari tangan Zaf sehingga cairannya menetes.
" Hmm tadi Zaf ! "
" Au kenapa Pak, " Suster terkejut karena tangannya juga di pegangi Zaf, namun ia tetap santai.
" Bantu aku, kenapa tubuhku tiba - tiba bergairah begini ". Zaf berucap sambil merasakan ketegangan dan kenikmatan bersamaan.
Qun akhirnya mendekati Zaf dan ditemani Shafura di sampingnya.
" Apa yang kau rasakan Zaf ? ".
Zaf lalu memberi kodean mata ke sisi lain ranjangnya agar Qun mendekat. Dan Qun paham lalu berjalan ke arah tatapan Zaf.
" Kemarilah " Ujar Zaf seperti ingin memeberi tahu hal yang penting, dia memainkan jari telunjukknya dan menyuruh Qun memberikan telinganya. Qun menurut saja.
* Kenapa harus berbisik Zaf, * Ujar Shafura dalam hati.
Shafura juga dapat melihat kalau apa yang ingin Zaf beritahu adalah sesuatu yang sangat rahasia.
__ADS_1
" Ada yang tegak berdiri tapi itu bukan keadilan " Bisik Zaf.
Sontak saja setelah mendengar itu, Qun menarik kupingnya, dia melirik Zaf bingung.
" Maaf permisi semua, saya baru diberi tahu bahwa ada panggilan, ada apa ini ? " Seorang Dokter pria datang dengan santai.
" Ini Dokter, Pasien merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. katanya bergairah !" Saut Suster yang dari tadi memperhatikan Zaf dan Qun.
" Pak Dokter ! Tadi ada perawat pria yang menyuntikkan cairan ke dalam infus adikku lalu selang beberapa menit tubuhnya jadi bereaksi " Kata Shafura.
Sang Dokter menaikkan alisnya karena merasa ada kejanggalan.
" Maaf Ibu, di Rumah Sakit kami memang ada perawat prianya tapi untuk ruangan VIP hanya bisa dijaga oleh perawat wanita, tidak boleh ada yang sembarang masuk dan untuk perawat khsusunya ya hanya Suter ini ". Tunjuk Dokter pada Suster di ruangan itu.
" Jadi apakah benar pria itu orang jahat ? ".
" Siapa orang itu ? Tanya dokter balik pada Shafura.
" Dok, nanti saja kami jelaskan, tolong periksa adikku dulu aku tidak mau terjadi sesutu padanya " Qun memecah rasa penasaran si Dokter. Lalu si Dokter berpindah posisi ke tempat Qun.
" Oh maaf, baiklah Pak ! "
" Kau tak apa sayang ? ". Qun bertanya setelah berada disisi Shafura. Dia mengelus pelan kedua pundaknya dan Shafura juga membalas mengelus tangan suaminya itu.
" Aku tidak apa - apa ! " Shafura melempar senyumnya dan Qun juga melakukannya.
* Terima kasih Qun, ini jauh lebih baik bagiku dan kau tetap memilih perhatian padaku walau aku tahu kau kini tengah tegang atas kondisi Zaf *.
Belum di jawab oleh Zaf mereka semua dikejutkan sesuatu.
CREK
" Cepat masuk ceritakan apa yang kau berikan tadi ? " Suara Mark memenuhi seluruh ruangan Zaf.
Dan orang - orang yang sedang fokus pada kondisi Zaf jadi berpaling melihat kebelakangnya. Tak terkecuali Zaf sendiri yang posisinya langsung menghadap ke pintu.
Nada Mark murka pada seseorang yang di pegangnya dengan tangan yang sudah di borgol.
" Pak ampunkan aku, jangan penjarakan aku ". Pria berkaos itu memohon pada Mark.
" Seharusnya kau takut di awal saat hendak melakukan kejahatan bukannya setelah tertangkap " Tegas Mark.
Qun naik pitam melihat pria yang sedang dalam kendali Mark. Mukanya memerah seketika, tanganya mengepal kuat tapi karena ada Shafura di sampingnya dan Shafura melihat itu, dia menahan tinju Qun dengan meyelimutinya menggunakan kedua tangannya yang lembut.
" Tenanglah ! Jangan biasakan emosi, istighfar. Istighfar Qun " Ujar Shafura yang mulai mengenal karakter Qun yang mudah tersulut emosi.
Bagaikan sakit tinggal diberi obat dan sembuh. begitulah fungsi Shafura untuk Qun. Qun mudah luluh dengan ucapan Shafura.
" Cepat katakan apa yang kau berikan " Tanya Qun yang sedikit melunak.
__ADS_1
Andai disana tidak ada Shafura, dapat dipastikan pria berkaos hitam itu sudah berstatus Almarhum sebelum di masukkan ke penjara.
" Tolong jaga ketertiban, ini Rumah Sakit! " Tegur Dokter sopan pada Mark, Qun dan yang lainnya.
" Tidak bisa Dokter, dia orang yang menyamar tadi dan menyuntikkan sesuatu ke dalam infusku ". Kini Zaf membuka suara.
Semua mengangguk mengiyakan ucapan Zaf.
" Apa yang kau suntikkan " Nada Dokter tak kalah sangar dari Qun dan Mark karena telah menggangu kenyamanan pasien VIP-nya.
Pria tersangka itu nampak takut, dia memilih diam.
" Katakan ! " Bentak Mark sambil menggoyangkan tubuh pria yang kini dalam kembalinya itu.
" O-obat perangsang ! " Ucap Sang Tersangka pelan.
Semua nampak keheranan karena tak mengerti logika dari pria itu hingga rela mengorbankan kehidupannya hanya untuk memberi obat perangsang pada Zaf.
" Kenapa kau melakukannya ? " Tanya Qun.
" Apa kau di suruh seseorang ? " Kini Shafura juga ikut mengintrogasinya.
" Siapa Bosmu ? ". Lanjut Mark.
Mendapat pertanyaan bertubi, laki - laki pendek itu tetap diam dan memilih menunduk.
" Mohon maaf semua, bisakah kalian berhenti menanyainya, ini Rumah Sakit kita tidak boleh mengganggu kenyamanan yang lain " Tegur Dokter sekali lagi.
Merasa apa yang di sampaikan Dokter itu benar mereka memilih patuh.
" Baiklah maafkan kami Dokter, kami akan mengintrogasinya di kantor Polisi " Ujar Mark lalu hendak membawa tahanannya pergi.
" Qun, nanti hasilnya aku kabari lagi " Lanjut Mark dan hanya di iyakan Qun dengan gerakan kepala pelan.
Dreet dreet dreet.
" Pak ada panggilan dari nomor tak dikenal " Ucap temen Mark yang memegangi barang bukti handphone dan baju perawat milik tersangka.
" Apa ! " Mark dan yang lainnya diruangan itu terkejut.
" Kau " Lanjut Mark dengan menggoyang badan tersangka sekali lagi, " Angkat telpon itu bicara seperti biasa dan seakan tidak terjadi apa - apa jika kau berhasil, masa tahananmu bisa kami pertimbangkan ".
" Baik Pak, aku mengerti " Jawab Pria itu.
Lalu diberikanlah handphone miliknya, dan dia menjawab panggilan tersebut.
" Hallo Bos "
...Bersambung...
__ADS_1
***
Siapakah Tuan dari pria tersebut.!