
Satu minggu berlalu setelah lomba melelahkan itu, hari Senin setelah lomba saat pengumuman upacara bendera kemenangan besar PMR dikumandangkan. Para siswa dan guru akhirnya melihat dan melirik kami sebagai ekstrakulikuler yang berhasil, bahkan lebih baik setelah tahun lalu mengalami banyak masalah.
Setelah upacara itu kami kembali diberikan waktu bebas untuk beristirahat, tentu semua teman-temanku pergi ke kantin dan UKS sebagai tempat berkumpul. Di pagi hari kami berfoto bersama piala kemenangan dan banyak mendapatkan ucapan selamat, sedangkan di siang hari kami di traktir oleh Pelatih kak Gunawan karena bangga anak didiknya berhasil.
Rice book gratis, makanan yang dijual sendiri di kedainya kini di bagikan tanpa bayaran kepada kami semua cocok untuk mengisi perut disaat jam makan siang. Meski kami tidak membayar aku tahu kalau kak Gun tidak akan memberikan barang dagangannya begitu saja, tapi aku diberitahu oleh istrinya jika Bu Septi Pembina PMR telah membayar semua makanan untuk anak-anak didiknya karena berhasil mejadi Juara Umum.
Di saat kami mendapat waktu free seperti ini aku berdiri di tangga perpustakaan teringat kembali saat bertemu dengan Cindi.
“Ya waktu itu aku habis lomba juga, langsung kesini dan melihat kehadiran besar ditempat sempit seperti ini” batinku sambil melihat pintu perpustakaan
Kenangan seperti dahulu tidak akan pernah kembali namun aku pasti terus mengingatnya, sebuah perasaan tak terlupakan meski hanya beberapa hari tapi itu sudah cukup untukku.
Bukan waktu untuk merenung, jalan telah terlihat aku harus melangkahkan kaki ke tempat seharusnya aku berada. Berharap tujuan akhirku sama seperti mimpiku, menjadi orang normal.
***
(Senin, SMA N xx Palembang)
Keseharian disekolah telah berhenti untuk beberapa hari karena ujian telah menanti, semenjak sesudah lomba aku lebih banyak menghabiskan waktu belajar. Bagaimana tidak, seminggu setelah lomba berat itu sekarang aku harus menghadapi ujian Tengah Semester.
Meski ulangan harianku memuaskan tapi rasa percaya diri masih menghantui diri, terlebih aku sendiri tahu jika di kelasku terdapat beberapa orang yang kuwaspadai. Ainur, Anna, Agustina, Agus dan Osama.
Satu minggu ujian itu berlangsung aku pun merasakan otak dan tubuhku sudah tidak berfungsi semestinya.Bahkan jika kulanjutkan membaca mungkin aku akan muntah karena melihat huruf dan angka.
Di tambah aku sendiri semakin merasakan jika mata batinku terus terbuka sedikit-demi sedikit, tanpa bantuan cermin pemberian Cindi aku bisa melihat keberadaan mereka dengan jelas.
Masalahnya dalah saat itu aku sedang menghadapi ujian, mereka mengangguku dengan penampakan mereka, entah itu kuntilanak, tuyul, hantu berleher panjang, bayang-bayang hitam dan putih seperti keberadaan makhluk hidup biasa seperti manusia.
Hingga aku tersadar sejak kapan aku mulai seberani ini, bahkan dengan kepergian Cindi mungkin aku sudah berkembang, benar, menjadi laki-laki pemberani.
“Bismillahirahmanirahim” do’a ku sebelum menuliskan jawaban di kertas jawaban
***
(Sudut Pandang Ainur)
(SMA Negeri xx Palembang)
Seminggu berlalu, ujian selesai dengan menyisakan ketidakpuasan mendalam bagaimana tidak banyak sekali soal sulit keluar di ujian kali ini. Namun bagiku itu sangat mudah karena aku sudah mempelajarinya, terlepas dari benar atau salahnya.
Tapi itu tidak penting karena semua telah berlalu dan tidak bisa di ulang kembali, sekarang aku hanya harus banyak berdo’a dan berwakal akan hasil maksimal untuk nilai ujian.
Aku…tidak ingin kalah lagi dari Akbar, sejak SMP aku selalu mendapatkan juara pertama tapi melihat Akbar selalu hebat dalam ujian harian aku berpikir jika di langit masih berdiri langit yang lebih tinggi.
Bahkan ketika ia mendapatkan kemenangan bersama PMR aku merasa dia sudah satu langkah mendahuluiku. Meski aku telah dikenal di dalam sekolah tapi tidak ada artinya jika tidak terkenal diluar, benar…inilah keinginan egoisku sejak dulu…ingin menjadi nomor satu.
“Baik anak-anak tolong tunggu di luar biar orang tua kalian yang masuk”
‘Baik bu” jawab serentak para murid
Aku sendiri berdiri di depan pintu kelas, berbincang bersama Dedek supaya teralihkan dari rasa tegang. Terdengar kecil suara dari wali kelas menyebutkan nama-nama anak berprestasi di bidang akademik.
“Baik bapak-ibu, saya akan memberitahu siapa-siapa saja anak-anak kita yang meraih rangking 1-3” kata Pak Sumardi wali kelas kami
Seketika suasana sunyi bercampur tegang, padahal barusan banyak tawa canda terdengar. Ketika pak Sumardi menyebutkan daftar rangking teman-teman sekelas bergerombol menguping di balik jendela dan pintu.
Aku sedikit melirik Akbar, ternyata ia tidak berkutik dari tempat semula. Duduk di lantai tanpa alas, sedang berbincang senang bersama Abdul dan Rehan.
“Baik untuk peringkat pertama Ainur, peringkat kedua Akbar, peringkat ketiga Ana Nur. Kepada orang tua yang disebutkan nama-nama tadi harap maju ke depan” Pak Sumardi langsung menyebutkan nama-nama itu tanpa ada spasi untuk membuat kami tegang
Namun begitu, aku bersyukur karena mampu mengambil tempat di peringkat pertama. Aku belum kalah, tapi masih terus melangkah menyusul Akbar. Ia sendiri berada di peringkat kedua, rasa puasku terhadap kemenangan kalah dengan rasa takut akan kehilangan posisi itu. Karenanya aku tidak akan kalah dan berusaha menjadi nomor satu.
***
(Sudut Pandang Akbar)
Ketika mendengar pengumuman itu, rasa tegang tidak berhenti mengalir seraya tidak percaya aku hanya menempati posisi kedua.
“Tidak kusangka ternyata Ainur itu benar-benar wanita yang cerdas” puji diriku kepada Ainur
Yah tidak perlu di pikirkan toh aku juga sudah tahu hasilnya, memang beda peringkat pertama dari SMP. Tapi hal itu tidak penting karena yang pikirkan….setelah selesai ujian….waktunya liburan.
“Yeeee…libur…main sepuasnya” teriak batinku
***
__ADS_1
(Sudut Pandang Akbar)
(Lampung Barat , 15.00 WIB)
Hari Pertama liburan sekolah aku memang tidak melakukan apa-apa di rumah. Rasa malas pun menghingap dengan cepat tanpa disadari seperti sebuah penyakit. Meski begitu hari-hari berikutnya adalah pengalaman baru serta menengangkan yang pernah kurasakan.
Hawa dingin terasa menusuk tajam kulitku, kota tempat tinggal Pamanku memang sangat dingin. Saat memasuki wilayah Lampung pun aku sudah merasa angin dingin berhembus tanpa henti membuat aku memakai pakaian lebih tebal dari sebelumnya.
Kini aku akan menginap di Lampung, tempat tinggal Pamanku selama tiga hari bersama Orang tua, Om, Bibi, Nenek, adik dan kakak keponakanku.
“Haah dinginnya” kataku sambil menyeruput teh hangat yang dihidangkan Bibi
Menikmati pemandangan bukit hijau dengan udara dingin dan sejuk, ditemani teh dan pisang goring terasa sangat menenangkan. Berbeda dengan kota Palembang yang berisik di pagi mapun sore hari, tapi disini tenang dan membuatku senang.
“Aku ingin pindah kesini” tapi ada perasaan menganjal di dalam hatiku, meski menyebalkan aku merasa merindukan sekolah
Bukan…itu hanya alasan…aku ingin bertemu dengan seseorang…wajahnya yang membuat aku rindu. Yah meski begitu aku yakin dia tidak punya rasa padaku, apalagi belakangan ini kami selalu bertengkar.
“Nah jadi Paman mau cerita ketika Paman ketemu setan kuyang”
Tersentak aku mengalihkan pandangan ketika mendengar kata Kuyang. Ternyata di belakangku, Paman sedang bercerita bersama kakak dan adik keponakanku. Penasaran akan cerita itu aku pun ikut mendekat dan duduk mendengar cerita paman.
(FLASH BACK, Paman Sarip)
Waktu itu malam hari ketika aku sedang berkebun di kebun kopi, suasana dingin di kegelapan pekat. Waktu sesudah magrib membuat pikiranku tambah tidak nyaman, namun untuk menghidupi anak-istri kubuang pikiran takut itu.
Ketika malam semakin menjadi-jadi dan pikiran berubah tidak karuan, disana keanehan mulai Nampak. Aku mengambil keranjang panggulku beserta sabit dan parang. Kuambil sisa-sisa kopi yang berjatuhan ditanah sampai aku mendekati semak belukar.
Semak itu adalah pembatas antara perkebunan dan hutan rawa disebelahnya, berdiri pohon-pohon tua dan angker seperti menatapku tajam. Bulu kudukku berdiri, sebuah perasaan tidak enak pertama kali yang aku rasakan sejak berkebun disini selama 5 tahun.
“Krasak…krasak” bunyi seperti kantong plastik, tapi anehnya semak belukar yang bergerak-gerak sendiri
Aku kembali teringat cerita para tetangga, tentang hantu yang muncul baru-baru ini. Hantu kuyang tanpa tubuh berkeliaran di malam hari, itu alasanku takut sedari tadi.
Kuberanikan diri mendekati asal muasal suara,
“Hush…hush” aku menenteng sabit ditangan kanan
Gerakan dan suara di semak belukar itu telah berhenti sedari tadi, tapi aku tetap memeriksa apa penyebab muasalnya.
Keanehan terasa saat kulihat tak ada apapun di dalam semak belukar, “Ah pasti kucing atau angin kali” pikirku
Tak ingin perasaan buruk terus berkembang segera aku meninggalkan pekerjaan, toh hari ini sepertinya sudah selesai. Ketika berjalan meninggalkan kebun, aku seperti di tatap tajam oleh sesuatu meski tak terlihat tapi keberadaannya dekat.
***
Paginya banyak orang yang membiacarakan kemunculan kuyang, entah itu benar atau tidak ceritanya karena aku sendiri masih belum percaya. Mahkluk jadi-jadian dari Kalimantan, suka dengan ari-ari bayi yang baru lahir dan suka mendekati ibu-ibu hamil.
Banyak warga yang khawatir akan kemunculan makhluk itu, terutama di keluarga yang memiliki wanita hamil atau habis bersalin.
Tak ingin waktu terbuang aku kembali kerumah mengambil peralatan untuk pergi berkebun.
Kamis malam Jum’at itu adalah hari dimana aku tidak bisa melupakan kejadian menyeramkan seumur hidup.
“Mang kami pulang duluan ya” kata anak tetanggaku bernama Bujang yang sama-sama berkebun
“Iya hati-hati kak Jalan” balasku
Kini kejadian terulang seperti kemarin, sendirian dengan keadaan dingin berselimut kegelapan malam sehabis magrib. Tapi kali ini tidak seperti kemarin, jika kemarin hanya terasa hawa kehadirannya, tak lama dari Bujang pulang aku melihat di atas langit terbang sesosok bayangan.
Entah apa itu tapi terlihat seperti burung, tapi anehnya ia tidak mengepakan sayap terbang laying-layang. Mata kupertajam untuk memperjelas apa itu, hingga aku terkejut bukan main
“Astagfirullah?!” seketika aku terkejut bukan main
Sosok yang kusangka burung kini terlihat melayang ingin mendarat, tapi sayangnya dengan sosok manusia yang terdiri dari kepala dan organ dalam saja. Tidak ada tubuh bagian bawah, terlihat hanya kepala, paru-paru dan ginjal saja berwarna merah terlihat mengeluarkan cairan merah.
“Ya Allah apa itu” aku langsung berlari meninggalkan kebun beserta alat-alat berkebunku, ketakutan sudah menguasai
Saat itu aku rasa aku bisa melihat eksprasi dari Kuyang itu, wajahnya terlihat tegang dan kaku tak bisa tersenyum seperti orang marah yang siap menyantap apa saja di depan mata. Tubuh melayang di udara dengan bentuk seperti itu pasti membuat orang ketakutan setengah mati.
“Astagfirullah…astagfirullah” aku beristigfar sambil berlari menuju rumah
Jarak rumah dan kebun memang cukup jauh tapi saat itu tidak ada hal lain yang terpikir selain menyelamatkan diri dengan pulang kerumah. Hingga…aku bertemu dengan beberapa warga yang sedang duduk di teras rumah mereka.
Kuhampiri saja untuk meminta pertolongan, “Pak…tolong…itu….” Suaraku habis tak jelas berkata apa karena kehabisan nafas
__ADS_1
“Tenang pak ada apa?” tanya pak Dodo salah satu kenalanku
Aku berusaha menenangkan diri, seraya melihat keberadaan makhluk itu yang sudah tidak Nampak.
“Pak tadi ada hantu, Kuyang Pak…terbang di atas kebun saya”
“Hah yang bener pak?” tanya Pak Dodo
“Iya pak bener, sumpah”
“Ini sudah nggak bisa dibiarkan. Bapak-bapak tolong dengerin dan kumpul disini!!” teriak pak Dodo
Seketika keramaian mengerubungi, Pak Dodo dan aku yang menjelaskan alasan dikumpulkan mereka menambah panas akan suasana.
Tindakan pun diambil, pencarian Kuyang dilakukan karena takut akan adanya korban. Setan pemakan ari-ari bayi dan penganggu ibu hamil ternyata dapat menganggu warga umum juga. Apalagi di kampong ini banyak ibu-ibu hamil, mungkin itu tujuan keberadaan Kuyang beberapa waktu ini.
“Pak kita siap-siap dulu, kita kumpul di pos ronda alun-alun kampong”
“Oke pak”
Tepat jam 20.00 WIB, Warga terdiri dari laki-laki berkumpul, banyak sekali orang yang bergabung termasuk aku. Persiapan berupa sapu ijuk, bawang merah dan putih, kentungan, dan alat-alat pengusir setan lainnya dibawa.
Para warga dibagi menjadi dua kelompok, pertama warga yang mencari ditengah-tengah kampong, kedua ada warga yang mencari di pinggir-pinggir kampung.
Saat itu suara-suara berisik dan kegelapan malam tidak terlihat karena penerangan dari lampu dan obor lebih terang ditambah cahaya bulan.
Pencarian makhluk jadi-jadian bernama Kuyang terjadi sampai pagi, disaat pencarian itu banyak warga yang sudah melihat wujud Kuyang dengan kepala mata mereka sendiri.
“Iya pak kemarin saya lihat ada bola api pula di sekitar tempat pembuangan sampah”
“Saya juga liat kayak ada orang yang nunggu di depan ruamh Pak Adam sama Bu Susi yang hamil itu, dia Cuma berdiri tengah malam kemarin”
“Nah kalo Pak Sarip ini kayaknya seram banget liat penampakannya ya”
“Iya pak, apalagi keliatan organ dalamnya juga. Ngeri pak”
Pencarian dilanjutkan sampai malam sudah berganti Subuh, Kepala desa sendiri menyatakan pencarian hari ini sudah cukup dan akan dilanjutkan besok malam. Semua warga setuju…saat adzan Subuh kami bubar dan pulang kerumah masing-masing.
Paginya aku kembali kerja ke kebun tapi perasaan tenang dan lega terasa seakan tidak ada ketakutan bersisa.
“Apa mungkin karena pencarian tadi malam aku jadi tenang?” pikirku
Pokoknya pekerjaanku hari ini tenang dan lancar tanpa ada rasa gundah dihati, bahkan sampai malam pun jadi. Sehabis pulang berkebun aku mandi dan makan terlebih dahulu lalu kembali ikut pencarian Setan Kuyang itu.
Pencarian seperti kemarin dilakukan, sampai Subuh juga….tapi tidak membuahkan hasil. Bertemu dengan keganjilan pun tidak bahkan kami berpikir jika Kuyang itu takut dan sudah tahu kami mencarinya.
Akhirnya disaat terakhir Pak Kepala Desa mengehentikan pencarian Kuyang malam itu dan meminta agar warga menjaga rumah mereka masing-masing lebih ketat dari biasanya.
Beberapa hari dari aku melihat penampakan Kuyang dan pencarian Kuyang bersama para warga, tidak pernah terlihat lagi penampakan-penampakan aneh atau cerita-cerita warga tentang penampakan Kuyang.
“Kemungkinan ia sudah tidak menampakan diri atau pergi” pikirku
“Pak, sudah denger ceritanya” kata istriku sehabis membeli nasi uduk untuk sarapan pagi
“Cerita apa bu?”
“Itu katanya Kuyang yang keliaran di kampong itu ternyata peliharaan Pak Adi, orang yang baru pindah di atas Bukit itu”
“Yang rumah besar itu?”
“Iya. Tapi katanya Pak Adi sama keluarganya sudah pergi, pindah karena sudah ketahuan. Apalagi warga yang sudah ramai-ramai mencari makhluk itu pasti Pak Adi takut makanya langsung pindah”
“Emang iya Pak Adi yang pelihara makhluk itu?”
“Kayaknya pak, banyak ibu-ibu yang cerita. Kalo rumah Pak Adi itu aneh, orangnya juga”
“Hemmm” aku hanya menganggukan kepala
Jika memang benar cerita istriku itu memang benar ternyata dalang dari kejadian makhluk itu adalah Pak Adi. Meski tidak tahu alasanya apa, untuk guna-guna, atau untuk alat penambah kekayaan dan kekuasaan atau juga sebagai makhluk peliharaan ilmu hitam.
Tapi karena Pak Adi sudah pindah dan tidak pernah kembali lagi, penampakan Kuyang itu pun sudah tidak ada lagi. Warga pun berkesimpulan sama sepertiku, jika memang Pak Adi lah biang dari masalah penempakan Kuyang.
( Catatan, hantu yang di ceritakan oleh paman penulis sebenarnya masih diragukan sebagai kuyang, sebab kuyang makhluk mitos dari Kalimantan. Tapi karena ciri-ciri dan bentuknya sama seperti kuyang, masyarakat yang ada di daerah itu langsung percaya kalau itu kuyang. Dan ada kabar kalau Pak Adi orang pindahan dari Kalimantan ke Sumatera)
BAB X LOMBA, UJIAN, LIBURAN 1.....SELESAI
__ADS_1