Imamku Seorang Bartender

Imamku Seorang Bartender
* Kumat * Episode 70


__ADS_3

" Papaaaa, mamaaa ! ".


Shafura yang baru turun dari mobil hanya mendadahi Faye sebab Faye lebih dulu di tangkap Qun


" Sayang ! "


CUP


CUP


Zaf pun ikut memberikan kecupannya untuk Faye.


" Papa.... Tangan Papa kenapa ? " Tanya Faye pada Zaf yang bersebelahan dengan Qun.


Sebelum pulang ke rumah, Zaf sempat di bawa kerumah sakit untuk mengangkat pecahan beling yang masih tersisa dan kini telah di obati dan di perban.


" Papa ! " Zaf bingung ingin menjelaskannya lalu menaikkan alisnya pada Qun untuk meminta bantuan.


" Papa Zaf tak sengaja memegang pecahan kaca "


" Ha iya Papa Qun benar! ".


" Sini tangannya Pa! ".


Zaf lalu mengangkat tangannya dan memeberikannya pada Faye.


CUP


" Cepat sembuh ya!.... Mama! "


" Ya "


" Sini ! ".


Shafura lalu mendekat, setelahnya Geris dan Sella juga turun dari mobil Zaky.


" Kenapa sayang "


" Mama bisa obati tangan Papa Zaf ".


" Bisa sayang "


" Tolong ya Ma! "


Shafura terseyum dengan permintaan anaknya itu tapi Shafura belum mengiyakannnya.


" Tidak bisa " Ucap Qun.


Faye menatap penuh tanya dengan ucapan Qun barusan.


" Kenapa Pa ? ".


" Tidak ada, Pokoknya tidak bisa....Faye ! Ayo kita masuk "


Zaf dan yang lainnya hanya melihat saja tingkah pria dewasa itu yang meninggalkan mereka.


" Heh, Penyakitnya kumat kak "


" Biasalah ! ".


" Kau harus mengatasinya kak "


" Kakak ragu, kali ini Abangmu nampak sangat marah ".


Untuk kali ini Shafura berfirasat kalau Qun benar - benar marah padanya. Sebab selama perjalan pulang Qun memilih duduk di depan sebagai Supir dan duduk bersamanya Zaf sedangkan Shafura bersama perempuan yang lain di kursi belakang


" Kau tenang saja Kak, aku akan bantu ".


Shafura hanya mengangguk lemah.


Semua masuk ke kamar masing - masing tapi Shafura tak melihat Qun berada di kamarnya begitu juga Faye.


" Beeee! Be di mana? Beeee "


TWING


Shafura mendekati ponsel yang ia letak di nakas.


ZAF


" Abang ada di kamar ku "


* Be ! Kenapa harus menghindari Sha! *


" Oke Zaf "


" Ya sudahalah mungkin dia butuh waktu dulu, dan tak ingin menemuiku " Ucap Shafura dengan dirinya sendiri.


Allahu akbar 2x


Adzan Dzuhur berkumandang, Shafura yang ingin melakukan Sholat tak lupa meletakkan Kain sarung dan Baju Qun di atas ranjang, bermaksud agar, Qun yang sedang marah tetap Sholat dengan rapi dan ia tetap melakukan tugasnya sebagai istri meskipun kali ini bukan Shafura yang mengancingkan sendiri baju Qun. Shafura lalu masuk ke kamar mandi.


CLEK


hanya berbeda beberapa detik saat Shafura masuk pintu kamarnya ikut berbunyi.


CLEK


Shafura memasang telinganya di pintu dan menebak kalau itu suaminya, dia tak mendengar adanya suara Qun selain derap langkahnya dan tanpa Shafura sadari Qun juga melakukan hal yang sama, kini di balik pintu itu juga Qun menguping aktivitas Shafura yang di dalam kamar mandi.


" Maafkan Be "


" Maafkan Sha "


Mereka sama - sama minta maaf namun sayangnya tak satupun dari mereka mendengar kalimat maaf itu.


* Kita harus bicara Be *


Shafura memegang gagang pintu itu, dan Qun yang berada di luar melihat bahwa Shafura hendak membuka pintu, dengan lekas Qun mengambil baju dan sarungnya dan berjalan keluar.


" Be Tunggu ! ".


Kini mereka sama sama berada di pintu. Qun berhenti namun tak berbalik.


" Sha! "

__ADS_1


" Sholat saja di Rumah, dan malam ini Be tak tidur di sini, tidurlah sama Geris "


CLEK.


Nada dingin Qun membuat Shafura berbinar.


" Be! ".


***


Waktu bergulir begitu cepatnya, Sholat Dzuhur yang di lalui Shafura seorang diri kini kembali ia rasakan pada Sholat Ashar dan Magrib. Setiap kali ingin mengajak Qun berbicara berdua Qun selalu saja mengelak dan selalu memberikan alasan yang tak masuk di akal, tapi Shafura tak ingin memaksa dan menuruti kemauannya.


Tok Tok.


" Kak ! ".


" Masuk aja Ger "


CREK


" Abang menyuruhku ke sini untuk menemani kakak malam ini ". Ucap geris sambil berjalan ke ranjang.


"Ouh iya, sini. Tadi dia juga bilang kalau mau menemani Zaf malam ini, mungkin dia khawatir ".


Geris kini duduk di tepi ranjang dengan kakinya yang setengah bersila lalu dia hanya terseyum dengan penuturan Shafura.


" Kak ! "


" Kenapa ! ".


" Ada yang mau aku sampaikan "


" Ya sudah bicaralah, Kakak dengarkan. Apa itu masalah tentang hubungan kalian ? " Tebak Shafura sekaligus menatap curiga.


Geris lalu mengangguk kecil. Melihat itu Shafura mendekati Geris.


" Bicaralah "


" Tadi ! ".


Tok Tok.


Shafura dan Geris melihat bersamaan ke arah ketukan itu dan di sana ada Sella berdiri pada pintu yang terbuka.


" Sella, ada apa! Masuk sini "


" Tidaklah, aku segan, Aku kesini cuma mau bertanya pada geris "


" Apa kak! " Saut Geris.


" Apa kau ada lihat obat pereda sakit yang di berikan dokter itu "


" Ada kak, sebentar aku ambilkan ". Geris bangkit.


Mendengar ucapan Sella, Shafura juga ikut bangkit dan saat hendak melangkah Shafura melihat cahaya kecil warna merah menyala di pojok kamarnya, Shafura hanya terseyum lalu berjalan bersama Geris medekati Sella.


" Perutmu Sakit lagi ".


" Iya! "


" Sini - sini masuklah, kita duduk, ada yang mau aku tanyakan! "


" Tapi ini kamarmu dan dia, aku tak enak "


" Sudahlah tak apa, Qun pasti mengerti dan ku rasa dia juga mengetahuinya ".


Shafura lalu memaksa Sella dengan menariknya untuk ikut masuk.


" Kemarin aku melihatmu di rumah sakit ! ".


" Ha! "


" Iya sekitar tiga minggu yang lalu "


" Tiga minggu!,.......... Oh iya hari itu aku melakukan pengecekan ".


" Jadi hari itu kau sudah tahu kalau "


" Ya ! Aku sudah tahu ada yang tak beres dengan tubuhku, setelah dia berhasil membebaskan aku, Pria penipu itu yang menyuruhku untuk melakukannya di sini, dan saat itu aku sempat bertanya - tanya kenapa harus di sini bukan di Bali saja, rupanya dia mempermainkan aku ".


" Itulah yang Tuan Wegal itu bilang padaku tadi " Sambung Geris yang tiba - tiba datang.


Tanpa di sadari Sella dan Shafura, Geris mendengar pembicaraan mereka. Geris masuk dan tak lupa membawakan segelas air dan Obat milik Sella.


" Ini kak "


Sella menerimanya dan segera meminum Obat tersebut.


" Apa maksudmu Ger ? ". Tanya Shafura.


" Saat kakak dan Abang baru saja tiba dan Abang Zaf membawa kalian berdua keluar, aku sendirian menghadapi pria itu, dan dia bilang semuanya ".


" Bilang apa Ger? " Sambung Sella pula.


" Awalnya dia sempat menghinaku, katanya aku mendekati anaknya hanya untuk Hartanya saja, dan dia juga bilang aku akan pergi jika setelah hari ini semua harta Abang Zaf akan jatuh padanya, awalnya aku tak mengerti, Lalu dia juga mengatakan bahwa semua ini adalah rencananya yang sudah dia rancang selama bertahun - tahun, dia sengaja menjadikan Kakak sebagai sanderanya ".


" Kenapa harus kakak ya ? dan bagaimana dia bisa tahu kakak pernah kenal dengan Zaf dan bisa saja Zaf tak setuju lalu menolak menebusnya semua itu bisa saja terjadikan ".


" Kakak salah kak, Itulah kekuatan dan kehebatan mata - matanya, seperti yang aku katakan, dia yang merencanakan semuanya, dia sendiri yang bilang kalau dia tahu kakak dan Abang Qun gagal menikah, dan ? "


" Dan apa Ger jangan buat kami penasaran " Ucap Shafura.


" Dan sore tadi aku sempat bertanya hal yang sama pada Abang Zaf, kenapa dia mau menyelamatkan kakak, dan dia bilang, kalau itu adalah pesan dari Kakenya kalau hartamu bisa menyelamatkan nyawa orang lain maka habiskanlah jika itu diperlukan. dan alasan kenapa Papanya gunakan Kak Sella, aku juga terkejut mendengar jawabannya, sebab Abang Zaf pernah bertanya melalui telpon pada Papanya tentang hal ini juga, Papanya merasa kalau Abang Qun masih mempunyai rasa pada kakak, hal itu mungkin dari pengamatan para mata - matanya yang bilang kalau Abang Qun masih sering bereaksi jika membahas kakak, jadi Tuan Wegal itu pikir bila dia bisa menangkap dan kakak dalam genggamannya maka Abang Qun pasti akan menyelamatkan kakak dan meminta Abang Zaf untuk membantu membebaskan Kakak ".


Shafura tercengang.


" Dia benar - benar orang yang sudah kehabisan akal, anaknya sendiri saja dia lawan, di tambah lagi dengan teorinya yang tak masuk di akal itu ". Ucap Sella.


" Tapi teori itu malah berhasil " Sambung Shafura.


" lalu dia juga tahu Kakak di jual dan demi memuluskan jalannya dia juga menaruh mata - matanya di antara para CEO itu, hebat bukan. Aku juga tak percaya awalnya. Tapi saat dia bilang kalau dia tahu aku adalah dari golongan orang tak punya, aku hanya anak orang miskin, tak berpendidikan dan semua tentangku dia juga tahu, bahkan yang lebih mengejutkan semua data orang - orang yang dekat dengan anaknya teryata tersusun lengkap dalam Ipadnya. "


" Apa ? Sampai sejauh itu " Shafura terkejut.


" Iya, Bahkan data Kakak, Ibu, Bapak serta mantan calon tunangan Kakak yang di penjara itu juga ada di sana, pokoknya lengkap dan satu lagi dia bilang Zaf itu bukan orang yang terobsesi dengan materi makanya dia bisa menggunakan kakak sebagai Sanderanya karena dia tahu kalau anaknya pasti rela menukarnya dengan Seluruh hartanya itu ".

__ADS_1


" Entah takdir apa yang tuhan berikan pada Zaf sehingga memiliki Papa yang sangat kejam itu, kepribadiannya bumi dan langit dengan anaknya sendiri " Saut Sella.


" Dan Sella, kini kau juga sudah dengar sendirikan apa alasan Zaf menyelamatkanmu, jadi jangan merasa berhutang budi lagi padanya "


" Tidak Shafura, biar bagaimanapun aku harus merasa hutang budi pada Zaf dan kalian semua sebab telah menyelamatkan aku, Andai "


" Sudahlah kak, kini kakak sudah bebas dan kakak harus kembali sehat lagi jangan berandai - andai lagi lupakanlah "


" Iya Geris benar! "


" Entah aku bisa melupakannya atau tidak sebab ini benar - benar merubah hidupku, dan aku mau ucapkan terima kasih pada kalian semua yang sudah baik padaku, aku tak tahu harus membalas ini dengan apa, Aku bersyukur sudah di pertemukan dengan kalian, terima kasih ".


" Jangan berterima kasih Sella, sebab nyawa itu lebih berarti dari uang ya kan Ger ? "


Geris tak menyauti kalimat Shafura, Baik shafura ataupu Sella kini melihat wanita yang tengah fokus pada layar ponselnya itu.


" " Ger, Geris itu ada Zaf di pintu "


" Nggak mungkin kak, orang dia bilang dia di kamar lagi tiduran sama Abang Qun, ni buktinya " Saut Geris spontan dan dia menyodorkan hasil chatingannya dengan Zaf pada Sella dan Shafura.


Pada layar yang benuansa hijau itu terpampang Isi chatingan yang sangat panjang dan kiriman terakhirnya dari Zaf yang sedang Selfi seorang diri.


Shafur dan Sella yang duduk bersebelahan tak fokus pada layar Handphone itu mereka malah senyum melihat Geris yang bertingkah konyol.


" Hmmmm, Mulai terbuka nii " Goda Shafura.


Geris melirik.


" Eh " Lekas Geris menarik tangannya, akhirnya dia sadar kalau telah membongkar hubungannya dengan Zaf selama ini.


Kini wajah Geris bagai kepiting rebus akibat ulahnya sendiri.


" Kenapa di sembunyikan sih Ger " Tanya Shafura.


" Udah ah kak jangan bahas ini " Geris tersipu.


" Bahas aja Geris, lagi pula kami juga sudah tahu sebagiankan pagi tadi, jadi ceritakanlah, ayolah " Bujuk Sella pula.


Sikap ramah Shafura dan Geris membuat Sella sebagai orang yang baru di antara mereka jadi mudah membaur.


" Iya, Cerita, Cerita, cerita " Saut Shafura sambil bertepuk tangan sekali mengikuti intonasinya sendiri


" Cerita, cerita, cerita " Saut Sella pula dengan melakukan hal serupa.


Geris yang merasa sudah terpojok akhirnya memilih mengalah.


" Oke, oke aku akan cerita "


" Yesss "


" Yuhhhhu "


PLAK


Sella dan Shafura heboh hingga bertepuk tangan satu sama lain, suasana yang murung dari pagi hingga kemalam akhirnya bisa sedikit ceria, apalagi untuk Shafura yang masih belum menyelesaikan urusannya dengan Qun, tapi dengan kehadiran dua wanita ini membuat Shafura sedikit melupakan masalahnya sendiri.


Geris memajukan lehernya dan meletakkan tangannya di samping bibir. " Tapi ada yang nguping "


Sella yang tak paham menaikkan alisnya.


" Kakak sudah tahu dari tadi " Saut Shafura pula.


Geris hanya membentuk huruf "o" di mulutnya.


" Kalian bicara apa? "


" Ada yang sedang mendengarkan pembicaraan kita kak "


" Siapa ? di mana ? " Sella memutar kepalanya kesana kemari.


Geris tak bersuara di hanya menunjuk ke arah di mana intercom itu terpasang.


Sella pun melihat ke arah tunjukkan Geris dan dengan mudahnya Sella paham fungsinya, dia langsung mengangguk setelah melihat alat itu menyala.


" Ini sama dengan yang ada di kamarku waktu di Bali kemarin, tapi siapa yang memakai ini ?". Spontan Sella


Geris tak menjawab pertanyaan Sella dia hanya memberikan jelingan mata yang mengarah ke Shafura.


" Siapa ? " Ucap Sella tak bersuara namun gerakan bibirnya bisa di baca Geris.


" Abang Qun, Mereka lagi marahan " Jawab Geris pelan.


Sella hanya mengangguk pada Geris. Lalu Sella memutar arah duduknya pada Shafura.


" Suamimu ya ! " Tebak Sella.


" Iya ! "Jawab Shafura.


" Maafkan aku, apa gara - gara aku datang lagi, jadi kalian bertengkar ? ".


" Eh tidak - tidak Sel, ini tak ada kaitannya denganmu, dia marah karena aku menyembunyikan niat Zaf yang ingin pindah Agama, makanya dia begini ".


Sella memegang tangan Shafura.


" Maafkan aku, Tapi aku harus sampaikan ini, dia bukan orang yang pemarah, jadi tenanglah "


Shafura menatap Sella.


" Benarkah!, Aku sedikit takut karena selama ini, ini pertama kalinya dia tak mendengarkan aku, jadi aku khawatir ".


" Kak tenanglah, Abang bukan orang yang begitu, sebentar lagi juga dia akan baik lagi, percayalah ".


Shafura terseyum karena telah di kuatkan oleh dua wanita itu.


" Terima kasih telah menghiburku ".


" Oh iya Ger, lanjutkan Ceritamu kakak mau dengar, udah lamani kakak nggak ngerumpi, " Ucap Sella semangat dan beralih duduk.


" Haha ha ha haa "


Geris tertawa dan hal itupun di ikuti Shafura namun ia hanya tertawa dengan pelan karena takut kembali di marahi Qun, sebab dia sudah pernah di tegur karena hal itu.


...Bersambung...


***

__ADS_1


__ADS_2