
(Desa xxxxx, Pagar Alam)
Suara jangkrik terdengar dari rerumputan, nyaring dan menenangkan. Seperti biasa aku melakukan ronda sesuai jadwal hari ini.
Berbekal sarung, senter dan pentongan aku dan Lutfi berkeliling berjaga. Tidak banyak yang bisa dilakukan hanya berkeliling dari pos ronda sampai kembali.
Di tempat itu pun ada 2 orang lagi yang berjaga, bergantian setelah kami. Sisa malam akan digunakan untuk bermain catur atau kartu.
Sebelum itu kami harus menyelesaikan tugas berkeliling. Desa ini berada di pinggiran kota, sawah dan pohon besar masih sangat hijau.
Meski begitu saat malam desa ini sangat sepi, dan jam 4 pagi baru ada suara aktivitas manusia.
("Ngomong-ngomong ini cerita paman penulis yang tinggal di desa saat ikut ronda. Dia dan teman nya ketemu Kunti di atas pohon, lalu saat melewati kuburan ada pocong berdiri di pinggir nisan")
"Lut, ini malam kok dingin sekali ya"
"Iya ni pak, padahal tadi siang panas sekali. Apa mau hujan ya?"
"Nggak tahu juga, tapi kalo ujan bisa gawat juga untuk kita"
"Krasak...krasak" suara plastik terdengar
__ADS_1
Kami berdua mendengar tapi tidak memperdulikan, terus jalan dan menganggap itu adalah kucing.
"Khi..hi..hi..hi"
Kembali terdengar sumber suara, namun kali ini adalah tawa seorang wanita. Di cari oleh kami dari mana suara itu, aku hanya melihat kanan dan kiri.
Sampai Lutfi menarik-narik bajuku dan menunjuk ke atas pohon tampak ketakutan.
"Pa...pak, itu...itu..."
Aku pun ikut melihat ke atas, betapa terkejutnya aku melihat sosok wanita putih, wajahnya robek dengan rambut panjang menutupi.
Awalnya kami berdua bersikap supaya tidak terlihat ketakutan. Namun nyali kami terkikis sedikit demi sedikit, dan akhir dari keberanian ku adalah ketika Lutfi berlari duluan.
"Allahu Akbar..." aku mengucap takbir dan ikut lari
Aku pun berpikir bahwa jalan ini dekat dengan kuburan umum, mungkin dia adalah penunggu. Saat aku memikirkan itu bersamaan lari, aku berhenti di pinggir jalan tepat di depan kuburan.
Mataku mungkin memakai kacamata karena banyak melibatkan laptop dalam pekerjaan. Namun penglihatan ku masih baik walau di malam hari.
Sosok putih tinggi berdiri di samping salah satu kuburan. Aku tidak melihat wajahnya, tapi tali di atas kepala dan tubuhnya adalah bukti.
__ADS_1
Pocong, berdiri disana. Aku tidak melihat Lutfi lagi di depan mata, lanjutkan saja lari sampai pos ronda.
"Setan!"
Teriak ku di malam sunyi itu, namun tidak masalah jika itu melepaskan ketakutan. Kuntilanak dan pocong di saat yang sama, sebuah kesialan harus ronda malam ini.
"Hah...hah" aku hampir sampai di pos ronda
Entah apa khayalanku tapi saat aku hampir sampai, pos ronda itu serasa menjauh jarak. Teman-teman yang lain pun seperti menjauh, namun terus aku langkah kaki untuk berlari
Beberapa detik aku pun sampai dan berjongkok mengambil nafas. Saat aku kembali, Lutfi menceritakan bahwa ia dan aku baru saja melihat penampakan kuntilanak.
Semua terkejut dan tidak percaya, namun mendengar aku juga menceritakan hal sama dan di tambah dengan melihat pocong di kuburan. Pertimbangan keputusan untuk percaya pun ada, tapi untuk memeriksa benar atau tidak kami semua kembali ke TKP.
Mencari apakah makhluk itu masih ada disana atau tidak. Saat melintas jalan itu lagi, aku merasakan jika seseorang menatapku.
Seperti tidak terjadi apa-apa setelah kami memeriksa kembali. Kuntilanak itu tidak ada di atas pohon, dan pocong itu tidak lagi berdiri di sana.
***
Keesokan harinya berita pun menyebar ke warga sekitar. Dan memang ada cerita bahwa jalan itu sering di temui hal-hal aneh, tapi tidak menggangu.
__ADS_1
SELING 4....SELESAI