
" Sayang, Shaaaa " Teriak Qun dari kamar mandi.
" Ya kenapa Be ! "
" Tolong "
" Tolong apa ? "
" Aaaa, Shaaaa " Rintih Qun kesakitan
CREK
" Be kenapa, Ast "
Saat hendak bersitiqfar melihat Qun yang kesakitan dan tengah memegangi otot betisnya Shafura langsung membatalkannya karena sadar tengah dalam kamar mandi.
" Tolong, kaki Be kram, Aaah "
Qun sudah terduduk di bathtup sambil mengurut kram ototnya.
Shafura mendekati Qun." ini kram otot ! "
" Iya , Aaah ! " Rintih Qun lagi saar ototnya semakin menegang.
" Yaudah sini Sha bantu, Mandinya udah selesaikan ? "
" Udah "
Lalu Shafura langsung menyilangkan tangan Qun di pundaknya dan begitupun Shafura, kini Qun kembali bisa berdiri dan berjalan ke kasur.
" Pelan - pelan "
Qun nampak kesulitan bahkan sekedar mengangkat kakinya ke atas kasur untuk di luruskan karena semakin banyak gerak, semakin banyak pula ototnya yang menegang.
" Be tekungkup biar Sha olesi krim betisnya "
Qun langsung menuruti ucapan Shafura.
" Aaaah, jangan di tekan kuat sayang, sakit "
" Iya nih pelan - pelan " Ujar Shafura yang kembali membuat kaki Qun
Shafura dengan telaten menguruti suaminya, hingga Qun tak lagi bersuara ataupun merasa kesakitan.
" Be !, Bee "
Shafura menghentikan aktivitasnya lalu mengintai wajah Qun yang tergeletak di bantal, Shafura mendapati Qun yang tertidur dengan masih mengenakan handuk.
Tok Tok Tok
" Shafura, Ibu sudah siap ! "
mendengar Ibunya memanggil, Shafura tak langsung menyauti Zalima, dia perlahan turun dari ranjang dan tak ingin mengganggu Qun yang baru saja tertidur.
CREK
" Bu maaf, Qun tidur! "
" Dia nggak jadi ikut ! "
" Jadi, tapi tadi habis mandi kakinya kram, selepasku pijat dia tertidur "
" Oh Yaudahlah, nanti aja abis ashar ke makamnya biar nggak terlalu panas "
" Yaudah bu maaf ya ! "
" Iya, kamu urus dulu suamimu ya, Ibu balik ke kamar kalau gitu "
" Ya bu "
Zalima lalu kembali ke kamarnya padahal dia sudah rapi dengan gamisnya tapi apa boleh buat sebab Qun juga ingin ikut.
...***...
16:30 WIB. Di Pemakaman
" Benarkah, kapan itu ?....... Nanti malam !............ Baiklah aku dan Zaf ikut, aku harus menangkapnya sendiri ".
__ADS_1
Tut tut tut.
Qun berbalik badan dan tak menyangka ada Shafura di belakangnya karena tadi dia melihat Shafura sudah berjalan lebih dulu bersama Ibunya.
" Astaqfirullah Sayang ! "
" Siapa tadi Be ? " Shafura penasaran.
* Ya Allah kalau di ceritakan, apakah aku tetap bisa keluar malam ini ! *
" Hmm Aa, hmm " Muka Qun panik
" Ok baiklah " Shafura langsung memutar badanya karena merasa Qun tak ingin cerita.
" Sha, Sayang " Qun menghentikan Shafura dengan memegangi lengannya
" Ok ok ! nanti Be cerita " Lanjutnya.
Shafura melepas pegangan tangan Qun, dan kembali melangkah lalu duduk dan ikut berdoa bersama Zalima untuk arwah Sang Ayah dan kedua mertuanya.
* Kalau Shafura tahu, aku tak yakin dia mau tinggal *
Qun menarik nafasnya, lalu berjalan melewati kuburan lainnya dan duduk di antara makam Ayah angkatnya dan Bapak kandungnya serta sang Ibu yang berdekatan.
Menjelang kematian Suhaimi, Sang Ayah angkat sempat berpesan pada Qun bahwa dia tak ingin jenazahnya di bawa pulang ke kampungnya dan dia ingin di makamkan di kota ini, alasannya adalah tak ingin kembali ke tempat di mana dia pernah terluka.
Selepas selesai membaca yasin dan berdoa serta menaburkan bunga bersama, Shafura menahan air matanya untuk tumpah, begitu juga Zalima. Kedua orang kesayangan suhaimi itu terlihat tegar tak satupun dari mereka yang menangis.
" Ayah, semoga tenang disana ya, kini kita telah berjumpa walaupun Shafura belum pernah melihat Ayah secara langsung, tapi Shafura puas bisa melihat Ayah dalam diri suami Shafura, anak angkat Ayah, Qun. " Ucap Shafura sambil melihat pada orang yang namanya ia sebut.
Qun yang berada di sebelahnya dapat merasakan kesulitan Shafura. Shafura bersua dengan Ayahnya tapi hanya dapat bertemu dengan makamnya saja.
" Ayah ! kini keinginan Ayah sudah di kabulkan Allah " Ujar Qun.
Sontak saja Shafura bingung dengan ucapan Qun
" Apa yang di kabulkan Allah Be dan apa keinginan Ayah ? "
Qun mencoba membalas tatapan Shafura
Shafura merasa tak percaya pada bualan yang dulu Ayahnya dan Qun bicarakan, sebab ketika anaknya tidak ada pun dia sempat - sempatnya memikirkan jodoh untuknya.
" Huuts "
Air mata Shafura akhirnya jatuh, dia tak tahan harus bertahan lebih lama menahan rasa sedihnya, Shafura sadar bila di makan tidak boleh menangis apalagi berlebihan, tapi tangis Shafura kali ini terjadi karena Sang Ayah yang terus mengingatnya dan Sang Ibu, kini Shafura hanya bisa mengelus makam Sang Ayah seakan memberikan kekuatan.
" Ayah ! Terima kasih sudah pernah berdoa begitu untukku, sebab sekarang ini doa Ayah terkabul dan aku bahagia Ayah masih memikirkan aku meskipun kita belum pernah bertemu lagi "
" Sha kuatlah ! " Qun memegangi pundak Shafura seraya terseyum.
Shafura membalas senyum Qun, lalu Shafura melirik Sang Ibu yang diam seribu bahasa sejak kedatangannya di makam ini.
* Mas, tenanglah di sana, semoga di lain waktu aku bisa jelaskan Kesalahanpahaman di antara kita yang membuat Mas menderita, jujur, hatiku sakit melihat gambar Mas terakhir kali sebelum meninggal. Sungguh Mas sangat menderita karena ini. Tapi aku yakin Mas mampu melewatinya karena Mas kuat. Dan kini aku yakin Mas sudah bahagia karena doa Mas terkabulkan, Anak angkat Mas kini sudah menikah dengan anak kandung Mas sendiri. Maafkan aku Mas, karena sudah bahagia di atas penderitaan Mas selama ini, dan inilah takdir yang harus kita jalani, Aku ridho dengan ketetapan ini semoga Mas juga, yang tenang ya Mas, mungkin ini terakhir kali aku ke sini, sebab suamiku hanya memberiku izin kali ini saja untuk mengunjungi Mas, Maafkan aku "
Zalima mengutarakan isi hatinya itu.
* Kenapa hatiku sakit melihat kau kembali di dekat Suhaimi, Zalima. di tambah lagi anak kesayanganku yang kini menangisi Ayahnya itu. "
Sesaat sebelum berangkat ke makam, Zalima tak lupa meminta Izin pada Hendry untuk mengunjungi makam mantan suaminya itu dan Hendry memberi izin, tapi Hendry juga tak lupa bertanya alamat dari makam ini, hingga Hendry menyusul secara diam - diam ke sini dan mengintai dari ke jauhan.
Setelah merasa puas berbincang dengan makam Ayahnya serta kedua mertuanya, Shafura juga Zalima meninggalakan makan terlebih dahulu dan Qun meminta waktu untuk berbicara sebentar ke makan Bapak dan Ibunya.
...***...
DUP
" Maaf lama Bu ! " Qun baru saja masuk ke mobil.
" Lama pun tidak apa - apa Qun! " Ujar Zalima.
Qun melirik manusia di kursi depan yang duduk bersamanya, tak ada tanggapan, komentar serta sanggahan karena keterlambatannya.
" Shayang mau makan dulu ? " tanya Qun lembut agar hati orang itu mencair
" TERSERAH " Jawab es balok yang baru terbentuk setelah Qun tak menjawab pertanyaannya tentang siapa yang menelpon tadi.
Mendengar Shafura yang ketus lantas saja sebuah pukulan melayang diberikan Zalima
__ADS_1
PLAK
" Aduuh bu, sakit ! " Shafura terkejut.
Qun tiba - tiba mematung melihat Zalima memukul keras Shafura, Mata Zalima membesar mukanya merah padam.
" Ibu tidak pernah ajarkan kamu untuk kurang ajar sama Suami, semarah - marahnya Ibu pada Ayahmu, tak pernah Ibu sedingin kamu menjawapinya tetap lemah lembut, juga Ibu tetap menunggu restunya bila keluar rumah itupun jika ia izinkan, mau kamu di cap Istri durhaka, Suami nanya baik - baik balasnya begitu " Ucap Zalima penuh emosi.
Shafura hanya mengelus di tempat Ibu memukulnya barusan dan tak berani menjawab sebab merasa ia melakukan kesalahan.
" Bu bu udah bu, nggak apa - apa " Qun mencoba menengahi sekaligus membela Shafura yang hanya tertunduk.
" Qun ! Kamu mau Ibu pukul juga, nggak apa - apa apanya, ini itu memang masalah kecil tapi kalau Ibu biarkan lama - lama ini jadi kebiasaan dan Ibu tak mau itu terjadi, Ibu tahu kamu sayang Istri kamu, bukan berarti segala kesalahannya bisa kamu terima begitu saja, apa kamu pikir jika kamu membelanya di depan Ibu ketika dia kurang ajar, Ibu akan berterima kasih, tidak !!! Ibu tidak bisa biarkan " Suara Zalima semakin tinggi.
Kini Qun juga terkena kultum oleh Zalima. Zalima memang orang yang tak tebang pilih ketika menasihati, satu salah semua kena.
" Bu sudah Bu, kenapa jadi marah sama Qun " Shafura merasa bersalah karna Zalima memaki suaminya.
" Kamu juga Shafura mentang - mentang suami baik, sayang, penurut, seenaknya kamu pijak kepala suami, jangan kamu pikir karena dia menurut, status kamu lebih tinggi dari dia, dia tetap kepala keluarga. Ibu tak bisa biarkan sikap kurang ajar terjadi di keluarga ibu...... Minta maaf !. " Zalima mengakhiri ceramahnya dengan bersandar di kursi belakang sambil mengucap istighfar dalam hati
" Astagfirullah, Astaqfirullah, Astaqfirullah " Sambil mengurut dadanya.
" Be maafkan Sha ! " Shafura memberikan tangannya.
" Iya Be maafkan, jadi kita makan ? " Qun bertanya saat Shafura mencium tangannya serta memebelai kepala Shafura.
" Kalau kalian mau makan, makan saja berdua, antar Ibu pulang, Ibu mau main saja sama faye, silahkan berduaan " Ujar Zalima yang kini sedikit ramah
" Ibu masih marah " Shafura melihat ke arah Zalima.
" Tidak, Ibu masih kenyang makanya tak ingin ikut, kalau kalian mau, makan berdua saja, lagi pula Ibu perhatikan kalian belum pernah keluar bersamakan ! " Tebak Zalima dan nadanya sudah kembali normal.
Kini shafura menatap Qun dan Qun juga, mereka tersenyum seakan tebakan Ibunya benar. Dan memang benar mereka hanya di rumah tanpa pernah kemana - mana.
" Ibu yakin nggak marah, dan tidak mau ikut kita " Qun memastikan sekali lagi permintaan Ibu mertuanya itu.
" Iya pergi saja bedua, Faye biar Ibu yang urus, silahkan pacaran sana "
Qun dan Shafura kini saling melempar senyum.
" Baiklah terima kasih Ibu "
Shafura merasa bahagia bisa quality time bersama Qun walaupun hatinya merasa tak enak sebab takut ibunya menolakan ikut karena dirinya.
Setelah pulang dari Makam dan mengantar Ibu pulang, shafura dan Qun melanjutkan perjalanan romantis mereka mengitari kota dan duduk sebentar di Cafe menjelang Maghrib mereka memesan Latte Ice untuk Qun dan Blue Mojito kesukaan Shafura.
" Bee, tadi Bee bicara sama siapa ? "
" Huh " Qun melirik sambil meminum Lattenya
* kirain udah lupa, kenapa harus di bahas lagi sayang, udah bagus di mobil tadi ceria, nggak banyak tanya.. Eh kena mojito otaknya langsung encer *
Shafura menggoyangkan goyangkan tangannya Qun
" Be Sama siapa Be ? " tuturnya sedikit manja.
Qun menaruh gelapnya dan meraih ponselnya.
" Mark " Ucap Qun Sambil melihatkan panggilan terakhir di ponselnya
" Boleh tau bahas apa ? " Shafura seakan basa - basi padahal dia sangat penasaran sebab mendengarnya tadi.
" Ya udah habiskan minumnya Sayang, nanti telat ke masjidnya udah sholawat itu " Qun mencoba mengelak dari Shafura.
* Baiklah kalau tak ingin cerita, Sha tak ingin memaksa tapi tunggu saja Istrimu ini punya cara tersendiri Be *
" Ya udah ayo " Kata Shafura santai setelah menghabiskan minumannya.
Dug dudug dug dug
...Allahu akbar, Allahu Akbar 2x...
...Bersambung...
***
Ada rahasia apa nih Qun sama Mark!
__ADS_1