
(Sudut Pandang Ainur)
(Rumah Ainur, Palembang)
Ceritaku di dengarkan bahkan di tanggapi olehnya, senang karena di percaya oleh orang lain. Aku dan Akbar kembali ke rumah untuk mempersiapkan acara kelas, di perjalanan pulang kami berbicara dan sedikit bercanda.
Tanpa sadar sudah sampai di rumah, saat sampai beberapa teman sekelas sudah datang kebanyakan teman barisanku datang lebih awal untuk membantu.
Akbar sendiri tidak jadi pulang ke rumah karena aku ikut, alasannya karena ia ingin mandi terlebih dahulu. Karena itu setelah sampai di rumahku ia meminta izin untuk mandi di kamar mandi rumahku.
“Aku duluan ya” Akbar langsung masuk ke rumah menemui mama untuk meminta izin terlebih dahulu
Kulihat sepatu Papa telah ada di teras rumah yang artinya ia sudah pulang, daripada menunggu aku pun menyuruh mereka yang sudah datang menyusun barang-barang ditempat.
Setengah jam berlalu untuk menyiapkan semua tempat, belum termasuk meyiapkan bahan makanan.
Tikar di pasang, panggangan di isi arang, piring, sendok dan tusuk lidi disiapkan menunggu adzan magrib berkumandang.
Tinggal menunggu yang lain datang, menentukan apa lagi yang akan dilakukan.
“Wahh, sudah rame juga” Akbar keluar dengan rambut basah, mendekati Osama dan Ibra
“Cepat sekali kau datang bar? Apa jangan-jangan….?”
“Aku datang daritadi siang sih, olehnya ada urusan. Keluargaku juga liburan jadi di rumah sepi, toh numpang disini sampai sore, numpang mandi juga” ujar Akbar sambil tertawa kecil
“Hee ku kira ada apa-apa” goda Osama
“Terserah kau saja Os, tapi ngomong-ngomong ini mulainya jam berapa?”
“Nggak tahu. Ketua kelasnya saja belum datang” ujar Ibra
“Sip, kalo tunggu Bobi telatnya satu jam. Aku ke masjid dulu saja, bentar lagi magrib” kata Akbar yang berjalan menuju masjid di depan rumahku
“Sana yang lain juga shalat” tegas Agustina kepada para cowok disana
“Masih lama magribnya, adzan saja belum” Ibra memberi alasan
“Tapi kan lebih cepat lebih baik, banyak pahalanya”
Perasaanku mengatakan keanehan terjadi pada Akbar tidak tahu alasannya kurasa terjadi didalam rumah.
Jantungku tiba-tiba berdegub kencang ketika memikirkan Akbar, wajahku panas di udara sejuk senja yang sore. Apakah benar diriku ini merasakannya…bukan karena alasan tapi murni dari hati.
***
(Sudut Pandang Akbar)
(Masjid, Palembang)
Langkah kaki cepat seperti lari tak sesuai dengan jalan pikiran, akibat pertemuan tak terduga sebelumnya.
(FLASH BACK)
Sebuah sosok memperlihatkan diri di bayangan gelap kamar mandi, mata merah menyala, aku sendiri sedang mengosok punggung menggunakan sabun sampai akhir aku terperanjat tak bersuara melihat nampaknya
Tak ada angin atau suara ia sudah berada disana seperti mengawasi, namun aku beruntung ketika mengedipkan mata untuk menyadarkan diri akan kenyataan atau mimpi ia sudah menghilang dari hadapan.
“Tadi mimpi bukan?” pikirku
Mandi yang tujuan untuk membersihkan diri, tapi tak berarti lagi. Ku ambil gayung secepat kilat, langsung ku isi dengan air dan ku guyur ke kepala. Tak merata ke seluruh tubuh, aku pun merasa sabun masih ada di punggung.
__ADS_1
Kupakai baju dan celana secepat mungkin tapi berhati-hati sambil melirik kesana-kemari mencari apakah sosok itu akan kembali.
“Brak” pintu kamar mandi ku buka dengan keras
Setengah jam kurang aku berada di kamar mandi karena kamar mandi Ainur dekat dengan dapur kurasa hatiku bisa tenang.
Pikiran positifku berubah melihat dapur tidak ada orang sama sekali, keluarga Ainur berada di ruang tengah sementara teman sekelas berkumpul di depan.
“Danc* sepi amat” pikirku
Ku percepat langkah menuju depan rumah agar di penuhi keramaian sampai tidak mempedulikan pintu kamar mandi kututup.
“Haaa” aku memperlambat langkah ketika berpapasan dengan ayah, ibu dan adik-adik Ainur sedang menonton Televisi bersama-sama
Ketika sudah mencapai pintu keluar, aku menghela nafas dan berusaha bersikap biasa.
“Wahh, sudah rame juga” kataku habis keluar rumah, mataku melihat Osama dan Ibra yang sedang bersama segera kuhampiri
“Cepat sekali kau datang bar? Apa jangan-jangan….?”
“Aku datang daritadi siang sih, olehnya ada urusan. Keluargaku juga liburan jadi di rumah sepi, toh numpang disini sampai sore, numpang mandi juga” ujarku sambil tertawa kecil
(FLASH BACK END)
Aku berpikir jika bisa menenangkan diri di masjid untuk melupakan masalah sejenak, waktu magrib sendiri masih 15 menit lagi.
Sambil menunggu aku teringat sesuatu…sebuah hal lama yang hilang. Kuambil Al-Qur’an dan membacanya sambil mencari-cari ayat yang diajarkan oleh kakek dahulu ketika aku masih kecil.
“Nah ini dia” kucari berbagai surah hingga kutemukan sebelum adzan magrib berkumandang
“Bismillahirahmanirahim”
***
(Sudut Pandang Ainur)
Malam telah datang, suara keramaian dari perkumpulan mulai memekakan telinga. Aku menyarankan agar wanita yang tidak berhalangan untuk shalat bergantian di dalam rumah.
Sementara lainnya mempersiapkan perlengkapan, walau ada beberapa laki-laki yang masih berada disini tidak menunaikan ibadah.
“Siapa yang selanjutnya mau shalat” kataku sehabis keluar dari pintu
Di saat itu bertepatan dengan kelompok laki-laki yang pulang dari masjid.
“Aku saja”Rahmadania di ikuti dengan Bunga izin memakai tempat untuk shalat
“Oke, nanti tanya sama Mamaku saja ya” ujarku
Kulihat kembali, persiapannya sudah bisa dibilang selesai, hanya bahannya saja belum datang
“Ngomong-ngomong Bobi belum datang ya?” tanya Ergan
“Belum, tidak tahu kemana dia” aku menjawab Ergan
Ternyata benar saja dugaanku, jika menyerahkan masalah kepada orang bernama Bobi itu pasti akan berantakan.
Namun mau bagaimana pun dialah yang menyarankan acara ini dan ia juga adalah ketua kelas.
“Memang apa saja yang ada di Bobi?”
“Sosis, jagung, sama daging” kata Haliya yang tiba-tiba menjawab
__ADS_1
“Daging? Mahal tidak? Buang-buang uang saja” kata Ergan dengan argument yang tidak setuju dengan adanya daging
“Ndak tahu, kan Bobi yang beli”
Percakapan mulai terbuka, kurasa acara sudah mulai sebelum tibanya namun tidak apa karena memang itu tujuannya. Aku pun mendekati Dedek untuk berbincang-bincang dengannya.
“Dek, yang kemarin bagaimana?” aku menanyakan benda yang kulihat di Mall kemarin
“Boleh Ainn, bagus juga” Dedek terlihat sangat bersemangat ketika aku mengajaknya bicara tentang benda kesukaan wanita itu
“Haaaa” suara orang menguap hingga semua orang bisa mendengar
“Sorry” Ibra meminta maaf dengan tawa kecil
Penglihatanku teralihkan saat Akbar datang mendekatiku, “Nur numpang nge-cash HP ya. Tinggal 10 % olehnya”
“Iya laju la”
“Brumm…brumm” suara keras gas sepeda motor terdengar seperti disengaja
Semua pandangan pun tertuju pada seseorang yang datang dengan motor maticnya, tapi walaupun wajahnya tertutup dengan helm semua pasti sudah tahu siapa ia. Dari bentuk tubuhnya saja sudah dikenali, sampai ia sendiri menyapa kami.
“Halo gais nunggu ya” suara yang tak lain adalah Bobi si ketua kelas
Tahu akan kedatangannya, kami semua berpura-pura tidak peduli sampai satu orang mendekatinya, tidak lain adalah Ergan.
Entah ada urusan apa dengan Bobi, seharusnya Ergan menunggu saat Bobi menyadari kesalahannya. Dimana ia sendiri terlambat di acara yang dibuatnya, terlebih lagi ia hanya membawa sosis dan beberapa jagung.
“Bar tolong bantu” Bobi memanggil Akbar dari kejauhan
“Bawa sendiri, aku mau charge HP dulu” Akbar langsung masuk ke dalam rumah tanpa merasa bersalah
Ergan yang di dekatnya, tanpa disuruh membawa dan membawakan bahan yang dibawa Bobi.
Tapi di saat itu ia sadar akan ada barang yang kurang,
“Cuma ini Bob?, mana dagingnya, katanya ada daging?” tanya Ergan
“Wush daging mahal boy, mau bayarin”
“Lah tapi…” Ergan sudah tidak ingin menanyakan sesuatu kepada Bobi
Akbar yang sudah men-charge HP mendatangi mereka berdua, begitupun kami semua mulai mendekat.
“Mana sini aku bantu” Akbar mengambil wadah berisi jagung “Ehmm, kok cuma lima Bob jagungnya” tanya Akbar
“Cukup lah itu, kalau di bagi dua kan jadi 10. Yang tidak kebagian kan bisa makan sosis” jelas Bobi yang tidak mau kalah dalam bicara
“Hemm, lalu dagingnya?” ekspresi Akbar mulai datar seperti sudah tidak ingin meladeni Bobi
“Daging mahal Bar, mau bayarin…”
“Oke, oke aku paham. Makasih Bob” Akbar dengan ekspresi terpaksa tersenyum kepada Bobi, “Oh iya jangan lupa catat harga-harganya, awas sampai korupsi ya” tiba-tiba Akbar membuat kami takut tapi tidak dengan Bobi ia menganggap Akbar bermain-main
Yah sebenarnya Bobi itu orang keras kepala, suka berbohong dan malas, orang yang dapat menghadapi Bobi kurasa hanya Akbar sosok berbanding terbalik dengannya.
Setelah setahun duduk sebangku kurasa mereka dapat berteman dengan baik, terutama Akbar yang harus menghadapi sifat negative Bobi dan berusaha membantu Bobi di saat kesusahan meski terpaksa.
Mereka mempererat pertemanan dengan kebencian dan ke-terpaksaan tapi dengan itu kejujuran dan ikatan terbentuk walau harus berdebat dan bertengkar saat bertemu.
BAB XXI PERSIAPAN MALAM.... SELESAI
__ADS_1