Imamku Seorang Bartender

Imamku Seorang Bartender
* Gulat * Episode 71


__ADS_3

00:00 WIB


Shafura tersadar dari tidurnya dan orang pertama yang ingin dilihatnya adalah Qun, namun sayangnya malam ini bukan Qun yang menemaninya melainkan hanyalah bayangannya yang Shafura amati, karena Shafura hapal betul gelagat Qun kalau setiap kali Shafura bangun Suaminya itu pasti masih memejamkan matanya.


Seharusnya malam ini Geris menemaninya, tapi Shafura memilih untuk menikmati malam ini dengan seorang diri, dan sudah pasti Qun tidak tahu hal ini.


" Be " Shafura mengelus tempat tidur Qun.


Biasanya Qun dengan baju polos dan sarungnya itu akan menggeliat bila Shafura mengelusnya untuk menyuruh Qun bangun, tapi kali ini suasana itu hanya bisa terbayang di pikirannya sebab Qun tak ada.


Shafura turun dari ranjangnya dan saat hendak berdiri matanya kembali tak sengaja melihat cahaya merah tadi masih menyala di sana.


Shafur menunduk. " Apa Be belum tidur ? "


Tok Tok


Shafura mengetuk bendak persegi empat itu.


" Bee..... Bee..... Sha kangen...... jangan marah ya...... Sha nggak bisa tidur kalau nggak ada Be....... Temani Sha "


Shafura bicara sendiri seperti orang gila mungkin karena rasa kesepian yang membuatnya begitu, Cukup lama Shafura menunggu namun tak ada balasan dari seberang sana.


" Mungkin Be sudah tidur, Jahat banget, Istrinya nggak bisa tidur tapi, Astagfirullah " lekas Shafura memukul mulutnya


" Maafkan Sha ya Be,..... jangan lupa nanti subuh bangun ya, jangan ketiduran. Assalamualaikum Ganteng "


...***...


BEBERAPA MENIT SEBELUMNYA.


" Makanya Bang kalau nggak kuat pisah jangan sok - sokan marah, kan kena batunya sendiri ".


Bugh


Qun yang duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan kirinya, melempar bantalnya dan mengenai kepala Zaf.


" Berisik ! "


" Ha ha, mungkin kak Shafura udah tidur nyenyak, sedangkan Abang, Ha ha ha. Songong di pelihara ".


" Diam nggak....... ngomong lagi ! " Qun kini mengangkat ponselnya tinggi dan hendak mengarahkannya pada Zaf sebagai bentuk ancaman karena terus mengusiknya.


Sejak memilih untuk tak menegur Shafura karena kasus pindah agamanya Zaf, Qun malah tak karuan sendiri, awalnya Qun benar - benar kesal pada kedua orang ini yang menyembunyikan hal itu darinya, tapi Qun memilih memaafkan Zaf dan menjaga jarak pada Shafura untuk mengelabui Shafura seakan dia benar - benar marah akan hal itu dan berharap Shafura yang akan mengejarnya untuk meminta maaf setiap waktu, tapi nyatanya Shafura malah menuruti Qun dan setuju dengan semua kalimat yang Qun ucapkan.


Seperti saat Sholat Dzuhur tadi, Shafura sempat ingin menahannya namun mendapat perintah dari Qun untuk tetap tinggal dan Sholat dirumah saja, Shafura langsung menurut. Beberapa kali Shafura mendatangi Qun namun Qun tetap teguh dengan niatnya untuk mengerjai Shafura namun lagi - lagi semuanya tak berhasil. Shafura terlalu patuh pada ucapan Qun, maka jadilah satupun dari usaha Qun untuk di kejar Shafura dan meminta maaf akan kasus itu tak kunjung membuahkan hasil dan kini akibat dari ulahnya sendiri malah Qun yang tak bisa menahan diri untuk segara mengakhiri ini tapi karena gengsi Qun memilih bertahan.


" Oke - oke, ampun Bang............................. Dasar ! sudah tau bucin malah sok - sokan pisah ranjang, emang nggak sadar diri ". Umpat Zaf kemudian.


Qun yang mendengar celotehan Zaf, kini melempar Gulingnya.


Bughhh


" Aduuh "


" Diam nggak, Jangan sampai ranjang ini jadi arena gulat ya Zaf " Peringatan lagi dari Qun.


" Iya, iya ampun Bang, Nggak lagi, janji ".


Zaf lalu memutar arah tidurnya dan membelakangi Qun.


" Gulat !!! Enak kali ya kalau gulat sama pasangan malam - malam, Ada orang, udah punya pasangan eh malah ngajak adiknya Gulat, mana sama - sama laki lagi, anehkan ya hmmmm Dunia ini sudah rusak " Ucap Zaf sekali lagi pelan.


Rupanya Qun kembali mendengar kalimat Zaf yang kembali menyindir dirinya. Qun lalu bangkit


" Zaaaaf " dan mendorong Zaf dengan kakinya.


BRUUUGH


" Ha ha ha ha ha ha " Bukannya menerima rasa sakit karena jatuh dari ranjangnya Zaf malah tertawa puas.


" Zaf berisik,..... diam nggak...... diam nggak,.....diam, diam Zaf "


Bersamaan dengan ucapannya Qun melempari Zaf dengan semua benda yang ada di atas kasur meraka, mulai dari bantal, guling dan selimut, hal itu membuat Zaf yang berada di bawah tertimbun barang - barang tersebut.


Qun yang kesal memilih meninggalkan ke kamar mandi sebab Zaf terus saja mentertawainya meskipun ia telah di beri peringatan.


Qun menatap wajahnya yang lesu di cermin


" Sha Be, Ka......... Nggak boleh Qun, kau harus kuat, jangan lemah, ini baru beberapa jam, Tapi, tidak Qun kau jangan menyerah ayo bertahan sampe Shafura memohon padamu.... Okee semangat " Ucap Qun dengan mengangkat tanganya setengah tiang di depan cermin.


Srrrrrrrrt


Lalu menghidupkan keran air, Qun mencuci wajahnya namun hanya dengan air yang ia tampung di tangannya. Qun menuangkan air itu kewajahnya.


" Ahhhhh, Sha " Dia menatap wajahnya yang basah di cermin.


" Shamangat " Lagi - lagi Qun menyemangati dirinya sendiri lalu menyeka air dengan handuk.


Setelah merasa baikan dengan mencuci muka Qun kembali keluar dan dia melihat Zaf yang sudah tertidur di bawah dengan semua tumpukan yang Qun lempar tadi.


" Akhrinya, si pengganggu itu tidur juga, Tapi "


Qun mendekati Zaf.


" Zaf, Zaf bangun, tidur di atas ".


Zaf yang belum hanyut dalam alam mimpi terlalu jauh mudah untuk di bangunkan, Zaf sadar


" Hmmmm, Kenapa Be, Sha ngantuk, angkat, Gendong Sha " Zaf mengangkat tanganya minta di gendong seakan bertingkah seperti Shafura.


" Najis, Nyesal Abang bangunkan, dahlah tidur aja di bawah " ketus Qun lagi.


Zaf hanya terseyum karena kembali menggoda Qun dan melanjutkan tidurnya. Sedangkan Qun masih belum bisa tidur karena satu alasan yaitu ia hanya terbiasa tidur dengan Shafura, walaupun dulu dia selalu tidur bersama Faye, tapi malam ini Faye tidur dengan Zalima, kebiasaan Qun yang selalu tidur dengan perempuan membuatnya kesulitan kali ini karena kedua wanita itu sedang tak bersama Qun.


Jam terus bergerak kini hari hampir berganti Qun tetap bisa tidur dan yang ia lakukan kini malah menatap wajah Shafura yang ia pasang sebagai wallpaper ponselnya.


" Orang paling bodoh di dunia jatuh kepada, Aku.....Hmmm hehh Shaaa ".


Saat asik memandangi wajah Shafura, Qun melihat di atas layar ponselnya kalau ia dapat notifikasi dari aplikasi intercomnya yang lupa ia matikan sejak tadi. Saat hendak mematikannya


betapa terkejutnya Qun mendengar suara yang ia rindukan seharian ini.


" Apa Be belum tidur ? "


Mendengar itu Qun menghitung jarinya sampai lima kali dalam hati


* matikan, bicara, matikan, bicara, matikan,.... Ah nggak, di mute aja *


Qun lalu menekan tombol spiker yang di silang, fungsi tombol itu agar suara orang yang mengontrol benda itu tak kedengaran sedangkan suara dari sisi lainnya bisa di dengarkan.


" Belum Sha, Be nggak bisa tidur, "


TOK TOK


" Bee..... Bee..... "


" Iya Sayang "


" Sha kangen "


" Sama Be juga "


" Jangan marah ya, "

__ADS_1


" Be nggak marah Sha "


" Sha nggak bisa tidur kalau nggak ada Be "


" Sama Be juga ".


" Temani Sha "


Mendengar Shafura berucap lemah lembut dan seakan sangat membutuhkannya Qun bangkit.


" Mungkin Be sudah tidur "


Qun berhenti


" Belum sayang "


" Jahat banget, Istrinya nggak bisa tidur tapi, Astagfirullah "


" Shaaa "


" Maafkan Sha ya Be, jangan lupa nanti subuh bangun ya, jangan ketiduran. Assalamualaikum Ganteng "


Mendapat pujian dari mulut istrinya, Qun tersenyum lebar dan tersipu malu.


" Aaah .... Waalaikumussalam istriku yang cantik..... aaah Sayang, sudahlah masa bodoh dengan akting ini ".


Qun yang sudah berdiri dan berniat untuk mengakhiri dramanya itu, saat berjalan meninggalkan kamar Zaf dan hendak ke kamarnya untuk menemani Shafura, Tiba - tiba!.


Grrzzzztzz!


" Aduuh, Kau datang tak tepat waktu " Qun memegangi perutnya yang sedang berdemonstrasi.


Sanking ingin terlihat benar - benar marah Qun hanya makan sedikit saat makan malam tadi.


" Sha sabar ya, Be lapar, mau makan dulu "


Qun berlari menuruni tangga dan menuju dapur agar memasak sesuatu untuk perutnya.


" Apa yang ada ya "


Di bukanya kulkas itu dan semua ada di dalamnya mulai dari daging, ayam, ikan, seafood Sayur, Buah dan lain lain, tapi Qun memilih mengambil sekantong roti.


" Udahlah makan roti aja, ".


Qun lalu membawa dua roti di tangannya dan menarik sebotol selai, dengan lihainya Qun mengolesi roti itu dengan selai kacang kesukaannya.


" Be "


Qun reflek menegakkan badannya yang junjang.


* Sha *


" Lihat Sha, Be ".


* Laniutkan Ahhh *


Qun mengeraskan badannya yang ingin di putar oleh Shafura.


" Bee, hiks katanya kalau salah di bicarakan, tapi Be yang terus ngelak "


* Aduuuuuh nangis, gawat, udahlah nggak tahan * Qun tersenyum.


" Katanya kalau salah minta maaf, Sha minta maaf Be ".


Qun masih diam dan secara mengejutkan berbalik memelum Shafura yang terisak.


* Be *


Shafura langsung mengeratkan pelukannya pada Qun. Merasa dapat tenaga yang besar dari Shafura, Qun kembali terseyum.


Qun hendak melepaskan pelukannya tapi Shafura tak mau, Shafura menggelengkan kepalanya di dada bidang Qun.


* Lucu banget sii *


Karena Shafura enggan melepaskannya, Qun hanya diam namun dia terus saja terseyum bahagia mengerjai Shafura. Dia terbayang semua yang Shafura ucapkan tadi di intercom itu, dan dia teringat pujian " Ganteng " yang Shafura ucapkan.


" Bufttt " Secara tak sengaja Qun hampir tertawa.


Shafura yang mengetahui Qun yang hampir tertawa itu, mendongak.


" Be ketawa ya ? "


Qun menatap Shafura dan tak bisa menghentikan senyum itu dari wajahnya. Shafura menatap kesal.


" Ha ha ha ha Buft ha ha, Maafkan Bee "


" Jadi Be ngerjai Sha ? "


" Heee "


Melihat wajah konyol Qun yang telah berhasil mengerjainya, Shafura langsung melepaskan pelukannya, Qun yang menyadari hal itu dengan cepat Qun menahan tangan Shafura, karena tenaga Qun yang lebih besar, Qun yang tadinya hanya menahan kini menarik tangan Shafura untuk kembali memeluk dirinya, jadilah pelukan ini seakan terpaksa di lakukan.


" Jangan di lepas " Ucap Qun yang kini serius.


Melihat wajah Qun yang serius dan menatap dirinya, Shafura memalingkan wajah.


* Jangan di tatap ganteng, eh nggak, ganteng bangeeet, nggak kuat tau *


Karena Shafura masih belum melihat dirinya, Qun yang tadinya memasang wajah serius kembali terseyum.


* Nggak kuatkan di tatap sama orang ganteng *


" Lihat Be " Qun menarik pelan dagu Shafura.


Pelukan yang seakan terpaksa itu kini kembali seperti biasa, bersamaan dengan wajahnya yang di tarik untuk menatap lagi wajah orang ganteng itu, Shafura memeluk Qun lagi karena tak kuat.


" Be minta maaf, Be nggak bisa jauh dari Sha. "


" Makanya ganteng, kalau nggak kuat pisah jangan marah, kita selesaikan, kan kena batunya sendiri "


Qun menaikkan Alisnya, ia merasa tak asing dengan ucapan Shafura, rasanya ia juga pernah mendengar kalimat itu sebelumnya .


" Tapi awalnya Be benar - benar marah ya sama Sha "


" Maaf Be " Dengan mudahnya air mata kini terbentuk di mata Shafura.


" Jangan nangis, Be maafkan "


" Be maafkan, tulus ? "


" Hmmm, 80 persen "


" Kok gitu, sisanya kemana? "


" Hmm kalimat minta maafnya kurang kena di hati Be "


" Jadi pakai apa, Sha tulus minta maafnya "


" Pakai kata yang Sha ucap sewaktu di kamar tadi "


" Apa ya Be ? "


" Hmmmmh, nggak ada orangnya di puji, tiba di depan orangnya langsung pura - pura amnesia " Qun memasang wajah kesal.

__ADS_1


" Apa! Ganteng ? "


" Hmmm "


" Ouh, Maaf ya ganteng "


Karena telah mendapatkan apa yang Qun inginkan, yaitu di puji dan meminta maaf dengan kata itu, Qun tak bisa meyembunyikan rasa bahagianya, dia terseyum namun di sisi lain akting kesalnya juga masih ada, sehingga kedua ekspresi itu kini menyatu di wajahnya.


" Ih, seyum kok di tahan. Ganteeeng, kalau mau seyum, seyum aja, jangan di tahan gitu, tu bulu idungnya meronta - ronta "


Kembali di puji Shafura dan di katai, Qun akhirnya melepaskan ekspresi aslinya


" Haaaah, kenapa jadi pandai merayu sih, jadi pengen gigit, Auuuum " Qun membuka mulut dan hendak menggigit hidung Shafura.


" Nakal, Maafkan ya ganteng "


Qun hanya mengangguk.


" Be, berarti dari tadi Be belum tidur ya "


" Iya "


" Jadi waktu Sha bicara itu. Be juga dengar "


" Iya "


" Iss jahat banget, istrinya di anggurin, mana udah kayak orang gila ngomong sendiri "


" Maaf Sha, tapi Be juga gila karena Sha, jadi impaslah kita sama - sama gila "


Grrzzzztzz!


Suara demonstran itu kembali mengusik Qun.


" Be lapar ? ".


" Iyaaa " Ucap Qun dengan suara yang manja.


"Hmmmm, Marah boleh be, nyiksa diri jangan, kalau makan ya makan yang benar, jangan sampai sakit, Kalau sakit siapa juga yang susah "


" Ouh jadi kalau Be sakit itu nyusahin Sha, gitu? "


" Bukan, tapi Semuanya jadi kepikiran sama Be, lain kali jangan di ulangi ya ".


" Iyaa maaf ".


Shafura menarik tangan Qun.


" Yaudah sini, mau makan apa ? "


" Roti aja, tadi udah Be oles, tinggal makan ".


" Sha juga mau, kita makan di kamar aja ya ".


Shafura lalu menyusun roti itu dalam piring,


" Tunggu, kamar, Sha sendirian ? " Tebak Qun.


" Iya, Hee maaf lagi Be "


" Ouh Sha sekarang udah berani nggak dengarin ucapan Be, Be bilang apa siang tadi sama Sha? ".


" Sha dengar tapi, Sha mau punya waktu sendirian "


" Dahlah, Be kecewa, Sayang sekarang udah berani bantah Be "


" Beee, maaf " Shafura kembali berlinang.


Qun lalu mengambil piring yang ada di tangan Shafura dan menarik Shafura untuk meninggalkan dapur, mereka berdua berjalan menuju kamar.


" Be jangan diam, Sha minta maaf ".


Qun masih saja diam dan terus berjalan.


" Be, hiks " Shafura menyeka sendiri air matanya.


CLEK.


Qun yang diam lalu memasukkan Shafura ke dalam kamar mereka, Shafura di dalam dan Qun di luar.


" Masuklah "


" Bee, Sha minta maaf, jangan pergi Sha mohon "


" Sha yang minta waktu untuk sendirikan, dan tak mendengarkan ucapan be! "


Shafura menggeleng " Tidak Be Sha mohon hiks hiks "


Qun tak menghiraukan air mata Shafura, dia malah menarik gagang pintunya.


" Beeee, Sha mohon, jangan begini " Shafura menahan pintu itu agar tak tertutup.


" Sha yang mau, jadi masuklah dan tidur sendirian "


" Bee "


Mendengar kalimat Qun yang pedas, Shafura melepaskan pegangannya dan berdiri mematung memegang mulutnya sambil terus terisak. Qun melanjutkan niatnya untuk meninggalkan Shafura sendiri di kamar.


CLEK


DUG DUG


terdengar pukulan lemah dari dalam sana


" Hiks Be Sha minta maaf, Sha janji akan dengarin Be dan tak akan melawan lagi, Sha mohon, jangan tinggalin Sha sendirian malam ini "


CLEK


Shafura yang berada di balik pintu ikut terdorong karena Qun kembali membuka pintunya.


" Be ! "


" Jangan menangis lagi, dan jangan di ulangi " Qun menaruh tanganya di pipi Shafura yang basah.


" Sha minta maaf Be "


" Janji dan jangan membantah untuk kedepannya, Be tak suka ".


" Baiklah Be " Suara Shafura kembali melemah.


" Ya sudah, Be tak suka lihat Sha nangis, maafkan Be juga, sekarang kita tidur ya "


" Rotinya ! "


" Oh iya "


Qun lalu kembali keluar karena ia meletakkan piring rotinya di depan kamar mereka.


" Kita makan habis itu langsung istirahat, Be ngantuk "


Shafura hanya mengangguk, mereka berdua kembali masuk ke kamar dan bermalam berdua malam ini.


...Bersambung...

__ADS_1


...***...


__ADS_2