INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XXXI MURID BARU ITU TERLALU JAUH


__ADS_3

(Sudut Pandang Ainur)


Rintik hujan masih turn dari atas langit, ketegangan sedikit turun dengan redanya badai. Istirahat kuhabiskan dengan berada di dalam kelas.


Aku mengatakan kepada Akbar untuk membicarakan sesuatu namun ia menghilang ketika guru keluar kelas.


“Haahhh” aku menghela nafas


“Nih” sekotak susu disodorkan kepadaku


Aku melihat siapa yang memberi, wajahnya tertutup oleh gelapnya cuaca dan ruangan meski begitu aku tahu itu Akbar.


“Aku tidak minta di belikan kok”


“Nggak apa-apa, tadi sekalian. Oh mau roti juga”


“Tidak terima kasih, susunya saja kuterima”


Kuambil dan kuminum susu kotak pemberian Akbar, coklat rasa kesukaanku menambah ketenangan dalam diri.


“Jadi mau bicara tentang apa?” tanya Akbar


Aku mengira ia sudah lupa dengan janji yang dibuatnya,


“Ituu…masalah tentang Putri. Sebenarnya aku mau bicara ditempat lain sih supaya tidak terdengar orang lain” bisikku kepada Akbar


Akbar sendiri mengerti dan mengajakku bicara di luar, ketika melangkahkan kaki keluar dari pintu kelas udara dingin terasa menusuk kulit. Kami bicara empat mata di sudut pagar lantai, tempat cukup sepi untuk serius.


“Jadi?”


“Ini masalah Putri, kau tahu…sebenarnya Putri itu punya kemampuan yang sama seperti kita. Tidak…malah lebih hebat lagi” kataku dengan bersemangat


“Maksudnya dia bisa melihat hantu-hantu kayak kita?”


“Iya, tapi bukan itu saja. Ia juga bisa melihat masa lalu”


Akbar terkejut sekaligus bingung, ekspresi yang sudah aku duga sebelumnya,


“Percaya atau tidak aku sudah merasakan kemampuan Putri sendiri”


“Begitu ya”


“Eh, kau percaya?”


“Em, tentu. Kalau Ainur yang bilang tentu aku percaya”


Mendengar hal itu jantungku berdegub kencang, malu akan perkataan Akbar percaya padaku.


Kuceritakan semua hal mengenai Putri dari yang ia sendiri ceritakan kepadaku. Pribadi, keluaga, dan beberapa masa lalu dari Putri kuceritakan pada Akbar.


“Tapi melihat masa lalu ya, aku tertarik sih tapi…pertanyaannya kenapa Ainur cerita padaku?”


Kepekaan luar biasa dari seorang Akbar membuat wanita sepertiku takut, tentu bukan kemampuan Putri yang ingin aku bicarakan tapi mengenai masalah yang ia alami.


“Begini aku dan Putri sudah jadi teman dekat, tapi belakangan ia sedikit aneh aku jadi sulit mendekati dia”


“Yah aku juga merasakan hal sama, dia seperti kurang sehat sejak dari hari Senin”


“Wow benar-benar cowok peka” batinku


“Jadi aku pikir dia punya masalah gitu, karena orang tuanya jarang dirumah dan dia sering sendiri aku jadi takut. Aku mau bantu Putri” jelasku


“Boleh, tapi lebih baik jangan terlalu ikut campur dalam masalahnya. Lebih baik biar dia sendiri yang menyelesaikannya, Ainur sendiri masih ingat kan kejadian saat kita ke rumah orang tua korban tragedi sekolah dengan Cindi”


Aku mengangguk,


“Kita dalam bahaya karena terlalu ikut campur, Akbar juga sudah merasa kalau Putri itu berbeda dengan orang lain, jadi Akbar takut kejadiannya sama seperti dulu”


Akbar mengatakan hal itu karena khawatir akan kejadian lalu terulang kembali, memikirkan akan apa langkah selanjutnya tentu saja sulit.


“Kalau begitu aku harus bagaimana?”


“Yah kurasa sekarang lebih baik kita bertanya terlebih dahulu apa masalahnya, lalu kita bisa memberikan saran dan sedikit bantuan”

__ADS_1


Rancana pertamaku sama dengan Akbar, entah kenapa laki-laki ini menjadi sangat pintar dan lebih dewasa dari sebelumnya.


“Baik, kalau begitu nanti aku tanya Putri”


“Tapi maaf ya aku tidak bisa bantu sekarang, minggu depan masih ada lomba jadi kalau ada masalah bilang saja”


***


Sepulang sekolah aku menghampiri Putri yang menunggu ojek online pesanan di depan gerbang. Kesempatan untukku membicarakan sesuatu padanya, berusaha membantunya.


“Put” panggilku


“Eh iya Nur, kenapa?”


“Nggak”


Semua pertanyaan dan penyataan yang telah kusiapkan tidak dapat keluar dari mulutku, entah karena bingung dan canggung aku tidak bisa bicara.


“Put kamu tidak apa-apa? Wajahmu tampak pucat” tanyaku untuk membuka pembicaraan


“Eh aku tidak apa-apa kok. Cuma sedikit kurang tidur aja”


“Kurang tidur? Kenapa? Kamu begadang buat belajar ya?”


Putri tampak bingung, tapi dari ekspresinya aku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu. Bukti ia tidak bisa menjawab dengan cepat pertanyaanku.


“Sebenarnya…ini agak sulit. Yang satu ini belum aku ceritakan pada Ainur”


“Em?” aku tidak mengerti maksud Putri


“Aku mau cerita sama Ainur sebentar, tapi jangan disini”


Kami berpindah tempat ke kelas 12, terdapat kursi duduk kayu yang panjang cocok untuk tempat bicara.


“Sebenarnya, belakangan ini Putri di ganggu oleh makhluk halus. Ainur tahu kan kalau Putri baru pindah ke daerah ini belum lama”


‘Iya”


“Rumah yang Putri tempati itu ternyata ada penunggunya, tapi anehnya hantu itu selalu muncul setiap malam tanpa ada tanda-tanda kedatangan. Selain itu hawa jahatnya juga besar membuat Putri takut, orang tua Putri selalu bekerja dan jarang pulang kerumah”


“Putri tahu bentuk dan rupa makhluk itu?”


“Iya, Putri pernah melihatnya beberapa kali, bentuknya besar dan memakai kain hitam, terdapat tanduk di kepala dan bisa terbang kesana kemari”


Bulu kudukku berdiri mendengar cerita Putri, bukan hanya aku tapi cuaca pun ikut menambah keseraman ceritanya.


Hujan rintik kembali turun bersamaan angin dingin masih terasa walau sudah memakai jaket.


“Kenapa tidak beritahu orang tua Putri saja, bahkan lebih baik pindah rumah?”


Putri menggelengkan kepala tahu maksud diriku,


“Tidak ah, Putri tidak mau merepotkan orang tua Putri lagi”


Benar, sebuah peristiwa mengerikan terjadi pada masa lalu Putri melibatkan banyak orang. Kini masa lalu itu sudah di kubur dan tidak pernah terdengar lagi sekarang, tapi ia menceritakannya padaku…dimana saat ia hilang atau menghilang….lebih tepatnya diculik….diculik oleh makhluk halus.


(FLASH BACK)


(Putri 6 Tahun, Bandung)


Ingatan akan sebuah peristiwa saat umurku telah beranjak 6 tahun, memang aku sedikit melupakan lanjutannya namun sebelum peristiwa itu aku masih ingat jelas.


Kedua orang tuaku selalu pergi bekerja, sejak umur 3 tahun aku dititikan bersama nenek. Saat ayah dan ibu pulang itulah saat paling membahagiakan bagiku, walau mereka pulang larut malam aku tetap bangun dari tidur untuk bertemu mereka.


Karena saat besoknya mereka akan pergi lagi, dan siklus itu terus berlangsung sampai aku kesepian. Taman kanak-kanak adalah tempat menempa ilmu pertama bagi anak-anak, dan saat itu aku juga sudah berpikir ingin berteman dengan seseorang.


Memang benar aku mendapatkan beberapa teman, tapi lama kelamaan mereka menjauhiku. Tidak tahu salah apa diri kini aku menjadi sendirian, belajar bersama teman di kelas adalah salah satu hal yang bisa membuat aku senang.


Disana aku bisa mendengar suara-suara keributan dari teman-teman di bandingkan dengan rumah besar dan sunyi, disana aku melihat banyak anak-anak bermain walau aku tidak ikut bersama, daripada di rumah besar dan sepi.


Kusadari aku menjadi aneh, hati dan pikiran tidak sejalan seakan membakar diri. Aku ingin marah, menangis dan melampiaskan semua amarah.


Seseorang…walau hanya satu orang untuk aku percaya, agar aku bisa sedikit bercerita tentang hari ini, tentang semua hal yang kulalui.

__ADS_1


“Hei, mau ikut main denganku?” ajak seseorang yang wajahnya kuingat hanya tertutup oleh bayangan hitam


Aku berdiri dan mengikutinya dengan penuh semangat dan kesedihan, berharap ia tidak sedang berbuat jahat.


Saat itu aku ingat, menunggu di depan taman bermain TK, sendirian dengan awan mendung. Ia mengajakku ke sebuah rumah tua yang agak dekat dengan TK, bangunan dua tingkat dengan tembok dan lantai tua dan berlumut.


Dari luar terlihat tanaman merambat sudah menjalar tidak terkira panjangnya, lantainya pun kotor dan berserakan sampah di luarnya.


Saat itu aku tidak tahu bahwa rumah tua itu dekat dengan kuburan tua, anak kecil tidak memperhatikan hal seperti itu dimana tempat atau waktu.


“Nah disini kita main” ujarnya dengan nada semangat tapi terdengar dingin


Di dalam rumah besar itu aku melihat banyak anak-anak berkumpul, ada umurnya sama dengan ku sampai anak umur 7 tahun-an. Aku hanya mengingat jumlah mereka sekitar 10-15 orang, disana aku diajak oleh mereka bermain.


Tidak pernah kupikrkan jika hal aneh terjadi, aku hanya senang bisa bermain bersama mereka. Meski aku tidak pernah menanyakan siapa nama, dimana mereka tinggal, atau kenapa bermain disini.


Aku….cuma ingin bermain, berlari bersama teman, melompat dan bermain petak umpet bersama. Semua itu kurasakan saat bersama mereka semua, walau hanya satu hari.


Tak teringat akan kesedihanku, dan sebuah kesalahan besar kuambil saat itu, di dalam hati aku berniat untuk selalu bersama mereka.


“Aku senang” ujarku kepada mereka


“Kami juga…iya…kami…juga…hahahaha” terdengar suara tawa mereka


Rumah tua itu selalu gelap, aku kembali teringat untuk pulang ke rumah…ayah dan ibu. Namun saat itu tubuhku lelah dan tanpa aba-aba mengambil posisi tidur dilantai kotor.


Sebelum mataku terlelap semua, aku menatap mereka sekali lagi agar bisa juga berada dimimpi. Tapi bayangan akan mereka berubah, mereka berubah…kulihat…tubuh…pakaian…dan tatapan mereka…menakutkan.


Pakaian noni Belanda dengan darah di bawah gaunnya, makhluk kecil dengan tubuh warna putih dan lidah panjang, makhluk tinggi tanpa kepala mengarah kepadaku seakan mereka ingin memakan. Sebelum sadar hal itu mata tertutup karena kelelahan, seperti ada sihir tidur kepadaku.


“Tong….tong….tong…”


“Tok….tok….tok”


Suara berisik dari kentungan dan panci terdengar, telinga seakan menisyaratkan untuk bangun tapi mata dan tubuh masih tidak merespon.


“Dek Put….Dek Put bangun” seseorang membangunkan tapi aku tetap tidak bisa bangun


“Putri bangun….Put” suara ayah dan ibu memanggil


Sentuhan dari tangan ayah dan ibu di tubuh membangunkanku, kupeluk mereka berdua seperti anak kecil pada umumnya.


Namun setelah itu yang kulihat adalah sebuah hal besar, di depanku banyak warga berkumpul ada di dalam rumah tua dan juga masih tersisa di luarnya.


Aku bertanya-tanya dan kebingungan pada diri sendiri, sebenarnya apa yang terjadi?


“Put kamu kemana saja? Kok kamu ada disini?” tanya ibu


“Aku main sama teman-teman bu disini” ujar polosku


Semua orang saling melihat satu sama lain begitu pula ayah dan ibu, setelah hari itu orang tua melarang aku bermain di luar.


Belajar….bermain piano….melukis….dan belajar….setiap hari. Tak ada teman hanya sebuah suara dari radio dan televisi selama 6 tahun, lalu keluargaku berpindah-pindah tempat karena pekerjaan.


Walau sempat merasakan sedikit dari pertemanan mereka seakan menjauh dariku, begitulah seterusnya ketika aku berpindah daerah.


Pada umur 7 tahun aku akhirnya tahu akan kebenaran dari peristiwa itu….para warga mencariku dikarenakan aku hilang.


Ingatan yang aku rasakan bermain satu hari penuh ternyata satu minggu menurut hari dimensi ini. Teman-teman yang mengajakku bermain benar wujudnya adalah penglihatan sebelum aku tertidur, mereka mahkluk halus penunggu rumah tua.


Cerita para warga menyebar dengan cepat….penunggu rumah tua menculik anak selama satu minggu untuk di ajak bermain. Dan beberapa hari setelah aku mengetahui kebenaran itu, kemampuan melihat makhluk halus dan melihat masa lalu terbuka.


(FLASH BACK END)


“Begitu ya, sekarang yang menjadi masalah adalah makhluk itu”


“Iya, biasanya Putri jarang melihat penampakan secara langsung seperti itu, biasanya hanya sekilas atau sebuah bayangan hitam dan putih. Tapi makhluk penunggu rumah itu berbeda, seperti ia punya energi besar”


“Yah, kalau begitu Ainur mau ke rumah Putri!” tegasku


“Eh yang benar?”


“Iya, tapi besok ya. Olehnya hari ini masih belum bilang sama Papa dan Mama”

__ADS_1


Masalah telah terungkap, tinggal melakukan langkah solusi. Akbar tidak bisa membantu sekarang jadi tinggal diriku. Apakah bisa?


BAB XXXI MURID BARU ITU TERLALU JAUH.... SELESAI


__ADS_2