
(Sabtu, Tempat Lomba SMK xx)
(Sudut Pandang Akbar)
Hari ini memang cerah namun entah kenapa hatiku tidak enak, merasa terpikir oleh masalah kemarin. Ada sesuatu firasat buruk dengan hari ini, rencana memang sudah di rancang bagiku sebuah saran baik agar tidak terlibat terlalu jauh.
Siang ini mereka bertiga mengecek rumah angker itu, aku sendiri berharap agar mereka selesai lebih cepat tanpa bertemu makhluk itu. Jadi aku tidak perlu ikut kesana untuk memeriksa lagi.
“Akbar ayo cepat kita ke ruang persiapan”
Lomba yang kesekian kali kami, namun sebagai kelas 2 SMA bersama adik-adik kelas baru.
Bagiku tidak masalah jika kalah di perlombaan kali ini, karena hanya untuk mengenalkan apa dan bagaimana Palang Merah kepada anak-anak kelas 1 saja.
Meski begitu aku juga berharap lebih kepada kelas 2 dan 3 agar dapat menyapu bersih semua cabang lomba. Benar…ketegangan ini karena anak-anak kelas 1 bukan hal lain.
(Rumah Putri, Sabtu 12.30 WIB)
(Sudut Pandang Ainur)
Ketiga anak remaja telah berkumpul di suatu tempat yang akan mereka datangi dengan hati tegang. Sebelumnya mereka sudah berkumpul di tempat Ainur terlebih dahulu sebelum ke rumah Putri.
Halaman luas seperti lapangan sepak bola dan di pinggir pinggir pagar sangatlah kotor tertutupi oleh daun-daun kering.
Udara terasa sesak walau mereka datang siang bolong, sekejur tubuh seakan berkata tidak untuk melangkah ke dalam namun dengan segenap keberanian mereka melewatinya.
Tapi tidak untuk satu orang, Sanjaya yang masih berdiri di depan gerbang berwarna hitam itu diam berdo’a terlebih dahulu. Dengan cepat ia mengeluarkan dan menghidupkan senter di cahaya matahari yang berlimpah.
“Ayo Sanjaya” ujarku
Kami bertiga melangkah maju di jalan yang telah di susun rapi oleh batu-batu bata, panjang dan jauh jarak gerbang dan pintu rumah.
Perasaan mengatakan siang hari terik di hari ini benar benar berbeda ketika masuk ke dalam, pengap dan lembab, suara kicauan burung pun tidak ada, melihatnya saja sudah merinding.
“Ayo Sanjaya” aku mengajak Sanjaya agar cepat
Sesampai di dalam benar benar pengap dan lembab, sulit untuk bernafas, kami bertiga masuk ke dalam rumah tanpa basa basi.
“Krieettt” suara gesekan pintu dengan lantai
“Baik sekarang kita cari tempat yang mencurigakan untuk di periksa, lebih baik kita tetap sama-sama jangan berpisah” tegasku
Sanjaya dan Putri mengangguk dua kali tanda mengerti, pertama kami mencari tempat dan benda tua yang bisa dikatakan aneh. Ketika sudah ketemu aku atau Sanjaya akan memberikan kepada Putri.
Cara Putri melihat masa lalu suatu peristiwa adalah hanya dengan memenggang benda atau objek tersebut. Biasanya kilasan balik lengkap atau kabur di dapatkan, namun hal ini tidak selalu terjadi melainkan hanya objek atau benda-benda yang memiliki peninggalan dan cerita gelap saja.
Untuk mencari benda-benda hilang katanya tidak mungkin, ketika objek dan Putri saling terhubung maka kemampuannya aktif.
Benar-benar kemampuan yang hebat dan menakutkan, aku sendiri tidak mengerti jika belum mengalami kejadiannya. Wanita pendiam memang banyak rahasianya sama sepertiku.
...***...
Setengah jam berlalu kami tidak menemukan hal-hal aneh dari rumah ini, begitu pun makhluk itu tidak muncul seakan kemunculannya kemarin hanyalah mimpi.
Kami ingin mencari lebih banyak lagi jika ia tidak muncul namun itu semua berubah karena pikiran sialku.
“Prankkkk” suara piring dan gelas pecah
Kami sangat terkejut aku bahkan memeluk Putri, Sanjaya terduduk dan memejamkan mata. Ketika kami melihat kembali tidak ada siapa-siapa hanya pecahan kaca dari piring dan gelas jatuh.
Begitu kembali pikiran naïf itu datang, seketika mata kami menipu diri sendiri.
__ADS_1
“Khaakkkkkk” suara serak terdengar keras ke telinga
Sekejap dari atas muncul bayangan hitam legam dengan tanduk di kepala, benar-benar membuat jantung berdetak cepat. Nafasku memburu dan tubuh tidak merespon, air mata hampir tumpah sampai Putri menarik lengan pakaianku.
Cepat tanpa memikirkan apapun aku dan Putri berlari, “Whhaaaaa” teriakku
Sanjaya yang masih duduk membeku mendengar teriakan ku ikut melakukan hal sama, tapi bedanya ia tidak bergerak darisana seinci pun. Kami berdua meninggalkan ia sendirian, mengambil langkah seribu unuk keselamatan diri.
Saat itu aku pun dikalahkan rasa takut, dan tanpa sadar aku tidak menggunakan otak. Kami berlari bukan keluar rumah melainkan menuju ke lantai dua, ke kamar Putri.
“Hah…hah…hah” hembusan nafas saat menaiki tangga
“Brak” Putri membanting pintu kamar dan mengajak masuk ke dalam lemari
“Ya Allah maaf kan hamba Ya Allah jika berbuat salah” aku berkomat kamit
Seram wajah busuk itu membekas di ingatan, kedua tanduk di kepala pun tidak terlupa, benar benar iblis.
Aku tidak berpikir apakah hal ini merupakan suatu hal yang sama dengan rumahku digunakan sebagai tempat pemujaan setan.
Kepalaku berputar…pusing dan lelah, “Aku ingin pulang”
Aku benar-benar jera karena sifat keras kepala, kupikir aku bisa melakukannya. Menyelesaikan hal mistis ini, sekarang aku tidak dapat berbuat apa-apa.
“Nur, kamu nggak apa-apakan?” tanya Putri
Aku menganggukan kepala, Putri pun berkeringat sama sepertiku tapi dengan wajah dingin dan tenang seakan terbiasa dengan hal ini.
Kami berdua berbagi tempat di lemari pakaian sempit, aku sudah cukup sadar dan teringat keadaan Sanjaya.
“Benar juga, gimana dengan Sanjaya?” itulah kata-kata yang ingin aku ucapkan tapi tidak bisa keluar karena takut
Bisikan kami berdua terhenti ketika mendengar suara langkah dari luar kamar, besar dank eras seperti suara orang memalu. Tanganku kembali bergetar, memanjatkan do’a di hati.
“Brak” sebuah kotak jatuh dari atas lemari tempat kami bersembuyi
Di sela-sela pintu lemari yang terbuka kami mengintip, tak ada apa-apa…sunyi…hanya barang-barang terjatuh.
Barang milik Putri seperti buku dan alat gambar, dengan mata kanan aku melihat kesana kemari tidak ada keanehan.
Setelah aku menarik keluar mata dari sela suara langkah kaki itu kembali, rasa takut kembali menghampiri dan aku memeluk Putri. Berbeda dengan Putri masih mengintip dengan mata kiri serta pelukan kuat dariku.
“Duk..duk” kembali suara itu berhenti
Aku hanya memejamkan mata sampai Putri berteriak, “Waahhhhh”
Putri meloncat ketakutan, aku ikut terjatuh karena memeluknya tentu saja aku tidak tahu apa masalahnya.
Tapi aku yakin itu sangat menakutkan, dengan begitu aku bertanya pada Putri sambil memejam mata. Tubuh Putri gemetar seperti handphone bordering tapi tidak memakan waktu lama ia kembali berdiri.
“Tadi dia disini”
“Hehhh, ampun” aku meracau
Sebuah jawaban pertama tidak ingin aku dengar dalam keadaan seperti ini, keadaan kembali senyap tapi kali ini aku merasakan tatapan dingin seolah orang mengambil nyawa.
“Gawat, kalo kita disini kita bisa mati. Ayo!!!” ujar Putri
Putri membuka pintu lemari sembari menarik lengan kanan dan berlari sekuat tenaga tanpa ada keraguan.
Aku sendiri berharap kami dapat keluar dari rumah ini dengan selamat tanpa luka apapun. Dalam hati aku berjanji tidak akan berurusan dengan makhluk halus lagi.
__ADS_1
“Kita harus mencari Sanjaya dan keluar dari sini” tegas Putri
“Makhluk itu sudah marah karena kita mengganggunya”
Lari kami semakin cepat, kaki gemetaran itu kupaksa bergerak tanpa berpikir sampai menuju pintu keluar.
Namun hal itu tidak begitu mudah sebuah tembok kembali hadir, makhluk itu kembali muncul kali ini dengan wajah hitam legam dan dua tanduk di kepala melayang di udara. Ia mengangkat kedua tangan seakan ingin mencekik kami.
Padahal kami hampir menuju tangga turun dihadang oleh makhluk halus seperti itu benar-benar membuat pengalaman lalu tidak ada bandingan dengan satu ini.
“Allahu Akbar” aku menyebut nama Allah Swt untuk mengusir mahkluk itu
Bukannya pergi ia semakin marah, ia berteriak….suara nya sangat memekikan teliga…pilu dan bising membuat gendang telinga pecah.
Pada saat itu juga aku dan Putri terpisah, entah ada apa tiba-tiba Putri mendorong ku. Aku terjatuh kebelakang dan berusaha membuka mata, kali ini mimpi atau bukan muncul makhluk halus lainnya.
Tubuh besar sama seperti mahkluk di depanku namun tidak ada tanduk di kepala, wajahnya kelihatan pucat basi sekujur tubuh berwarna putih. Perempuan aku tahu jenis kelamin nya, benar atau salah tak tahu lagi.
Pikiranku saat itu mungkin sama dengan Putri, seketika mahkluk putih itu juga mendekati kami makhluk hitam itu berteriak lebih kencang lagi.
Tentu aku dan Putri berteriak ketakutan, tanpa sadar Putri lari meninggalkan aku bahkan ia berani melewati kedua hantu itu dan menuju pintu depan.
Tapi tidak bagiku, aku berdiri dan kembali lari menuju kamar Putri, berkemul selimut menutupi diri.
Lagi kali ini aku benar-benar berada di dalam keadaan kritis, terpisah dengan teman-teman saat di kejar mahkluk halus.
Sebenarnya apa guna dari kedatangan kita pada siang hari bolong, tak ada beda mereka tetap seperti biasa….menakutkan.
Mencekam akan hawa kematian, sulit bernapas diriku sampai tak tahan untuk mengeleuarkan akhir dari ketakutan.
Di atas tempat tidur Putri aku mengompol, benar benar sebuah hal memalukan bagiku untuk mengingatnya. Mau bagaimana lagi karena aku sudah tidak bisa menahan lagi, “Aku mau pulang”
...***...
Putri sendiri terpisah dari Ainur, namun dengan itu sebuah petunjuk di dapat. Muncul satu lagi makhluk halus bersosok putih menunjukan arah jalan.
Tanpa ragu Putri mengikuti hantu itu, beberapa langkah saja membuat ia sampai di ruang bawah tanah tepat seperti gudang penyimpanan.
Pintu yang akan ia buka tiba-tiba terbuka sendiri dengan keras, ia tahu bahwa itu menandakan sebuah petunjuk besar.
Meski ia telah lama merasakan dan mengalami banyak kejadian mistis itu tidak menjadikan dirinya menjadi kuat seutuhnya.
Ia tahu jika ia masih memiliki ketakutan terhadap mereka, namun memaksakan diri adalah solusinya.
Sejak awal ia tidak dapat melakukannya, dan ia menemukan takdir berupa teman-teman seperi dirinya.
Akbar dan Ainur merupakan anak aneh sepertinya, maka ia meminta bantuan mereka. Rencana dan nyata berbeda, Putri pun bertekad untuk menyelesaikan semua sendiri. Karena memang sejak awal ia selalu melakukan sesuatu seorang diri.
“To…loo…ngg” suara rintihan meminta tolong terdengar dari dalam saat Putri baru melangkahkan kaki masuk
Kali ini ia tidak bisa mundur lagi, meski bulu kuduk tak berhenti berdiri, suara hentakan gigi pun dipaksa bertahan.
Sosok putih itu tidak menghilang seperti kebanyakan makhluk dilihat Putri, biasanya untuk menunjukan diri atau eksistensi ke dunia manusia membutuhkan energi yang besar.
Makhluk ini tidak menghilang tapi berdiam di tempat itu dan menunjuk sesuatu.
“Buku?” ujar Putri
Putri memberanikan diri mengambil buku di dekat mahkluk itu, namun tanpa sadar kemampuan melihat masa lalunya aktif. Ia sendiri terkejut disaat seperti itu harus melihat kejadian masa lalu.
BAB XXXV TERGESA GESA ADALAH SIFAT MANUSIA....SELESAI
__ADS_1