
(Minggu, Maret atau April 2010)
Liburan ini aku hanya tinggal bersama ayah, Ibu dan adikku pergi ke tempat nenek. Seperti biasa ketika 2 lelaki di rumah tentu satu hal bisa terjadi.
Ketika sang ibu pergi menitipkan si anak atau bayi ke ayah tentu semua akan menjadi berbeda. Sang anak akan menjadi mainan bagi ayah, entah digoda atau dijadikan alat peraga untuk mainan.
Bahkan ada anak yang ditinggal bersama ayahnya, ditempelkan ke dinding atau di wajah sang anak penuh dengan coretan warna saat ibunya pulang.
Namun itu berlaku untuk anak-anak kecil dan bayi saja, saat masih kecil ayah akan melakukan apa saja untuk anaknya supaya tidak tumbuh dengan cepat.
Jika sudah dewasa lain lagi untuk mengurusnya, bukan di manja apalagi di marah. Terutama bagi anak laki-laki yang sudah besar, sang ayah pasti banyak menyuruhnya untuk membantu pekerjaan baik yang penting maupun tidak.
Aku anak laki-laki dan pertama di keluarga banyak disuruh-suruh oleh ayah. Meski begitu aku tidak menolak atau membencinya, aku malah senang jika mendapat perintah dari orang tua.
Saat sang ibu pergi selama 2 hari, tak ada lauk di lemari es maupun meja makan. Aku saat itu baru pulang dari rumah teman. Masuk dan melihat ayah duduk di kursi sambil menonton televisi.
Siang dan panas terik begini tentu aku ingin langsung makan dan tidur, namun sifat laki-laki berbeda dengan perempuan. Ayah tidak bisa memasak apalagi aku, memasak mie saja sudah cukup bagiku.
Tak sehat jika memasak mie untuk makan siang maka ayah menyuruh membeli makan diluar.
__ADS_1
"Kak beli sate saja untuk makan" teriak ayah dari ruang keluarga
Sate, daging tusuk dan dipanggang lama itu lalu dibaluri oleh bumbu kacang. Bukan apa tapi menunggu jadinya itu sangat lama, aku sedikit malas jika membelinya.
"Iya yah, mana uangnya" tidak dapat menolak aku pun menuruti
"Ini uangnya" ujar ternyata uang nya ada di ayah
"Mana?" aku mengulurkan tangan
"Ini" ayah memberikan aku uang 20 ribu untuk membeli sate
"Kenapa tidak nasi Padang saja sih, kan sama asalnya" ucap batinku
Saat itu aku masih berumur 7 tahun, membeli sate menggunakan sepeda karena tempat nya cukup jauh. Di umur itu juga aku sudah mengerti tentang kemampuan mataku.
Sesampai disana orang mengantri cukup banyak, namun bukan itu yang membuat aku terpana. Melainkan sebuah kain putih berdiri di depan warung sate itu, tegak berdiri dan besar, berwarna putih menggunakan kafan yang cukup kotor karena bercak tanah.
Aku pikir hanyalah sebuah kesalahan dari penglihatan. Tapi saat melewatinya itu benar-benar terasa nyata, tubuhku merinding tak berhenti. Sesaat aku merasa dia melihat ke arahku, namun kuputuskan pergi mencari warung lain.
__ADS_1
Saat aku mengayuh kembali sepeda, sosok itu sudah ada di dalam dan berada di tengah 2 orang yang menyantap sate. Entah perasaan ku saja atau bukan tapi sebuah air terlihat jatuh ke piring mereka.
Air itu berasal dari sosok pocong itu, saat itu aku masih belum mengerti. Karena ketakutan aku pun pergi dengan cepat. Dan saat aku sudah cukup jauh dari warung itu aku memberanikan diri menoleh kembali ke belakang.
Disana terlihat kembali sosok pocong itu berdiri di depan warung. Namun dengan cepat sebuah kejutan datang, ia tiba-tiba menampakkan wajah padaku, aku tau itu jarak yang cukup jauh. Tapi dengan firasat aku tahu ia menyadarinya, jika aku melihatnya.
Sekilas wajahnya tua dengan kulit robek dan berwarna hitam, matanya besar dan mulutnya terlihat seperti orang stroke.
Menyeramkan...aku pun saat itu melaju cepat mencari perlindungan. Tempat dimana banyak orang berkumpul.
Jadi aku membeli sate di tempat yang agak jauh, dan untuk pulangnya aku memutar jalan agar tidak bertemu dengan sosok pocong itu.
Beberapa bulan berlalu, aku sendiri masih ingat kejadian itu, sebuah penampakan kukira hanya mimpi. Karena takut aku tidak pernah lewat di depan warung sate itu lagi, untung aku jarang lewat sana.
Berita mengejutkan terdengar sampai telinga, ternyata sebuah kenyataan. Warung sate di depan itu tepatnya terdapat sosok pocong itu ternyata menggunakan "Penglaris".
"Ohh pantas saja warungnya selalu ramai" kata ibuku saat temannya datang berkunjung
"Iya bu, saya juga rada aneh. Waktu makan di tempat satenya enak, tapi waktu di rumah satenya biasa-biasa aja"
__ADS_1
Hatiku tak tahu apakah harus senang atau sedih mendengar hal itu. Padahal aku ingin berpikir kalau pocong itu hanya hantu yang berkeliaran. Namun ternyata benar sosok itu adalah pocong, alat "Penglaris" Warung sate itu.
SELING 3.... SELESAI