INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XXXVI AYAH DAN ANAK SEHARUSNYA AKUR


__ADS_3

(FLASH BACK)


20 TAHUN LALU


Cerita tentang sebuah keluarga yang dahulunya harmonis berubah menjadi tragis. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak dengan kebutuhan hidup memadai seharusnya cukup membuat bahagia.


Sebuah masalah tidak akan muncul tanpa ada sebab, maka sebuah akibat akan muncul kedepannya.


Saat ayah dan anak baik mempercayai ibu, sang ibu malah mengkhianati mereka berselingkuh dengan pria lain.


Memang tidak mudah untuk dibongkar namun lama-kelamaan sampah yang ditumpuk pasti menghasilkan bau busuk, hidung manusia tidak bisa berhenti mencium bau terutama wangi dan busuk.


Walau sudah terbongkar, sang istri malah memilih pria lain daripada keluarganya bahkan ia sendiri mengatakan hamil karena pria itu.


Suaminya tentu saja naik pitam mendengar hal itu dan mengusirnya dari rumah, bukan mengkoreksi diri sang istri senang keluar dari rumah hangat itu.


Setinggal kepergian sang ibu, ayah dan anak itu mulai terlihat sebuah jarak. Rumah yang awalnya hangat dan putih itu berubah sedikit demi sedikit menjadi dingin dan hitam, termakan oleh amarah dan kebencian.


Sang anak tentu tetap tinggal bersama ayahnya, daripada mengikuti jalan salah ibunya.


Namun keputusan itu sedikit sulit baginya, memang jika ikut bersama ibu hanya aka nada masa depan rusak tapi melihat keadaan ayah terpuruk hari demi hari ia pun kasihan dan memikir ulang.


Setengah tahun berlalu dari kejadian perselingkuhan itu, ayahnya selalu berada dirumah berhenti dari pekerjaan dan mulai terlihat seperti orang gila.


Beberapa waktu ini saat malam saja ia keluar entah kemana, saat paginya ia sudah ada di kamarnya. Sang anak yang berusaha memenuhi kebutuhan rumah bekerja berjualan kue dan kacang-kacangan.


Pagi sampai siang ia sekolah dan sepulangnya ia berjualan, hal itu sudah berjalan selama 6 bulan. Sampai ia berhenti karena suatu peristiwa berdarah.


(BULAN FEBRUARI 2006/2007)

__ADS_1


Sang anak baru kembali dari berjualan, memberanikan diri untuk mengubah hidup ayahnya, ia sendiri bertekad agar sang ayah kembali bersosialisasi lagi.


Ketika ia pulang tidak ada ayah di dalam rumah, suatu hal jarang terjadi ayahnya pergi saat sore hari. Ia pun berniat untuk menyiapkan ubi rebus saat ayahnya kembali.


Saat melewati kamar sang ayah, pintu tak tertutup rapat sebuah altar terlihat di dalam, mengintip sedikit saja ia sudah tahu. Sebuah pemujaan dengan lambang aneh di lantai, ia tidak pernah tahu jika ayahnya melakukan hal sesat seperti itu.


Tentu bendungan dari diri mengalir ketakutan, ia menjerit dengan keras. Namun suatu kesalahan ia melakukan hal itu, sang ayah ternyata berada di rumah menyiapkan sesuatu ditangan. Ayam hitam di tangan kiri dan keris berdarah ditangan kanan.


“A...ayah” teriak sang anak


“Kamu….kamu mau kemana? Kamu mau meninggalkan ayah juga?” ujar sang ayah dalam penglihatan Putri


“Ti...tidak menjauh” ia berusaha berdiri dan lari dari ayahnya


“Kamu sama seperti ibumu”


Benar…sang ayah menusuk dirinya dengan keris.


“Ahhh…tolong” sang anak berusaha meminta tolong


Namun ia kurang cepat, sang ayah membekap mulut anaknya itu dan mulai menyerang lagi, kali ini ia melakukan dengan cepat, entah berapa kali ia menancapkan keris ke tubuh sang anak darah terlempar kemana-kemana.


Putri sendiri pun melihat kejadian itu merasa trauma dan muntah, tak tahu berapa kali luka tusukan di dapat jika ia menghitungnya kurang lebih sepuluh tusukan.


Setelah anaknya tidak bergerak sang ayah tidak menangis melainkan tertawa seperti iblis, sebuah hal mengerikan dari sifat manusia.


Dihadapan mayat sang anak ia meratapi sesuatu seperti kemenangan,


“Lihat anakmu….awas saja kau…selanjutnya kau Ayu!” teriakan dari ayah entah tertuju pada mantan istrinya atau tidak

__ADS_1


Putri sendiri sudah tidak kuat melihat cerita darah ini lebih lama, namun ia tidak menyangka penglihatannya masih belum selesai.


Setelah membunuh sang anak, mayatnya tidak segera di kuburkan melainkan dibawa ke kamar, penglihatan Putri berganti ke sana.


Lanjutan dari makhluk penunggu rumah sementaranya, benar-benar sebuah kesalahan menurutnya terlibat dalam hal ini.


“Aku ingin istriku itu mati bersama laki-laki yang merebutnya” sebuah permintaan dilanjutkan dengan mantra atau komat-kamit


Sang ayah meletakan jasad anak di dalam lingkaran gambar berwarna putih, lilin-lilin tersusun membuat lingkaran, sesajen dan dupa sangat menyengat.


“Ambilah anakku wahai Tuhan, biarkan aku meminta agar dia mati bersama pria itu”


Kembali ia meminta, bukan kepada Allah SWT melainkan kepada iblis. Saat itu ia merasa entah berhasil atau tidak tapi lampu-lampu padam padam dan udara menjadi lembab.


Penglihatan Putri tidak berhenti disana, namun anehnya seakan melompati waktu…hari berubah menjadi malam dan di ruangan yang sama sang ayah telah menyiapkan tali untuk menggantung diri.


Diluar pun terdengar kebisingan seperti tawuran warga, memang isinya adalah warga tapi alasan mereka berbeda.


Bukan untuk melanggar hukum namun menegakkan hukum, mereka berbondong menangkap sang ayah pembunuh anaknya.


Putri sendiri melihat potongan terakhir dari penglihatan masa lalu itu, sebelum memakai tali di lehernya ia tertawa terbahak-bahak seakan sudah puas akan sesuatu.


Udara semakin dingin, dengan mata terbuka Putri melihat sang ayah gantung diri untuk selamat dari amukan warga.


(FLASH BACK END)


Kesadaran kembali ke tubuh ia pun tahu masa lalu dari rumah ini, entah apapun sebelum Putri keluar dari gudang itu sebuah kalimat terakhir yang terdengar adalah “tolong”.


BAB XXXVI AYAH DAN ANAK SEHARUSNYA AKUR....SELESAI

__ADS_1


__ADS_2