Imamku Seorang Bartender

Imamku Seorang Bartender
* CINTA * Episode 29


__ADS_3

HIYAAAA


" Sayang hentikan ! ". Teriak Qun tak kalah keras dari Shafura.


Shafura terdiam dan membalikkan badannya karena tak jadi ingin menendang Ibra, dilihatnya ada Qun tengah berdiri di pintu. Pria yang baru saja ia akui sebagai suaminya tercinta.


* Apakah kau sudah sadar kembali Qun *.


Shafura sumringah. " Qun, kenapa disini bagaimana dengan Zaf, siapa yang menjaganya ? ".


Qun melangkah masuk, mendekat ke Shafura.


" Zaf pandai jaga diri, aku lebih mengkhawatirkan dirimu, apa yang ingin kau lakukan dan kenapa memasang kuda - kuda begitu ? ". Tanya Qun setelah melihat posisi kaki Shafura.


" Aku hanya ingin menyadarkan orang - orang yang suka mabuk, dan hilang kendali begini " Jawab Shafura dengan santainya dan kembali ke posisi normal.


* Orang - orang !. Apa orang yang hilang kendali sepertiku juga masuk kategorimu Sayang * Qun bergidik ngeri.


" Sudahlah, jangan melakukan apapun pada pria tak berguna ini, kita keluar saja, biarkan Mark yang mengaturnya "


Qun mengajak Shafura untuk keluar dan menggandengnya, Shafura hanya menatap Wajah Qun.


* Apa kau kembali padaku setelah di hajar oleh Zaf lagi, ataukah kau sudah sadar dengan sendirinya bahwa orang yang kau diamkan tiba - tiba tadi adalah Istrimu sendiri, Qun. Aku harus cari cara agar kau tak membiarkan aku pergi tanpa berucap sepatah katapun untuk yang ke tiga kali Qun. Aku tak akan biarkan *.


" Baiklah " Shafura menurut.


Ketika hendak membawa Shafura keluar mereka melewati Mark, namun Mark sempat - sempatnya berbisik pada Qun.


" Wajar saja kau tunduk dan patuh, ternyata begini Istrimu, kalau begitu akupun takut dibuatnya ! ".


Qun hanya tersenyum miring seakan berkata


* Aku juga ngeri bila tendangan tadi dia arahkan padaku *.


Ini pertama kalinya Qun melihat seorang Shafura bersikap beringas dihadapannya, walaupun sebelum ini Shafura juga sering sedikit menaikkan oktafnya bila sedang kesal tapi bagi Qun itu normal, tapi tidak dengan kali ini.


" Kau urus dia, jika aku yang mengurusnya kau tahu apa yang terjadi " Ujar Qun kemudian berlalu keluar bersama Shafura yang memilih diam sejak di pegang oleh Qun.


Mereka bergandengan menuju mobil, namun tak ada satupun yang bersuara hingga ke mobil


" Qun, sejak kapan kau disana ? ". Tanya Shafura setibanya di pintu mobil.


" Sejak kau berhitung ". Qun membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Shafura masuk dan diikuti oleh Qun yang mengitari mobil bagian depan dengan terus terseyum sejak keluar dari rumah Ibra tadi, hingga kembali duduk di kursi sopir


" Berarti kau mendengarnya? ". Tebak Shafura atas gerak - gerik Qun.


Qun terus terseyum " Ya ! "

__ADS_1


Qun menatap Shafura dan mendekatkan wajahnya sambil berpangku tangan di kursi dan tangan satunya lagi memegangi setir mobil.


" Aku mendengar kalimat itu dari mulutmu, terima kasih " Lanjutnya.


Mereka saling tatap dan Shafura menggapai tangan Qun yang kini telah beralih memegang persneling mobil


" Aku mencintaimu suamiku ".


Seketika suasana saling pandang dan senyum mereka nikmati berdua, * Dunia milik berdua * itulah ungkapan yang tepat bagi suami istri yang saling jatuh cinta ketika telah menghadapi rintangan awal pernikahan mereka.


" Aku juga mencintaimu ".


" Aku menyayangimu Bee ".


" Aku sangat, sangat menyaya, apa barusan kau memanggilku ".


" Bee ! ".


" Aaah kenapa ini jadi sangat romantis " Qun melepas setir dan beralih memegangi dadanya yang bergejolak.


" Bee " Panggil Shafura sekali lagi sambil menyipitkan matanya dengan suara imutnya


Qun mencengkeram kuat persneling itu " Apakah kita bisa bolos untuk tak ke kantor polisi, rasanya aku ingin segera memesan kamar hotel ".


" Aah Bee jangan membuatku malu, " Shafura tersipu.


" Bee apa kau tak masalah bila aku memanggilmu Bee dan bila dirumah Qun saja ? ".


Hal ini Shafura pinta karena masih ada Faye yang belum bisa menerima hubungan Papanya dengan para wanita.


" Terserah mau memanggil apa, asal itu di ucapkan oleh mulutmu, Bee atau Qun aku akan menyukainya ".


" Terima kasih ".


Mereka belum berpindah posisi dari tadi, saling tatap dan saling mengungkapkan rasa satu sama lain.


" Jadi apakah kita bolos saja ? ". Ajak Qun sekali lagi


" Tidak bisa Bee, aku ingin melihat pria itu masuk sel dengan mataku sendiri ". Nada Shafura seketika berubah dari imut menjadi amarah.


" Sayang jangan marah, Istighfar ya ! " Qun terus terseyum kini gigi rapinya terlihat.


" Kenapa Bee terus terseyum ! ". Shafura menarik pipi Qun.


" Entahlah sayang, rasanya diperlakukan seperti ini darimu aku jadi istimewa aku tak ingin apa - apa lagi cukup hidup bahagia bersamamu dan anak - anak ".


" Teruslah seperti ini Bee, aku lebih suka kau terus terseyum dan jangan sedih lagi karena aku juga ikut sedih dan aku akan berusaha untuk membantumu menggapai hidup bahagia yang kau inginkan ".


" Benarkah, kapan ? ". Qun mendekat karena bersemangat.

__ADS_1


" Tentunya tidak sekarang Bee. Hmm sekarang kita Sholat dulu bagaimana, sebentar lagii masuk Dzuhur ! " Ucap Shafura setelah melihat jam pada dashboard mobil milik Qun.


" Baiklah ayo !. Sehabis Dzuhur baru kita ke Kantor Polisi dan kembali ke Rumah Sakit menjemput Zaf, Bee ingin dia dirawat di rumah saja. "


" Ya aku setuju,....... Tapi Bee ? ".


" Kenapa Sayang ! ".


" Apakah Bee bawa sarung ! ".


" Memangnya ada apa sayang ? "


" Aku lebih suka melihatmu memakai sarung seperti semalam auramu sangat gagah Bee " Puji Shafura untuk kesekian kalinya bila Shafura melihat Qun memakai sarung.


Qun lalu membuka laci dashboardnya dan menemukan barang yang disukai Shafura. Shafura terseyum lalu dengan cepat Shafura mengambilnya dan mencium sarung itu serta memeluknya.


" Sayang kau kenapa ? " Qun merasa aneh dengan sikap Shafura.


" Aku suka mencium wangi sarungmu, harum sekali karena bercampur bau badanmu, hal ini seperti saat pertama kali aku menciumnya ketika di Bar, aku bahkan belum bisa melupakan baunya ".


" Sesuka itukah ? ".


" Ya ! Aku rasa mulai candu apapun yang berkaitan denganmu ".


" Nih nih nih cium sesukamu ". Qun mengangkat sebelah ketiaknya.


" Hufffft , Beee ! " Shafura menikmatinya bahkan tak ada rasa geli sedikitpun aroma tubuh Qun.


Ya !. Qun memang menjaga tubuhnya, selain tinggi dan bidang ototnya, wajah gagah dan serta bulu di muka yang rapih, dia juga menjaga agar tubuhnya juga harum sepanjang hari dan itu menjadi candu bagi Shafura.


" Terima kasih !. Aku menayayangimu, ayo berangkat supaya kau bisa lihat pangeran bersarungmu ini."


" Bee kau bisa saja. Iiiiiiiii Pangeran bersarungku " Shafura lalu menarik gemas hidung mancung suaminya itu.


Setelah saling meyatakan perasaan dan sama - sama merasa senang. Qun melajukan mobilnya dan mencari Mesjid terdekat untuk melaksanakan Sholat Dzuhur bersama , setelah Sholat Dzuhur dan pergi kantor Polisi untuk memberi kesaksian serta melihat si Ibra di masukkan ke sel tahanan sementara sebelum di adili sesuai hukum yang berlaku. Qun, Shafura dan Ian kembali ke Rumah Sakit untuk menjemput Zaf.


Namun kasihan pada Ian yang hanya bisa melihat keluar jendela mobil selama perjalanan menuju Rumah Sakit karena kebucinan Qun, dan juga siksaan Ian itu belum berakhir sampai berjalan di lorong Rumah Sakit. Bos yang ia panggil dengan namanya saja itu terus berkepit berjalan berdua dengan Shafura dan Ian hanya sesekali melirik agar tidak tertabrak saat berjalan karena tak ingin membuatnya cemburu menyaksikan kemesraan bosnya.


" Siang Zaf, wahai Adikku tersayang "


Qun membuka pintu dengan bahagia. Namun raut wajahnya langsung luntur saat sosok yang di panggil tak ada di tempat.


" Zaf, Zaaaaaaaf ". Teriak Qun.


......Bersambung......


***


Zaaaaf kau pergi kemana ?.

__ADS_1


__ADS_2