Imamku Seorang Bartender

Imamku Seorang Bartender
* Mati * Episode 72


__ADS_3

" Be sakit, Be "


" Sha yang kuat, ini demi anak kita ! "


" Sha tau, tapi sha nggak kuat ".


" Be mohon, Berjuanglah "


" Bu dorong lagi bu ! "


" Eeeeeee Ah. Hufft huft "


" Bissmillah Sayang, Be tahu Sha kuat "


" Eeeeeeee "


" Sikit lagi Bu ! "


" Eaak, eaaak eaaak "


" Alhamdulillah "


" Alhamdulillah, Sayang. Cup..... "


" Selamat pak, Anaknya ! "


" Tekanan darah si Ibu menurun Dok ".


" Sayang, Shaaa "


" Bu, Ibunya tak sadarkan diri ! "


" Dok ! Apa yang terjadi Dok, Sayang bangun "


Teeeeeeeeeeeeeeeeet


" Sayang jangan begini, Shaa, Shafura, buka matamu, Hiks. Sha bangun ".


" Pak istri Bapak telah "


" Tidak "


" Maafkan kami Pak, Ibu telah "


" Tidak


" Beee "


" Sha jangan bercanda "


" Bee "


" Tidaaaaaaaaaaaak, Huuuuuft huuuffft hufft "


Qun seketika sadar dan langsung terduduk di ranjang dengan keringat yang memenuhi area wajahnya, matanya basah serta raut wajahnya panik, Shafura yang berada di sisinya merasa khawatir sebab Qun meracau keras hingga membangunkannya.


" Beee, Istigfar Be "


" Sha ! " Qun menoleh kesampingnya dan langsung memeluk Shafura.


Shafura kini bingung dengan sikap suaminya ini,


" Sha jangan tinggalkan Be, Be mohon " Lanjut Qun semakin mempererat pelukannya.


" Be tenanglah ! Ada apa ? " Shafurapun mencoba untuk melingkarkan tanganya dan sesekali mengurut pelan punggung Qun.


Qun tak menjawab, kini air mata yang tadinya hanya berlinang, ikut jatuh bersamaan dengan keringat Qun yang sebesar biji jagung itu hingga membasahi piyama Shafura.


" Be bicaralah, Jangan buat Sha takut "


Qun membuka pelukannya


" Bolehkah Sha tidak usah hamil ? "


" Maksud Be ? " Shafura heran.


" Be tak mau Sha mengandung, kitakan sudah punya Faye ".


" Be bicaralah yang jelas................ Be ! "


" Be bermimpi kalau Sha akan pergi meninggalkan kami setelah melahirkan anak kita "


Shafura memegangi keningnya mendengar ucapan Qun.


" Be, apa yang Be bicarakan, sekarang saja Sha belum hamil bahkan tanda - tandanya juga belum ada, lagipula Be hanya bermimpi, tak ada mimpi yang menjadi nyata Be ".


" Makanya Sha tidak boleh hamil "


" Astagfirullah Be, itu semua karunia-Nya kita tak boleh menolak, banyak di luar sana yang belum memilikinya dan sangat berharap mendapatkan zuriat, tapi Be ? "


" Be hanya takut Sayang, bagaimana kalau itu terjadi ".


" Istighfar Be, jangan mendahului takdir Allah, apalagi percaya lewat mimpi, Anak itu rezeki dari Allah begitu juga kematian, dia yang menentukan, Be harus ingat tanpa melahirkanpun Sha tetap meninggal, entah itu Sedetik dari sekarang, Besok ataupun 10 tahun lagi, jadi jangan bicara yang bukan - bukan ".


" Sha ! ".


Melihat Qun yang memasang wajah takut, Shafura memegangi kedua pipi Qun, dan Qun memegangi tangan lembut Shafura dengan wajahnya yang pucat.


* Ya Allah kenapa tiba - tiba suami hamba jadi begini *.


" Be, cepat atau lambat, kita semua akan mati baik itu Be atau Sha yang pergi lebih dulu, itu bukan urusan kita, yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah bersiap menuju kesana, kalaupun Sha meninggal saat melahirkan setidaknya Sha bersyukur telah melahirkan buah hati kita dan merasakan menjadi seorang wanita seutuhnya lagipula Sha akan merasa bersyukur bila Allah takdirkan Sha meninggal dalam keadaan Sahid "


" Shhhht, Sshhhht, Shaa jangan bicara begitu, Be tak sanggup kehilangan Sha begitu cepat ".


" Be tenanglah, itu hanya mimpi ".


Qun kembali mendekap Shafura


" Ya Rabb, hiks ! ...... Hamba mohon ! Jangan kau persingkat hubungan kami ini, jangan kau ambil dia begitu cepat, hamba benar - benar tak sanggup harus kembali merasakan kehilangan, hamba tak sanggup, tak sanggup Ya Rabb, aku mohon "


Dari hati paling dalam Qun melafalkan doanya hingga terdengar begitu tulus, Shafura yang mendengar ikut meneteskan air matanya, Shafura tak menyangka Qun benar - benar terganggu dengan mimpi buruknya ini.


* Ya Rabbi, kau ijabahlah doa tulus suami hamba ini, hamba tahu kematian adalah takdir, hamba tak bermaksud mengaturmu tapi berilah kami berdua waktu hingga kami saling merelakan bila salah satu dari kami pergi lebih dulu, Amin *


Bersamaan kata "Amin" itu Shafura lagi - lagi meneteskan air matanya. Dalam posisi saling menguatkan, Shafura menatap Angka yang terpasang di dinding kamarnya, detik demi detik bergerak dan suara detak jam itupun terus berbunyi dan jarumnya ikut berputar hingga tiga kali melewati angka yang tertera di sana, Shafura tak tahu harus apa pada Qun yang kini masih memeluknya erat.


" Be !............ Be ".


" Ya " Jawab Qun lemah.


" Maukah kita Tahajud dan memohon pada Allah tentang kita berdua ".


" Baiklah "


Mendapatkan persetujuan dari Qun, Shafura lalu menarik Qun ke kamar mandi, Qun yang masih syok dengan mimpi buruknya hanya mengikuti kemana dan apa yang Shafura lakukan untuknya, di dalam sana mereka berdua membersihkan diri sebelum menghadap Sang maha Cinta.


* Ya Allah yang Maha tinggi lagi Maha Agung, Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, Kami bersimpuh meminta pertolonganmu ya Rabb, Kuatkanlah Iman suami hamba, jauhkanlah ia dari bisikan setan yang terkutuk, Kuat ia bila takdir kembali mengujinya sekali lagi, Ya Rabbi hamba Ridho dengan segala ketentuan dan ketetapanmu tapi tolong dia, Dia terlalu lemah untuk kembali berhadapan dengan qada dan qadarmu, kuatlah suami hamba Ya Rabb *.


Secuil harapan yang Shafura panjatkan di sujud terakhirnya malam ini, Bak air yang di tampung di tangan tetap akan mengering, begitulah yakinnya Shafura menerima takdir Allah, mahu ia menolak ataupun menjauhi bahaya karena takut kematian, Kematian tetap akan datang padanya cepat atau lambat, Tapi keinginan yang paling Shafura harapakan dari bisikannya ini bahwa Ia berharap suaminya, Qun, Kuat menerima takdir Allah, apapun yang akan terjadi nantinya


" Allahu Akbar " Ucap Qun dengan penekanan sebagai tanda untuk mengakhiri sholat mereka.


" Assalamualaikum warahmatullah "

__ADS_1


" Assalamualaikum warahmatullah "


Setelah mengucap salam bersama, Seperti biasa Shafura mencium lembut punggung tangan Qun, Dan Qun membelai pucuk kepala Shafura.


" Maafkan Be, yang telah membuat Sha menangis tadi dan membiarkan Sha tidur dengan rasa bersalah, Mungkin juga ini teguran bagi Be, kalau Be tak mampu hidupa tanpa sha dan apalagi sampai harus kehilangan Sha, Maafkan Be ".


" Be jangan begini, Apa yang Be lakukan malam tadi itu benar, Sha sebagai istri harus mengikuti perintah Be, kalau Be marah demi kebaikan Sha, Sha terima, Sha cuman pinta satu, kalau Be marah jangan pergi apalagi mengurung diri, kita selesaikan berdua ".


" Baiklah, Be minta maaf ".


" Maafkan Sha juga ! ".


Sepasang insan manusia ini larut dalam Kalimat maaf masing - masing, sejenak mereka menghapus keluh kesah diantara keduanya setelah berbicara pada Sang Pemilik kehidupan, mereka lupakan duri kecil yang sempat menusuk hati kedua insan ini. Dan sama - sama menutupi kesalahan dan kelemahan masing - masing.


Sholat Subuh, tadarusan dan Olahraga kembali di lakukan seperti biasanya baik Qun ataupun Shafura, hingga pagi menyambut kini Shafura sudah di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk seluruh penghuni istananya ini dan tak lupa di bantu oleh Geris dan Sella.


" Be, Zaf, Faye, Ibu sarapan udah siap ".


Karena nama mereka di panggil, Keempat orang yang tengah duduk sambil menonton Tv dan bermain bersama itu merapat ke meja makan.


Meja batu dengan delapan kursi itu mulai terisi satu persatu, Qun dan Zaf duduk berseberangan, di samping kanan dan kiri Qun di duduki Shafura dan Faye. Di samping Faye di tempati Sang Nenek, Zalima sedangkan Geris dan Sella belum duduk karena masih menyiapkan beberapa hidangan.


" Kau duduklah juga, kita sarapan bersama, sekarang kau adalah tamu di rumah ini, jadi jangan repot - repot, Biarkan istriku dan Geris yang melayanimu ".


" Tidak, aku tak enak bila di layani, jadi aku tak apa - apa seperti ini, ini jauh lebih baik untukku dan terima ".


" Sudahlah kak duduk saja, kita makan bersama " Timpali Geris dengan mendudukkan Sella bersebelahan dengan Zaf.


Setelah mendudukkan Sella, Geris memutari kursi sella dan Zaf dan hendak duduk di sisi lain di sebelah Zaf di samping Zalima.


Krrrrrt


" Apa yang kau lakukan Geris! " Tegur Zalima.


" Duduk Bu! "


" Kenapa harus di sini, pindah di depan Ibu, tu Kosong " Tunjuk Zalima pada kursi yang ada di antara Sella dan Shafura.


" Tapi Bu ! "


" Nggak ada tapi - tapian, Halal dulu baru sebelah - sebelahan ".


" Geris nggak ada maksud ke sana Bu "


" Iya Ibu tau, Ibu hanya tak ingin hal kecil terjadi di depan mata ibu dan Ibu membiarkannya begitu saja "


* Bagaimana Ibu bisa tahu ? *


" Bu udah Bu, kita makan dulu, nanti makanannya dingin......... , Ger sini " Tepuk Shafura pada Kursi kosong di sebelahnya.


Geris lalu kembali meletakkan kursi itu dan kembali mengitari kursi Zaf dan duduk bersebelahan dengan Sella dan Shafura sedangkan di hadapannya Zalima.


" Baiklah sebelum makan, seperti biasa, berdoa menurut kepercayaan masing - masing, Berdoa di mulai "


Itulah kalimat Qun yang sering ia ucapkan selama makan bersama Zaf, baik sebelum ataupaun setelah ke datangan Shafura ke rumah mereka ini.


Keenam penguni lain yang seagama mengangkat tangan setengah dada dan berdoa dalam hati masing - masing, berbeda dengan Zaf dia masih menundukkan kepalanya sama seperti tahun - tahun sebelumnya bedanya kini ia ikut mengankat tangan namun tangannya terlindung di bawah meja. Tak ada yang tahu kalau Zaf berdoa secara islam, sehingga tak ada yang melihatnya kecuali Allah SWT, Tuhan yang akan ia percaya seutuhnya nanti.


...***...


" Zaf, Ibu sarankan kamu pindah dulu sampai kalian berdua resmi menjadi suami istri ".


Ucap Zalima saat semua masih duduk di meja makan kecuali Faye.


" Ibu tahu Bu ! " Tanya Shafura.


" Iya, dia sendiri yang cerita dan meminta saran Ibu ". Tunjuk zalima pada Zaf.


" Iya, dia tanya katanya mana yang lebih bagus, proses mualaf sama Ijab Qobul lebih baik terpisah atau di lakukan bersamaan, kalau menurut Ibu lebih baik di lakukan bersamaan, jadi setelah proses mualaf langsung saja ijab Qobul "


" Iya aku juga setuju dengan Ibu " Qun menimpali.


" Jadi kapan ? " Tanya Shafura.


" Setengah bulan lagi " Jawab Zaf.


" Ger !, Ibu dan Bapakmu di kampung sudah di kabari "


" Sudah kak, kemarin, dan Abang sendiri yang minta izin sama Ibu, Bapak ".


" Eeee, Kabar baik nggak di sebarkan sama Abang sendiri " Ancam Qun yang ingin melempar buah yang ada di tangannya.


" Kan niatnya mau surprise Bang, Eh ketahuan duluan ".


" Untung Adik sendiri, kalau nggak "


" Sudah, sudah, Shafura dan Qun, kalian bagaimana ? "


" Bagaimana apanya Bu ? " Shafura bingung.


" Kalian juga belum sah menurut Hukumkan ?, Baru secara Agama "


" Tapi apa perlu Bu ? " Tanya Qun pula.


" Mikir itu yang jauh Qun, amit - amit ya, andai kalian berdua ke hotel atau sedang dalam kendaraan berdua ada razia, lalu kalian jawabnya apa, Suami Istri, terus aparat percaya begitu saja dengan ucapan kalian tanpa adanya bukti buku nikah, Apalagi kaliankan setahu Ibu tidak punya Foto pernikahan kalian kemarin, dan satu lagi kalau kalian nantinya di beri Zuriat terus bagaimana kalian mengurus semuanya sedangkan Kalian belum menikah secara Hukum ! "


Mendengar kalimat panjang Zalima, suami istri itu hanya saling tatap dan terpaku.


" Gimana mau punya Zuriat, baru mimpi aja udah di larang punya Anak " Celetuk Shafura


" Sha ! ". Qun melotot


" Apa Nak ? ".


" Tidak ada Bu, Semoga ucapan Ibu terkabulkan " Ujar Shafura berdalih.


" Sha sini! Ikut Be sebentar " Ajak Qun


" Kemana kalian "


" Sebentar Bu, Kami mau bicara "


Qun dan Shafura lalu menjauh dan berbicara berdua. Mereka berbicara di anak tangga.


" Be kenapa ? "


" Kenapa tadi Sha ngomong begitu ? "


" Tidak sengaja Be, keluar begitu saja ".


" Apa Sha kesal dengan permintaan Be tadi malam "


" Apa Be, permintaan, jadi Be benar - benar mau kita tak punya anak ".


" Tidak Sha, maksud Be ".


" Sha tak menyangka Be bisa serendah ini, Kenapa begitu mudahnya Be terpengaruh dengan mimpi bodoh itu, Ah sudahlah Sha tak mau bahas ini lagi, Tidak usah di adakan nikah secara hukum biarkan saja Sha tidak di akui di negara ini, lagi pula tak ada gunanya juga, Sha kan nggak akan punya anak " Shafurapun melangkah pergi


" Sha tunggu, Be salah bicara "


Qun mengejar Shafura yang sudah menaiki bebarapa anak tangga menuju kamarnya. Zalima, Zaf,Geris dan Sella menatap penuh tanya dengan sikap Shafura yang pergi meninggalkan Qun.


" Shafura, Qun ada apa nak ! " Pekik Zalima

__ADS_1


" Tidak ada bu, Qun coba bicara pada Shafura dulu " Balas Qun dengan berhenti dan bicara pada Sang Ibu Mertua.


" Nak bicarakan baik - baik, Jangan sampai lupa batasan ya! " Pekik sekali lagi Zalima.


" Ya Bu " Saut Shafura sebelum menutup pintu kamar mereka.


" Sha tunggu, Tok Tok, Sha ? "


CREK.


Awalnya Qun mengira Shafura mengurung diri, makanya Qun mengetuk namun saat ia memutar gagangnya rupanya Shafura tak melakukan apa yang Qun sangkakan terhadapnya.


" Sha dengarkan Be dulu ! "


Saat Qun masuk Shafura sudah tertunduk di atas kasur dengan kedua tangan yang menopang badannya. Qun mendekati lalu bersujud.


" Dengarkan Be " Lanjut Qun dengan membungkus tangan Shafura.


" Kenapa Iman Be jadi begitu lemah, hanya dengan satu kali mimpi, Be langsung beranggapan hal itu akan terjadi, ini salah Be "


" Baiklah maafkan Be "


" Ini kalimat yang sama Be ucapkan pagi tadi, Sha pikir dengan kita Sholat sama - sama, Be melupakan hal itu, ternyata tidak ! Be masih saja memikirkannya, Kalau Be memang tak mau punya anak, Kita juga akan berhenti melakukan hubungan badan, toh kita sudah ada Faye "


" Sha apa yang Sha ucapkan, tidak bisa begitu itu sudah tugas Sha ! "


" Ouh tugas, lalu tugas Be apa, bukankah memberikan nafkah lahir batin adalah tugas Be, dengan Be menolak memiliki anak dari hubungan kita berarti Be sudah gagal menafkahi Sha secara batin, sebab Batin Sha menginginkan anak ".


" Sha, Oke - oke Be tak akan mengingat hal itu lagi, Be janji. Maafkan Be "


Tok Tok


" Siapa ? "


" Bang nih ada paket " Saut Zaf.


" Sha tenang, Be tak akan mengulanginya lagi "


Shafura tak bereaksi atas ucapan dan kalimat Qun yang terdengar seperti janji itu, Saat Qun berjalan membuka pintu Shafura memalaingkan wajahnya agar Zaf tak melihat kalau wajahnya kini sedang campur aduk antara kesal sedih, dan amarah bercampur jadi satu.


CLEK


" Abang pesan obat ? "


" Nggak "


" Aneh, Aku kenal sama si pengantar tadi, dari bajunya Apotek di depan Sana, tapi kenapa di paket hitam Bang? "


Shafura yang masih bisa mendengarkan obrolan Abang Adek ini, merasakan hal aneh.


* Be pesan apa dari Apotek *


" Ah tidak ada apa - apa, makasih ya "


" Oke, Kak aman ? "


" Aman Zaf " Saut Shafura agak parau.


" Kakak kenapa ? "


" Biasalah, mungkin mau datang bulan "


" Ohh, nih Bang obatnya "


" Oke, Abang tutup Ya, Ada yang harus Abang selesaikan dengan Kakakmu "


" Sip lanjutkan Bang "


Dengan cepat Zaf balik dan kembali ke bawah


CLEK


Setelah menutup pintu, Qun mengamati benda persegi empat yang terbungkus kantong hitam yang di selotip rapi itu.


" Be beli obat apa ? "


" Ouh ini, aaa "


" Beee apa ? ".


" Kon**m "


Mendengar enam huruf itu keluar dari mulut Qub, Shafura kembali membuka matanya lebar.


" Sha benar - benar tak habis pikir Be bertindak sejauh ini ".


" Sha kita tadi sudah tutup masalah ini bukan, kenapa jadi di ungkit lagi ".


" Sha tidak ungkit, tapi Lihat Be yang bertindak jauh sampai membeli itu "


" Oke maaf, Be sedang kacau makanya tak bisa berfikir dengan jernih, tapi kita sudah saja jangan di ungkit lagi "


" Oke Kalau Be tak mau Sha ungkit masalah ini lagi, Berikan itu pada Sha "


" Untuk apa Sha ? "


" Untuk memastikan kalau Be benar - benar melupakan mimpi bodoh itu, dan Sha juga tak mau kalau Be mamakai itu saat bersama Sha, Sha tak akan terima "


" Oke - Oke, Ambillah " Qun menjulurkan tangannya.


Dengan cepat Shafura mengambil bungkusan hitam persegi empat itu dan berjalan ke lemarinya.


" Kalau sampai bungkus hitam itu terbuka, berarti Be sudah ingkar janji dengan Sha ".


" Oke, terserah Sha saja Be iklas, demi Sha ".


Shafurapun menaruhnya.


* Ya Allah benarkah lelucon pagi ini, Sungguh lucu, perdebatan ini hanya karena mimpi, heh *


Shafura sedikit tertawa namun hatinya menangis atas apa yang Qun inginkan darinya.


" Sha! " Qun memegangi tangan Shafura yang masih membuka lemari mereka.


" Jangan jadikan Sha Istri yang kurang ajar dengan permintaan Be yang tak masuk akal itu, Sha mohon " Mata Shafura berlinang.


" Jangan menangis lagi Sha, Cukup, Be akan melupakan itu. Kita akan punya anak kita sendiri, Kita akan berikan Faye adik, percayalah "


Qun kembali menarik Shafura dan menenggelamkan wanitanya ini dalam pelukannya pagi itu sebagai tanda dia serius dengan ucapannya dan untuk menenangkannya. Sedangkan Shafura hanya melanjutkan rasa sedihnya yang tadi hampir terbentuk sempurna akibat permintaan Suaminya yang berlebihan itu, shafura meneteskan air matanya di badan Qun,


* Sha maafkan Bee, Tapi Be benar - benar khawatir dengan ini, Ya Allah betapa bodohnya aku, apa yang harus aku lakukan, aku hanya takut kehilangan orang yang paling aku sayang *


" Apa Sha setuju kita nikah secara hukum ? "


" Terserah Be saja, mana baiknya, Sha menurut saja, Sha ikuti keputusan Be " Ucap Shafura lemah


" Baiklah, jangan bersedih lagi, Maafkan Be, Maaf "


* Semoga Be benar - benar tulus mengatakannya *


...Bersambung...


***

__ADS_1


__ADS_2