
“Kak, hari ini ibu dan adik mau ke rumah nenek. Kakak tinggal di rumah sendiri tidak apa-apa kan?”
“Menginap?”
“Iya, tidak apa-apakan?"
Pagi itu aku rasa tidak ada masalah dengan kepergian semua orang di rumah, tapi aku salah, entah kenapa perasaanku tidak enak saat pulang sekolah.
(Sepulang sekolah)
Kedekatan kami mulai berubah, jauh dan menjauh, semakin lama aku dan Ainur jarang bicara. Meski begitu masih ada sedikit perasaan ingin kembali seperti dulu.
“Haaa, lebih baik langsung pulang saja”
***
Rumah ku istana ku, sebuah istilah yang banyak digunakan banyak orang untuk mengartikan tempat tinggal sendiri adalah yang paling nyaman.
Tapi belakangan ini aku merasakan sesuatu pada rumah ku, tidak aman atau hanya aku sendiri yang memang tidak aman.
“Apa aku ini sudah gila ya?” pikirku
Belakangan ini penglihatan dan mimpi ku semakin menjadi-jadi, bahkan sampai masuk dalam kenyataan hidup.
Aku melihat jam dinding, mengetahui waktu hampir magrib aku membersihkan diri, shalat dan makan malam.
Di akhiri dengan tidur malam jam 9, aku merasa rumah sepi dan sunyi, tidak ada orang pun di rumah.
“Tik..tik..tik” detikan jarum jam terdengar jelas
“Kuharap kejadian penampakan pocong dan tuyul seperti dulu tidak terjadi lagi” pikirku
Kesalahan bagiku karena mengingat kejadian menyeramkan itu, ketakutan mulai datang, walau hanya sedikit.
Melewatkan belajar malam dan bermain handphone, aku memaksa diri untuk tidur.
__ADS_1
“Bismillahirahmanirahim”
Di lanjutkan membaca do’a tidur aku memejamkan mata dengan nyenyak,
“Sudah berapa lama aku tidak tidur nyenyak seperti ini”
“Klik”
Beberapa menit aku tertidur dan bermimpi tentang penglihatan semu seperti di televisi, entah kenapa aku langsung bangun dari tidur.
“Hah?”
Semua gelap, saat itu aku pun berpikir bahwa ini adalah mimpi, lalu aku mencubit tangan dan pipi ku hingga dua kali.
“Sakit” pikir ku
“Mati lampu, sialan” tegas ku turun dari tempat tidur
“Krak” suara aneh terdengar
Tapi saat aku baru beberapa langkah turun dari tempat tidur, aku melihat kea rah jendela. Disana tergantung sebuah kain putih besar yang melayang.
Aku tahu mungkin hanya halusinasi ku, aku bahkan berpikir itu sebuah gorden penutup jendela yang hanya berubah warna.
Tapi logika masih berjalan saat itu, tidak mungkin warna akan berubah menjadi putih di dalam kegelapan. Dan seingatku warna gorden ku adalah hijau.
“Woahh” aku terkejut dan langsung berkemul selimut
Aku berpura-pura ketakutan, membaca doa dan dzikir, namun aku tidak tahu jam berapa saat itu.
Ini tidak bisa di biarkan berlama-lama, tidak bisa keluar dari situasi menyeramkan.
Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, jadi aku mengambil bantal yang berada di kaki dan menutupi kepala ku.
“Siinggg”
__ADS_1
Sunyi dan tenang, angin dingin terasa ke punggung meski sudah berkemul selimut.
Aku menunggu, dan terus menunggu mungkin selama 10 menit, terasa nafas ku habis, dan keringat mengalir.
“Klik” lampu kembali hidup
Cahaya mulai terang dari balik kemulan selimut, aku pun memberanikan diri membuka selimut dan melihat keadaan.
Lampu sudah hidup, ruangan putih ini kembali tenang, aku pun melirik jendela tempat sosok itu muncul.
“Benar saja, apa mungkin itu halusinasiku”
Tidak ingin kejadian terulang, aku mengambil handphone di meja belajar dan lompat ke tempat tidur, kupaksa mata ku kembali tidur.
Jam 3 malam saat itu, aku kembali lelap jam 3.15 dengan kipas angin yang hidup deras dan lampu rumah dan handphone ku biarkan menyala.
“Tit..tit..titt” suara alarm berbunyi
Jam 5 pagi adalah waktu aku bangun dan memulai aktivitas, namun saat aku bangun hari itu aku teringat kejadian malam dan menunggu jam agak lebih pagi lagi.
***
Mandi, shalat subuh, dan bersiap sekolah seorang diri di rumah, sangat sepi dan menegangkan.
Karena mengulur waktu, aku mungkin sedikit terlambat ke sekolah, karena itu aku akan berlari sekuat tenaga.
Namun sebelum aku pergi, aku masuk ke dalam kamar, kututup semua jendela dan pintu, setelah itu aku mematikan lampu.
Memang sudah tapi tapi sinar matahari masih belum bersinar terang masuk ke kamar, saat itu aku melihat kearah jendela dan benar saja tidak ada warna apapun.
“Lalu yang tadi malam itu apa?”
Aku pun merasa merinding saat itu dan secepat kilat ku hidupkan kembali lampu, ku buka pintu dan mengambil tas, keluar dari rumah dan menguncinya.
Tapi ada yang aku sengaja adalah membiarkan semua lampu hidup, hanya membutuhkan cahaya sampai semuanya kembali ke rumah.
__ADS_1
LAMPU ADALAH CAHAYA PENTING DALAM KEHIDUPAN....SELESAI