
(SMA XX Palembang, JUM’AT, 10.30 WIB)
(Sudut Pandang Ainur)
Ada banyak pernyataan dari orang-orang, “aku melihat itu disana” sambil menunjukkan jari dengan raut wajah ketakutan.
Lalu orang lain pasti menjawab, “Ada apa? Tidak ada apa-apa kok”, “Ah angin mungkin” “Salah lihat mungkin”
Padahal mereka tahu dan merasakan hal sama saat seseorang membicarakannya, lalu jika mereka melihat disaat itu juga.
Bukti nyata membuat adrenalin mereka terguncang dan menelan ludah sendiri, sayangnya sedikit kasus yang seperti itu mungkin karena kemampuan manusianya atau kemampuan makhluk halusnya.
Pengalaman berharga nan pahit telah dialami, orang-orang mana pun pasti terkejut bukan kepalang akan kejadian menyeramkan.
Didalam kelas Sanjaya duduk termenung mengingat kembali penampakan kemarin di rumah Putri. Kelas ramai akan suara bising teman-temannya namun pikirannya tidak bisa melupakan hari kemarin.
“Sanjaya ada yang cari nih” panggil seorang temannya
Lamunan Sanjaya lepas setelah melihat kedatanganku dan Putri, secara cepat ia mengeret kursi ke belakang untuk mendekati kami.
Kulihat raut wajahnya masih trauma dan syok, mungkin lebih baik tidak perlu membahas masalah kemarin.
Bagiku dan Putri seperti telah biasa mengalami hal ini, namun aku harus berpikir lebih bijak agar tidak mencelakai diri dan orang lain.
Informasi atau bahkan bukti telah aku dapatkan, selanjutnya adalah menceritakan dan mendiskusikan masalah Putri bersama dengan Akbar.
Sanjaya yang telah terlibat kuminta untuk ikut lebih dahulu untuk mengetahui jawaban dan keinginannya ke depan. Apakah ia ingin ikut atau berhenti.
“Sekarang kita kumpul dulu untuk diskusi dengan Akbar” ujarku
Tentu Putri apalagi Sanjaya memasang raut bingung dan bertanya-tanya, kenapa harus Akbar.
Putri sendiri tahu, namun awalnya ia mengira Akbar tidak bisa membantu dan hanya Ainur yang bisa. Jika Akbar dapat bergabung hasilnya akan berbeda (emang gua dukun).
Langkah kami pun bergegas ke kelas untuk mencari Akbar, kami bertiga masuk bersamaan seketika kelas terdiam dingin dan memandang kearah kami.
Namun hal itu langsung pecah setelah suara Raihan dan Akbar yang mengejutkan semua walau hanya bermain Catur.
“Wahhhh hampir danco*” kata Raihan
“Woi undo…undo” teriak Akbar
“Emang game apa bisa ada tombol undo” ujar Raihan ke Akbar
“Salah gerak cok”
“Eittss tidak bisa, kalah tetaplah kalah. Ayo hukumannya pak ketum”
Akbar kalah lagi melawan Raihan, entah kenapa aku bingung ketika mereka bermain selalu saja ribut.
Aku menghampiri Akbar yang sedang melakukan hukuman push-up, Akbar yang berkonsentrasi tidak melihatku.
Setelah selesai aku pun tidak sabaran dan menariknya,
“Lho nur kenapa?” tanya Akbar akan alasan
__ADS_1
“Sudah ikut saja” kutarik lebih kuat lengan kanan Akbar
“Dak apa pak ketum lanjut saja, giliran aku dan Abdul juga”
Hari menjelang siang, kami ber empat bolos jam pelajaran ke tiga, duduk di taman baca tanpa orang lain di dekat. Waktu telah habis, langsung saja ku jelaskan semua saat Akbar bertanya.
“Jadi, ada apa?” tanya Akbar
“Aku mau cerita tentang rumah Putri…kemarin kami datang kerumahnya…dan ternyata benar…”
Belum selesai awal aku cerita, Akbar memotongnya dengan pertanyaan, “Tunggu dulu aku dari tadi penasaran, kok ada Sanjaya disini?”
Benar juga, maka kujawab pertanyaan Akbar dengan cerita yang mundur lebih ke belakang sebelum kami datang ke rumah Putri.
Mulai dari awal, tekanan dan aura rumah besar berbeda, lalu sedikit demi sedikit mulai muncul gangguan, dan akhirnya kemunculan sosok hitam pekat yang sangat menyeramkan.
Sosok penghuni rumah besar dan angker itu, ku jelaskan cirri-ciri wujudnya, kedatangan, dan bisa dibilang auranya.
Keterlibatan Sanjaya pun ku ceritakan, dan di akhir cerita aku bertanya dengan Sanjaya, “Jadi Sanjaya kau masih ingin ikut atau tidak?”
Cerita berakhir dengan kesunyian, ceritaku mungkin agak di lebih-lebihkan tapi tetap saja fakta dan mereka berdua tidak meyangkal.
Sanjaya sendiri terdiam lemas karena teringat kembali kejadian kemarin, matanya berlinang harapan dan air mata.
Akbar sendiri diam sambil berpikir serius, aku dan Putri hanya saling berpandangan satu sama lain.
“Begitu rupanya, walau hanya sebentar makhluk itu tetap muncul di hadapan kalian dan itu pun dengan sosok penuh"
"Tapi karena Putri sering melihatnya kurasa itu bisa jadi alasan, tapi masalahnya adalah hal yang harus kita lakukan ke depannya”
Aku dan Putri menganggukan kepala setuju akan kata-kata Akbar,
“Meski begitu ini berbeda dengan menghadapi orang kesurupan, ada kemungkinan kita akan gagal 100% dan nyawa kita jadi taruhan jika aku mendengar cerita Ainur tadi”
“Apa rencanamu Bar?” tanya Putri sambil menggenggam kedua tangan
“Aku masih belum kepikiran rencana karena tidak tahu penyebab hantu itu masih di dunia, maka dari itu pertama-tama kita harus cari tahu penyebab sosok itu bergentayangan di rumah Putri"
"Setelah tahu penyebabnya kita akan ukur dan buat rencana, jika penyebab penunggu rumah itu sangatlah berbahaya seperti pembunuhan atau persugihan lebih baik kita menyerah dan buat Putri pindah dari rumah itu”
Benar…semua yang dikatakan Akbar masuk akal, walau dia dan Putri memiliki kemampuan tapi mereka bukan orang yang bergelud di bidang spiritual.
Jalan satunya jika tidak berhasil adalah lari dan menyerah, aku pun berpikir untuk membawa orang dewasa sebagai penjaga. Namun Putri yang bilang jangan melibatkan orang dewasa jadi aku tidak melakukannya, bisa saja seorang ustadz mengusirnya.
“Jadi hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari penyebab sosok itu bergentanyangan, disini aku minta Putri untuk melakukannya”
“Eh, maksudnya?”
“Kau bisa melihat masa lalukan?, kita gunakan itu”
Putri mengangguk dan aku hanya melihat, tapi berbeda dengan Sanjaya.
“ Tung…tunggu dulu maksudnya apa bisa melihat masa lalu?”
“Ah benar juga aku lupa lagi sama Sanjaya, sebelum itu apa jawabanmu? Jika kau ikut maka aku akan bilang tapi jika kau berhenti maka lebih baik kau tidak perlu tahu dan rahasiakan ini”
__ADS_1
“A..a..aku ikut”
Entah keputusan bulat atau ragu-ragu dibuat oleh Sanjaya membuat kami merasa terbantu, lebih banyak orang lebih baik. Perasaan untuk melindungi orang lain saat bahaya itu sulit, jika memang ia merasa seorang pahlawan barulah ia bisa.
Manusia biasa hanya bisa menolong diri sendiri dalam situasi bahaya dan ketakutan, tak bisa memikirkan orang lain hanya ada “aku harus selamat”.
Pilihan Sanjaya adalah buah pikirnya bukan karena terpaksa, aku pun merasa ia hanya penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi disini.
Bukan hak ku untuk menjelaskan namun Akbar adalah orang yang tepat untuk melakukannya. Ia tidak ingin di jadikan pemimpin, padahal ia mempunyai ketegasan, keberanian dan kebijaksanaan.
Tapi kali ini berbeda, jika oraganisasi yang ia pegang itu mudah mengurusnya, tak perlu mempertaruhkan nyawa. Kami berdua hampir mati karena sok-sokan membantu Cindi menyelesaikan masalah hantu penunggu sekolah.
Arwah gentayangan dan hantaman keris hampir menghilangkan nyawa, lalu aku bertanya-tanya saat itu kenapa kami bisa?...sampai akhirnya kami menjadi candu dan merasa hebat untuk membantu orang lain dalam gangguan makhluk halus.
Beruntungnya Akbar masih sadar, setelah pindahnya Cindi kami bukan siapa-siapa melainkan hanya anak remaja yang sedang mengalami pubertas.
“Yah kalo itu jawabanmu, berarti kau ikut. Sebelum itu ayo kita perkenalan diri masing-masing, toh kita pasti belum kenal satu sama lain"
"Pertama dariku, namaku Akbar mungkin kalian kenal apalagi Ainur dan Sanjaya. Aku terus terang bisa melihat mereka, lalu soal kemampuan aku bisa melihat masa depan melalui mimpi, tapi itu dalam potongan-potongan kecil”
Akbar berhenti dan melihat ke arahku, “Aku Ainur, aku juga bisa melihat makhluk-makhluk halus, aku juga memiliki kemampuan berkomunikasi dengan mereka dengan cara merasuk ke dalam tubuh”
Ketika aku dan Akbar selesai tentu Sanjaya terkejut bukan kepalang, ia tentu tidak percaya kata-kata kami. Namun tak ada waktu untuk menjelaskan, bukti telah di lihat sendiri.
“Boleh aku bertanya Sanjaya? Jika kau dalam bahaya dan di depan hanya ada pilihan lari sendiri dan menyelamatkan orang lain, mana yang kau pilih?”
“A..aku tentu akan lari sendiri”
Mendengar jawaban Sanjaya tentu aku sangat kecewa namun Akbar diam sebelum memutuskan.
“Sip, kita sama. Aku juga setuju dengan jawabanmu. Ingatlah pilihanmu itu saat kita dalam bahaya, tidak perlu berpikir mejadi pahwalan yang menolong orang lain. Tolong dirimu dulu baru orang lain”
“Eh” tentu kami bertiga bingung namun aku mengerti perkataan Akbar
“Jadi ke depannya bagaimana?”
“Karena kita dapat tambahan satu anggota lagi kita tidak perlu takut, untuk jaga-jaga juga kita pergi siang hari. Untuk hari nya Minggu saja”
“Kenapa tidak Sabtu, kita juga libur” ujar Putri
“Ah itu karena aku ada lomba hari Sabtunya, karena aku ketua mustahil aku tidak hadir”
“Hari minggu terlalu lama, tidak mungkin juga kita selesaikan dalam satu hari. Orang tua ku akan kembali senin depan, jika kita tidak cepat mahkluk itu akan menjadi lebih berbahaya”
Kami kembali diam, Akbar tidak punya pilihan tentu hati bimbang. Bagiku Akbar adalah kunci utama tim ini, jika ia tidak ada kekosongan besar akan terjadi.
“Baiklah, Sabtu mungkin aku bisa tapi agak sore makanya aku akan menyusul. Kalian bisa pergi lebih dulu dan selidiki hantu itu. Apakah ada yang ingin ditanyakan?”
“Boleh aku minta penjelasan sekali lagi” ujar Sanjaya
Lalu akbar kembali menjelaskan rencana kami, tepat tengah hari hari Sabtu kami bertiga pergi lebih dulu ke rumah Putri sementara Akbar akan menyusul nantinya.
Tujuan utama nya adalah menyelidiki latar belakang atau penyebab munculnya makhluk itu menggunakan kemampuan Putri. Setelah semua selesai kami pergi tanpa harus bertemu dengan makhuk itu.
Aku pikir itu adalah rencana mudah dan menegangkan, namun hasil akhirnya sangat jauh dari bayangan. Kami semua hampir saja mati karena hal yang seharusnya tidak kami lakukan.
__ADS_1
BAB XXXIV DUNIA LAIN ADALAH SATU TEMPAT YANG SAMA....TAMAT