Imamku Seorang Bartender

Imamku Seorang Bartender
* Makam * Episode 41


__ADS_3

" Ada apa Geris? Kenapa takut ! " Qun menghampiri


Geris semakin panik


" Aduuh kenapa keluar Si Bang, diam aja dalam kamar mandi " Bicaranya pelan sambil memalingkan wajah.


" Apa Ger ? " Tanya Qun lagi.


Geris menaikkan anak rambutnya ke telinga " Janji ya jangan marah ! ".


Geris meminta kesepakatan dengan Qun sebab yang akan Geris bahas adalah mengenai seseorang yang belum Qun tegur beberapa hari ini.


" Ya sudah bahas aja, kamu tenang! Abang marah, ada Kakak sebagai pawangnya " Ucap Shafura sambil menarik tangan Qun untuk meminta Qun berdiri di belakangnya.


Geris kembali mengeluarkan ponselnya dan menggeser beberapa gambar.


" Tunggu - tunggu, coba perbesar " Shafura menyipitkan matanya.


Geris melakukan apa yang Shafura pinta.


" Inikan Ayah ! " Tebak Shafura yakin.


" Siapa kak, Ayah ? " Geris merasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.


" Iya ! Itu Ayah sama Ibukan ? "


Geris mengangguk.


Qun memutar bola matanya kesal setelah mengetahui bahwa hal yang di rahasiakan Geris adalah tentang Hendry. Dia langsung ingin mundur tanpa berkomentar, namun tangannya masih dipegang Shafura dan akhirnya terpaksa berdiri menemani Shafura membicarakan Pria itu dan sudah pasti akan menyenggol Zalima.


Dalam gambar yang di ambil Geris wajah pria itu tertutup topi, dengan setelan jeans dan baju lengan pendek biasa, layaknya anak muda yang Nongkrong di Mall.


" Jadi tadi waktu aku ke kamar kecil, aku lihat Ibu sama pria ini, nah di gambar ini, lihat itu Ibu ngasih uang " Geris coba menjelaskan.


" Iya kamu benar Ger, lalu apalagi ? " Tanya Shafura.


" Dia mintanya maksa Kak, dan aku terkejut ketika Kakak bilang itu Ayah Kakak, sangat kontradiktif sama gambaran sosok Ayah yang Kakak ceritakan dulu. " Geris sangat bersemangat menceritakannya.


" Masa iya Geris orang ke Mall pakai Jubah atau sarung begini " Qun menimpali dan sambil memegangi Sarungnya.


Geris tak mau kalah atas statmen Qun, dia kembali memainkan jarinya untuk mencari sesuatu di ponselnya.


" Ok, apa yang Abang bilang benar kalau pakaian masih bisa maklum, tapi sifatnya Bang !. Terus apa iya seorang pendakwah berbicara seperti ini "


Geris lalu kembali memainkan jarinya ke atas dan ke bawah di layar untuk memutarkan sebuah rekaman.


"* Aku sudah dapat uangnya, baiklah aku akan menunggumu di dermaga seperti biasa !... Nanti malamkan ?....... Apa ! kenapa berubah, besok saja ? Ya sudah besok, di jam yang sama..... Oke! *"


" Bagaimana ? " Geris terlihat bangga dengan pencapaiannya.


Shafura menghembuskan nafasnya berat.


* Kenapa Ayah semakin menjadi - jadi begini, bukannya berubah, Astaqfirullah ".


Qun tak bersuara, baginya dia sudah tak ada urusan lagi dengan Hendry, Ayah tiri Shafura itu. Terserahlab apa yang mau pria kepala lima itu lakukan, Qun benar - benar sudah tidak peduli.

__ADS_1


" Hmm, kami sudah tahu itu Geris ! " Ujar Shafura.


Geris ternganga, usahanya memata - matai pria itu tak berbuah manis, niat awalnya memang untuk memberi tahu kabar ini, tapi dia tak percaya bahwa telah ketinggalan berita.


" Jadi sudah tahu. Yaaah ! Percumalah aku sembunyi - sembunyi tadi di toilet " Geris kesal.


" Walaupun kami sudah tahu hal ini, tapi Kakak berterima kasih sebab dengan bukti ini Kakak semakin yakin kalau Ayah Kakak sedang bermasalah " Ucap Shafura agar Geris tak patah semangat.


" Ya sudahlah, kalau begitu aku minta maaf sudah ganggu malam - malam. Bang, kak permisi, " Geris sedikit menundukkan kepalanya lalu pergi dengan wajah kesal.


Setelah Geris pergi, Shafura berbalik dan menatap suaminya yang diam mengenai hal itu.


" Bee, bagaimana menurut Be ? ".


" Hmmm, entahlah Be tak tahu, coba sayang tanya sama Ibu dia berhak menentukannya ! " Jawab Qun sambil menutup pintu.


Qun dan Shafura lalu ingin berjalan ke ranjang dan disana mereka mendapati Faye yang telah tertidur pulas.


" lihat tu anaknya ? ".


" Aaah ! Kasihannya anak Papa, kecapean ya nak ! " Qun mendekati Faye dan memasangkan selimut.


Shafura masih berdiri dan bersila tangan sambil terseyum melihat perbuatan Qun barusan, ia merasa terharu, suaminya sangat lembut terhadap anaknya Faye.


" Sayang kemarilah, kenapa senyun - seyum disana " Tegur Qun.


Shafura mendekatkan dirinya pada Qun dan duduk di samping Qun yang sedang memainkan rambut Faye.


Shafura melirik Qun " Be, apa Be masih marah sama ibu ? "


" Be sedikit marah, tapi kini Be sedang berusaha menerima Ibu dengan jarak ini, Be ingin merubah rasa benci ini menjadi empati karna Ibu juga korban dalam masalah ini " Qun menjawab dan sama sekali tak menatap Shafura dia terus melihat Faye yang terlelap.


" Aaaah Be ! "


Shafura merasa lega mendengar jawaban suaminya, dibaringkannya badannya di samping Qun. Qun yang menyadari itu berpindah sedikit ke tengah dan memindahkan Faye agar mereka muat.


" Baguslah Be terima kasih, Sha merasa kesulitan kalau ada jarak antara Suami dan Ibu Sha sendiri, dan Sha berada di tengah - tengah, jadi bingung mau di pihak mana " Ujar Shafura sambil memejamkan matanya.


" Iya, Be juga bingung ini mau tidur arah mana, Be di tengah - tengah antara Anak sama Istri jadi nggak tau mau hadap mana ? " Jawab Qun dengan mengalihkan pembicaraan yang terkesan bercanda.


" Arah Sha aja, Faye juga udah tidurkan ? " Pinta Shafura dengan memalingkan wajah Qun ke arahnya.


Shafura sadar Qun sedang tak ingin membahas itu sehingga dia membalas candaan Qun. Qun menuruti permintaan Shafura dan memiringkan tubuhnya ke arah bidadarinya ini.


" Papaaaa bantal ! " Ucap Faye serak, matanya terpejam meminta bantal miliknya yang tak lain adalah lengan kekar Qun.


Shafura terbelalak anaknya rupanya tak ingin kalah dengannya.


" Ya udah Sayang hadap Faye aja, anaknya cemburu tuh ".


" Hmmmm " Jawab Qun kembali berat rupanya dia telah hampir memasuki gerbang mimpi, dan memilih tidur dengan telentang agar adil.


***


Pagi menunjukkan sinarnya Shafura sedang bersama Ibunya duduk di halaman depan dan berbincang santai, Shafura ingin mengajak Zalima ke makam Ayah kandungnya yang tak pernah ia jumpai selama hidupnya, belum putus percakapan mereka tak lama Qun pulang dari olahraga bersama Zaf.

__ADS_1


" Qun kemarilah nak ! "


Zalima memberanikan diri menyapa Qun di hari ketiga. Qun yang merasa dirinya di panggil Zalima jadi mematung, lantas di tegur Zaf dengan menyenggol badan Qun agar sadar bahwa mertuanya memanggilnya. Merasa tak enak, Qun berjalan ragu hingga sampai di depan gazebo dan hanya berdiri saja lalu Shafura juga hanya memperhatikan dan Zaf lebih memilih masuk ke rumah dari pada ikut campur.


" Kamu masih marah sama Ibu ? " Tanya Zalima lembut.


Qun hanya menggeleng.


" Baiklah ! Ibu rasa kamu masih benci sama Ibu " Zalima bangkit dari duduknya, nada suaranya sedikit berubah dari sebelumnya


" Bu, mau kemana ? " Tanya Shafura sambil menahan tangan Zalima.


" Sayang ! Ibu sudah tidak bisa tinggal lagi disini, Ibu tahu Ibu salah tapi bila terus di abaikan oleh pemilik rumah ini, dimana harga diri Ibu, lebih baik Ibu pulang dan tinggal bersama suami Ibu " Ucap Zalima yang penuh emosi di pagi hari.


Zalima melepaskan pegangan Shafura dan berlalu melewati Qun.


Qun yang melihat itu segera menahan dengan berusaha mengejar dan berdiri lalu diam di depan Zalima bak sebuah tembok dan Zalima berhenti, dia menatapi menantunya yang tak berekspresi itu.


" Minggir Qun, Ibu tahu salah, Ibulah yang membuat Ayahmu ..."


Belum sempat Zalima mengucapkan isi dihatinya Qun langsung memeluk Ibu mertuanya itu tapi lagi - lagi tak bersuara dan tak menjelaskan apa - apa hingga air mata Qun tumpah.


" Maafkan aku Bu, kalau Ayah tahu aku mengabaikan Istri kesayangannya dia pasti marah padaku " Qun terisak memeluk Zalima.


Zalima terdiam mendengar kalimat Qun, Kemudian cukup lama mereka diam satu sama lain. Hingga Zalima membalas dan menenangkan Qun.


" Nak sudahlah ! Maafkan Ibu, yang berlalu biarlah berlalu, Ibu tahu bila kita yang menjadi korban tak semudah itu bisa melupakan dan mengikuti saran orang lain, tapi menurut Ibu tak baik bila sebuah masalah kau simpan dalam hatimu terlalu lama, keluarkan dia jangan di pendam, kau nanti jatuh sakit "


" Baiklah Bu tapi maafkan aku "


Zalima melepaskan pelukannya dan memegangi kedua tangan Qun yang berkeringat.


" Nak tatap Ibu, kini kau sudah menikah, apalagi kau menikahi anak dari Ayah angkatmu sendiri, lupakan masa lalumu dan rasa bencimu itu, hiduplah bersamanya, buang jauh - jauh pikiranmu tentang wanita begini, wanita begitu, kini kau Papa dari anak perempuanmu, kau Suami dari Istrimu, dan kau menantuku, hidupmu lambat laun akan terus di kelilingi wanita nak, jangan siksa dirimu dengan menolak kehadiran wanita ".


Qun memberanikan diri sesekali menatap Zalima


" Ibu tak masalah bila kau masih ingin menjauhi Ibu, tapi satu pinta Ibu padamu, kembalilah hidup normal lupakan apa yang orang lain katakan tentang dirimu, lupakan semua masalah yang datang dari masa lalumu, dan buat masalah baru dengan statusmu yang juga sudah baru ini, kau kini suami sayang, jadilah Pria yang tangguh dan lindungi wanita - wanita yang ada dalam hidupmu kini, jangan pergi lalu menjauh seperti yang pernah Ibu lakukan dulu. Hadapi bersama - sama ya nak " Ucap Zalima sekaligus pesan untuk menantunya itu.


Mendengar nasihat Ibu mertuanya, Qun kembali memeluk Zalima dan terus menangis dalam dekapannya.


" Jangan pergi ! maafkan aku " Pinta Qun


" Baiklah, Ibu tak akan pergi, tapi bisa lepaskan Ibu, badanmu terlalu wangi " Zalima mencoba menggoda Qun.


Qun cepat melepaskan Zalima


" Huuuts, maaf bu, terbawa suasana " Qun lalu mencium aroma tubuhnya. " Hee "


" Ya sudah, kamu mandi sana, Ibu juga mau siap - siap ikut Shafura ke makam Ayah ! "


Qun melirik Shafura dan Shafura mengiyakannya


" Aku ikut Bu " Qun langsung berlari masuk ke rumah.


...Bersambung...

__ADS_1


***


__ADS_2