INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB 47 RUMAH TUA 1


__ADS_3

Setelah menyantap makan siang kami berdua pergi ke kebun bersama. Jalan berdua di atas awan yang sejuk, walau sudah menjelang siang.


Di tengah kebun kami saling berbincang, aku lupa topik apa yang kami bahas. Tapi itu membuat kami berdua kembali dekat, walau ada waktu canggung.


"Krasak!"


Suara kantong plastik yang berbunyi di semak-semak. Perbincangan kami terhenti sebentar, ternyata hanya aku yang mendengar suara itu.


"Klang! Srett...srettt!" suara aneh terdengar dari dalam rumah tua di depan kami


"Kenapa Ferdi?" tanya Ainur


"Tidak, tidak apa-apa kok"


Aku tidak ingin Ainur memiliki prasangka lagi, atau terlibat dengan masalah lagi.


Kami pun lanjut melangkahkan kaki,


"Tak...tak...tak, tak, tak, tak!" suara orang yang memukul kayu dari dalam rumah


"Emm"


Ainur mulai mendengar dan tertarik dengan suara itu,


"Suara apa itu?"


"Kau mendengarnya?"


"Iya, kayaknya ada orang di dalam sana"


Aku menghentikan langkah Ainur, melindungi diri dan dirinya.


"Nur! Ingat kata bibi mu tadi"


Ainur sadar dan membuat kaki nya mundur sedikit demi sedikit.

__ADS_1


"Tak..tak..tak, tak, tak!" suara ketukan semakin keras


"Ayo Nur!" ajak ku berlari


Kami mulai berlari, aku memegang tangan Ainur. Setelah cukup jauh kami berhenti untuk mengambil nafas.


"Ha, ha, ha, sialan. Sebenarnya aku tidak mengerti lagi" bisik ku


"Aku capek" ujar Ainur


"Kau sudah pernah lewat sini kan? Kenapa tidak tahu tentang rumah itu?" tanya ku


"Entah, tapi waktu itu aku bersama banyak orang jadi tidak melihat rumah itu"


Alasan aneh yang ku terima, yah terserah.


"Jadi selanjutnya lewat mana?"


"Kita salah jalan kayaknya"


***


Liburan keluarga Ferdi masih belum di mulai, ayah dan ibunya membantu paman untuk membereskan barang.


Bersiap untuk pergi ke puncak bukit,


"Dimana kakak?" tanya ibu tentang diriku


"Tadi kakak keluar duluan" adikku menjawab


"Kemana dia ya, dari tadi belum pulang"


"Cari cewek kali, biar saja kan dia sudah besar" ujar paman bermain-main


"Cewek, dia masih kecil, belum boleh pacaran"

__ADS_1


"Yang namanya jodoh nggak akan kemana Tin" bibi datang membawa rantang makanan


Arah pembicaraan sudah menjadi milik orang dewasa, adikku yang bernama Ari tahu untuk pergi.


Ia pun main di luar rumah, di halaman depan yang luas.


"Ari, jangan main jauh-jauh"


"Ri, denger, jangan jauh-jauh. Kalo ada orang asing yang ngajak kamu, atau manggil kamu jangan kamu deketi" pesan paman


"Iya paman" Ari langsung pergi


"Memang disini banyak penculikan?" tanya ayah


"Disini mah nggak banyak, tapi di pinggir desa begini ada banyak yang ganggu. Sudah banyak anak kecil yang jadi korban, di ajak main sama orang, baru pulang 2 atau 3 hari kemudian"


"Maksudnya?"


"Demit!" tegas paman


"Juga, jangan sekali-kali pergi ke rumah tua di tengah kebun sana. Kalo mau lewat ucap salam dulu" kata bibi


"Apa yang terjadi disana?"


"Ada penunggu disana, jadi jangan sembarang"


Wajah paman dan bibi menjadi tegang setelah membahas rumah tua. Ayah dan ibu tentu saja mengerti maksud paman dan bibi.


Setiap orang tua pasti tidak ingin anaknya terluka. Dan juga ayah aku tahu bahwa dia memiliki sensitivitas tinggi pada dunia lain.


"Penunggu nya apa?" tanya ayah


"Tidak tahu, dan jangan cari tahu, Ton, jangan buat masalah yang tidak perlu" kata paman


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2