
(Sudut Pandang Akbar)
(Rumah Ainur, Palembang)
Langit malam mulai larut, bintang-bintang bersinar menerangi seperti lukisan di awan gelap. Cahaya bulan pun ikut menambah cahaya sehingga bumi bisa melihat didalam malam.
Kebanyakan orang sudah lelah dengan aktivitas yang di lakukannya hari ini, ada yang berjalan seperti biasa, ada juga yang luar biasa tetapi ada juga bernasib buruk.
Untuk melupakan penat dan mengisi energi, tidur adalah salah satu jawaban dari kebutuhan pokok manusia.
Rasa letih dan lelah akan berkurang hingga tidak berasa lagi saat sudah bangun, tapi berbeda dengan menahan kantuk di malam hari, orang biasanya menyebut dengan “Begadang”.
“Hoaamm” aku menahan diri agar tidak menguap, menunggu beberapa daging giling yang sudah diproses untuk dimakan saja lama
“Aku heran, kan sosis ini sudah di proses mesin dan pabrik, kok masih harus dimasak sih?” tanya Osama kepada orang yang duduk di dekatnya
“Nah Bar coba jawab”
“Lah kok aku?”
“Kan kau pintar disini” Ibra meninggikan diriku
Aku yang dihantui rasa kantuk sebenarnya enggan untuk menjawab, tapi memikirkan pertanyaan itu juga membuat otakku kembali berfungsi.
“Iya juga ya…hoaamm…” kali ini aku tidak bisa menahan rasa kantuk, “Maaf Os lain kali aku jawab, aku ngantuk banget gak bisa mikir lagi”
Di kursi tempat aku dan Ainur mengurus toko, aku membentangkan tubuh yang kelelahan. Di saat itu aku berpikir, “Apa yang sebenarnya aku lakukan disini?”
“Ahh lama banget sih, padahal Cuma bakar sosis saja kan?”
“Kenapa memangnya?, padahal kami mau menginap disini lho” ujar Ibra dengan jujur
“Ha?! Menginap? Memangnya boleh?”
“Kalo untuk barisan kami sih boleh, olehnya kami juga sudah pernah menginap disini”
“Emmm…” aku berpikir untuk menginap disini juga karena di rumah tidak ada siapa-siapa, kalau menginap di rumah mamak lagi nanti merepotkan
“Kenapa? Mau menginap juga?” goda Ibra
“Gitulah, di rumah juga tidak ada orang masih liburan. Tinggal di rumah sendirian itu bagaimana jadinya nanti” jelas ku
Aku bangun dari tidur dan memeriksa pekerjaan bagian memasak, hampir setengah jam tidak ada panggilan kepada kami.
Jujur saja aku sudah kelaparan, jika bisa di tambah nasi aku pasti mau bisa menahan perut sampai pagi.
“Masih lama ya?” tanyaku
“Nggak sebentar lagi kok” ujar Agustina kepadaku
Karena cerita Ainur aku jadi merasa canggung ketika berdekatan dengan Agustina, untuk tidak merengangkan jarak kurasa berteman seperti biasa sudah cukup. Tapi yang masih belum aku temukan adalah caranya.
“Bar minta saus lagi, coba ngomong sama Ainur”
“Ain nya dimana?”
Aku mengambil satu tusuk sosis panjang yang sudah siap di santap,
“Plak” Agustina menepis tanganku karena ingin mengambil sosis itu
“Sabar kenapa? Kan masih belum matang semua”
“Tapi kenapa kalian sudah ada yang makan” beberapa detik mereka terdiam mungkin untuk menyiapkan alasan
Aku sendiri sadar jika lawanku adalah perempuan semua, diri sendiri tahu akibatnya. Belum sempat habis berpikir, mereka mulai memberikan berbagai alasan bertubi-tubi, sebagai laki-laki aku tidak bisa apa-apa lagi.
“Oke, oke aku ambil sausnya”
“Sip” kata mereka serentak
Aku bertanya kepada tante Siti dimana Ainur berada, tepatnya di dapur. Kuhampiri ia, mataku melihat sosok yang membuat jantungku berdegub kencang, pesona seorang wanita yang sedang menyiapkan makanan dengan menggunakan celemek, Ainur di pikiranku seperti seorang istri yang baik.
“Lho bar, kenapa disini”
Lamunan terhenti saat Ainur sudah menyadari keberadaanku, “Oh itu mereka minta saus, masih tidak?”
“Masih, sisanya ada di kulkas bisa ambil sendirikan”
Pintu kulkas kubuka, tapi mataku tidak bisa berhenti melirik Ainur.
“Kau pakai pakaian begitu saat masak…”
“Hemm kenapa?” wajah Ainur memerah, aku sendiri mengira dia sedang demam tapi kubiarkan karena rasa malu sedang mengebu di hatiku
“Rasanya jadi tambah cantik,…mirip kayak istri banget jadinya”
Ainur yang menatapku langsung menarik wajahnya menghindari, di saat itu hatiku kosong dan berpikir apa yang telah aku katakan. Tapi begitu pula diriku sesudah mengungkapkan kata itu, rasanya bebas dan tenang.
“Me…memang kenapa kalau kayak istri banget”
“Eh, itu…aku…jadi suka”
Aku dan Ainur terdiam sejenak, mungkin sampai satu setengah menit, di 90 detik itu jantungku tidak berhenti berdegub dengan kencang bahkan lebih parah dari aku mengikuti wawancara.
“Aku juga suka” Ainur mengatakan sesuatu dengan suara yang kecil meski begitu aku samar-samar mendengarnya jelas sekali
“Eh apa?!” tanyaku kembali
“Emmm, enggakk! Sudah ah” Ainur jadi salah tingkah, melihat ia seperti itu aku sendiri jadi gugup dan canggung
“O…oh gitu ya” kami kembali berdiam diri, sampai aku memberanikan diri untuk memulai percakapan kembali
“Kau malu ya?” godaku
__ADS_1
“Eh, enggak kok kata siapa? Memangnya kau sendiri tidak malu apa?”
“Hemm, malu lah masa tidak” aku mendekati Ainur yang sedari tadi mengaduk sesuatu tidak selesai-selesai
“Dari tadi bikin apa sih, tidak selesai-selesai”
“Ini bikin adonan bakso”
“Heh bikin bakso juga?!”
Ketika percakapan kami sudah mudah dan tidak berhenti lagi, sesuatu hal yang mengejutkan terjadi di depan mata. Orang yang pertama kali menyadari adalah Ainur, sampai ia terbata-bata memanggil namaku.
“B…Bar” raut wajah ketakukan Ainur terlihat jelas saat menatapku, aku pun mencari asal ketakukan itu hingga aku juga terperanga melihatnya
Bayangan hitam penuh kegelapan menatap kami dengan mata merah menyala, seakan ada rasa dendam dan iri menjadi satu.
Tubuhku tidak bisa bergerak, bahkan kurasakan tubuh Ainur pun bergetar ketakutan, seakan kedinginan di kutub utara.
“Per..gii…Per…gi…” alunan nada suara yang menyayat hati terdengar dari makhluk itu
“Ya Allahu Rabbi” batinku mulai berdo’a
Kupaksakan tubuhku bergerak, “Pats” tangan kiriku menutup mata Ainur supaya ia tidak melihat sosok hitam itu
“Allahu Akbar…Lailahaillahu Allahulailahaillahuwalhaiyukoyium…” kubaca ayat kursi disambung dengan Al-Fatihah
Gelas berisi air di depan mata ku ambil, ku percikkan sedikit demi sedikit kearah sosok itu yang tepat berada di luar pintu. Jeruji pintu yang menghadang tidak kupikirkan, siram siram saja sampai dia pergi.
“Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Malik, Ya Kudus…” ku baca Asmaul Husna, karena sangat terkejut aku tidak bisa berpikir jernih
Jika orang pernah merasakan bagaimana wahana rumah hantu bisa dikatakan ketakutan terasa tapi dengan persiapan sebelum masuk kedalam, berbeda dengan kejadianku tak ada persiapan sosok itu muncul di depan mata.
“Pergi! Pergi tidak!” teriakku dengan nada tegas
Pada saat ku kedipkan mata ia menghilang, terlihat di depan hanya pintu dengan jeruji besi di luarnya pun hanya ada dinding pemisah antara rumah dan toko Ainur. Saat ku pikirkan betapa menakutkannya berurusan dengan makhluk halus, bahkan aku tidak menggunakan perantara apapun.
Itulah ketiga kali aku melihat penampakan hantu dengan jelas dan jarak dekat di hidupku, pertama adalah pocong di dalam rumah, perempuan berdasi merah di sekolah, dan sekarang sosok hitam bermata merah.
“Hiks…hiks…hiks” Ainur terisak-isak di pelukanku, tangan kiriku pun masih belum berpindah tempat dari kedua matanya
“Sudah Nur, dia sudah pergi” kubuka kedua matanya, “Sekarang sudah aman, semoga saja dia tidak kembali lagi”
Tanpa aba-aba pelukan yang kulepas kembali di dekap oleh Ainur, “Aku tadi takut, pikiranku kosong tidak tahu harus berbuat apa. Terima kasih ya Bar…terima…kasih…”
“Iya sama-sama” aku menenangkan Ainur
Tak sampai 15 menit di kejadian itu mulai dari aku ingin mengambil saus di kulkas, tapi serasa tak di duga banyak hal terjadi.
Namun sekarang kami hanya berdua dan takutnya akan ada orang yang lihat keadaan kami, selain itu di kesepian ini makhluk itu akan muncul kembali. Tapi ada satu petunjuk yang aku dapatkan detik itu, mahkluk itu ingin aku pergi dan tidak menganggu Ainur.
***
“Nur Ayo kita ke depan dulu, disana lebih ramai dan aman” kami berdua berjalan dengan si wanita jenius yang tidak melepaskan pelukannya
Meski begitu aku sendiri pun sudah tahu tidak dapat berbuat apa-apa, serta tidak akan berbuat apa-apa.
“Maaf Nur” batinku
Kami yang sudah dekat pintu keluar dapur melepaskan pelukan tidak ingin siapa pun melihat keadaan memalukan itu terutama keluarga Ainur.
Bisa berbahaya jika orang tuanya melihat aku berpelukan dengan putri sulung ber prestasinya.
“Sudah sekarang tidak apa-apa”
Mama Ainur yang melihat kearah kami berdua sadar akan sesuatu tidak beres, dari tengah ruang keluarga ia bertanya,
“Kenapa mbak?”
“Ah nggak kok tante, tadi Ainur cuma kepleset sedikit saja” jelas ku untuk membohongi tante Siti
Kami menuju ke depan teras dengan langkah cepat, di pertengahan jalan aku merasakan hawa menusuk yang melirik tajam diri. Mata dari seorang ayah yang tahu putrinya dekat dengan seorang perempuan membuat aku ketakutan.
Dengan badan berisi dan tinggi ditambah wajah garang dan dingin membuat laki-laki yang ingin mendekati Ainur menjadi sungkan.
“Seram sekali ayah Ainur” batin ku
***
(Sudut Pandang Ainur)
(Rumah Ainur, 20.00 WIB)
Suara bising dan keramaian di malam yang hampir larut sudah menghilangkan sedikit ketakutan. Ada sesuatu di dalam diri mengingat aksi heroik seorang Akbar terukir di hati ini.
Bunga cantik dan mahal akan terkalahkan hanya dengan melindungi dan mempercayai wanita, tentu akan membuatnya setia dan percaya.
“Terima kasih ya Bar”
“Nggak apa-apa, yang penting kita tidak apa-apa” bisik Akbar kepada ku
Aku sendiri masih sedikit syok dan merasa akan demam nanti malam karena kejadian ghaib ini.
Tahu jika setelah acara kelas ini barisanku akan menginap akan lebih baik Akbar pun ikut dengan begitu aku bisa tenang.
“Bar…” melihat raut wajah Akbar menjadi sedikit aneh ku tahan sebentar permintaanku
“Akbar sini, sudah matang semua” panggil Bobi
“Okee…aku kesana. Ayo Nur!” ajak Akbar yang membuat aku tidak bisa berbicara dengannya
Kami berdua ikut bergabung dalam kelompok,
“Iya” aku menyusul Akbar
__ADS_1
“Bar mana sausnya?” tanya Bunga dengan nada tegas
“Ya Allah lupa aku. Hehehe….masih dibelakang, wait aku ambil dulu” Akbar bergegas berlari mengambil saus sisa yang tertinggal di dapur
Sambil menunggu kembalinya orang yang mengambil saus, Bunga dan Rahma membagikan makanan secara merata kepada setiap orang walau ada yang keberatan karena sudah bersusah payah membantu membuat meminta agar jatah dapat ditambah.
“Nah sausnya” Akbar kembali dengan tergesa-gesa, “Punyaku mana?” tanya Akbar dengan nada tidak sabaran
“Ini” beri Agustina kepada Akbar dengan kedua tangan
“Oh makasih Tn”
Dengan begitu acara kelas pun telah berada di inti, kami menikmati makanan, ada yang bernyanyi di iringi oleh gitar dimainkan Ergan, ada juga yang bermain game online, dan wanita banyak bercerita mengenai kesehariannya.
Sementara untuk tiga orang laki-laki mengasingkan diri duduk di depan bangku toko untuk bermain catur, mereka selalu bermain ketika bertemu baik di dalam kelas atau ada acara kumpul bersama, Akbar, Osama dan Raihan.
“Kayak bapak-bapak saja” ujar ku
Acara sudah hampir berakhir, namun takdir tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara pada Akbar.
Kesulitan akan tembok penghalang besar menjadi tantangan hingga beberapa jam ini, bahkan sudah hampir jam setengah sepuluh malam.
“Kenapa mereka bisa betah duduk lama disitu sih, apakah tidak bosan melihat pion-pion catur terus?” kesal batinku
“Ain ayo foto” ajak Dedek
“Oke ayo”
***
(Sudut Pandang Akbar)
(Rumah Ainur, 20.30 WIB)
Skor seri antara aku dan Osama, tapi aku masih belum bisa mengalahkan Raihan di permainan catur malam ini. Sekedar hobi sejak kelas 1 dimana saat ada perlombaan catur di acara sekolah, meski baru satu tahun bermain aku merasa sedikit tertarik pada permainan otak ini.
“Skak…skak…sterr…skak” aku berkali-kali menyudutkan Raja dan Ratu (Menteri) Raihan, “Nah e’an bagaimana?” tanyaku
“Sabar cok masih mikir” kata Raihan dengan nada khas komering nya
“Lamo!” tegas ku
“Hemmm, sudah kalau begini mah tidak ada harapan. Menteri sudah dimakan, tinggal benteng untuk dekeng itu pun bentar lagi dimakan. Sudah nyerah lah, kalah aku” ujar Raihan yang sudah tidak melihat harapan dari para bidaknya
“Wooow, akhirnyaaaa…aku menang melawan suhu, baru pertama kali ini aku menang melawan e’an” ujar ku kesenangan
“Hehh, tapi masih banyak kalahnya, nanti jangan lupa banyak belajar lagi”
“Baik suhu…hehehe”
Di dalam kelas aku memanggil Raihan dengan sebutan suhu, karena ia yang mengenali dan membantuku belajar bermain catur.
Walau terdengar aneh tapi sejak pertama aku memanggilnya sekrang kami berdua sudah biasa, aku sendiri menganggap diriku sebagai murid yang diajari oleh guru sejak awal.
“Sip lah, aku pulang duluan ya, sudah malam” kataku sambil berdiri ingin meninggalkan mereka berdua
“Lho kau tidak ikut menginap disini?” tanya Raihan
“Tidak dulu, aku pikir lebih baik tidur di rumah. Karena tidak ada orang takutnya ada apa-apa, aku juga belum pulang ke rumah dari liburan ke Lampung”
“Oke lah, hati-hati saja ya” kata Osama yang duduk di sisi berlainan Raihan bersiap untuk melawannya
“Oke duluan ya” aku pun meninggalkan mereka berdua, dimana masih ingin melanjutkan permainan memeras otak itu
Tak lupa aku pun berpamitan kepada Ainur dan keluarganya, berharap dapat bertemu kembali di kala keadaan membaik.
“Nur!” aku memanggil Ainur sambil berjalan mendekati
“Iya Bar”
“Aku pulang duluan ya”
“Eh kau tidak menginap disini seperti yang lain”
“Tidak dulu Nur, aku disuruh menjaga rumah. Keluargaku pulangnya lusa jadi malam ini aku mau cek rumah soalnya sudah lama di tinggal”
Sebenarnya bukan itu alasanku tidak ingin menginap disini, karena kejadian tak terduga sosok tadi aku berpikir ulang agar tidak menganggu dan bertemu kembali dengannya.
Meski begitu perkataanku tidak sepenuhnya bohong, baru mendapat pesan kalau keluargaku akan menginap satu hari lagi di tempat Cinta Manis.
Melihat raut wajah Ainur sekilas melambangkan akan ekspresi kekecewaan, tapi dengan cepat berubah.
“Iya tidak apa-apa. Hati-hati di jalan ya”
“Oke. Oh iya aku mau pamitan sama Om dan Tante juga”
“Ah nggak usah, paling sudah tidur”
“Oke la, aku ambil barang di dalam dulu”
Hati ini merasa perih setelah bicara seperti itu kepada Ainur, diri sendiri meragukan keputusan yang kubuat.
Kekecewaan terlihat jelas pada parasnya, tapi aku seakan tidak memperdulikannya bahkan setelah terjadi pengakuan dari kedua belah pihak sama menyukai.
“Ah sekarang bukan itu yang harus pikirkan, karena aku merasakan firasat buruk akan terjadi kalau aku menginap disini jadi lebih baik pergi. Selain itu aku juga tidak dapat berbuat apa-apa kalau sampai masalahnya membesar” pikirku dengan matang dan panjang
Aku pun mengambil barang-barang yang aku taruh di ruang tamu, memasukan ke dalam tas dan bersiap pergi.
Sebelum itu terakhir kali aku berdiri dan merasakan sesuatu, dimana mataku harus menatap tangga penghubung lantai rumah Ainur dari kejauhan.
“Hmmm” aku merasa kalau ada seseorang disana dimana kami saling bertatapan dan berdiri menghadap satu sama lain
Merasa sudah puas dan seketika bulu kudukku hampir berdiri, aku pergi meninggal ruangan itu dan bersiap pulang. Dan tahu jika perasaan menekan tadi bukan sebatas hal biasa melainkan “dia ada disana”.
__ADS_1
BAB XXII KETIDAK PATUHAN.... SELESAI