INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
RUMAH TUA 2


__ADS_3

"Salah jalan?! Haduhh..."


"Ya maaf, kan aku nggak kepikiran tadi" ujar Ainur


Kami masuk ke hutan lebih dalam seperti nya, terlihat pepohonan semakin lebat dan rumput tinggi menghiasi.


Tanda orang yang lalu lalang pun tidak ada artinya jalan ini sedikit atau jarang dipakai. Dan sekarang kami ada disini, tidak tahu kemana harus pergi.


"Tidak ada pilihan lain, kita harus kembali kesana" ajak ku


"Mau lewat sana lagi? Kita mutar saja, mungkin ada jalan"


"Nggak, kita akan kembali. Kalau takut pegangan denganku"


Beruntung hari masih siang, keberanian masih berada di tingkat tinggi. Namun, aku berharap sesuatu yang tidak di inginkan akan muncul.


"Krasak!"


Kembali suara rerumputan kering dari arah dalam hutan. Seketika aku pun melihat dengan jelas.


"Zhaasss"


Seseorang muncul mengintip dari balik pohon. Seorang pria dengan wajah pucat menatap kami, dengan celurit di tangan kanan.


"Nur, ayo cepat lari!"


Kugenggam tangan Ainur dan mengajak nya kembali lari.


"Sialan, apa itu? Penculik? Orang bukan?" pikiran ku semakin kacau


"Ada apa Ferdi?"


"Ada orang disana, bahaya!"


Aku masih ingat langkah ku saat itu, menginjak rumput panjang setinggi pinggang. Ada juga bekas pohon pisang yang sudah tua, kayu-kayu tua dan kecil berserakan.


Bunyi dari langkah kami terdengar jelas, cepat dan tergesa. Mulutku semakin kering, dan makanan yang aku santap tadi sepertinya ingin keluar dari mulut.

__ADS_1


"Kita..kita kembali...haa" aku mengambil nafas


"Fer...di"


Aku tidak bisa menahan lagi, semua akan baik-baik saja bukan.


"Kau tidak apa-apa kan...Nur?, Ainur?"


Ia menghilang, seolah ditelan bumi. Genggaman tangan ku yang barusan seperti kebohongan.


"Nur, jangan main-main. Cepat kembali!" teriakku


Sadar bahwa ini bukan permainan, dengan cepat firasat datang ke dalam diri.


"Sialan, pasti aku yang kena"


Benar, kuharap tidak akan ada hal buruk yang terjadi, mungkin.


...***...


(Sudut Pandang Ainur)


Aku tidak tahu, namun Ferdi tiba-tiba lari ketakutan meninggalkan ku.


"Kenapa dengannya?"


Aku memilih jalan memutar dan benar saja aku sampai ke puncak gunung.


"Ainur! Darimana saja kau?!" tegas ayah


"I..itu, tadi jalan-jalan sebentar"


"Jalan-jalan kemana? Kau habis masuk dari hutan itu kan?! Dasar kau ini! Itu bahaya tahu!"


"Sudah-sudah, jangan disini, banyak orang" lerai ibu


Aku berhasil datang, namun tidak melihat keberadaan Ferdi.

__ADS_1


"Mungkin dia kembali pulang"


Hari sudah hampir mencapai sore, dan diatas bukit ini sangat dingin, tepat untuk melihat matahari terbenam.


Walau banyak awan menutupi awalnya, namun cahaya matahari tetap bersinar. Dan sinar itu akan menghilang sebentar lagi.


"Lho, ada keluarga Ainur? Lagi liburan?" suara dari seseorang yang mengajak ibu mengobrol


"Eh, ada ibu Tini. Kok bisa ketemuan gini ya, pasti takdir nih" ujar ibu


Perkataan ibu sedikit membuat aku malu.


"Kami disini mau liburan, sekalian silaturahmi sama keluarga disini" kata Bu Tini


"Ohh, kalau begitu sama dong"


Keluarga Ferdi cukup ramai, terdiri dari 7 orang yang masing masing memegang pop mie di tangan.


Namun aku tidak melihat Ferdi disana, jika ia sudah kembali seharusnya ikut bukan.


"Tante, dimana Ferdinya?"


Aku mencoba bertanya, dengan nada tidak tahu apa-apa.


"Nah, nggak tahu juga. Dia dari tadi siang sudah keluar dan belum pulang"


Aku tersentak, tentu karena perkataan ibu Tini membuat aku sedikit takut sekarang.


"Bukannya Ferdi tadi sama dengan mu Mbak?" tanya ibu


"Iya, tadi kami kesini sama-sama, tapi dia kembali duluan, tidak tahu pergi kemana"


"Eh, jadi Ferdi sudah ketemu dengan Ainur ya?"


"Iya, waktu di tempat makan. Saya juga pikir siapa itu kayak kenal, ternyata Ferdi"


Percakapan antara kedua orang tua ini sangat akrab. Namun perasaan campur aduk di hati muncul, apakah dia masih ada didalam disana?

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2