INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
RUMAH TUA 9


__ADS_3

(Rumah Tua, Pagar Alam)


Cindi mengeluarkan boneka jerami dan pisau kecil dari kantong nya, semakin kulihat dia semakin gila. Tapi aku tidak memiliki pilihan selain mengikuti dirinya, jadi kami harus bekerja sama.


“Apa rencana mu kali ini?”


Aku bertanya pada Cindi tentang apa yang akan ia lakukan, beberapa hal membuatku bersemangat. Lalu ia juga tahu aku bisa menggunakan Paku Bumi, kemampuan spesial yang aku latih.


“Ular itu memiliki bentuk, aku ingin mendapatkan sedikit saja bagian dari tubuhnya”


“Jadi maksudmu kita harus melawannya gitu? Kau gila atau apa hah?”


Tentu rencana seperti itu tidak ada di dalam kamusku, atau bisa dibilang bunuh diri bukan sebuah rencana. Nafasku tidak beraturan lagi, jantung berdegub kencang saat melihat kearah depan, makhluk itu sudah menunggu kami.


“Waaaa!!!”


Kami berdua tersungkur ke lantai, karena terkejut melihat penampakan paling mengerikan pertama kali. Kupikir setelah pocong atau kuntilanak, semua tidak ada yang seram, tapi makhluk ini benar-benar menguras keberanian seseorang.


Tubuh besar dan panjang, dimana kepala sampai pinggang menyerupai manusia dan bagian tubuh lainnya seperti ular hijau dengan ukuran besar. Jika memang aku bisa pergi lebih baik sekarang waktunya, tapi kaki kami tidak mengizinkan.


“Apa ini, kepala ku pusing”


Tiba-tiba kepalaku merasa mabuk, berat dan sulit aku kendalikan. Saat bersamaan aku melihat mata merah menyala dari makhluk ular, dan seakan melontarkan senyuman pada kami. Langsung saja aku berdo’a dan berdzikir, memperbanyak bacaan agar bisa bergerak.

__ADS_1


“Tekanan yang amat besar”


Aku pun teringat pada perkataan ustazd Ali, yang mengajarkan aku ilmu agama dan spiritual bahwa makhluk yang kuat seperti ini karena banyak manusia yang takut padanya. Ingatlah untuk tidak takut pada setan tetapi kepada Allah SWT. jika berhasil kau akan menang.


“Aku mengerti”


Aku berusaha berdiri dengan kaki gemetar, Cindi seakan tidak percaya aku bergerak kembali. Usaha terakhir yang bisa aku lakukan adalah menggunakan Paku Bumi. Walau tidak mempan tapi sedikit mengulur waktu adalah hal terbaik saat ini, atau juga kami berharap bisa pergi dari sini jika aku berhasil.


“Bismillah, *************************************************************************************************************************************************************************”


Ajian Paku Bumi! Aku menghentakan tangan ke lantai, seakan memukul makhluk di depanku. Paku Bumi sendiri sepeti do’a untuk mengusir setan, tapi diperantarai dengan tanah untuk mengguncang makhluk halus.


Saat aku menghentakan tangan ke tanah dan selesai merapalkan ajian, gelombang kejut sepeti serangan akan terasa oleh makhluk halus.


“Khhhkkkk!!!!”


Suara gerangan dan jeritan memekikan telinga, makhluk di depanku tidak hilang melainkan terlihat kesakitan. Sulit untuk dikatakan, jika itu makhluk lain sebelumnya mereka pasti akan hilang dan takut sementara, tapi makhluk ular ini menahan sakit dan aku sepertinya menimbulkan kemarahan darinya.


“Ap..a?”


Tubuh kembali lemas, aku terduduk di lantai. Ular di depan kami tampak marah dan menaikan tubuhnya menjulang tinggi, atap rumah sampai di atas kepalanya. Cindi di samping tampak ketakutan dan memeluk tangan kanan ku dengan kuat, disampingnya terlihat dua makhuk halus yang tampak berusaha melindunginya.


“A, k, u…sud, ah”

__ADS_1


Mulutku bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, kaku dihadapan ketakutan, tekanan yang luar biasa.


“Khkkk!!!”


Ular itu mendekat ke kami, tangan besar dengan jari kuku yang tajam itu mengarah pada Cindi seakan ingin menangkapnya. Dua makhluk di samping Cindi tidak menyukai itu dan berdiri untuk melindungi temannya.


“Khkkk!” balas teman makhluk halus Cindi


Mereka tidak ingin Cindi dibawa, keduanya berdiri di hadapan kami, melindungi dari gangguan ular raksasa. Aku bisa melihat jika mereka juga Nampak ketakutan, hal ini karena perbedaan kekuatan astral mereka.


Ular raksasa tampak tidak senang kedua teman Cindi menganggunya, dengan wajah seram dan menekan ia langsung melempar kedua teman Cindi hingga menghilang. Seakan mereka hanya sebuah gelembung kecil, semua kembali ke awal.


“Ya Allah, bantulah kami”


Aku sudah pasrah, begitu juga dengan Cindi, matanya terpejam sejak tadi seakan tidak ingin melihat kelanjutan kejadian ini. Aku berharap ada sebuah keajaiban muncul untuk menolong kami, keluar dari rumah menakutkan ini.


“Khhhkkk!!Khaaa!!”


Makhluk ular itu tampak mundur mengambil jarak, setelah ia melempar teman Cindi, melihat kebelakang kami. Aku berusaha untuk menoleh kebelakang tapi tidak bisa karena tubuhku tidak merespon neuron otak. Kupikir akan ada masalah lagi dan suara terdengar dari belakang kami, suara yang dingin dan menekan.


“Berhenti”


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2