
(Rumah Putri)
(Sudut Pandang Akbar)
Aku berdiri di depan pintu, dari dalam hati berteriak untuk kembali. Jantungku berdegub lebih cepat lagi, membuat adrenalin meningkat.
“Putri! Putri! Sanjaya!’ teriakku dari luar berharap mereka keluar dengan sendiri
Tak ada jawaban beberapa saat, suara teriakan dari dalam yang aku dengan. Tanpa sadar kakiku masuk ke dalam dan mencari asal suara.
“Woi kenapa? Dimana kalian?” teriakku setelah masuk ke dalam
Mataku terkejut melihat keadaan Putri, ia terbaring di jatuhan lemari buku, sementara keadaan ruangan itu berantakan seperti terkena badai.
Aku menghampiri Putri, disaat ia masih sadar dan mengangkat tangan sambil menggembang sebuah keris.
“Wahai iblis jahat pergilah kau dari dunia ini, tempatmu bukan disini kembali lah kau ke asalmu” sebuah ucapan terdengar ke telingaku
“Put!” aku membantunya berdiri
“Fe..Ferdi!” sama seperti Ainur ia memelukku dengan erat bedanya ia menangis
Aku tidak tahu apa yang terjadi namun lebih baik mencari Sanjaya dan keluar.
“Dimana Sanjaya?” tanyaku
“Ti..tidak tahu, tapi dia…makhluk itu masih disini”
“Makhluk itu?”
Sebuah teriakan terdengar dari luar, jeritan laki-laki yang ketakutan membuat perhatianku lengah sebentar.
Saat pandanganku kembali dari atas muncul sosok hitam yang diceritakan oleh Ainur dan Putri.
“A…apa-apaan ini?” aku bergumam karena terkejut
Jantungku ingin lepas, darahku mengalir lebih cepat dari biasanya bahkan bulu kudukku sudah berdiri membuat tubuhku keringat dingin.
Sosok seperti iblis, tubuh hitam dengan bertutup kain hitam, wajah hitam keriput dan tanduk di kepala, mata merah menyala membuat aku menjadi patung.
Aku mengerti kenapa mereka ketakutan sedrastis itu, membuat mereka tidak dapat berhenti bergetar, jiwa dan raga mereka takut dengan makhluk di depanku ini.
“Percuma, suaraku tidak mau keluar. Tubuhku juga, takut…sialan, aku ingin pulang” batinku
“Wa...wahai iblis pergilah kau dari hadapanku, kembalilah ke dunia asalmu. Kun Fayakun!”
Putri masih bisa bergerak dan menyuruh pergi makhluk itu.
“Khiiikkkkk” suara serak seperti ultasonik memekakan telingaku
__ADS_1
“Ahhhh” aku dan Putri menutup telinga
Makhluk itu mendekat, aku pun membantu Putri dan bergerak lari. Suaraku harus kembali, aku harus berani untuk menghadapi makhluk halus, ingat semua yang aku pelajari di liburan dulu.
“Jika kau takut makhluk itu akan berani, jika kau berani maka mahkuk itu akan lari”
“La…lailahaillalahu…” aku pun memberanikan diri menghadap kebelakang dan melanjutkan membaca ayat kursi
“Allulailahaila….” meski masih terbata-bata aku mencobanya
Aku merasa itu tidak ada pengaruh dan makhluk itu masih terus mendekati kami. Tak ada pilihan, kucoba melakukan ajian seperti kejadian Ainur. Dengan bentuk yang berbeda kulakukan sebelum keadaan semakin berbahaya.
Putri sendiri bingung melihat tingkah lakuku, aku menulis ajian turun temurun itu di lantai sambil mengucapkannya.
Setelah selesai aku pun memukul lantai dengan keras seperti ajaran kakek,
“Lahaulawalakuwatailabillah. Allahu Akbar!” aku memukul lantai
“Khakkk” makhluk itu terpental dan menghilang ditandai dengan lampu-lampu mati hidup sendiri dan beberapa barang terjatuh
Jurus Ajian Paku Bumi, sebuah teknik yang aku pelajari dari kakek saat liburan semester kemarin.
Karena setelah kejadian di rumah Ainur aku takut tidak dapat berbuat apa-apa, lalu kakek mengajarkan aku sebuah jurus untuk menghadapi makhluk halus.
Saat itu juga kakek mengatakan jika aku dilindungi oleh leluhur karena aku memakai cincin yang aku temukan di gudang.
“Seekor harimau putih, penjagamu dari kakek buyut” ujar kakek yang tidak aku mengerti perkataannya
Berhasil atau tidak? Aku tidak memikirkan hal itu, aku mendorong Putri untuk segera meninggalkan rumah.
Ketika makhluk itu menghilang sementara waktu tubuhku ringan, kami berjalan cepat menuju pintu keluar. Namun tidak semudah yang aku kira, makhluk itu marah besar karenaku.
Kaca-kaca jendela disebelah kami pecah berpencar kemana-mana, aku pun melindungi Putri agar tidak terkena pecahan kaca.
Salah satu serpihan sedang dari kaca mengenai punggungku, dan serpihan kecil membuat tangan kiriku tergores.
“Allahu Akbar…” aku terus menerus mengucapkan dzikir
“Ferdi, kita bisa menghentikan makhluk itu. Aku tidak bisa menjelaskan….tapi keris ini adalah senjata untuk menghalahkan makhluk itu”
Aku mendengar Putri seperti hal sulit untuk dipercaya, namun matanya sudah tidak ketakutan lagi dan terlihat berbinar mengeluarkan harapan.
“Apa yang kau lihat Putri? Kalau begitu aku hanya bisa percaya padamu” kataku di dalam hati
“Aku tidak mengerti maksudmu, tapi jika itu dapat membuat kita keluar dari masalah ini lakukanlah” kataku
“Tidak, bukan aku…tapi kau. Sejak tadi aku berusaha mengurung makhluk itu ke keris ini tapi tidak bisa. Kurasa kita harus menusuk makhluk itu dengan keris ini
Ahhh kedengaran seperti ide gila, tak ada jaminan rencana itu berhasil namun satu yang pasti jika aku akan terluka parah.
__ADS_1
Di tengah diskusi kami sosok itu kembali muncul kali ini aura gelap dan dingin memancar, jarak kami dengan pintu keluar semakin jauh, kali ini tidak ada pilihan.
“Baiklah, tapi aku yang akan melakukannya. Tapi aku ingin kau berjanji satu hal saat aku melakukannya, kau pergilah keluar, jangan berhenti, jangan melihat ke belakang”
“Tidak!, aku tidak bisa, kuakui aku sangat takut dan kehilangan harapan tadi. Tapi sekarang ada kau Ferdi, aku yakin kita bisa mengakhirinya disini selain itu ini permintaan arwah anaknya”
Mata Putri sejak tadi berbeda, aku tidak tahu apa yang ia lihat. Dan ini tidak ada di dalam mimpiku, seoarang perempuan keras kepala seperti Cindi dan Ainur.
“Oke, tapi berhati-hatilah, tapi kali ini kau harus berjanji padaku, jika aku gagal keluarlah dan cari bantuan. Lari dan jangan lihat kebelakang, mengerti, berjanjilah padaku” ujarku kepada Putri
“Aku bilang ti…”
“Berjanjilah!” bentakku kali ini
Orang kelas kepala harus dilawan dengan kesabaran dan kelembutan, tapi hal itu tidak dengan keadaan kami saat ini semua emosi terkuras habis.
Aku khawatir dengan Putri, bahkan Sanjaya pun masih belum tahu keberadaannya.
“Aku khawatir…aku laki-laki, dan kau perempuan. Itu sudah cukupkan” kataku melembut
Putri terdiam dan mengangguk mengisyaratkan mengerti,
“Baik ayo kita lakukan"
Pandangan kami mencari sosok iblis itu, namun ia menghilang saat itu juga semua lampu di rumah itu mati.
Tidak gelap karena masih siang hari, namun terkejut pasti untuk kami berdua.
“Dimana dia?”
Kami mencarinya, tanpa ketahuan ia berada di belakang kami. Mata merahnya menyala di kegelapan rumah ini dan mengejutkan kami.
“Khikkk” ia kembali menjerit
Kali ini sebuah udara atau angin menghempaskan aku dan Putri, aku tidak tahu apa itu tapi sangat berbahaya.
Otakku berpikir cepat,
“Apakah karena itu ia bisa melemparkan benda-benda ini, lalu keris itu adalah kunci untuk menghentikannya jika begitu orang yang memengangnya pertama di incar. Lebih baik aku melakukannya sendiri tanpa melibatkan Putri, baik bagimana rencananya” pikirku
Sebuah rencana disusun oleh Ferdi, sepotong demi sepotong untuk menghentikan iblis itu, menusuknya langsung atau saat ia memiliki kesempatan.
Apakah ia harus menggunakan Ajian Paku Bumi lagi untuk membuat celah? Itulah yang ia pikirkan dalam beberapa detik.
Namun ia sadar dari semua pengalaman yang dilalui, bahwa kejadian mistis atau makhluk halus tidak dapat di pikirkan secara logis.
Saat kau ingin menggabungkan kedua ujung benang mereka tidak akan bersatu dan lurus, melainkan akan terus berbelok dan melenceng dari kenyataan.
Mereka bukanlah logika maupun buatan, mereka tidak pasti dan tidak dapat di tebak “sebuah hal yang tidak harus di percaya namun kita ketahui mereka ada”.
__ADS_1
BAB XXXIX MANUSIA YANG MELAWAN HUKUM ALAM.... SELESAI