INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XXXIII TERKEJUT MELIHAT NYA ADALAH HAL BIASA


__ADS_3

(Rumah Putri, Jalan Anggrek, 16.30 WIB)


(Sudut Pandang Ainur)


Aku dan Sanjaya diam smendengar perkataan Putri barusan, ia mengatakan bahwa orang tua tidak ada di rumah dan ia sendirian.


Namun ia menambahkan biasa dia ada di kamar sekarang, menunjukan seseorang berada di rumahnya selain mereka bertiga. Sanjaya sedikit bingung tapi aku tahu ia belum mengerti situasi.


Sejujurnya aku tidak ingin bertemu dengan makhluk halus, aku takut hal buruk akan terjadi. Perabotan tua dan kuno mengelilingi kami, lukisan pun tergantung rapi seraya menatap mata.


Semakin lama aku semakin tenggelam oleh suatu perasaan, aku tahu bahwa sesuatu tidak mengenakan akan terjadi.


Jawaban Sanjaya juga salah satu kunci untuk ke depan, pilihan itu membuat aku tidak berkutik.


Laki-laki yang baru pertama kali di persilakan masuk ke rumah perempuan tanpa rasa malu mau masuk kamarnya.


Kuakui sikap jantan begitu juga kesigapan Sanjaya, rupa-rupa sebagai pelindung diri kalau sesuatu terjadi.


“Oke kalau begitu kita ke kamar mu saja”


Putri mengantar kami sampai depan kamar, ia berbalik arah ke dapur untuk membuat minuman. Tinggal kami berdua di dalam sana, mata ku melirik kesana kemari mencari sesuatu yang tidak seharusnya diganggu.


Tapi selang beberapa waktu tak ada tanda kehadiran, Sanjaya pun duduk tenang sedari tadi.


Hingga waktu berlalu pasti, matahari sudah terbenam anehnya Putri masih belum kembali. Lima belas menit ke lantai bawah pikiranku berkata ada apa-apa.


“Sanjaya lebih baik kita periksa ke bawah dulu yuk” ajakku


Beberapa saat berdiri kami dikejutkan dengan jatuhnya salah satu boneka milik Putri dari atas lemari.


Mataku tertuju pada arah darimana boneka itu jatuh, seketika jantungku dibuat kaget dengan kedatangan Putri tiba-tiba.


“Haa, aku kira apa” batinku


“Kenapa lama sekali Put?” tanya Sanjaya


“Iya tadi aku lama mencari gula dan tehnya. Ngomong-ngomong kalian mau kemana?”


Melihat kami berdua berdiri tentu saja ia beranggapan kami ingin pulang.


“Enggak kok kami Cuma mau nemuin kamu, karena lama banget”


“Prankkk” vas bunga pecah tepat dihadapan

__ADS_1


Sekali lagi kami bermain tatap-tatapan, namun kali ini diliputi oleh ketegangan. Kulirik sana-sini tidak terlihat benda menyentuhnya, angin pun tidak begitu deras sampai menjatuhkan benda yang terlihat berat itu.


Jika cicak, tikus atau kucing tidak mungin, sedari tadi kami tahu tempat ini tidak memiliki kehidupan untuk hewan peliharaan.


“Put…” baru ingin kuganti suasana kulihat wajah Putri pucat diam tertegun oleh sesuatu ditempat vas bunga itu jatuh


“Kenapa Put?, nggak apa-apa kok paling cuma angin” ujar Sanjaya


Bukannya mengelak atau meng “iya” kan, Putri mengambil pilihan sendiri dengan mengatakan sosok itu disana.


“Itu…itu dia” nampan yang dibawa Putri jatuh, gelas berisikan teh pun pecah dan menyebar berserakan


Kulihat kembali kea rah sana, Sanjaya pun sama mengikutiku. Benar saja seketika sosok seram menampakan diri dihadapan.


Bagaimana bentuknya sulit dikatakan, Besar…berpakaian putih dengan aura hitam di seluruh tubuh, wajahnya tertutupi rambut panjang, dan yang membuat kaki gemetar adalah sosok itu melayang di udara.


Kaki…tangan…mulut tak bisa bergerak, seperti biasa saat aku melihat penampakan bayangan namun kali ini benar-benar nyata dan berbentuk.


“Aku ingin pingsan” itulah pikirku saat itu


Air mata mengalir ke luar, suara ku berubah menjadi tangisan sedu, tubuh bergetar tanpa henti benar-benar hari buruk.


Hari itu sampai saat ini tidak pernah kulupakan, peristiwa saat pertama kali aku pipis di celana saat SMA.


“Waaa” teriakku


“Whoooaaa” Sanjaya yang sangat terkejut benar-benar pucat


Aku sangat ingat kejadian waktu kami lari itu, aku berada di urutan kedua, Sanjaya berada di depan tanpa menoleh kebelakang.


Sementara Putri di urutan belakang, beruntung saat itu kami berada di ruang tamu jika di kamarnya akan beda cerita.


Namun satu hal yang aku benci saat itu adalah rumah Putri yang begitu besar dan luas, untung saraf adrenalinku tinggi tanpa sadar aku sudah di luar gerbang.


Kulihat Sanjaya berhenti menunggu kami di depan rumah tetangga Putri meski pintunya tidak terbuka.


Aku sendiri menghentikan larian dan menoleh menunggu Putri, “Hahh tunggu Sanjaya” kataku sambil menarik nafas


Benar saja setelah sadar semua sudah aman tubuhku langsung lemas tak berdaya, ku dudukan kedua kaki di jalanan aspal.


Selang beberapa waktu kami telah berkumpul dan mulai membuka pembicaraan, sambil berjalan tanpa tujuan untuk utama menjauh dari tempat kejadian.


"I..itu tadi apa? Setan?” tanya Sanjaya yang masih gugup dan pucat

__ADS_1


“Iya, tapi kurang tepat, itu kayak roh gentayangan atau lebih dekat ke hantu” jelas Putri


“Hantu?” Sanjaya menggelengkan kepalanya


“Jadi bagaimana Nur?”


“A..aku juga tidak tahu, kupikir hantunya itu tidak kuat-kuat banget…tapi…” kata-kataku terputus karena masih belum bisa tenang


“Lho jadi Ainur tahu kalau di rumah Putri itu ada hantunya?” tanya Sanjaya


“Tidak, itu salahku karena mengajak kalian berdua kesini. Ainur juga tidak tahu dan aku mengajaknya untuk memeriksa saja. Tapi sepertinya makhluk itu marah besar”


“Eh, tapi dia nggak mengikuti kita sampai ke rumah kan?” tanya Sanjaya yang mulai ragu


“Aku tidak tahu, tapi kurasa tidak” ujar Putri


Ucapan terakhir Putri menyadarkan kami bertiga yang berjalan tanpa tujuan, di pinggir jalanan dengan suasana mencekam dari kejadian tadi.


Senja hampir selesai, suara adzan pun sebentar lagi berkumandang bertanda Shalat Magrib telah masuk.


“Sekarang bagaimana?” tanya Sanjaya “Aku mau pulang duluan ah”


“Lalu motor kau bagaimana?” kataku


“Kutinggal saja besok baru kuambil sama teman-teman”


Aku merasa sifat dewasa dan laki-laki dari Sanjaya seketika berubah total setelah menghadapi ketakutan di depan mata.


Meski begitu aku sedikit kecewa melihatnya, tidak seperti Ferdi yang tanpa takut menantang makhluk-makhluk itu. Bahkan Sanjaya pergi tanpa memikirkan kami berdua, berjalan menuju arah berbeda.


“Haahhh, sekarang gimana? Seharusnya tadi benar kita ajak Akbar atau orang pintar lain”


“Mau bagaimana lagi, Akbar masih sibuk dengan perlombaan. Tapi…mau bagaimana pun kita harus ajak dia…kalau bisa sekarang atau besok”


(Sementara di UKS SMA Negeri xx Palembang)


“Hacchuu…hemmm” suara bersin Akbar mengejutkan Agus


“Kayaknya ada yang ngomongin kau” ujar Agus


“Masa?” tanya Akbar


BAB XXXIII TERKEJUT MELIHAT NYA ADALAH HAL BIASA....SELESAI

__ADS_1


__ADS_2