
(Sudut Pandang Akbar)
(Kamis, Lr. Perguruan, Palembang)
Malam hening bersamaku di dalam perjalanan, aku memacu kendaraan roda dua di jalanan sepi bahkan tak terlihat satu orang pun.
Ada yang aneh….tapi apa….kenapa tidak ada orang dari tadi….biasanya ada satu atau dua kelompok yang bergadang menghabiskan waktu untuk berjudi.
Hatiku mengatakan jika firasat buruk akan menghampiri….terasa kepalaku tertarik melihat kebelakang namun kutahan tak menoleh.
Ku gas lebih cepat kendaraan tanpa halangalan di jalan aku melihat kecepatan hampir mencapai 40km/jam. Bayang-bayang muncul di spion kanan ku, kulirik kedua mata melihat bayangan putih terbang diatas kepala.
Komat-kamit mulut tiada henti, “Hiyyyyy, apaan lagi itu?” kupalingkan wajah kedepan takkan berani melihat belakang
Tidak perlu takut seharusnya sudah terbiasa dengan hal ini, tapi.…kenapa.…kenapa....aku harus lari lagi. Kecepatan motorku tak terhitung lagi, meski gelap malam menghadang kuterobos untuk sampai tujuan.
Hingga akhir perjalanan aku tidak memperhatikan sudah sampai tujuan, rumah teman lama “Aksay Kumar” meski namanya khas India tapi asli orang Indonesia.
***
(Rumah Aksay, 22.00 WIB)
Rumah Aksay memang agak jauh dari rumah ku berlatarkan pemandangan persawahan di atas rumah panggung tapi tampak mewah dan mempesona. Namun tak berarti tempat tinggal ini pantas untuk ditempati, banyak rumor menyelimuti persawahan ini.
Kisah sang buaya putih yang sesekali menampakan wujud sebagai pertanda akan ada musibah di desa itu, lalu rumor mengenai hantu banyu (air) yang selalu menarik anak-anak maupun orang dewasa.
Ya, sebutan untuk makhluk halus yang tinggal di dalam air suka membawa orang ke dunia lain saat sedang berenang di sawah, sungai atau danau.
Meski ada juga orang yang menganggap bahwa itu hanyalah sebuah cerita karangan untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak berenang di sungai atau danau agar tidak tenggelam.
Jika memang di sungai atau danau itu kedalaman melebihi anak-anak atau hanya ombak besar yang menyeret manusia ke tengah air merupakan fakta paling masuk akal untuk tidak mengkaitkan sebuah peristiwa seseorang yang tenggelam dengan hal-hal mistis,
“Tapi kejadian kemarin aneh juga, kan disawah tidak ada arus air kuat bahkan di kalangan anak-anak sudah terbiasa berenang di sungai dalam”
“Sudah aku kesini bukan untuk mendengar cerita seram begitu, aku numpang tidur malam ini dirumah kau”
“Makanya kalau keluarga liburan itu ya ikut ini malah asik sendiri di rumah emangnya ada apa di rumah, enak juga kalau punya pacar ini enggak kan?” ejek Aksay kepadaku dengan postur tubuh menjengkelkan
“Ngomong-ngomong main ps saja yuk, kan libur sekolah juga ayo begadang semalaman”
“Nggak, aku capek mau tidur saja lah” aku menarik bantal dan selimut di depan Aksay
Aku tidur di kamar Aksay, meski kelihatan dari luar rumahnya besar tetapi di dalam hanya terdapat empat ruangan saja. Ruang tamu, satu kamar tidur dan dapur sedangkan kamar mandi berada di luar, ukuran setiap ruangan sangat kecil hanya muat untuk tiga orang saja.
Kamar mandi hanya berlapiskan seng-seng berkarat pintu terbuat dari kayu lapuk yang di geser ke kanan dan kiri, sangat mudah untuk orang lain masuk atau mengintip dari luar.
Tetapi beruntung tidak ada satu pun niat dari orang-orang di desa untuk melakukan hal tabu itu karena bisa mendapatkan karma.
Tidur beralas kasur di lantai ruang tamu bersama Aksay dan Adiknya Iksal Kumar,
“Aku merepotkan orang lain lagi” kata batin pada diri sendiri
“Kau habis darimana memangnya katamu mau datang jam 9-an, tapi hampir tengah malam kau kesini aku jadi berpikir kau tidak datang?”
“Habis tempat teman ada urusan mendadak makanya telat kesini”
“Oh begitu, untung tadi ada Dandi sebelum kau datang jadi aku bisa nunggu kau datang”
“Kalian masih suka begadang main PS begini, gila kebiasaan dari SMP gak hilang-hilang”
“Iyalah meski kau, Ari dan Fajri sudah jarang kumpul tapi aku dan Dandi masih melanjutkan kebiasaan lama” dengan tegasnya Aksay mengatakan sesuatu yang menurutku tidak penting
“Kau bangga dengan hal itu?, aneh juga” aku bangun menyingkirkan selimut sambil mengambil stik PS di sebelahku
“Kasihan juga kalian ya, okelah aku akan kesini sering-sering. Jadi mau main apa? Basara atau Mortal Kombat?”
Entah aku merasa melihat ekspresi Aksay malam itu membuatku ingin menangis, wajah senang tidak dapat disembunyikan.
Yah, kenangan masa-masa Sekolah Dasar-ku tidak buruk juga walau aku pindahan dari kelas 4 ke sekolah dasar ini dulu, teman-teman lama yang masih memikirkan diriku hingga saat ini membuatku senang.
“Ehhh kok kau yang milih game nya, main Naruto saja”
“Nggak nanti aku yang kalah”
***
(Sudut Pandang Ainur)
__ADS_1
(Rumah Ainur, Palembang)
“Aneh aku baru saja bermimpi jika tadi malam terjadi peristiwa yang menegangkan, ada Ustadz dan juga Ferdi disini”
Ainur yang membuka mata sedikit demi sedikit mulai melihat tangan ibu mengenggamnya dengan erat meski dalam keadaan tidur.
“Mama?”
Tubuh yang setiap kali bangun tidur selalu berat kini terasa ringan dan nyaman, ia membangunkan Mamanya sambil mencoba duduk di tempat tidur
“Lho mbak sudah bangun, Alhamdulillah”
Mama Siti meluapkan kebahagiaan dengan memeluk Ainur dengan erat “Gimana badan mbak sudah nggak apa kan?, minum air putih dulu” Mama Siti menyodorkan air putih yang telah di baca’i do’a kepada Ainur
Ainur langsung meminum air putih agar dapat melontarkan banyak pertanyaan kepada Mama-nya “Ma kemarin malam mbak…” Ainur malu karena ide bunuh dirinya mulai tidak bisa menatap mata mama-nya
“Iya mama tahu kok, tapi jangan di ulangi lagi. Untung kemarin ada pak ustadz sama teman kamu kesini jadi semua bisa selesai dengan baik”
“Iya ma, mbak mau minta maaf karena sudah banyak merepotkan Mama dan Papa sekarang mbak sudah tidak apa-apa badan mbak juga sudah mulai ringan nggak berat lagi”
“Yang bener, Alhamdulillah kalau begitu. Bentar Mama mau panggil Papa dulu”
Siti keluar memanggil suaminya meninggalkan Ainur sendiri. Dalam kesendirian itu Ainur memikirkan sesuatu yang membuat hatinya berdebar-debar.
“Akbar kenapa dia kesini?”
Pintu kamar semula tertutup seketika terbuka dan dimasuki oleh anggota keluarga Ainur,
“Mbak kamu sudah bangun?” Ainur bangun dari tempat tidur dan memeluk Papa-nya terlihat di belakang bibi dan adik keponakannya datang
“Ada bibi sama Rendi juga, kapan datang?” tanya Ainur sembari melepas pelukan
“Bibi sampai habis subuh tadi, dengar mama kamu menangis di telpon kalau kamu kesurupan bibi cepat-cepat datang kesini dari Prabumulih”
“Oh gitu ya maaf bi kalau sudah merepotkan”
“Tidak apa-apa yang penting sudah selesaikan. Mending mbak Rahma istirahat lagi biar cepat pulih” kata Ratna kakak pertama dari ibu Ainur
“Iya bi” Ainur melangkahkan kaki kembali ketempat tidur
“O..oh itu, namanya Akbar Pa, cuma teman biasa kok” sikap Ainur tiba-tiba berubah setelah Panji mengatakan sesuatu tentang Akbar
“Rumah Akbar itu dimana?”
“Nggak tahu pa, memang kenapa? Kemarin dia buat salah ya?” Panik mulai menghampiri Ainur tanpa alasan
“Nggak, papa cuma mau bilang terima kasih karena kemarin dia kan sudah menolong mbak”
Ainur menghela nafas panjang karena ia berpikir jika Papanya akan membunuh Ferdi kerena kejadian kemarin malam, “Ya sudah nanti mbak cari tahu atau nggak telpon saja nanti”
“Mbak punya nomor Akbar?” tanya Siti
“Ada di hp mbak ma”
“Ya sudah telpon sekarang kalau lama-lama nanti nggak enak” Siti mengambil hp Ainur dan menyerahkannya untuk meminta nomor Akbar
“Eh tapi….” Ainur yang tidak memiliki pilihan segera mencari nomor Akbar di Handphone
“Udah biar di HP mbak aja nelponnya”
Sebuah kejadian yang tidak di duga jika ia akan menelpon Akbar kini hati berdegub kencang tidak bisa menahan rasa senang
***
(Sudut Pandang Akbar)
(Rumah Aksay, 09.20 WIB)
“Kringggg….kringgggg…kringgggg” suara telpon bordering diatas lantai rumah panggung
“Ck alarm sialan” pikirku begitu namun setelah di ingat aku tidak memasang alarm tadi malam karena aku menginap di rumah Aksay
“Telpon…siapa sih yang nelpon pagi-pagi begini” sambil melihat jam aku mengambil HP di samping kasur
Jam menunjukan pukul 09.25 WIB tak terasa karena aku semalam begadang main PS bersama Aksay sampai jam 3 malam.
“Ha siapa sih berisik sekali?” aku terkejut sambil mengusap kedua mataku “Ainur” tanpa pikir panjang aku angkat telponnya, walau baru bangun tidur aku berusaha untuk bersuara cool
__ADS_1
“Halo”
“Emmm…ini siapa?"
“Halo, ini nak Akbar ya saya Panji Papa-nya Ainur”
Mampus aku kira Ainur yang angkat telpon, segera saja seluruh tubuhku terkejut tidak menyangka jika Ayahnya bergantian menelpon.
“Iya om ada apa ya?”
“Nggak om cuma mau bilang terima kasih untuk kemarin malam karena kamu sudah menolong Rahma”
“Oh iya om sama-sama, saya juga enggak bantu banyak kok”
“Ya sudah kalau begitu om ucapkan sekali lagi terima kasih karena telah menolong anak om”
“Iya om”
“Sudah matikan” terdengar om Panji menyuruh Ainur untuk menutup telponnya
“Eh pa masa Cuma bilang begitu makasihnya”
“Iya papa ni kok begitu saja sih?”
“Terus mau bagaimana?”
Aku hanya menahan tawa mendengar percakapan keluarga Ainur sedikit menggelengkan kepala hingga Aksay datang menawarkan sarapan untukku.
“Bar itu nasi goreng makanlah dulu baru lanjut main lagi” aku hanya membalas menganggukan kepala
“Ya sudah nanti malam om mau datang ke rumah kamu untuk ketemu orang tua kamu” mendengar perkataan Panji barusan seluruh keluarga tersentak kaget
“Heh orang tua saya om…maaf om keluarga saya lagi liburan semua. Saya cuma sendiri di rumah”
“Ya sudah nggak apa nanti malem om datang ke rumah kamu”
“Oh iya om” pikiranku mulai melayang jauh
Om Panji ingin datang kerumah sedangkan aku saja menghindari rumah sementara ini karena kejadian suara harimau
Kalau pulang berarti aku harus tidur di rumah nanti malam…ohhh benar juga. Melihat Aksay makan di dekat TV aku memikirkan ide bagus.
“Say nanti malam menginap dirumahku yuk!” aku memberitahu Aksay dengan volume suara cukup keras
“Oh oke” Aksay memberikan isyarat ibu jari jika ia mau
“Iya om nanti malam saya tunggu”
“Ya sudah kalau begitu om tutup telponnya, ini mbak matiin hpnya”
Panji menyerahkan HP anaknya dan bergegas pergi meninggalkan kamar karena tidak bisa menahan rasa malu.
Ia selama ini menjadi sosok ayah yang tegas dan keras kini bersikap lembut membuat semua orang di kamar tersenyum.
“Ha-halo Akbar”
“Eh ini Ainur ya” hatiku yang tadi dingin segera panas mendengar suara Ainur
“Iya maaf ya kalau papa ngomong yang tidak-tidak”
“Tidak apa-apa kok, oh bagaimana kabar kamu sekarang sudah baikan kan? Kalau belum mending istirahat dulu”
“Aku sudah baikan kok, omong-omong terima kasih juga yak arena sudah menolong aku”
“Iya sama-sama”
“Oh kalau begitu sudah ya aku mau istirahat lagi”
“Oke” aku menutup telponnya hingga aku sadar kenapa aku mengakhiri percakapannya
“Haaa kenapa aku tutup telponnya padahal masih bisa bicara lebih lama, Goblo* banget gua”
“Baru sadar ya kalo lu goblo*” ejek Aksay
“Setan lo” balas ejekan ku kepada Aksay
BAB XXVI APA ARTINYA….?
__ADS_1