INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XIII PULANG 2


__ADS_3

(OP Mall, Palembang)


(Sudut Pandang Ainur)


Arloji ditanganku menunjukan matahari telah tenggelam setengah jam lalu, aku belum Shalat Magrib takutnya waktu habis. Entah apa yang dipikirkan teman-temanku, apa meraka tidak takut pada hukum Allah SWT.


Meski malam menjelang tapi tempat ini masih terang benderang, manusia yang masuk kesini kurasa tidak memperhatikan waktu.


“Ini sudah jam berapa?, ayo pulang” ajakku kepada teman-temanku yang sedang asik berjalan-jalan di OPI Mall


“Nanti nur, baru jam berapa. Kita juga mau nonton bioskop kan” kata Agus


Yah tidak masalah sih, aku ikut dengan geng Fahri untungnya aku berhasil mengajak teman barisanku. Ibra, Dedek, Raihan dan Dinata. Kami bersepuluh sudah berjam-jam di Mall ini tapi tidak ada tanda-tanda untuk pulang, padahal aku berjanji pulang sebelum magrib.


“Nur, ayo kita shalat dulu” ajak Dedek


“Oh boleh dek, ayo!” segera saja aku dan Dedek mencari mushola Mall


“Kami mau shalat Magrib dulu, kita ketemuan di depan pintu bioskop” kata Dedek sambil menyeret tanganku


“Okeee” Ibra menyaut


“Nur kenapa? Dari tadi kelihatan murung terus”


“Iya dek, aku sudah disuruh pulang sebelum magrib oleh mama. Tapi sekarang malah telat banget”


“Kasih tahu aja tante kalau kita pulang agak malam, mungkin jam 9”


"Iya ya, tapi pas pulang pasti kena marah deh”


Kami pun menuju lantai 2 yang katanya disana ada mushola kecil untuk melaksanakan shalat, sebelum sampai aku mengabari mama karena pulang terlambat.


Sesampai di mushola kami meletakan barang-barang di sudut ruangan sementara menjadi tempat penitipan. Ku ambil air wudhu, setelah itu mengenakan mukena yang ada di mushola itu.


“Allahu akbar….” Takbir pertama untuk memulai shalat


***

__ADS_1


(Rumah Mamak Akbar, Palembang)


(Sudut Pandang Akbar)


“Assalamualaikum warahmatullah” salam dua sisi menandakan raka’at terakhir shalat


Beberapa saat setelah bermain game online aku dan Irul shalat magrib, karena yang paling tua aku menjadi imam untuk adik-adikku. Shalat selesai, waktu bersalaman pun terjadi keributan karena tidak mau mengalah untuk mencium tanganku.


“Ssttt, sudah jangan berisik. Sudah do’a, sana makan abis itu tidur” kataku


“Emm” mereka semua menganggukan kepala, sajadah yang menjadi alas shalat di lipat dan diletakan kembali ke tempatnya oleh anak-anak itu


“Pintar juga mereka” pikirku


Sesaat mereka pergi aku pun memanjatkan do’a setelah shalat, meminta kepada yang Maha Kuasa untuk memberikan kebaikan dunia akhirat. Dijauhkan dari segalam marabahaya dan meminta agar semua dosa-dosa yang telah diriku perbuat dihapuskan dan dimaafkan.


‘Amin” dengan ini aku pun selesai dan siap untuk makan malam


“Lusa bagaimana?”


“Boleh. Tinggal siap-siap saja”


“Terserahlah, mending makan dulu” kataku sambil kedapur


Kaki berjalan dengan langkah berat tak kuasa menahan lelah, namun perut lapar tak boleh dibiarkan. Aku banyak muntah di perjalanan, jadi lebih baik makan sebelum istirahat. Meski begitu mataku mulai kabur berkunang-kunang, tanpa sadar aku menyandung sesuatu.


“Bruk, aduhh” sialan apa sih yang membuat aku jatuh


Kulihat sekitar tidak ada sesuatu yang mengganjal, hanya ada perasaan terkenang beberapa tahun lalu ketika aku masih tinggal di rumah nenek. Dahulu rumahnya tidak terlalu bagus, lantai yang diinjak terbuat dari semen dan batu masih belum menggunakan keramik.


Dindingnya pun dahulu masih papan kayu yang hampir lapuk, namun sekarang sudah di batu dengan kokoh. Itu adalah bagian depan serta kamar rumah tapi bagian belakang masih memiliki tampilan 7 tahun lalu.


“Dahulu aku pernah bermimpi kalau aku mengalami sesuatu disini” pikirku


Kulihat sekelilingku, aneh…kenapa jadi sepi sekali seperti semua orang pergi. Apa mereka sudah selesai mengobrol dan istirahat?


Dan disaat seperti itu ingatan masa lalu kembali, tentang aku yang melihat bola-bola putih yang mengitari lampu dapur. Kupikir itu adalah mimpi dan aku menganggapnya sebuah kesalahan dalam melihat.

__ADS_1


“Bola-bola putih itu bener-bener ada atau tidak ya?”


Aku bangun dari jatuh dan berusaha mengambil piring , kubuka penanak nasi dan kuambil nasi dua centong. Makluk perut lapar tak bisa ditahan, kuambil lauk pauk oleh-oleh dari Lampung. Tahu goreng, soto, dan ayam goreng, perpaduan lauk yang menggugah selera makanku.


“Hemmm pasti enak”


***


(OPI Mall Palembang)


(Sudut Pandang Ainur)


“Nggak juga kok, aku Cuma lagi males aja di rumah. Bosen” Aku menjawab telpon dari Agustina


“Ihh kok nggak ngajak sih?” rengek Agustina didalam telpon


“Kan aku sudah ajak, kau sendiri yang enggak baca pesannya dari siang tadi”


“Kan aku ketiduran, maaf deh. Tapi lain kali ajak ya”


“Iya, iya” jawabku yang baru membereskan mukena mushola mall


“Sudah?!” tanya Dedek


“Sudah”


Kami berdua bergegas menuju ke gedung bioskop karena semua sudah menunggu disana. Sesampai menaiki eskaltor ada perasaan menganjal di dalam diriku, seperti firasat buruk berkata “Jangan kesana”.


Namun itu hanya pemikiran-pemikiran jahat saja sehingga tidak aku hiraukan.


“Kalian sudah selesai shalat?” tanya Ibra


“Sudah, kalian sudah beli tiketnya?” tanyaku


“Tenang…sudah diamankan”


Tak membuang waktu kami ber-sepuluh masuk ke bioskop, kupikir kita akan menonton film bergenre romantic atau komedi. Tapi ternyata Fahri dan gengnya membeli tiket film horror, ”Sialan mereka ini” hujatku di dalam hati

__ADS_1


Bukan takut atau tidak suka, tapi diawal mereka setuju untuk menonton film komedi romantic tapi berubah saat aku pergi. Mereka benar-benar keterlaluan tak memikirkan pendapat orang, mungkin inilah satu dari banyak alasan aku tidak suka dengan mereka.


BAB XIII PULANG 2....SELESAI


__ADS_2