INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XXXII CERITA KE-EMPAT DAN TANGGAPAN


__ADS_3

(Kamis 2020, SMA N XX Palembang)


(Sudut Pandang Ainur)


Hujan badai kemarin sudah mereda, hari ini hanya rintik kecil menemani siang hari di sekolah. Aku dan Putri dekat kembali setelah berbicara empat mata kemarin, Dedek pun ikut mengobrol topik wanita bersama.


Di kesempatan itu kami menuju Kantin untuk membeli cemilan sebelum kelas kembali di mulai.


“Tunggu!” suara seseorang menghentikan langkah kami bertiga


Secara bersamaan kami menengok sumber suara kearah belakang, terlihat seorang lelaki dengan tubuh tinggi dan cukup tampan berlari kearah kami. Aku melihat di tangan kanannya memegang secarik amplop dan coklat.


“Iya kenapa ya?” tanyaku kepada Sanjaya sebagai ketua Paskibraka


“Itu maaf sebelumnya, aku mau kasih ini ke Putri” Sanjaya menyerahkan coklat dan sepucuk surat


Surat pemberian itu ku pastikan adalah surat cinta, benar saja dugaan, walau kurang bergaul tapi Putri sangat cantik dan sifat pendiam nya itu bisa dianggap sebagai sifat dingin seorang wanita.


Sanjaya mungkin suka dengan Putri, sebagai teman keduanya tentu aku ingin mendukung.


“Ehh Sanjaya apa itu?” tanyaku


“Bu…bukan apa-apa kok, kalau begitu aku permisi dulu, tolong dibaca ya suratnya”


Sanjaya berjalan gugup meninggalkan kami, kami pun bergegas ke kantin dan setelah kembali ke kelas baru membuka surat itu.


Putri sendiri tidak malu untuk memperlihatkan isi surat yang ternyata surat cinta itu kepadaku dan Dedek.


“Cieee, Putri” ujar Dedek dengan nada menggoda


“Bagaimana put?, dia juga mau minta jawaban pas pulang sekolah”


“Aku nggak tahu Nur, sebenarnya mau aku tolak tapi enggak enak”


“Tidak apa Put, coba pikirkan dulu lagi saja. Tapi Sanjaya itu orangnya baik kok, tegas pula” ujarku memuji Sanjaya


Putri terlihat sangat bingung aku tahu bagaimana perasaannya, ia ingin menolak tapi tidak enak.


Bagiku yang sudah puluhan kali ditembak oleh banyak laki-laki terbiasa untuk menolak mereka.


Tapi di hati kecil aku ingin Putri menerima Sanjaya, selain bisa diandalkan Sanjaya juga kuat.


“Semuanya duduk” Akbar masuk ke dalam kelas dan langsung menulis di papan tulis


“Hari ini Pak Riko sedang ada pekerjaan, jadi kerjakan tugas yang ada di papan tulis” perintah Akbar kepada semua orang di kelas


“Kapan kumpulnya Bar?” tanya Ibra


“Emmm, karena ini hari Kamis…Oke!...hari Selasa saja kita kumpul sama-sama”


“Horeee…Akbar memang ketua kelas terbaik” seru semua orang


Begitu tahu tugas tidak perlu di kumpul cepat, semua menganggap kelas kosong dan tentu apalagi jika bukan bersantai dan membuat keributan di kelas selanjutnya.


“Tapi hari ini kerjakan sebisanya dulu ya” Akbar langsung berjalan menuju ke tempat duduknya


Di jalan ia terlihat sangat lelah, hanya perasaan ia sedikit melirik kearah kami bertiga tepat di tempat dudukku.

__ADS_1


Ku sapa saja ia tanpa basa-basi, mencoba peruntungan saran dan kedekatan


“Bar sini dulu” kataku


“Kenapa Nur?” Akbar berdiri di depan kami


Ia melihat sepucuk surat di atas meja, mengetahui hal itu Putri langsung menarik surat miliknya itu


Malu takut ketahuan ia menyembunyikannya,


“Apa itu?” tanya Akbar yang sudah terlanjur melihat


“E…enggak kok, bukan apa-apa” ujar Putri malu


“Itu, Putri ditembak oleh Sanjaya” bisik Dedek kepada Akbar


“Sanjaya? Oh…ketum Paskib ya. Hebat dong berarti Putri” kata Akbar


“Nggak juga kok” bantah Putri dengan cepat


Mataku melihat sebuah perbedaan sikap dari Putri kepada Akbar, seperti ia lebih tidak suka kepada Akbar.


“Oh iya hari ini aku mau ke rumah Putri, untuk mampir sebentar” ujarku kepada Akbar sebagai sebuah kode


Akbar mengerti maksudku dan langsung menanggapinya,


'‘Bagus kalau begitu, aku mau ikut tapi masih ada sesi latihan”


“Dedek” Ibra memanggil Dedek dari belakang


“Iya Ba kenapa” seperti magnet Dedek langsung melesat menghampiri Ibra


“Tidak apa-apa kok, tapi terima kasih ya sudah khawatir. Kalau begitu boleh kan kita jabat tangan” minta Putri sembari mengulurkan tangan


“Boleh” tanpa ragu Akbar meraih dan menjabat tangan Putri


Saat berjabat kulihat ekspresi Putri berubah total, tentu aku tahu bahwa kemampuannya aktif.


Akbar sendiri baik-baik saja dan terlihat bingung melihat tingkah laku Putri.


“Pak Ketum, catur!” teriak Raihan kepada Akbar untuk bermain catur di belakang kelas


“Oke”


Putri melepas tangan Akbar sesaat Raihan memanggil, aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Putri dan aku penasaran.


Meski mereka jarang bertemu dan bercakap setelah jabat tangan itu Akbar dan Putri semakin dekat.


***


(Sepulang Sekolah)


“Maaf aku tidak bisa menjawab sekarang, soalnya aku masih tidak kenal kamu” suara Putri terdengar sampai ke telinga ku


Tempat bertemu mereka adalah di belakang sekolah, tempat sepi tertutup oleh bangunan sekolah kelas 11.


Aku menunggu agak jauh tapi suara mereka masih terdengar jelas, pengungkapan cinta….sudah lama aku tidak mengalaminya.

__ADS_1


Tapi kini berbeda, ada seseorang yang ingin aku ia memilikiku.


“Nur” Putri dan Sanjaya berjalan mendekat


“Sudah?” tanyaku


Putri menganggukan kepala, “Jadi bagaimana? Sudah jadian?”


Putri menggelangkan kepala, “Belum, Putri masih minta waktu. Salahku juga sih mau minta jawaban hari ini” ujar Sanjaya


“Hemm, oke. Udah yuk Put” ajakku


“Oh iya dia ikut kita ke rumahku”


Kaget respon ketika Putri mengajak Sanjaya ke rumahnya, kutanya alasan saja.


“Kenapa Sanjaya ikut?”


“Dia bilang mau menghantar aku pulang. Sekalian saja supaya ramai, lagipula ini pertama kalinya ada teman berkunjung ke rumah”


Jawaban jujur dari Putri tak bisa kubantah, tentu aku akan mengikuti keinginannya.


“Sanjaya jangan macam-macam ya” ancamku


***


Rumah besar berdiri di depan, bak istana kerajaan bentuknya, namun terlihat umurnya juga tua.


Rumah Putri cukup jauh dari sekolah, dari gerbang rumahnya saja harus melewati lapangan hijau luas.


Letak rumah yang berada sedikit di belakang cukup memakan waktu dan tenaga, tapi bagi orang yang memasukinya tentu akan ternganga.


“Kriieeet” pintu dibuka


Begitu masuk ke dalam terasa aura dari rumah tua, baik penampilan luar dan dalam sama membuat bulu kuduk berdiri.


Putri pasti merasakan hal sama sampai aku berpikir ia hebat bertahan tinggal disini sampai saat ini.


“Waaahh, rumahnya besar sekali, lalu juga terasa arsitektur tua nya” ungkap Sanjaya


“Iya, disini aku tinggal dengan orang tua tapi mereka sering pergi kerja. Aku jadi selalu sendiri di rumah, ini pun pertama kali ada teman sekolah berkunjung”


“Eh yang benar? Aduhh yang pertama ya? Jadi malu hehehehe” ujar Sanjaya dengan nada aneh


Pandanganku sendiri teralih oleh besar rumah bagaimana pun ini sangat berbeda dari kehidupan sendiri.


Kesimpulan pun datang ke otak, tidak di ragukan kalau ada penunggu di rumah sebesar ini.


Masalahnya bagaimana selanjutnya, aku kemari hanya untuk melihat dan memeriksa keadaan. Lalu akan ku sampaikan kepada Akbar mengenai situasi di rumah Putri.


“Tapi bisa di bilang ini sudah tidak perlu di pastikan” pikirku


“Kalian masuk ke kamar dulu aja, kalian mau minum apa?” ujar Putri tanpa memikirkan aku dan Sanjaya adalah laki-laki dan perempuan


“Ah tidak usah Put, disini ruang tamu saja”


“Tapi biasanya dia ada dikamar jam segini”

__ADS_1


BAB XXXII CERITA KE-EMPAT DAN TANGGAPAN....SELESAI


__ADS_2