
(Sudut Pandang Akbar)
(Toko Keluarga Ainur, Palembang)
Hari menjelang sore, adzan ashar sudah berkumandang setengah jam lalu. Aku dan Ainur sudah bergantian shalat, satu untuk menjaga toko.
Hampir tak pernah kurasakan sebelumnya, berdua-an dengan wanita apalagi seperti Ainur. Menghabiskan waktu dengan bercerita, mengobrol ini itu tentang pengalaman diri.
“Ngomong-ngomong Ainur, ku dengar kau suka dengan Fahri kelas kita ya?”
“Heh? Nggak kok. Cuma berita bohong saja, kemarin saja Shata yang tembak aku tolak”
Aku kembali teringat akan urusan saat itu, membantu temanku tertolak dan mengupayakan agar ia tidak sakit hati.
Sepatutnya aku menolong karena ia teman masa SD dan SMP, baik dan pintarku kurasa tertular darinya.
“Gitu ya, yah nggak apa-apa sih yang lalu biar lalu” ujar ku
“Kalo Akbar sendiri sudah ada pacar kan? Itu yang kata Bunga si Alycia…Alycia itu”
“Oh itu mantan…sebenarnya sudah putus dari tahun lalu sih. Dia tinggalnya di Malang, Jawa Timur”
“Hemmm” Ainur mengangguk mengerti
"Kenapa bisa putus”
“Kalo ditanya begitu sih…beda kepercayaan”
“Maksud beda kepercayaan, beda agama gitu?” tanya Ainur kepadaku
“Nggak sebenarnya beda kepercayaan itu, aku percaya kalau aku ganteng tapi dia nggak percaya aku ganteng” candaku terhadap Ainur
“Ehhh” ia hanya cemberut mendengar candaanku, sementara aku tertawa lepas
“Hahaha…nggak becanda…becanda, ia beda agama, aku Islam dianya Kristen. Meski begitu aku sangat suka dia”
Entah kenapa saat aku membicarakan Alycia mantanku, Ainur terlihat aneh. Padahal aku hanya ingin mengisi waktu agar tidak canggung dengan topic yang disukai wanita.
Hasil akhir tentang cerita cinta memang tidak cocok untukku dan menimbulkan masalah…tapi kenapa…kok dia marah.
“Tapi sekarang aku mau fokus belajar dulu lah tidak usah pacaran dulu, karena aku pastikan akan kejar Ainur si Jenius ini”
Ainur kembali memandang wajahku dengan senang, pujian itu ternyata berhasil.
“Yes!” teriak batinku
Di sela percakapan itu, tante Siti dan teman-temannya kembali entah dari mana tidak bisa kutanyakan karena segan. Ainur pun tidak tahu darimana ibunya, kupastikan lagi untuk tidak terlalu ikut campur urusan wanita.
"Oh masih jaga ya, makasih ya” ujar tante Siti
“Iya tante sama-sama”
“Nah ini ada kue, makan sana di dalam biar mama yang jaga, Papa juga sebentar lagi pulang”
“Makasih ma”
Melihat hari semakin sore, aku tidak ingin kemalaman pulang. Aku menunggu teman-teman sekelas datang, kupikir aka nada yang datang habis Ashar tapi belum ada menunjukan batang hidung. Aku harus mengambil arang di rumah kakek, dan kembali ke rumah untuk mandi.
“Nur aku pulang ya, nanti kesini lagi. Aku mau ambil arang soalnya, aku titip barangku disini dulu ya”
__ADS_1
“Oh aku boleh ikutkan”
“Heh, ikut?”
“Iya, bolehkan?”
“Boleh sih, tapi…” aku nggak bisa bilang kalau mau mandi juga “Ya sudah, ikut aku ambil arangnya saja”
Ku ambil kunci motor, handphone dan dompet segera menghidupkan kendaraan agar tidak membuang waktu.
Ainur yang masih sibuk berdandan naik ke jok motor, kutunggu ia sampai selesai mengurus diri jika tidak akan bahaya nanti.
“Ma kalau ada teman mbak, suruh tunggu saja di rumah ya”
‘Iya” kata tante Siti di sela percakapan dengan teman-teman wanitanya
***
(Sudut Panang Ainur)
(Toko Keluarga Ainur, Palembang)
Hampir lima belas menit kami mengendarai sepeda motor, tapi percakapan terjadi sedikit. Antara Akbar fokus pada jalan atau memang tidak ada topik pembicaraan.
Sebenarnya aku ingin menceritakan melihat sosok laki-laki hitam itu, tapi masih tertahan karena berada dijalan.
“Kenapa nur?” ujar Akbar seperti ia sudah tahu kegelisahan ku
“Eh nggak ada apa-apa kok”
“Kalo ada yang mau di ceritakan, ceritakan saja tapi nanti ya pas sudah berhenti”
Rumah kakek dan nenekku berada dekat dengan sekolah, jika di saat sore hujan setelah sekolah tentu saja aku akan berteduh di rumah kakek. Di siapkan camilan dan teh hangat, pulangnya di beri uang jajan.
“Nah sudah sampai” motor kuhentikan dan Ainur mulai turun
Rumah kakekku cukup besar, catnya berwarna putih dengan banyak bunga di teras-teras. Terdapat lapangan kecil di depan dan samping rumah, dulu waktu menginap aku selalu bermain bola atau petak umpet disana.
Namun sebelum itu terdapat gudang tua tempat kakek menyimpan barang-barang tua, kayu-kayu bekas, botol dan plastik serta bahan sisa dari kelapa.
Untuk batok kelapa yang tersisa di jadikan arang oleh kakek dan di letakkan di luar gudang, begitu pun serabut, kayu bekas dan plastic bekas.
“Assalamualaikum kek, nek”
Tak ada sautan, kupanggil lagi sambil mengetuk pintu. Kedua kalinya pintu terbuka, dan kulihat nenek yang membukakan pintu.
“Lho ada Akbar, masuk dulu” nenek mempersilakan aku masuk
“Tidak usah nek, Akbar langsung saja. Anu, Akbar boleh minta arang di gudang kan?” pintaku
“Boleh ambil saja, memangnya untuk apa?”
“Itu…ada acara, jadi perlu arang”
Nenek keluar memakai sandal, menghantar kami berdua ke gudang. Sesampai di depan gudang, tumpukan karung berisi arang hitam bertaburan. Ku ambil saja setengah isi karung beras, toh jika tidak akan mubazir kebanyakan.
“Sedikit saja nek” ku keluarkan setengah isi dari karung penuh sehingga setengahnya dapat kubawa
Di saat mengeluarkan isi arang itu perasaanku terganggu akan isi dalam gudang, sudah lama aku tidak masuk ke dalam.
__ADS_1
Seingatku baru sekali aku memasukinya, itu pun masih kecil. Terbayang ingatan-ingatan di dalam sana, berisi barang-barang antik dan tua peninggalan keluarga.
“Kakek kemana nek?”
“Oh kakek lagi ada kerjaan di kantor lurah”
Kakekku adalah pejabat RT di komplek ini, ia telah lama menjabat sebagai ketua RT sampai ia disegani oleh warganya.
Entah karena ketegasan dan kemampuannya, setiap pemilihan RT ia selalu menang bahkan 3 kali periode.
“Bulek Wulan?” nama panggilan untuk bibi
“Ngajar di TK. Paling sebentar lagi pulang”
Nenek paru baya berusaha mengangkat karung berisi arang hitam di punggungnya, tentu melihat saja tidak bisa kubiarkan.
Nenek yang sudah hampir berumur 60 tahun masih terlihat bertenaga, kulit keriput bukanlah tanda melainkan bukti, rambut di kuncir seperti konde karena terlalu panjang dengan warna putih hampir menutupi.
“Sudah nek, Akbar saja” kuangkat dan kuletakan di motor
“Letakan saja di belakang bar, nanti aku yang jaga” ujar Ainur
“Oke”
Tak ada percakapan mengenai Ainur kurasa adalah kesempatan, tidak ingin membuang waktu aku dan Ainur pamit undur diri. Nenek pun langsung masuk kembali setelah kami memberi salam, seakan menyudahi urusan.
Tentu meski aku melihat nenek membantu tapi aku sudah tahu bagaimana sifatnya dan keluarga ikatan dari ayah. Di luar terlihat baik tapi di dalamnya banyak pertengkaran yang tetangga pun sudah tahu.
Suatu hal yang tidak boleh kulihat saat kecil, dimana psikologis pasti terganggu. Nenek sendiri adalah intinya, seseorang yang keras kepala, iri dan ingin di hormati, begitulah aku menilainya sejak dulu.
Kurasa karena aku hanya cucu di perlakukan lebih baik, tapi tidak untuk anak yang tidak menurut, bahkan belum lama nenek bertengkar dengan Bibi ketiga dan sudah lama mengusir Bibi pertama dari rumah.
“Mungkin tiga sampai empat tahun lagi, aku juga bisa bertengkar sama nenek. Semoga jangan…seram!” batinku
“Sudah Nur?”
“Sudah, tapi ngomong-ngomong nenek sudah masuk ya”
“Iya biarkan saja. Oh iya aku baru ingat, tadi Ainur mau cerita apa di jalan?”
“Oh itu…sebenarnya…” kulihat Ainur gugup tidak ingin menceritakan masalahnya
“Cerita saja nggak apa-apa. Kalo ceritakan meringankan beban”
“Tadi siang aku melihat sosok laki-laki hitam di dapur, entah benar atau tidak….perasaanku tidak enak. Bagaimana ini Bar?”
“Ternyata benar, gitu ya jadi Ainur juga lihat. Nggak apa-apa paling dia cuma lewat, kalo ketemu lagi tinggal kita usir” kataku tersenyum untuk membuat Ainur tenang
Perasaan menganjal pun datang karena tadi siang pun aku melihat sosok penampakan itu menggunakan cermin Cindi.
Jantungku berdetak cepat setelah menceritakan hal itu, di saat yang bersamaan angin berhembus suara misterius mengiang ditelinga.
“Ngoooaaarrr” suara harimau mengaum
Suara misterus itu membuat jantungku kaget setengah mati, tapi entah kenapa aku tidak merasa terganggu.
Seperti perkataan kakek dulu, kurasa sudah waktunya bagiku, kalau memang begitu mental pertama kali harus ku ubah. Tidak perlu takut lagi dengan mereka karena aku pun punya senjata.
BAB XX PERSIAPAN SORE.... SELESAI
__ADS_1