INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
RUMAH TUA 10


__ADS_3

(Rumah Tua, Malam Hari)


"Hentikan”


Suara dingin merobek bulu kuduk, aku sudah tidak bisa menahan ketegangan dan ketakutan hingga kencing di celana. Air mengalir di dalam celana membuat bagian bawahku panas, namun kaki ku bisa bergerak kembali.


“Pergilah!”


“Pegi, pegi, pegi!”


Kedua makhluk itu seperti saling mengusir satu sama lain, karena rumah ini adalah wilayah manusia ular, kurasa sedikit sulit. Cindi yang memeluk erat lenganku ternyata tidak sadar sedari tadi, membuat aku sendirian untuk mengambil keputusan.


“Biarkan mereka pergi, mereka tidak menganggu”


“Mereka yang datang kesini, menganggu kami! Kamu jangan ikut campur!”


Entah kenapa tiba-tiba aku bisa mengerti ucapan mereka, dengan bahasa asli sumatera mereka saling bicara. Ternyata makhluk di belakang kami berusaha melindungi dari manusia ular dan berusaha membawa kami keluar.


“Mereka menganggu, kamu juga pergi!”


“Baik, tapi mereka juga ikut denganku”


“Tidak! Mereka harus disini, tanggung jawab!”

__ADS_1


Tubuh kembali bergerak, aku mengangkat Cindi sekuat tenaga. Aku yang mengerti pembicaraan ini semakin takut, memang benar karena kami masuk kesini tapi semua tidak sengaja.


“Mereka juga pergi, jangan ganggu lagi”


“Khhhkkk!!!”


Manusia ular itu marah, namun ia tidak berani mendekat kembali. Aku yang bisa bergerak berusaha memutar badan dan melihat makhluk apa yang ada di belakang kami.


“Kakek tua?”


Sosok kakek tua bersorban putih, semua pakaiannya berwarna putih, padahal disini sangat kotor. Wajahnya agak lonjong dengan janggut putih yang panjang, matanya hampir sama seperti manusia biasa, dan membawa tongkat.


“Auumm!!!”


Suara harimau dengan volume keras menggema di dalam rumah, aku sendiri langsung bergidik ketakutan. Asal suara itu ternyata dari kakek tua yang berusaha melindungi kami.


Pintu keluar terlihat mendekat ke arah kami, dan saat aku melihat jarak antara pintu keluar menjadi normal. Aku tidak mensia-siakan kesempatan, kugendong Cindi dan berjalan keluar.


“Jalan terus, jangan menatap ke belakang”


Apapun yang terjadi aku merasa ini seperti mimpi, aku terus berjalan tanpa melihat kebelakang. Pikiran dan hati pun melakukan hal yang sama saat itu, tidak peduli apapun aku terus berjalan lurus jangan menoleh ke belakang.


Suara desis ular dan auman harimau terdengar saat aku mendekati pintu, aku yakin keduanya saling adu kekuatan. Aku membuka pintu dan melangkah keluar, saat pintu terbuka kabut tebal menyelimuti. Itu membuat aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Saat aku bangkit dan membuka mata kembali, kami berhasil keluar dari rumah tua, berada di teras depan. Kabut yang tebal menghilang secara misterius, dan menyisakan keheningan di malam hari.


Pintu rumah tua yang terbuka langsung aku tutup dan menggendong Cindi jauh dari rumah tua itu.


Nafasku terengah-engah, sisa tenaga yang aku miliki terus berkurang tapi tetap bertahan sampai jalan ke rumah. Aku berharap bisa bertemu dengan seseorang disini dan membantu kami, tentu saja seorang manusia sungguhan.


“Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini”


Aku terus berjalan dan berjalan dengan pikiran kosong, hingga akhirnya kami keluar dari hutan melewati semak-semak belukar. Disana aku melihat cahaya dari obor api dan saat sadar seperti hipnotis yang hilang, sudah banyak berkumpul para warga yang dominan laki-laki membawa obor dan pentungan ronda.


Ketika aku berhasil melewati semak, satu orang yang sadar kedatangan kami langsung berteriak ke warga lain. Semua Nampak terkejut melihat keadaan kami yang compang-camping, semua langsung berkumpul dan mengamankan kami.


Kaki yang lemas sudah tidak bertahan, aku dan Cindi terjatuh. Kulihat sebelum mataku memudar karena kelelahan, ayah menghampiri diriku dengan tangis di mata.


“Kak! Kakak!” ayah merangkul ku


“Ayah, ini dimana?”


Seakan hilangan ingatan aku bertanya sesuatu yang rancu dan langsung tidak sadar, menyerahkan diriku pada ayah dan berharap semua mimpi buruk ini berakhir. Aku dan Cindi memang berhasil keluar tapi masih banyak pertanyaan yang bersarang di otakku.


Ayah yang melihat aku dan Cindi tidak sadar langsung membawanya ke rumah kepala desa dan memberikan perawatan pertama. Pencarian Ferdi berhasil walau mereka tidak tahu bagaimana mereka bisa keluar dari hutan pada malam hari.


Masyarakat sekitar juga seakan tidak percaya dengan hal yang terjadi, padahal mereka sudah mencari di setiap sudut hutan. Walau tidak mencari ke tengah hutan dan hampir ke sana, beruntung Ferdi sudah kembali.

__ADS_1


“Ini….”


BERSAMBUNG....


__ADS_2