
(Lr. Depok Talang Bubuk, Palembang)
Kejadian aneh mengemparkan warga Plaju dimana seorang bocah hilang setelah berenang di sungai dan beberapa hari kemudian ditemukan tewas.
Berita ini terjadi dua tahun lalu di persawahan depok Plaju banyak yang mengkaitkan kejadian itu dengan hal mistis, seorang anak yang di bawa oleh hantu banyu berita ini menyebar setelah perkataan seorang dukun.
Kejadian serupa namun tak sama di persawahan depok itu cerita turun-temurun mengatakan seorang anak muda yang meninggal tanpa jejak setelah berenang bersama teman-temannya, dikatakan bahwa buaya putih penunggu tempat itu marah dan menginginkan tumbal.
Cerita itu masih membekas di pikiran masyarakat, ada yang percaya namun ada juga yang tidak percaya. Kalau aku saat itu aku masih di opini tidak percaya sebelum sebuah kejadian mengubah perspektifku.
Pagi setelah aku ditelpon oleh Ainur aku mandi dan dilanjutkan makan hingga tak terasa hampir tengah hari, pikiranku tidak melupakan hal penting yaitu menikmati keindahan dan kesejukan daerah persawahan.
Karena bergadang semalaman aku lupa untuk Shalat Subuh…mungkin hal ini menjadi firasat bagiku…sebuah firasat buruk.
“Say aku keluar dulu ya, ingin foto-foto bentar mumpung disini” aku berpamitan dengan Aksay di depan pintu
“Oke bentar aku ikut” Aksay bergegas lari dan memakai sandalnya mengikutiku dari belakang
“Bapak sama ibu kau belum pulang juga?” aku bertanya kepada Aksay
“Katanya siang ini sudah sampai ke rumah tapi nggak tahu juga kalau sampainya sore”
“Gawat juga gimana sekarang” aku berpikir akan lebih baik pulang kerumah sebelum sore agar dapat mempersiapkan diri bertemu dengan om Panji
Namun orang tua Aksay belum pulang dari dusun Lahat untuk menjenguk keluarga yang sakit takutnya waktu tidak akan cukup,
“Memang kenapa sih nggak tidur dirumah sendiri?, padahal rumah besar, tempat tidur luas kenapa malah menginap dirumahku. Kalau karena kangen sama aku ya nggak apa sih”
Terlintas dikepalaku apakah lebih baik aku memberitahu Aksay tentang masalah yang kudapat. Ia juga orang dapat dipercaya dan mungkin dapat membantu jika aku dalam masalah.
“Sebenarnya aku tidak boleh tidur sendirian…” mendengar perkataan barusan ekspresi Aksay bingung tidak karuan
“Kata tetanggaku mata batinku terbuka dan aku bisa melihat makhluk-makhluk dunia lain. Kalau aku tidur sendirian aku pasti di ganggu oleh mereka, alasan aku menginap dirumah kau ya….sebenarnya karena sebelum kesini aku di ganggu oleh sosok harimau”
“Ha?” Aksay terdiam patung mendengar penjelasanku barusan, apa aku terlalu berlebihan dalam menjelaskan atau seharusnya aku tidak perlu memberitahunya
“Jadi begitu dan itu juga alasan kau mengajak aku menginap dirumah kau mala mini” aku terkejut dengan jawaban Aksay orang yang kukenal selalu main-main tetapi bisa menangkap semua penjelasanku
__ADS_1
“Ya itu juga benar. Tapi tidak kusangka kau bisa nyambung dengan penjelasan aku”
“Iya lah kalau masalah begian aku tidak pasti tahu karena ini sudah biasa. Okelah kalau begitu mala mini aku menginap dirumah kau, tapi bagaimana dengan malam-malam selanjutnya? Keluargamu masih lama liburannya kan?”
“Hoooh masalah ini menarik ya, kau tidak tahu bagaimana kalau melihat mereka. Yah tapi terima kasih juga sudah mau menginap dirumahku kalau tidak aku pasti susah. Keluargaku 2 hari lagi pulang jadi setelah itu aku mungkin menginap di rumahmu lagi atau rumah temanku lainnya”
“Hmmm ide bagus, oke lah tapi aku puny aide lebih baik kita tunggu orang tua pulang aku akan bilang kalau mau menginap dirumahmu selama dua hari, kalau sudah izin aku lebih tenang dan aku akan memanggil Dandi dan Dimas untuk ikut menginap”
“Boleh juga, makasih say” Aku benar-benar tertolong karena sahabatku sejak kecil
Tak terasa karena obrolan panjang kami sudah berada ditengah-tengah sawah, sebuah pemandangan yang indah terdapat padi berwarna hijau dan ada juga yang menguning, serangga-serangga kecil seperti capung dan belalang menghiasi persawahan ini, suara bebek dan angsa khas perdesaan menghidupkan suasana.
Ditengah-tengah sawah ini terdapat sungai atau danau cukup besar, sebutan aslinya sungai karena terdapat hulu dan hilir tetapi bentuknya seperti danau. Terlintas sebuah kasus beberapa tahun lalu membuat firasatku berubah menjadi buruk.
“Ingat tidak dulu kita berenang-berenag disini waktu SD”
Pikiranku kembali setelah percakapan yang dimulai Aksay, “Iya masih ingat la, yang waktu itu kita buka-bukaan”
“Hehehe…masih inget tapi dulu kami terkejut punya-mu besar juga walau masih kecil. Bagaimana sekarang masih kayak dulu atau tambah besar?”
“Malah bahas yang begituan disini, otak mesum kau masih belum hilang juga rupanya”
Aksay berjalan ke depan terlebih dahulu tanpa memperhatikan apakah aku mengikuti atau tidak, aku yang mempunyai firasat buruk terhenti pada pinggiran sungai dimana arusnya tidak ada.
Saat itu aku berpikir tidak akan ada masalah karena mana mungkin setan muncul di siang bolong begini. Lebih dekat…kakiku melangkah kearah sungai seperti ada magnet menarik atau seseorang memanggil ke dalam sungai.
Kulihat seksama sambil mengambil air sungai dengan kedua tangan, airnya sudah agak butek berwarna kecoklatan tetapi masih baik dan bagus karena banyak ikan hidup didalamnya.
“Perasaanku saja kali ya” aku menatap bayanganku diair sungai yang butek itu, sinar matahari menerangi walau hanya sedikit bayanganku terpantul air
Hingga sesuatu berubah dengan cepat, aku merasakan sesuatu hal membuat bulu kuduk berdiri serta pikiranku dilanda ketakutan mendalam.
Aku masih menatapi air sungai sedikit demi sedikit aku melihat bayangan dari dalam air “Lah apa ini, lagi?” beruntung saat itu tubuhku bisa bergerak jadi tanpa pikir panjang langkah seribu kuambil.
“Hiyyyy…apaan itu”
Aku sempat melihat kebelakang dan apa yang kulihat adalah kenyataan jika sebuah tangan keluar dari air dengan kulit yang pucat entah tangan kanan atau kiri tidak bisa kubedakan karena sudah saatnya menyelamatkan diri.
__ADS_1
Jika itu memang benar hantu berarti kasus beberapa tahun lalu adalah sebuah kebenaran dimana hantu banyu menyeret anak kecil untuk dijadikan korban.
“Waaaa…lari say…itu dibelakang…belakang!..hantu!” aku memberitahu Aksay sambil berlari, melihatku berlari dengan serius Aksay pun ikut ketakutan dan lari menyusulku
Aku berlari lebih dulu tapi anak cheetah menyusulku dari belakang, itulah sebutan Aksay di SMP karena disetiap olahraga atau lomba kecepatannya tidak tertandingi oleh teman-teman lain.
Cukup lama berlari sampai meninggalkan sawah, saat memasuki lorong kampong kami berhenti mengambil nafas tahu jika keadaan sudah aman.
“Woy Bar, ada apa sih? Mengejutkan aku saja. Ada apa?” tanya Aksay dengan nada memaksa
Padahal habis berlari puluhan meter tapi nafas Aksay masih stabil, berbeda denganku yang habis saat berlari.
“Haahh, sabar…aku ambil nafas dulu”
“Aish kau ini menakutiku saja, sebenarnya ada apa?”
Aku duduk di pinggir jalan, Aksay yang melihat juga mengikutiku duduk di sebelah.
Entah percaya atau tidak kuceritakan saja, sebab ketakutanku masih terasa.
“Tadi di belakang tadi ada tangan yang muncul dari danau, kukira tadi aku salah lihat tapi pas kulihat lagi beneran ada tangan, pucat sama basah” aku pun merinding menceritakan itu kepada Aksay
Melihat ekspresi Aksay kutebak ia juga merinding mendengar ceritaku, kalau tidak ia mungkin menyangkalnya sekarang.
Meski begitu aku merasa tiap hari semakin parah, entah kenapa aku jadi mudah melihat mereka.
Seharusnya aku sudah tidak ingin berkaitan dengan hal-hal ghaib lagi, cukup berhenti di kasus Ainur.
“Hiii, sudah ah pulang yuk” ajak Aksay
“Tapi maaf ya mengejutkan kau pula. Tapi…khk..khk…hahahaha…aku tidak tahan pas kau terkejut tadi…ekspresi kau say…” aku tertawa kencang mengingat kejadian tadi bukan karena horror tapi lucu melihat Aksay menyusulku dengan wajah terkejut
“Anji** kau ini, kan gara-gara kau. Aku juga jadi lari pas kau mengejutkan aku”
“Oke-oke maaf”
Kami berdua berjalan pulang, terasa matahari akan berdiri diatas tengah kepala berarti waktu sudah siang hari.
__ADS_1
Tak ingin terlambat bersiap untuk pergi kemasjid, menunaikan hukum wajib bagi laki-laki beragama Islam, untuk Shalat berjama’ah karena hari ini adalah hari Jum’at.
BAB XXVII CHETAH SD....SELESAI