
(Menuju Rumah Putri)
(Sudut Pandang Akbar)
Langit mendung mengiringi perjalanan menuju rumah Putri, perasaan tidak enak tentu terpikir. Meminta kepada Tuhan agar tidak terjadi kejadian mengerikan kembali.
Cukup menyakinkan Putri aku tidak bisa mengurus hal ini lalu pulang dan meminta kepada orang tuanya untuk pindah.
Aku memang belum melihat langsung kediaman angker Putri, mendengar cerita Ainur saja sudah cukup menjadi bukti.
Kulitku mengejang dan bulu kuduk berdiri, menepis dengan alasan aku kedinginan oleh hebusan angin dari motor.
Jarak tempuh dari tempat lomba ke rumah Putri sangat jauh bahkan aku sangat mengantuk. Kulihat google maps di handphone, beberapa kelokan lagi sampai tujuan.
“Disanakah?” aku bergumam
Dijalan aku melihat seseorang berlari keluar dari gerbang rumah tanpa hati-hati. Aku sendiri seperti mengenal orang itu,
“Lho Ainur? Kenapa dia lari?” tanyaku
Ku percepat motor untuk menghampiri, Ainur sendiri berlari tanpa melihat apapun seperti menutup mata. Takut tertabrak ku panggil saja ia dengan keras,
“Ainur!” teriakku di depannya
Ia tidak mendengar teriakanku, jarak kami semakin dekat aku sendiri ragu jika ia lari dalam keadaan tergesa-gesa.
Namun aku melihat wajah Ainur penuh keringat, saat itulah aku tahu ia lari ketakutan berusaha untuk tidak melihat ke belakang atau ke depan.
Aku menghentikan motor di seberang jalan, dari sana aku menghampiri Ainur.
“Nur! Berhenti!” aku mencegatnya dari lari
Ia pun sadar dan berhenti, tak lama ia memelukku dengan erat di tempat umum. Bagiku merasa malau adalah hal pertama yang kurasa, ketika sadar bahwa ia gemetaran tak berhenti sambil menggumamkan namaku ia ketakutan.
“Ferdi…Ferdi…Aku…takuuttt”
“Dimana yang lainnya?” tanyaku
Ainur tidak menjawab ia masih memelukku erat, entah karena apa aku masih belum mendapat penjelasan.
__ADS_1
“Bisa kau tenang dulu?” setelah ia agak tenang aku bertanya sekali lagi
“Jadi ada apa?”
Jawaban Ainur terbata-bata, seakan mulutnya kedinginan bahkan tubuhnya masih belum berhenti gemetaran.
Walau begitu aku mendengar setiap kata Ainur merupakan sesuatu hal gawat, mereka semua dalam bahaya. Ainur memutuskan untuk melarikan diri, sementara Putri dan Sanjaya masih berada di dalam rumah itu.
“Nur, kau cari tempat yang aman ya. Aku mau melihat yang lainnya”
Tangan Ainur mencengkram ujung bajuku seakan berkata jangan pergi. Ia sudah melihat betapa menyeramkan makhluk itu dan keangkeran rumah tua.
Jantungku berdegub kencang melihat keadaan Ainur, darahku mendidih dan tubuhku dingin sekali.
“Aku akan kembali, kau pergilah ke tempat yang ramai atau kembali ke rumah saja. Disini biar aku yang urus, aku tidak akan berlama-lama setelah aku menemukan mereka kita akan keluar dari rumah itu”
Benar, sekarang bukan masalah selesai atau tidak, lebih baik aku memutuskan untuk menyelematkan nyawa mereka sekarang daripada menghentikan makhluk itu.
Walau makhluk itu akan menghantui tiap malam itu tidak masalah, sekarang terpenting mereka bisa keluar dari masalah ini sementara waktu.
“Jadi tenang saja” aku menurunkan tangan Ainur dan bersiap pergi
Aku menghirup nafas dalam-dalam, setelah Ainur kembali berlari aku pun siap memasuki panggung.
“Bismillah” aku masuk dari gerbang
“Syuuushhh” udara dingin seketika menghampiri wajahku
Udara itu menampar wajahku membuat aku berpikir untuk menghentikan langkah kaki untuk masuk.
“Begitu rupanya, masalah kali ini lebih besar dari yang aku bayangkan”
***
“Berapa lama lagi ini? Aku sudah tidak kuat. Ainur dan Putri juga kemana?”
Setelah terpisah satu sama lain, Putri menuju ke lantai dua sementara Sanjaya lari menuju belakang rumah tempat penyimpanan barang.
Ainur sendiri bersembunyi dalam lemari pakaian kamar ibu Putri, mengambil nafas beraturan, keringat bercucuran mencoba menahan kesadaran agar tidak pingsan. Gelap dan sunyi…karena ia juga tidak berani maka menutup mata.
__ADS_1
“Hah…hah...hah”
Sanjaya lari tanpa arah kemana tujuan ia pergi, ia bahkan tidak tahu jika sedang di ikuti oleh sesuatu.
Pilihan itu benar-benar sangat menyakitkan hati, ketika salah mengambil langkah maka nyawa menjadi taruhan. Ia tahu ini akan terjadi ketika ikut dalam urusan makhluk gaib.
“Ah sialan kenapa pula aku ikutan”
Di saat Sanjaya merasa aman suara denyit dari benda di ruangan itu membakar keberaniannya.
“Krieetttt” suara pintu terbuka
“Klanggg” benda terjatuh dari atas lemari
Tempat penyimpanan barang itu cukup luas, namun hanya di penuhi oleh barang-barang tua dan using. Di satu tempat terdapat kotak besar berisi berbagai mainan anak.
Menurut cerita Sanjaya, salah satu mainan itu bergerak diiringi mainan kotak musik hidup mengejutkannya.
Disebelah kotak itu terdapat cermin yang ditutupi kain hitam dengan lambang aneh yang sudah robek dan sangat kotor (disini mungkin kain yang dipakai sang ayah untuk ritual).
Cermin itu terletak tidak sampai ujung dinding melainkan bawahnya masih tersisa tempat.
Disana mata Sanjaya tidak dapat berkedip, sosok tangan muncul tiba-tiba dari belakang cermin besar itu.
Sedikit demi sedikit sebuah wajah keluar, hitam dan tua serta kulit melepuh dengan mata terpejam.
“Ahhhh, hantuuuu!!!” teriak Sanjaya
Tanpa pikir panjang ia berlari berusaha keluar dari tempat itu, entah karena ketakutannya atau fenomena mistis pintu keluar sangat sulit di buka seakan mengurung Sanjaya di dalam.
“Tolonggg, siapa yang ada di luar!” teriak Sanjaya sambil mendobrak pintu
Rasa takut dan terpojok membuat ia tidak sadar kekuatan yang dikeluarkan sangat besar sampai membuat pintu yang di dobraknya hancur. Pintu itu memang sudah tua, namun sulit jika di dobrak dari dalam.
“Tolooonggg, setannn!!!” Sanjaya mengambil langkah seribu untuk keluar dari rumah
Sanjaya berlari tanpa henti sampai ke jalanan,saat sadar ia kembali menoleh kearah rumah Putri, di salah satu jendela ia merasa ada sosok hitam yang melihatnya.
Ia kembali merinding dan meneruskan larinya, sambil membuat keputusan untuk tidak ikut lagi dalam hal berbahaya seperti ini.
__ADS_1
BAB XXXVIII DATANGNYA BADAI....SELESAI