INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XVIII TIDAK BIASA


__ADS_3

(Sudut Pandang Akbar)


(Rumah Ainur, Palembang)


Berbagai cerita dan fakta ku-telaah, setelah turun dari lantai atas kami kembali keruang tamu duduk untuk berdiskusi. Entah aku bisa menolong apa, kupikirkan nanti saja karena sekarang….aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan.


“Yah sebenarnya Akbar juga tidak tahu harus bagaimana, Akbar cuma bisa bilang untuk membersihkan rumah terutama kamar Ainur. Kalau untuk santet dari ilmu hitam itu, Nur kurasa kita hanya bisa menunggu dan melihat karena kurasa Dia nya juga sudah tidak terlalu terobsesi dengan Ainur. Tapi yang terpenting untuk kedepannya harus jaga jarak dengan Dia”


Ainur menganggukan kepala,


“Pokoknya sekarang banyak ibadah sama baca Al-Qur’an saja. Waktu shalat jangan lupa Dzikir, apalagi waktu mau tidur jangan lupa baca do’a tapi lebih baik lagi wudhu terlebih dahulu”


“Iya Bar”


“Nah lalu untuk masalah penampakan sosok laki-laki hitam ini aku tidak tahu. Kalau dari cerita Ainur, dia mulai mengikuti sejak pulang dari Mall. Pertama kenapa dia mengikuti Ainur? Kemungkinan sesuatu yang berkaitan dengan Ainur atau mungkin Ainur yang berkaitan dengannya”


Tante Siti dan Ainur bingung mendengar perkataanku barusan, “Maksudnya?”


“Maksudnya apakah kemarin waktu Ainur jalan-jalan ke Mall pernah buat sesuatu yang salah sampai makhluk itu mengikuti Ainur sampai marah. Maaf nih contohnya, buang air sembarangan atau buang sampah sembarangan?”


“Nggak ada kok, kami kemarin Cuma main di tempat permainan lalu makan di kedai makanan, habis itu nonton bioskop”


“Di segala waktu itu Ainur ada merasa aneh nggak?”


“Tidak ingat juga. Tapi pokoknya waktu di tempat parkir itu aku aneh karena melihat sosok hitam”


Ainur juga tidak tahu penyebabnya apalagi aku, berarti hal yang harus dilakukan pertama adalah mencari penyebab kejadian itu. Aku sendiri punya pemikiran sendiri,


“Haa, begitu ya. Kalau begitu jadi sulit juga, tapi menurut Akbar sih ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya pertama dari Mall itu sendiri, kedua dari santet yang dikirim oleh Dia, dan ketiga sejak awal itu adalah dari Ainur sendiri”


“Cuma itu yang bisa Akbar ketahui. Karena sejak awal Akbar sendiri bukan orang pintar, jadi Akbar Cuma bisa member saran dan masukan.Kalau untuk mengusir-mengusir makhluk begituan Akbar tidak bisa tante. Jujur saja Akbar punya kemampuan tapi tidak berhubungan langsung, misalnya dalam tidur Akbar bermimpi lalu mimpi itu terjadi di dunia nyata"


“Ohh gitu ya” tante Siti terlihat sedikit kecewa mendengar aku mengatakan hal itu


“Akbar juga bisa lihat tapi tidak terlalu jelas, dan bisa dibilang tidak bisa menghadapi mereka. Jadi Akbar Cuma sarankan saja panggil Pak Ustadz atau orang pintar yang bisa mengusir mereka”


“Kemarin juga tante sudah ke pak Ustadz, Ruqyah mbak Rahma tapi hasilnya nggak apa-apa kok”


“Oh sudah pernah ya, apa pernah pak Ustadznya ke rumah?”

__ADS_1


“Belum sih paling disuruh ke masjid”


Aku hanya mengangguk menanggapi percakapan ini, tapi teringat sesuatu waktu aku kembali dari Lampung.


“ Oh iya waktu itu Akbar juga pernah mimpi tentang Ainur waktu Aku di Lampung. Kalau tidak salah mimpinya itu Ainur tidur di suatu tempat, nah tempat nya itu enggak tahu melayang atau tidak tapi seperti tempat tidur"


"Tempat tidurnya itu terbuat dari cahaya-cahaya begitu, tapi Ainur tidur diatas cahaya itu. Nggak tahu itu maksudnya apa, tapi pas Akbar pulang ke Palembang tepat sekali Ainur memanggil Akbar karena ada masalah makhluk halus”


“Wah apa ini kebetulan?” tanya tante Siti


“Kayaknya tante, Akbar juga kurang tahu ya”


“Ya sudah kalau begitu, tante boleh minta tolongkan jaga Rahma”


Mendengar hal itu aku sendiri tidak menyangka, tapi langsung saja aku sentak menjawab “Iya tante”


Dengan begitu pertemuan menegangkan telah selesai, aku yang menganggap seperti itu. Sebenarnya itu hanyalah permulaan bagi kami dalam menyelesaikan berbagai hal menyeramkan, itu yang aku rasakan meski hanya beberapa detik.


Tapi aku salah sebenarnya kami sudah berada di pertengahan jalan menunggu dan mencari jawaban dari berbagai hal, sayangnya aku berpikiran lebih baik selesaikan disini dan jangan ikut campur lagi.


“Ya sudah tante tinggal dulu ya”


“Iya tante”


“Iya Ma” Ainur mengangguk


“Oh iya kalau tidak salah nanti malam mbak ada acara bakar-bakar kan"


“Hem benar juga. Mbak hampir lupa, nggak apa-apakan Ma teras depan di pakai”


“Iya nggak apa-apa. Tapi jangan lupa sudah selesai dibereskan”


“Oke siap ma”


Tante Siti pergi, tersisa kami berdua di ruang tamu itu. Ke canggungan datang, tak ada yang ingin memulai bicara malah menjadi memperkeruh suasana.


Aku sendiri ingin pulang tapi pasti tidak ada orang di rumah, tidak ada yang bisa dilakukan disana. Kalau pulang lagi nanti kesini lagi malas, itu yang kupikirkan.


“Makasih ya Akbar”

__ADS_1


“Eh” aku kembali dari lamunan panjang


“Malah ngerepotin, padahal libur begini”


“Nggak apa-apa kok, lagian juga kan nanti malam ada acara bakar-bakar sekalian. Aku sendiri tidak bisa bantu banyak”


“Iya tapi begini juga nggak apa-apa jadi tenang”


“Pokoknya Ainur banyak ibadah , shalat, dzikir, baca Al-Qur’an jangan lupa. Kalo ada masalah langsung kabari saja. Bismillah bisa bantulah”


“Ini…roti bakar sama tahu untuk aku ya”


“Oh iya ini roti bakar tadi beli di pasar sebelum kesini, ini tahu oleh-oleh dari Lampung”


“Makasih ya nambah ngerepotin”


“Ora opo-opo” kataku mencairkan suasana


“Tapi aku boleh disini kan sampai acara bakar-bakar. Di rumah nggak ada orang olehnya keluarga pergi liburan lagi, padahal baru saja pulang dari Lampung”


“Iya nggak apa-apa kok” Ainur berdiri menandakan ingin pergi


“Aku tinggal dulu ke belakang ya”


“Oke”


Setelah Ainur ke belakang aku tidur santai di lantai dengan alas ambal tebal itu, mengeluarkan handphone agar tidak mudah bosan dan ada kegiatan.


Pemikiranku tidak terbendung ketika memainkan handphone aku merasa ingin melihat keadaan ruang tamu ini menggunakan cermin Cindi.


“Srett” kukeluarkan cermin Cindi dari jaket


Kuarahkan cermin ke berbagai sisi sambil melihat keadaan, tapi tidak ada yang mencurigakan hanya ada hembusan angin dingin yang aku rasakan.


Tidak ada penampakan serius sesudah aku memakai cermin Cindi beberapa menit, berarti mereka tidak ada di sini.


Tapi aku masih janggal, seperti melupakan sesuatu. Sama seperti seorang detektif, tak dapat menarik kesimpulan yang jelas.


Tapi aku tahu hal yang bisa kupahami dari berbagai cerita histori, dimana semua pertanyaan pasti memiliki jawaban dan yang kupercayai adalah jawaban itu ada di dalam pertanyaan.

__ADS_1


Pertanyaan itu selalu berputar-putar tapi jawabannya mudah, sama seperti menyelesaikan kasus berkaitan, saat pertanyaan sudah terlihat semua jawabannya pasti hanya satu dan jawaban itu….selalu ada di awal!


BAB XVIII TIDAK BIASA....SELESAI


__ADS_2