
(Sudut Pandang Akbar)
(Rumah Ainur, Palembang)
Di saat itu juga aku baru teringat,
“Jika menemukan sesuatu yang aneh menurutmu tetapi serasa tidak ingin kamu sentuh…mungkin itu benda bersemayamnya mereka” Kalau begitu aku ingat sejak pertama kali aku masuk rumah ini pandanganku selalu terhenti di “Lukisan Pangeran Belanda”
“Lukisan itu!!!” segera aku menyusul Pak ustadz dan om Panji ke kamar Ainur
Dalam batinku aku berpikir “Tempat pemujaan jin berarti mereka lebih dari dua, kalau begitu bayangan di luar jendela itu mereka” sesampai di depan pintu kamar aku segera menenangkan diri
“Lho, ada apa dek?”
“Bagaimana pak?”
“Kamu temannya anak saya kan kenapa disini jaga Ainur saja dibawah”
“Saya cuma mau tahu keadaan nya om sekaligus minta tolong”
“Yah kalau menurut saya lebih baik kamar ini di kosongkan, atau lantai dua ini jangan di tempati” saran Pak Ustadz sama seperti pemikiranku “Iya pak saya juga setuju, tapi ditambah barang-barang tua disini lebih baik dibakar saja”
“Boleh, apalagi tempatnya sempit dan apek seperti ini”
Om Panji hanya mengangguk seakan menerima saran dariku dan Pak ustadz, mendengar hal itu aku langsung mengambil “Lukisan Pengeran Belanda” itu dan membawa nya keluar.
“Lho dek mau diapain itu fotonya”
“Om kalau lukisan ini dibakar tidak apa-apakan soalnya lukisan ini yang membawa masalah untuk Ainur”
Kupikir permintaanku akan ditolak oleh om Panji tetapi ia setuju agar aku membakarnya,
“Boleh”
Aku berlari turun ke halaman depan sambil membawa lukisan itu, tapi entah kenapa tubuhku terasa berat seperti gravitasi meningkat 2 kali lipat, tanganku gemetaran memegang lukisan itu keringat mengucur lebih deras dari biasa.
Setelah melewati pintu depan aku sampai di halaman depan tetapi sebelum itu aku meminjam korek api ke bu Siti.
“Bu boleh pinjam korek api” melihat aku tergesa-gesa Ainur bangun dari tidurnya
“Sudah kamu istirahat lagi”
“Lukisan itu kan…mau di apakan?” sesaat bu Siti membawakan korek api aku cepat mengambilnya dan keluar rumah untuk membakar lukisan Belanda
Di dalam rumah Pak ustadz, om Panji dan bu Siti ingin tahu apa yang di perbuat olehku mulai keluar rumah. Tanpa aba-aba kulempar lukisan itu, dan kupatahkan menjadi dua sebelum kubakar.
Beberapa menit kemudian api sudah melahap lukisan itu, tapi anehnya sudah 2 menit berlalu apinya masih besar. Jika menurutku pembakaran untuk lukisan itu sudah selesai dan hanya tersisa abu serta kayu kecil.
Benar saja…saat itu juga Ainur mulai bertingkah aneh, ia kesurupan…tubuhnya kejang-kejang hingga ia berhenti dan tenang. Pak ustadz segera bergerak untuk mengeluar makluk dari dalam tubuh Ainur, tak kusangka ini pertama kalinya aku melihat orang kesurupan dari jarak dekat.
Tubuhku tidak bisa berhenti gemetaran, takut…takut…ya benar saat ini itu yang aku rasakan hanya bisa menelan ludah di tenggorokan. Aku melihat dan terdiam hingga makhluk itu menunjukku.
“Kamu berani-beraninya menggangu aku, Kamu….haaa…haaa…” sambil merangkak ia mendekatiku tetapi dihentikan oleh Pak Ustadz dan om Panji
“Ainur….Ainur ayo nak istigfar….kamu cepat keluar dari tubuh anak ini” perintah pak ustadz kepada makhluk itu sambil membaca al-fatihah dan ayat kursi
Aku baru sadar melihat Ainur yang sangat menderita karena makhluk itu, lukisan itu segera ku injak-injak hingga hancur..remuk tak bersisa.
Benar kata Pak de Sobri “Kalau kamu maju maka setan lari, kalau kamu lari setan yang maju”
Namun tidak ksangka dia yang kutakutkan muncul, kalau begini sesuai rencana atau tidak ?
“Beruntung disini sudah ada pak ustadz”kata hatiku
‘Sudah cukup bajingan, tempatmu bukan disini keluarlah dari tubuh perempuan itu” ancam tegas jari telunjuk menantang amarah jin
“Dasar penganggu, pergi dari sini…dia…punyaku”
Pak ustadz membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan keras dan hikmat, makhluk di tubuh Ainur mulai merasakan hawa panas “Panas…panas…berhenti…panas” raut wajah kedua orang tua Ainur mulai berubah
__ADS_1
“Cepat pergi dari anak ku” sang ibu memengang anak tersayang lebih erat
Tapi tidak kusangka makhluk itu masih berada di raga Ainur kukira makhluk halus akan takut setelah mendengar ayat suci Al-Qur’an.
Makhluk itu masih bertahan…tapi mengapa?...kuat sekali
“Anak ini punyaku…haaa.haaa..” tingkah makhluk itu mulai agresif seraya ingin menyerang orang disekitar
Apakah ini ada hubungan dengan keadaan mereka selama 7 tahun terakhir, jadi sulit bagi kami mengeluarkan makhluk berdosa dari tubuh Ainur.
“Sudah melekat” itu pikirku, tak ada pilihan aku harus menggunakan ajian turun temurun milik keluarga
“Kau salah, anak itu bukan milikmu” kedua kakiku mulai mendekati tubuh Ainur yang dirasuki makhluk halus itu, dengan cepat kuletakan telapak tangan kanan ke wajah Ainur
Entah berhasil atau tidak mana kutahu…mencoba pun belum…tapi ini adalah ajaran kakek yang diwariskan turun temurun kini sudah sampai pada ku…keturunan selanjutnya.
Kubaca ayat-ayat suci Al-Qur’an mulai dari Al-Fatihah sampai Al-Baqarah…meski makhluk it terasa kesakitan ia masih bertahan.
Tubuh Ainur dirasuki kurasa mulai melemah, padahal belum setengah jam…kurang ajar makhluk ini.
“Bismillahirrahmanirahim” ku baca ajian turun temurun yang ku pelajari dari kakek
“****************************” tubuh Ainur mulai kejang, bahkan lebih keras dan kuat dari sebelumnya
“Berhenti…..berhenti!!!!!” makhluk itu mulai memberontak kesakitan
Aku bertanya-tanya apakah bacaan ku ini berhasil.
“PANASSS!!!...Berhenti!!!!” “Pergi!!! jangan kembali lagi…Pergi…” seketika tubuh Ainur melemas, tak sadarkan diri tanda makluk itu sudah pergi
“Manjur juga ternyata…bukan ajian biasa rupanya…sangat mudah seharusnya kucoba saja sejak dulu”
“Apa itu tadi?” tanya pak ustadz kepadaku
“Nah kalau itu saya akan jelaskan nanti, sekarang kita bawa Ainur masuk. Suasana mulai gelap dan dingin nanti malah ada yang datang lagi”
Adik perempuan sudah menunggu di dalam rumah duduk di sofa, serasa memperhatikan semua peristiwa tak masuk akal ini sedari tadi
Om Panji membaringkan Ainur di sofa, disusul ibu siti memberikan bantal di bawah kepala dan kedua kakinya.
Aku mendekati Putri….melihat reaksinya…takut…cemas…rasa ingin menangis tapi tertahan dinding kuat.
“Mbakmu ndak apa-apa, sekarang sudah sembuh” kataku membuka obrolan
Putri hanya mengangguk seolah mengerti….setelah itu kepalanya terus menunduk kebawah.
“Gawat kenapa pula anak ini”
“Terima kasih kak” kata itu keluar dari mulut Putri membuat tubuhku terkejut bahkan terperanjat
“Oh itu bukan masalah kok” kataku menyombongkan diri sambil menggaruk kepala
“Apakah Putri seperti mbak?” Pertanyaan….tak kusangka hal itu juga keluar dari mulut Putri…pertanyaan yang aku saja tidak tahu jawabannya
Aku tak bisa melihat paras kecil dan manis karena tertutup helaian benang rambut…aku tidak tahu menjawab apa…terlintas dibenak apa iya ini adalah kutukan untuk keluarga ini lalu kenapa aku kesini.
Benar masalah ini tidak ada sangkut paut denganku…jadi apa alasanku datang kemari?
“Mbak Ainur sudah lelah dengan semuanya, mbak pun pernah ingin bunuh diri. Apakah Putri juga begitu?”
“Mana mungkin…tidak akan kakak biarkan Putri bunuh diri” mendengar perkataan ku wajah kecilnya terangkat menatapku, sekarang aku hanya perlu memberikan suasana baik di saat-saat runyam dan kelam ini
“Kalau mahluk itu datang lagi biar kakak yang mengusirnya lagi” aku spontan menunjukan otot kecilku kepada Putri ditambah senyum dan tawa kecil
Beruntung wajah muram nya membaik…sepertinya berhasil.
“Kakak janji…mau jaga aku dan mbak Ainur” semangatnya kembali kini kedua tangan Putri menggenggam tangan kananku meski begitu aku masih merasakan getaran takut pada tangannya
“Iya pasti! Jadi Putri jangan takut lagi, kalau ada yang begituan pukul sama tendang saja pasti dia pergi” sedikit menambahkan humor memang niat tapi kenapa aku mengatakan ini padahal diri sendiri masih takut
__ADS_1
“Jadi tadi itu bacaan apa nak?”kemunculan tak terduga disambung pertanyaan pak Ustadz kepadaku
Kedua orang tua Ainur pun ikut duduk di ruang tamu setelah menenangkan diri di dalam kamar. Berbekal televisi menyala dengan volume tak terhingga, besar bahkan suaranya terdengar hingga keluar.
Apakah sebesar itu keingintahuan mereka tentang bacaan turun temurun ku,
“Yah saya juga masih kurang tahu pak, tapi saya di ajari oleh kakek saya sendiri. Katanya bacaan ini namanya “Ajian turun temurun” kalau asal usulnya kurang tahu”
“Ajian ya…pantas…tapi kenapa bacaan nya seperti bahasa Arab di Al-Qur’an”
“Kalau itu kakek pernah bilang, ajian ini dulunya bacaan dari Nabi Sulaiman untuk mengendalikan dan mengusir jin serta setan”
“Nabi Sulaiman?....berarti salah satu ayat dari kitab Nabi Sulaiman. Hebat juga bacaan itu bisa jadi turun temurun”
“Yah tapi untungnya saya belajar ajian ini, bisa jadi senjata untuk mengusir makhluk-makhluk halus. Saya juga awalnya terkejut namun akhirnya berguna juga”
Semua diam dalam heningan hanya terdengar suara televisi,
“Dek tolong kecilkan suara TV-nya” pinta bu Siti kepada Putri
“Kalau begitu semua masalah sudah selesai, besok kita lanjutkan…malam ini terus perhatikan kondisi Rahma. Saya pamit pulang dulu” Pak ustadz mulai beranjak dari sofa meninggalkan ruang tamu dihantar Om Panji keluar rumah
“Terima kasih ya pak ustadz atas bantuannya”
“Iya sama-sama, kalau begitu saya pulang dulu ya Pak Panji, Bu Siti, Adek. Assalamualaikum”
Pak Ustadz pulang kerumahnya dengan langkah cepat, entah kenapa agak aneh melihat jalannya. Kalau begitu kehadiranku juga sudah habis waktu, sekarang bagiku untuk pamit pulang.
“Nak Akbar terima kasih ya atas bantuannya” ucap terima kasih bu Siti kepadaku
“Ah, iya tante sama-sama. Saya juga kurang banyak bantu, tapi syukur semuanya baik-baik saja”
“Nak om juga mau mengucapkan terima kasih, dan mohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini”
Tidak kusangka om Panji juga berterima kasih padaku, seorang laki-laki yang berprofesi sebagai security berbadan besar dan kelihatan kuat. Ditambah luka bekas sayatan dekat mata persis yakuza di Negara Jepang.
“Iya om sama-sama”
“Tapi tante masih tidak percaya kalau nak Akbar datang kemari malam-malam hanya untuk menolong Ainur. Padahal mau pergi jalan-jalankan?”
Wah ternyata bu Siti masih ingat alasan berbohong ku datang kemari, tapi syukurlah tidak mengetahui motif lain.
“Sekarang tante tenang karena Mbak Rahma mempunyai pacar laki-laki yang bisa melindunginya”
“Eh…” apa maksud perkataan itu
“Iya om juga sekarang percaya pada kamu, jadi om minta tolong ya jaga Rahma”
Apa ini…penyerahan anak perawan kepada seorang laki-laki…awal pikir aku sangat senang hingga beberapa detik aku sadar bahwa maksud perkataan om Panji memiliki arti lain.
"Tolong jaga Ainur” maksudnya menjaga dia dari makhluk-makhluk halus, pasti itu maksudnya…tapi….sudahlah tak ada guna menolak mungkin karena aku juga sayang dengan nenek lampir cerewet itu
“ S..Siap om tante, Akbar pasti menjaga Ainur” jawabku dengan suasana hati yang kurang senang
“Terima kasih ya Akbar” om Panji meminum air putih suguhan istri “Ayo kamu juga minum, pasti haus” ajak om Panji
“Kalau begitu jangan panggil om sama tante lagi, panggil saja Papa sama Mama ya”
Aku dan om Panji secara kebetulan bersama menyemprotkan air yang kami minum setelah mendengar ucapan itu.
“O..oke tante…nanti Akbar coba ya. Kalau begitu Akbar pulang dulu ya, sudah larut malam nanti bisa jadi masalah” aku mulai beranjak meninggalkan percakapan orangtua ini jika tidak panjang urusannya
“Iya, kalau begitu om antar sampai depan ya” tawar Om Panji
“Iya om, kalau begitu tan..eh..ma…Akbar pulang dulu ya” malu sekali menyebutnya bahkan lebih baik tidak kuucapkan
Yah tapi ini tambahan langkah untukku menjadi pacar Ainur….tidak buruk juga…malam ini.
BAB XXV PENGIKUT....SELESAI
__ADS_1