INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
RUMAH TUA 4


__ADS_3

(Sudut Pandang Ferdi)


Satu tahun hampir kami berpisah, sekarang entah kenapa aku bisa bertemu Cindi kembali.


Awalnya aku tidak percaya dengan hal ini, bagaimana mungkin orang yang pergi jauh bisa bertemu secara tidak sengaja.


"Aku pindah ke sini karena pekerjaan ayah ku, aku juga terkejut melihat kau disini"


"Begitu rupanya, kupikir ini hanya mimpi ku"


Cindi menatapku tajam,


"Apa kau masuk kesini sendirian?"


"Iya, aku merasa dijebak oleh makhluk halus disini"


"Disini memang banyak rumor bahwa penunggu nya sangat berbahaya"


"Jadi benar disini ada yang salah ya, tapi bagaimana kau bisa kesini, apa rumah mu di dekat sini?"


"Tidak, rumah ku cukup jauh dari sini. Teman ku merasakan hal aneh, dan menyuruh ku kesini. Tidak aku sangka ini adalah pertemuan kita"


Aku menelan ludah, sudah lama tidak bertemu tapi dia masih saja aneh dan misterius.


"Bisa aku bertanya satu hal"


"Tentu"


"Apa saat ini aku hanyalah arwah? Karena dari tadi aku hanya berputar-putar di hutan ini"


Cindi langsung mencubit perutku,


"Awww, sakit!"

__ADS_1


"Itu tanda nya kau masih manusia, dan aku juga bisa menyentuh mu, jadi kau masih normal. Memang nya kenapa?"


"Huu, syukurlah, kupikir aku hanyalah arwah yang tubuhnya di sembunyikan di suatu tempat"


"Kau masih saja selalu berpikir berlebihan ya"


"Salah, aku hanya berhati hati dalam berpikir. Kau tahu selama ini aku selalu terlibat dalam masalah aneh"


Namun, karena aku sudah tahu bahwa aku masih berada di dalam tubuh, kenapa aku harus masuk membahayakan nyawa.


"Tunggu, karena aku sudah sadar bahwa aku tidak apa-apa. Lebih baik kita kembali saja"


Cindi memiringkan kepala nya, terlihat imut jika ia selalu seperti itu.


"Itu tidak bisa, sejak awal kau sudah di jebak bukan? Jika di awal tadi kita tidak memutuskan masuk, mungkin kita bisa keluar"


Penjelasan nya panjang, tidak seperti biasanya.


"Namun aku juga sudah masuk ke rumah ini, dengan kata lain aku juga terjebak. Kita hanya bisa masuk dan menemukan jalan keluar sendiri, atau warga yang mencari kita nanti"


Cindi kembali tersenyum, seakan hal ini sudah di tunggu nya sejak lama. Seperti anak yang menunggu kebun binatang buka, tapi disini mereka tidak di kurung.


"Ampun dah"


...***...


(Sudut Pandang Ainur)


Sore sudah hampir berakhir, Ferdi tidak terlihat sampai akhir. Perasaan ku semakin gelisah, padahal aku tahu dia akan baik-baik saja.


"Kenapa kakak belum kesini?"


"Kakak juga tidak ada di rumah Paman"

__ADS_1


Orang tua Ferdi terlihat mulai cemas, tentu aku tidak ingin memberitahu mereka yang terjadi.


"Kenapa, Bu?" ibu ku bertanya


"Itu, Ferdi belum kesini dan di rumah juga tidak ada"


"Lho, tapi mungkin dia sedang jalan-jalan. Dia sedang teman kali"


"Kenapa tidak telpon saja?" ayah juga mendekat


Aku pun ikut mendekat,


"Dia tidak bawa handphone, disini juga tidak ada kenalannya"


"Coba cek lagi aja di rumah, atau di sekitar rumah" ujar ibu


"Mbak, tadi Ferdi makan di warteg kan? Kemana dia sekarang?"


"Oh iya, Ferdi tadi makan di tempat makan kami tadi. Terakhir dia dengan mbak kan? Kalian datang kesini sama-sama kan?"


"Itu...sebenarnya kami pergi kesini bersama. Tapi dia tiba-tiba kembali, katanya ada yang ingin di ambil"


Aneh, aku seperti melupakan sesuatu. Apa benar Ferdi kembali? Aku tadi hanya melihat dia berjalan kembali, katanya dia ada urusan sebentar.


Eh, bukan, dia seperti berlari bukan, seperti melihat sesuatu yang membuat nya ketakutan.


"K..kenapa aku malah tidak ingat?"


Otakku seperti hilang ingatan, dan juga kenapa aku tidak ikut dengannya kembali dan malah berjalan kemari sendiri.


"Kalian! Kalian lewat mana tadi?!"


"J...jalan biasa, tapi kami sedikit tersesat. Ferdi kembali sendiri dan aku berjalan kesini sendiri jadi"

__ADS_1


Semua diam, saling menatap, aku sebagai anak kecil tentu akan ikut diam. Perasaan ini membuat aku takut, sebenarnya apa yang terjadi?


BERSAMBUNG....


__ADS_2